?· Web viewMaka ketika Nabi Muhammad saw. sudah berada di Madinah tentu saja bisa dipastikan akan memperoleh…

  • Published on
    09-Apr-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>70</p> <p>69</p> <p>BAB III</p> <p>ORIENTASI POLITIK </p> <p>ERA MADINAH</p> <p>1.Membangun Dasar-Dasar Politik </p> <p> Penghijrahan ( exodus ) umat Islam dari Mekah ke Madinah terjadi pada hari Senen tanggal 12 Rabiul awal tahun pertama Hijriyah, bertepatan dengan tahun 622 M. Peristiwa penghijrahan umat Islam dari Mekah ke Yatsrib tersebut menandai dimulainya babak baru bagi umat Islam. Umat Islam saat di Mekah berada dalam kondisi yang tertekan, dimusuhi, dihina, disiksa, bahkan dikucilkan dan diimbargo, dan tindakan-tindakan lain yang menyebabkan umat Islam tidak berdaya, tidak bisa banyak berbuat untuk merencanakan kehidupan masa depan mereka yang lebih baik, hal ini berbeda dengan di Yatsrib (Madinah). Periode Yatsrib Islam merupakan kekuatan politik, di mana ajaran Islam yang terkait dengan peraturan kehidupan sosial kemasyarakatan banyak turun di sini. Hal ini dapat ditegaskan bahwa peristiwa hijrah Nabi bersama umat Islam dari Mekah ke Madinah merupakan era baru dalam sejarah peradaban umat Islam. Sejak saat itu muncul pemikiran politik Islam[footnoteRef:1] yang berbeda dari pemikiran politik sebelumnya,[footnoteRef:2] bahkan sebenarnya sejak peristiwa baiat Aqabah satu dan dua gerakan-gerakan politik yang terkordinasi telah dilakukan di bawah pimpinan seorang Nabi. Maka ketika Nabi Muhammad saw. sudah berada di Madinah tentu saja bisa dipastikan akan memperoleh kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama ( agamawan ), tetapi juga sekaligus pada saat yang sama sebagai pemimpin umat. Realitas ini menunjukkan bahwa dalam diri Nabi terkumpul dua kekuasaan; kekuasaan spiritual dan kekuasaan untuk mengelola kehidupan masyarakat atau umat (duniawiy). Hal ini sebagaimana ditegaskan Harun Nasution bahwa kedudukan Nabi Muihammad saw. sebagai rasul secara otomatis merupakan kepala negara[footnoteRef:3]. [1: . Pemikiran politik Islam adalah pemikiran tentang politik yang didasarkan pada ajaran-ajaran yang bersumberkan al-Qur`an dan Sunnah Nabi.] [2: . Lihat Antony Black, Pemikiran Politik Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, h. 36] [3: . Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya ( Jakarta: UI-Press, 1985 ), h. 25] </p> <p>Pada periode Madinah, kaidah-kaidah Islam yang dulunya bersifat umum berhasil dirinci, dan ketentuan-ketentuan (hukum-hukum) yang diperlukan oleh sebuah negara ditetapkan, baik yang berkaitan dengan urusan-urusan public ataupun yang menyangkut urusan privat. Kaidah-kaidah umum berdasarkan wahyu yang menjadi sumber rujukan hukum-hukum tafsili senantiasa turun. Semuanya ini bertujuan untuk menyediakan perangkat-perangkat aturan atau tatanan yang akan dipergunakan untuk mengatur kehidupan masyarakat dan negara baru.[footnoteRef:4] [4: . Muhammad Salim al-Awwa, Fiy al-Nizam al-Siyasah Lid Daulah al-Islamiyah, h. 47] </p> <p>Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa baiat Aqabah satu dan kedua ternyata secara psikologis menjadikan umat Islam memiliki kekuatan dan percaya diri, serta mendorong mereka segera melakukan langkah-langkah strategis, yaitu hijrah ke Madinah. Maka penghijrahan umat Islam ke Madinah merupakan rangkaian langkah-langkah yang berorientasi pada pembentukan masyarakat yang menerima transformasi positif secara cepat. Dari dua langkah strategis itu ( baiat pertama dan kedua ) memunculkan tiga landasan pokok yang berimplikasi lahirnya dominasi politik bagi umat Islam. Tiga landasan pokok tersebut, ialah;</p> <p>1. Ikatan daerah atau wilayah.</p> <p>Dengan menjadikan Madinah sebagai tempat tinggal bagi umat Islam, baik Muhajirin atau Anshor, berarti umat Islam telah memiliki tempat tinggal, yaitu tanah air yang memungkinkan umat Islam beraktivitas dalam membangun ekonomi yang dapat dipergunakan untuk kepentingan bersama.