2 Makalah Orto 4 - Oral Habits and Their Management-mei11 Dan Soal

  • View
    113

  • Download
    24

Embed Size (px)

DESCRIPTION

chascgahscdbhcbgszkjdjcnhsdcszdcmscndkjcnsladxncbcj x

Transcript

MACAM-MACAM ORAL HABIT DAN MANAJEMENNYA

Disusun oleh: KELOMPOK VIII

Yasinta Noor Kartika KG/7988 Chrisdina Puspita S KG/8230 Dendi Aditya Pratama KG/8212 Pandu Novembiar Y.S.KG/8232 Hamida Sukma Sari KG/8214 Belinda Chandra H. KG/8234 Rizka Dindarini KG/8216 Mega Cicilia KG/8238 Wyndi N.K KG/8218 Ratna Fitrianingrum KG/8240 Novitasari Eko W. KG/8220 Yosaphat Bayu R KG/8242 Endah Wahyu S. KG/8224 Helmy Oktaviany H KG/8244 Raysa Yunda Pratiwi KG/8226 Nirwana Laksmita M. KG/8246 Shoimah Alfa Makmur KG/8228

Pembimbing:

drg. Cendrawasih AF, M. Kes., Sp. Ort. (K)

1

SEMINAR ORTODONSIA IV Semester VIII

Presentasi: Kamis, 26 Mei 2011

BAGIAN ORTODONSIA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Ahli psikologi dan psikiatri menggambarkan oral habits sebagai fenomena psikodinamik. Dokter gigi memperhatikan masalah oral habits sebagai kebiasaan yang sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan sistem orofasial. Dokter gigi yang berhadapan dengan seorang anak yang memiliki permasalahan oral habits dan telah mengalami masalah pada dentofasial perlu memperhatikan latar belakang psikologis anak tersebut, dari semula merupakan kebiasaan yang normal dilakukan sampai menjadi kebiasaan yang dipicu oleh adanya masalah emosional anak tersebut (Kovelaous dkk, 1988). Oral habits dapat menjadi suatu bagian dari pertumbuhan yang normal, gejala yang terjadi dengan dasar psikologis, atau merupakan hasil pertumbuhan fasial yang abnormal.

2

Habits mula-mula merupakan suatu respon autonomik yang hanya terjadi pada respon motorik. Respon otomatis yang diperoleh dari hasil pengulangan dan pembelajaran ini dapat menjadi semakin tidak disadari dan menjadi kebiasaan yang menetap, mudah dilakukan dan tidak disadari atau hampir otomatis (Tilakraj, 2003; Singh, 2007). Bad habits atau kebiasaan oral yang merusak, terjadi bila habits yang melibatkan rongga mulut berkelanjutan, menyebabkan gangguan pada struktur dentofasial (Rao dan Arathi, 2008). Mathewson dan Primosch (1995) menyatakan bahwa oral habits merupakan suatu pola yang dilakukan untuk menyesuaikan kontraksi muscular. Seorang dokter gigi perlu memahami pengaruh oral habits terhadap gigi dan manifestasi kebiasaan tersebut untuk mendapatkan hasil yang baik dalam perawatannya. Salah satu perawatan penting yang dapat dilakukan adalah dengan perawatan orthodontik interseptif untuk mengeliminasi kebiasaan tersebut sebelum berkembang lebih lanjut dan menyebabkan kerusakan pada gigi-gigi (Dutta dan Sachdeva, 2007). Oral habits pada anak-anak, menimbulkan ketidakseimbangan tekanan yang berbahaya bagi posisi gigi-geligi dan oklusi sehingga menjadi malposisi dan maloklusi. Jika kebiasaan jelek tersebut berhenti pada usia kurang dari 3 tahun, maka kemungkinan tidak akan mempengaruhi keadaan gigi-gigi. Apabila terjadi kelainan, sifatnya hanya sementara, oklusi akan normal kembali dengan sendirinya. Tetapi apabila ditemukan adanya kebiasaan jelek pada usia setelah 3 tahun, maka perlu adanya perhatan khusus, karena akan terjadi gangguan pada oklusi (Mathewson dan Primosch, 1995). Oral habits pada anak-anak sangat sulit dihentikan, apalagi bila hal tesebut memberikan kenyamanan tersendiri bagi seorang anak. Kelainan yang timbul akibat oral habits dipengaruhi pola rangka wajah, keterlibatan otot orofasial, intensitas, durasi dan frekuensi. Beberapa akibat yang dapat ditimbulkan adalah protrusi gigi anterior rahang, retrusi gigi anterior rahang bawah, inflamasi jaringan lunak, dan gigitan terbuka anterior (Pinkham, 1994). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada kebiasaan bernafas melalui mulut , 30% mengalami crossbite posterior pada periode gigi decidui dan gigi bercampur, 48% crossbite posterior pada masa gigi permanen pada pasien usia 2-12 tahun (Souki dkk., 2009), demikian pula pada usia. 13-14 tahun (Melsan dkk., 1987), dan kecenderungan maloklusi kelas II (Singh, 2009). Kebiasaan menghisap jari merupakan oral habit yang paling sering terjadi. Insidensi kebiasaan menghisap jari dilaporkan mencapai antara 13% sampai 100% selama usia infantil. Prevalensi kebiasaan ini menurun seiring pertambahan usia bayi, terutama pada usia 3,5-4 tahun 3

