Presentasi seminar acc

  • Published on
    30-Jun-2015

  • View
    474

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ok

Transcript

<ul><li> 1. Laporan SeminarPerancangan Arsitektur Studi KasusKampung Wana,Melinting,Lampung Timur&amp;Kampung Negeri Olok Gading, Teluk Betung EKSPRESI BENTUK DAN FUNGSIDALAM ARSITEKTUR VERNAKULARPekampungan Warisan Vernakular Lampung</li></ul><p> 2. PENDAHULUANLatar Belakang Didasari dari undang-undang Republik Indonesia no. 5 tahun 1992,tentang upaya perlindungan benda cagar budaya dan PERDA sertaundang-undang tentang pelestarian bagunan, yang dianggapmemiliki nilai-nilai sejarah pelestarian warisan arsitektur atau bangunantua yang termuat dalam UUBG pasal 38. Efek globalisasi yang terus berdatangan (moderenisasi), menyebabkanjumlah bangunan vernakular tersebut sudah menjadi sedikit jumlahnya. Karena sedikitnya penelitian yang konprehensif menyebabkanpeninggalan leluhur ini sulit diwariskan yang bisa terjadi tidak akandapat ditemukan lagi di lingkungan masyarakatnya ,sehinggadikhawatirkan tradisi ini akan mengalami kepunahan dan hilangidentitas/jati dirinya. padahal sejarah sangat penting bagi manusia saatini. Setiap arus waktu yang telah berlalu tak akan dapat kembali,namun mengupayakan masa lalu untuk hadir di tengah-tengahkehidupan hari ini menjadi prestasi yang pantas dibanggakan gunamerenungkan apa yang kita lakukan selama ini. 3. Lingkup Pembahasan Inti pembahasan dari laporan seminar perancangan arsitektur ini adalahsebatas pembahasan masalah bagaimana arsitektur vernakular ini terciptayang diekspresikan lewat fungsi dan bentuknya serta secara garis besarkaitanya pada karakteristik vernakular yaitu karakteristik proses dan produkyang berfokus pada studi kasus Kampung Wana, Melinting Lampung Timurdan Kampung Negeri Olok Gading, Teluk Betung. Pada pembahasan arsitektur vernakular dibahas pada objek tradisional(penekanan pada rumah tinggal) yang terbagi dalam beberapa kategoriyaitu lingkungan yang dibahas hanya sebatas pola pekampungan, fungsiyang dibahas sebatas struktur ruang/pembagian ruang, bentuk yangdibahas sebatas tipologi, dan garis besar struktur &amp; konstruksi sedangkanornamen tidak dibahas. 4. TujuanA. Untuk mendeskripsikan arsitektur vernakular Lampung secara fisik melaluitradisi masyarakatnya.B. Untuk menyingkap bagaimana budaya masyarakat dan lingkungannyamemberikan pengaruh dalam fungsi dan bentuk bangunannya.C. Melestarikan kekayaan arsitektur vernakular Lampung sebagai identitas diri. 5. TINJAUAN TEORIA. Pengertian dan Istilah Ekspresi adalah proses ungkapan emosi atau perasaan di dalamproses penciptaan karya seni. Ekspresi dapat diartikan pulapengungkapan atau proses menyatakan (maksud, gagasan,perasaan dan sebagainya). Bentuk adalah ujud sesuatubarang/model. Fungsi adalah kegunaan suatu hal. Arsitekturadalah seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksibangunan, jembatan, dsb; metode dan gaya rancangan suatukonstruksi bangunan. Vernacular adalah bahasa daerah/setempat,logat asli. Ekspresi Bentuk dan Fungsi dalam Arsitektur Vernacularadalah pengungkapan maksud/gagasan dari ujud suatu model dankegunaannya dalam metode gaya rancangan suatu bangunansetempat. 6. B. Ekspresi1. aspek ekspresi yang dapat dilihat secara obyektif Ekspresi dapat dipengaruhi oleh beberapa aspek, yakni :a. Fungsi, fungsi dapat melahirkan bentuk yang ekspresif misalnya kita membuat sebuah lumbung padi dengan menitik beratkan pada pemenuhan fungsi, maka akan muncul bentuk lumbung yangdapat menghindari terjadinya pembusukan padi, menghindari gangguan tikus dan sebagainya.b. Struktur. Penonjolan struktur sebagai elemen estetis pada sebuah bangunan dapat melahirkan bentuk yang ekspresif pula.c. Budaya. Misalnya pada bangunan tradisional, ekspresi yang dimunculkan merupakan hasil tampilan budaya.2. Teori Gestalt tentang EkspresiTentang proses persepsi visual, menyatakan bahwa garis (line) dan bentuk (form) dari bangunan mengkomunikasikan makna- makna secara langsung melalui garis itu sendiri dan bidang. 