</p> <p>2. Jiwa kemasyarakatan.</p> <p>Artinya pemikiran, idea dan persepsi umat Islam Madinah dapat diorientasikan untuk tujuan yang sama sesuai dengan yang dikehendaki.</p> <p>3. Dominasi politik.</p> <p>Dominasi politik dapat diraih setelah berhasil merubah sikap masyarakat Islam dari masyarakat yang tidak terlibat secara langsung dalam urusan-urusan politik menjadi masyarakat yang aktif melibatkan diri secara langsung dalam hal-hal yang berkaitan dengan politik.[footnoteRef:5] [5: . Ibid. h. 49] </p> <p>Ketiga landasan tersebut telah terealisasi setelah umat Islam seluruhnya berada di Madinah dan setelah penguasaan terhadap hal-hal yang terkait dengan politik berada di tangan mereka. Setelah penghijrahan umat Islam Muhajirin ke Madinah, maka Madinah membuka lahan subur untuk pengembangan pemikiran, wawasan dan pembangunan masyarakat yang sesuai dengan harapan dan cita-cita mulia ajaran Islam. Dalam kaitan ini Antony Black menegaskan bahwa gagasan Islam merupakan dobrakan yang menentukan sejarah pemikiran manusia tentang politik dan masyarakat.[footnoteRef:6] [6: . Antony Black, Pemikiran Politik Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, h. 36] </p> <p>Kondisi baru di Madinah dari aspek sosio politik dan sosio ekonomi, menuntut tanggung jawab Nabi serta peletakan dasar kebijakan, dasar kemasyarakatan dan dasar ekonomi untuk menghentikan perpecahan dan konflik yang terjadi di antara beberapa suku, agar mayarakat dapat memulai pembangunannya dalam berbagai aspek kehidupan, terutama yang terkait dengan pengelolaan urusan kehidupan umat. Karena hal inilah yang dapat memberikan nuansa baru bagi Madinah sendiri dan wilayah-wilayah yang berada di sekitarnya dalam rangka terciptanya kehidupan yang aman dan damai. Dalam rangka memperkokoh solidaritas masyarakat yang baru saja dibentuk di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad saw. kemudian melakukan kebijakan-kebijakan strategis yang dianggap sangat efektif bagi membangun kehidupan sosial politik dan keagamaan sekaligus, yaitu; Membangun mesjid, mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dengan orang-orang Anshor dan menetapkan konstitusi. Beberapa kebijakan Nabi ini akan dijelaskan pada topik pembinaan strategi pembangunan Madinah.</p> <p>2. Rekonstrukri Madinah Sebagai Pusat Kekuasaan</p> <p>Nabi Muhammad saw. memasuki Yastrib ( Madinah ) disertai dengan semangat untuk melakukan transformasi besar-besaran meliputi berbagai aspek kehidupan. Hal utama dari transformasi ini adalah terkait penanganan masalah sosial (social problems) yang sudah terjadi dan berakar di tengah-tengah kehidupan masyarakat, antaranya; masalah irihati, dengki, hasad, dendam, egoistik, dan sebagainya. Dari aspek sosial kemasyarakatan, di Yastrib terjadi kerusakan pada setiap level (tingkatan) penduduk Yastrib. Pada aspek sosial ekonomi juga terjadi kerusakan, seperti kebiasaan melakukan penimbunan pangan dan barang-barang pokok keperluan hidup sehari-hari, mentradisinya praktik riba yang berleluasa dan mencekik dalam transaksi pinjam meminjam, hutang piutang, dan perdagangan. Kondisi penduduk Yastrib juga terpecah-pecah atau terkotak-kotak, sehingga tidak memiliki kekuatan jika sewaktu-waktu ada serangan musuh yang datang dari luar.[footnoteRef:7] Demikian, gambaran umum tentang kondisi sosial masyarakat Yatsrib atau Madinah dalam berbagai aspek kehidupan mereka sebelum Nabi Muhammad saw. bertempat tinggal di Madinah. [7: . Muhammad al-Sayyid al-Wakil, al-Madinah al-Munawwarah `Ashimah al-Islam al-Ula ( Jeddah: Dar al-Mujtama, 1406 H. / 1986 M. ), r. 19] </p> <p>Kehadiran Nabi Muhammad ke Yastrib sebenarnya dihadapkan pada tanggung jawab berat untuk memperbaiki kondisi masyarakat yang sudah rusak, maka tugas Nabi Muhammad dalam menyikapi tantangan ini semua sebenarnya adalah bagaimana menciptakan umat agar memiliki kemampuan untuk mengemban risalah Islam, serta bagaimana dapat melahirkan generasi yang melupakan permusuhan, sehingga tercipta kondisi masyarakat yang rukun, damai, aman dan sejahtera, sehingga dengan demikian akan wujud generasi terdidik (educated) yang diwarnai dengan warna al-mahabbah (kasih sayang) dan al-ikha (rasa persaudaraan). Transformasi dan reformasi yang dicanangkan Nabi Muhammad meliputi berbagai aspek kehidupan, termasuk perubahan nama kota Yastrib dirubah menjadi kota Madinah atau Madinatur Rasul, nama Aus dan Khazraj ( dua Qabilah di Yastrib ) menjadi al-Anshar.[footnoteRef:8] Keberhasilan upaya transformasi ini dapat terlihat pada karakter masyarakat muslim dan akhlak, serta perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari setelah kondisinya menjadi kondusif, akhirnya mereka hidup dengan penuh persaudaraan dan saling menyayangi. Dari sini kemudian direalisasikan keadilan dan persamaan hak dalam kehidupan mereka, maka berdasarkan langkah-langkah tersebut Nabi Muhammad berhasil menciptakan umat Islam yang unggul di Madinah.[footnoteRef:9] Berikut ini disampaikan langkah-langkah strategis Nabi Muhammad terkait pembentukan dan pembinaan masyarakat dan warga Madinah sebagai langkah-langkah umum dan khusus, [footnoteRef:10] yaitu; [8: . Perubahan nama Qabilah Aus dan Khazraj menjadi al-Anshar bertujuan untuk terciptanya persatuan, karena menggunakan satu nama. Dengan demikian perpecahan dan permusuhan menjadi hilang. Upaya ini pada akhirnya berhasil.] [9: . Muhammad al-Sayyid al-Wakil, al-Madinah al-Munawwarah `Ashimah al-Islam al-Ula. h. 19] [10: . Yang dimaksud dengan langkah-langkah umum, ialah upaya-upaya penataan masyarakat dalam rangka restrukturisasi pembangunan masyarakat sebagaimana pada umumnya. Sementara langkah-langkah khusus dimaksudkan upaya penataan masyarakat secara politis mengarah pada pembentukan kekuasaan. ] </p> <p>2.1. Langkah-Langkah Umum </p> <p>1. al-Ikha ( Persaudaraan )</p> <p>Al-Ikha; artinya mempersaudarakan antara dua orang atau komunitas, kelompok yang berbeda. Upaya ini merupakan prinsip utama yang melandasi pembentukan masyarakat dan warga Madinah. Nabi Muhammad saw. mempersaudarakan antara sesama umat Islam, kaya, miskin, tua, muda, semuanya adalah bersaudara. Langkah Nabi ini mendapatkan justifikasi al-Qur`an pada surat al-Hujurat, ayat 10 yang artinya; sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudara-saudara kamu.[footnoteRef:11] Ikatan yang dibangun atas dasar persaudaraan (al-Ikha) ini dalam realitas kehidupan tidak mudah putus, maka setiap individu dalam masyarakat merasa ada ikatan dengan individu-individu yang lain. Persaudaraan di antara sesama umat Islam di Madinah begitu kokohnya sampai ke tingkat yang lebih jauh sehingga terjadi saling mewarisi harta kekayaan jika salah satu di antara mereka meninggal dunia, tetapi setelah turun ayat mawaris barulah ada aturan yang jelas bahwa dalam hal waris mewairis hanyalah berdasarkan alur kerabat hubungan darah dan terdekat. Persaudaraan di antara sesama umat Islam ini sebagai salah satu langkah strategis dalam rangka menciptakan persatuan masyarakat Islam seluruhnya, di mana Islam menjadi dasar acuan untuk persatuan ini, yaitu persatuan yang didasarkan atas kesedaran iman atau akidah. Dalam komteks ini Antony Black menyatakan bahwa Muhammad mendakwahkan persaudaraan spiritual plus hukum yang merangkul semua golongan, dan realitas berbicara bahwa kendali politik universal harus diraih oleh umat Islam.[footnoteRef:12] Dengan demikian seluruh umat Islam adalah bersaudara.