7. C. Bentuk1. Definisi Bentuk Wujud/ujud merupakan hasil konfigurasi tertentu dari permukaan- permukaan dan sisi-sisi bentuk. Bentuk adalah suatu media atau alat komunikasi untuk menyampaikan arti yang dikandung oleh bentuk itu sendiri atau untuk menyampaikan pesan tertentu kepada penikmatnya.2. Faktor yang Mewujudkan BentukAda beberapa faktor yang melahirkan suatu bentuk, antara lain :a. Fungsi, Batasan fungsi secara umum dalam arsitektur adalah pemenuhan terhadap aktifitas manusia, tercakup didalamnya kondisi alami. Sedangkan bangunan yang fungsional ialah bangunan yang dalam pemakaianya memenuhi kebutuhan secara tepat dan tidak mempunyai unsur-unsur yang tidak berguna. Aktifitas timbul dari kebutuhan manusia baik itu kebutuhan jasmani maupun rohani.b. Symbol, Simbol yang sedikit tesamar yang menyatakan peran dari suatu bentuk.Simbol metaphor.Simbol sebagai unsur pengenal.c. Teknologi struktur dan bahan, 8. 3. Jenis Bentuk Bangunan dan Periodedisasi Rumah TinggalAda 4 tipologi atau jenis bangunan masyarakat Lampung yaitu; Tempat tinggal (lamban), Tempat pertemuan masyarakat adat (sesat) , Tempat ibadah (mesjid/mesigit), Tempat menyimpan padi/gabah (balai/walai). Periode-periode bangunan vernakular Lampung Tahun 1900-an umumnya berbentuk segi empat dan beratap (kekopnilamban/pemugungan) atau bumbungan,bubung perahu/pelana(pamugung tebak/bubung perahu) dan kerusut (bubung kukus) denganatap rumah terbuat dari ijuk atau sabuk dari pohon aren/enau.Halaman. Rumah umunya luas segi empat, sedikit jendela, tidakmemiliki beranda. Tahun 1930-an, atap ijuk mulai diganti dengan seng dangenting. Harga lada yang tinggi membuat masyarakat Lampungmampu membuat rumah yang lebih besar dari sebelumnya danmendapatkan genting atau seng dari Jakarta. Tukangdidatangkan dari Meranjat, Sumatera Selatan. Bubunganrumah pun banyak berubah menjadi limas (pamugung saying).Bubungan rumah limas pengaruh dari rumah panggung diMeranjat. 9. Setelah 1930-an, yakni tahun 1960-an, bentuk rumah mengalami perubahan lagi, yakni berukuran lebih kecil ketimbang bangunan yang terbuat tahun 1930-an, bertiang lebih pendek (sektar 2 meter), serta beranda rumah yang desainnya terpengaruh rumah gaya Eropa. Bahan baku pasir, batu, bata dan semen mulai dipakai terutama untuk beranda rumah.4. Tipologi Bangunana. Tipologi rumah tinggal1) Tipe asli (kenali)Bentuk rumah bujur sangkar,Bentuk atap limas dengan bahan ijukJendela rumah kecilTangga masuk berada disamping sebelah belakang rumah2) Tipe limas panjangBentuk rumah persegi panjangBentuk atap pelanaJendela rumah besar dan memiliki daun jendela diluarBerdiri di atas tiang yang menerus sampai ke atapMemiliki beranda di depan rumahTangga masuk pada beranda 10. 3) Tipe limas Palembang 4) Tipe limas Palembang Bentuk rumah persegi Bentuk rumah persegi panjangpanjang Bentuk atap perisai Bentuk atap perisai Tiang penyangga rumah Tiang penyangga rumah tidak terlalu tinggi tidak terlalu tinggi Tangga masuk ada di Tangga masuk ada di depan rumah berada didepan rumah berada di tengah pada berandatengah pada beranda 11. 2. Teori teori tentang fungsi :Menurut Geofrey BroadbentFungsi yang dapat dilaksanakan oleh arsitektur untuk menjawab pertanyaan :apa yang dituntut oleh bangunan ?Fungsi sebagai apa saja yang diekspresikan dan diinformasikan oleh arsitekturmelalui panca indera kita.Menurut Christian Norberg-SchulzFungsi yang dapat dilaksanakan oleh arsitektur untuk menjawab : apa tugasbangunan ?Fungsi sebagai tugas dan pekerjaan yang harus dijalankan oleh suatulingkungan binaan.Menurut Larry L. LigoFungsi yang dapat dijalankan oleh arsitektur untuk menjawab fungsi sebagaikonsep.Fungsi sebagai tugas/pekerjaa ataupun efek-efek yang dapat ditimbulkan oleharsitektur.3. Fungsi RuangPada umumnya fungsi ruang dapat dibagi kedalam empat kelompok besar,yaitu : ruang publik, ruang individu (privasi), ruang sirkulasi dan ruang servis. 12. E. Arsitektur Vernakular1. Definisi Arsitektur VernakularKata Vernakular berasal dari vernaculus (latin) berarti asli (native). Maka vernakular arsiektur dapat diartikan sebagai arsitektur asli yang dibangun oleh masyarakat setempat.Menurut Turan dalam buku Vernacular Architecture, serta Romo Manguwijaya dalam buku Wastu Citra juga memberikan pendapat yang hampir senada, arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berjangkar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasiJadi arsitektur vernakular bukanlah semata-mata produk hasil dari ciptaan manusia saja, tetapi yang lebih penting adalah hubungan antara manusia dengan lingkungannya. 13. 2. Klasifkasi dan Karakteristik Arsitektur VernakularMenurut Turan dalam buku Vernacular Architecture, mengklasifikasikan arsitektur vernakular kedalam beberapa tinjauan, yaitu :Arsitektur vernakular sebagai produk,Arsitektur vernakular sebagai proses,Arsitektur vernakular dari tinjauan filosofis.Amos Rapoport dalam bukunya House, Form and Culture, mengklasifikasikan dua jenis arsitektur vernakular, yaitu tradisional dan modern.Beliau juga menyatakan bahwa karakteristik bangunan vernakular adalah sebagai berikut :bangunannya tidak didukung oleh prinsip dan teori bangunan yang benar,menyesuaikan dengan lingkungannya,sesuai dengan kemampuan masyarakatnya (teknologi dan ekonomi),menggambarkan budaya masyarakatnya (sebagai penanda, simbol, dll),terbuka terhadap sumberdaya alam yang ada disekitarnya dan selalu dapat menerima perubahan-perubahan (trial &amp; error) sehingga dapat bertahan. 14. 3. Konsep Arsitektur VernakularTinjaunan karakteristik sebuah bangunan atau karya arsitektur sebagai arsitektur vernakular menurut Amos Rapoport adalah :Karakteristik ProsesKarakteristik proses adalah cara lingkungan tercipta, dan bagaimana jadinya.Karakteristik ProdukKarakteristik produk adalah menjelaskan seperti apa lingkungan itu, keadaan alamnya, kualitas dan kelengkapannya, termasuk arsitektur tradisional, dan aspek estetika dari lingkungan terbangun. 15. TINJAUAN KHUSUSStudi Kasus Kampung Wana, Melinting Secara garis besar lahan-lahan peruntukan di Kampung Wana terpilahmenjadi 3 zona peruntukan lahan, yaitu : zona kebun/ladang, zonapemukiman termasuk bangunan-bangunan fisik lainnya yang merupakansarana sosial budaya, serta zona sawah rawa hujan serta pemakaman. Zona pemukiman dan sarana bangunan fisik lainnya berada diantara zonakebun/ladang dan zona sawah rawa hujan/pemakaman, dengan posisi zonaperumahan yang lebih mendekati rawa (bawang) dengan kontur menurun.Jarak dari deretan rumah terpinggir ke rawa rata-rata berkisar antara 50-200meter. Di sekitar rawa banyak terdapat sumber air, berupa mata-mata air.Sehingga jalan desa serta sebaran perumahan yang berderet-deret danberhadap-hadapan, menjadi nampak sealur dengan alur tepian rawaPintu masukSituasiZonaK. Wana Zona pemakaman&amp; Zona Pemukiman &amp; Rawa/mataKebun/ladang air 16. Kec. Bandar Ds. sribhawono 13Kec. Ds.8Ds. Marga4 Ds.1 sekampun 0 gKeterangan : Ds. Ds.1 3 Batuan Rumah4 Ds. 9 Ds. I PenyimbangDs.7 Ds.PemakamSanggar Ds.12 an1 Ds. Desa Sumber Fasilitas lainnya ; Ds.15 Tanjung Air/rawa Kantor camat,2 aji Masjid/BalDs.6 Puskesmas, F.ai Pendidikan &amp; PolsekZonaZona Kebun/l Kebun/ladanadanZonaZonaTanahPemuki PemukiKeteranganSubur man man:PemukiSawah, Rawa,Zona Zonaman Batuan &amp; RumbiaPemaka Pemakaman &amp;man &amp;Ketela, pisang &amp;Pemaka air rawa air rawaJagungmanJalan LadaKubangKelapaanGambar 3.2 Pembagian ZonaTumbuhanKuwaya peruntukan LahanKayun 17. 