[footnoteRef:13] [11: . Al-Qur`an: al-Hujurat; 10] [12: . Lihat Antony Black, Pemikiran Politik Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, h. 37] [13: . Muhammad al-Sayyid al-Wakil, al-Madinah al-Munawwarah `Ashimatul al-Islam al- Ula. h. 19 - 20] </p> <p>2. al-Mahabbah ( Kasih Sayang )</p> <p>Islam belum menganggap cukup dengan mendeklarasikan persaudaraan di antara sesama warga Madinah yang muslim, Nabi Muhammad juga belum rela sepenuh hati dengan persaudaraan saja sebagai ikatan yang mengikat orang-orang Islam, karena kadang-kadang meskipun sudah wujud persaudaraan tetapi tetap saja sesekali terjadi permusuhan. Oleh karena itu persaudaraan ini harus diintensifkan melalui interaksi (`alaqah) yang kokoh. Interaksi yang intensif menjadi faktor perekat persaudaraan yang kuat. Kasih sayang sebagai prinsip kedua menjadi dasar yang melandasi kokohnya persaudaraan dalam tatanan kehidupan masyarakat Madinah. Nabi Muhammad menanamkan kasih sayang (mahabbah) ini ke dalam jiwa umat Islam, karena rasa mahabbah lahir dari jiwa yang dalam. </p> <p>Kemudian agar mahabbah ini menjadi kokoh dan tidak mudah pudar, maka rasa mahabbah ini harus lahir dari kesadaran atas dasar cinta dan kasih sayang karena Allah, bukan karena faktor lain. Oleh karena itu Nabi Muhammad bersabda dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan Imam Bukhari, yang artinya; Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman sehingga dia dapat melahirkan rasa mahabbah karena Allah.[footnoteRef:14] Terciptanya rasa mahabbah yang berdasarkan karena Allah adalah merupakan kekuatan yang memperkokoh persaudaraan di antara sesama umat Islam. Karena rasa mahabbah yang sudah tertanam dalam jiwa secara otomatis dapat menghapus permusuhan dan kedengkian. Akhirnya umat Islam hidup dalam kondisi yang bebas dari malapetaka permusuhan, dengki, irihati dan sebaginya. [14: . Al-Bukhariy, Sahih Bukhariy, dalam Kitab al-Adab, Bab al-Hubbu Fillah, ( T.tpt: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiy, T.th. ), Juz 4, h. 56 -57] </p> <p>3. al-`Adalah ( Keadilan )</p> <p>Menegakkan keadilan merupakan prinsip ketiga menjadi landasan pembentukan konstruksi masyarakat dan warga Madinah. Adil dimaksudkan; sikap seimbang dan terhindar dari perbuatan zalim.[footnoteRef:15] Allah mewajibkan kepada manusia agar bersikap adil dalam setiap kondisi dan situasi, hal in sebagaimana Allah berfirman dalam surat al-Nahal, ayat 90 yang artinya; Sesungguhnya Allah senantiasa memerintahkan untuk berbuat adil dan baik.[footnoteRef:16] Dalam surat al-Nisa, ayat 58 Allah juga berfirman yang artinya; . . . . dan jika kamu memutuskan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.[footnoteRef:17] Dalam hal ucapan atau perkataan, Allah memerintahkan agar bersikap adil, sebagaimana ditegaskan dalam surat al-An`am, ayat 152, . . . . dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil sekalipun kepada ahli kerabat,[footnoteRef:18] maksudnya; mengatakan yang sebenarnya meskipun kepada orang-orang terdekat, seperti ahli kerabat. Dalam hal tulis menulis apapun bentuknya; Allah juga memerintahkan agar bersikap adil, sebagaimana ditegaskan di dalam surat al-Baqarah, ayat 282, yang artinya; . . . dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menulisnya dengan adil ( benar ).[footnoteRef:19] Dalam hal mendamaikan dua orang yang sedang konflik, Allah juga memerintahkan agar mendamaikannya dengan adil, artinya tidak berpihak kepada seseorang karena ada imbalan jasa yang akan diterima. Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam surat al-Hujurat, ayat 9 yang artinya; . . . Jika golongan itu telah kembali (kepada Allah), maka damaikanlah keduanya dengan adil. Demikianlah bahwa sesungguhnya sikap adil itu merupakan sifat yang harus melekat pada setiap umat Islam kapan saja dan di mana saja. Umat yang komitmen dan berpegang teguh dengan sikap adil, dengan sendirinya akan tercipta kehidupan yang aman, baik jiwanya, hartanya, dan kehormatannya.[footnoteRef:20] Tentu tidak ada yang lebih...</p>