3. Tinjauan Aspek Bentuka. Tipologi Bangunan1)RumahTinggalKampung Wana Lahan rumah(wangunan/pemapalan/TIPE RUMAH Tipe RumahMEWAH &amp; RUMAHSederhana/petegian),adalahsatu BIASARakyatareal lahanyang Gambar 3.6. Tipologi Rumah padaPemukiman Kampungdipergunakan untukWanabagunan rumah, termasukbagianhalamanyangbelum ada bagunannya. Tanah yang diAreal lahan ini diolah,tinggikan Batas lahandiratakankemudianRumah Garisditinggikan bagian lahanhanyuimajinerkuni denah rumahuntuk berdirinyarumahbangGalang kok batu/umpaksertamenempatkan Drainasumpak-umpak batu Bentuk dasar Bentuk dasar Jalan e massamassa(pematu/galang batu) pada bangunanbangunan persegi panjang persegi panjangLayoutLahan (pesagi/mahany (pesagi/mahany Rumahtitik-titik yang telahukan)ukan)ditetapkan untuk bangunanGambar 3.5. BentukGambar 3.5. BentukMassa Bangunan RumahMassa Bangunan Rumahrumah.Tinggal Kampung WanaTinggal Kampung Wana 18. rumah-rumah tinggal Orang Melinting di Kampung Wana pada dasarnyamasih mempertahankan bentuk arsitektur aslinya, yaitu rumah panggung(nowougacak/lamban langgar/lambahan ranggal), yangrata-ratamengunakan material kayu. Secara umum rumah vernakular di Kampung Wana ini dapat dibagi kedalam tiga tipe yang dibedakan berdasarkan kualitas bahan yangdigunakan, pengolahan bahan, unsur-unsur ornamen serta ukuran luasnya,yaitu tipe rumah mewah, tipe rumah biasa yang merupakan tipekebanyakan, dan tipe rumah sederhana. Pada aspek ukuran luasnya sertakualitas bahan, tipe rumah mewah dan tipe rumah biasa sesunguhya tidakbanyak berbeda. terdiri dari bagian bagian bawah (kaki), tengah (badan), serta atap (kepala).Bagian bawah bangunan yang dimaksud berupa tiang-tiang kayu yangdisusun secara berderet melebar dan memanjang mengikuti denah rumahyang berbentuk persegi panjang, yang dalam istilah tradisi arsitekturLampung disebut sebagai bentuk mahanyukan. Bagian yang melebar(bangkok) adalah bagian tampak depan dan belakang rumah, sedangkanyang memanjang (hanyukuni) adalah bagian tampak samping rumah. 19. 2) Bangunan tempatistirahat diladang/kebunKedua jenis bangunan itu pada dasarnyahampir sama yaitu berbentuk bangunanpanggung yang sangat sederhana denganmengunakan bahan-bahan yang ada disekitarkebun/ladang. Denah bangunan lazimnyaberbentuk segi empat sama sisi atau persegipanjang dengan ukuran 2 x 2 meter atau 2 x 3meter. Perbedaannya adalah pada tinggiGambar 3.8.lantai bangunan (panggung) dari permukaanTempat istirahat di ladangtanah, yaitu sekitar 60 sampai 150 cm.3)Masjid/BalaiMenurut nara sumber setempat, bangunanmasjid yang ada saat ini di masa laluberbentuk bangunan panggung, yangmemakai material kayu. Namun dewasa inimasjid tersebut telah di ganti materialdinding dan lantainya dengan tembok,sedangkan bentuknya masih seperti yangdulu Gambar3.9. Masjid/B alai 20. b. Struktur dan KonstruksiDalam proses membangun rumah di kampung Wana masih menggunakantradisi yang telah disesuaikan oleh perkembangan jaman, sepertipenentuan hari pembangunan, pola gotong royong dalam mendirikanbangunan, serta memohon berkah atau syukuran. Proses pengawetankayu pula mengunakan sistem tradional dengan cara di rendam di lumpursawah rawa tadah hujan selama 1 tahun. Proses membangun ini yangmelatar belakangi lamanya untuk mendirikan sebuah rumah paling cepatyaitu 5 tahun.Sistem konstruksi rumah pada kampung Wana adalah sebagaiberikut : Atap, terdiri dari : Kuda-kuda yang terdapat 2 jenis atap yaituatap pelana &amp; atap limasanPentup atap yang awalnya ijuk/ rumbia di gantime...</p>