(Muthu dan Sivakumar, 2009). Hampir 97% bayi yang baru lahir mengalami kebiasaan tongue thrusting. Prevalensi kebiasaan ini menurun menjadi 3% pada anak berusia 12 tahun (McMillan, dkk., 2006). Prevalensi kebiasaan bruxism mencapai 7-88% pada anak usia mix dentition 7-15 tahun, Kebiasaan nail biting dilaporkan mencapai 45% pada anak-anak, dan menurun menjadi 4,5% pada orang dewasa (Peterson, dkk., 1994), Mengingat cukup tingginya insiden yang terjadi dan banyaknya akibat yang ditimbulkan oleh kebiasaan jelek tersebut, maka informasi mengenai oral habit dan manajemennya perlu diketahui lebih lanjut.

B. Rumusan masalah Dari latar belakang tersebut maka dapat disusun permasalahan sebagai berikut: 1. Apa saja macam oral habit yang dapat menyebabkan kelainan ortodontik? 2. Bagaimana mekanisme oral habit dapat menyebabkan maloklusi? 3. Bagaimana penatalaksanaan penghilangan oral habit yang berpotensi menyebabkan maloklusi? C. Tujuan dan Manfaat Tujuan dan manffat dari makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh oral habit terhadap kelainan ortodontik dan manajemennya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Oral habits yang bersifat merusak umumnya menghasilkan tekanan yang dapat mengubah lingkungan fungsional bagi pertumbuhan gigi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tekanan yang sangat kecil pun dapat mengubah posisi gigi jika diberikan dalam durasi yang cukup panjang (Rakosi and Graber, 2010). Oral habit seperti menghisap jari, tongue thrusting, dan bernapas melalui mulut memiliki efek yang besar pada perkembangan rahang dan pola erupsi gigi sehingga dapat menjadi maloklusi. Kebiasaan-kebiasaan ini dapat menyebabkan tulang alveolar melunak, perubahan pada posisi gigi-gigi dan oklusi, dan akan menjadi semakin parah jika kebiasaan ini terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama. Jika kebiasaan tersebut terus berlanjut terutama sampai setelah gigi permanen mulai tumbuh,

4

bukan tidak mungkin akan berkembang permasalahan pada rongga mulut (Hiremath, 2007; Dutta dan Sachdeva, 2007). Karakter jaringan tulang yang dikenai akibat kebiasaan buruk juga turut mempengaruhi timbulnya maloklusi. Deformitas dapat terjadi akibat kebiasaan buruk yang dilakukan pada jaringan tulang yang belum terkalsifikasi sempurna akibat malnutrisi atau mengalami riketsia. Semakin awal kebiasaan buruk tersebut terjadi, deformitas yang ditimbulkannya juga semakin besar (Strang dan Thompson, 1958). Muthu and Sivakumar (2009) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi potensi permasalahan dental tersebut antara lain adalah frekuensi, durasi, dan intensitas kebiasaan. Hiremath (2007) menyatakan hubungan ketiganya dapat dirumuskan sebagai berikut: I=FD I : intensitas; F : frekuensi; D : durasi Kebiasaan menghisap jari tidak akan menimbulkan kelainan jika dilakukan oleh anak berusia di bawah 2 tahun karena merupakan cara anak untuk mendapatkan kenyamanan. Jika kebiasaan tersebut telah berhenti, maka tidak akan terjadi kelainan (Yamaguchi dan Sueishi, 2003). Teori lain menambahkan lokasi dan posisi kebiasaan dapat menentukan keparahan terjadinya kelainan ortodontik (Strang dan Thompson, 1958).

A. Macam Oral Habit 1. Digit Sucking Definisi: Digit-sucking habit merupakan kebiasaan menghisap jari (satu atau beberapa jari) dengan mulut yang umum terjadi pada anak-anak karena memberikan efek ketenangan (Shelov dan Hannemann, 1997). Etiologi: Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kebiasaan ini seperti jenis kelamin bayi, tipe pemberian makanan (ASI atau mengedot botol susu), lamanya pemberian makanan, faktor sosial-ekonomi, terpisah oleh orangtua, kesehatan umum dan psikologis.

2.

Tongue Thrusting Definisi: Tongue thrusting adalah suatu kondisi lidah berkontak dengan gigi saat proses

menelan. Tulley (1969) mengatakan bahwa keadaan tongue thrusting adalah gerakan maju dari 5

ujung lidah di antara gigi untuk memenuhi bibir bawah selama menelan dan berbicara. Tongue thrusting adalah pola oral habits terkait dengan bertahannya pola menelan yang salah selama masa kanak-kanak dan remaja, sehingga menghasilkan gigitan terbuka dan penonjolan segmen gigi anterior. Etiologi: Etiologi tongue thrust dapat dibagi ke dalam 4 jenis yaitu (1) genetik atau herediter; (2) learned behavior (habit atau kebiasaan); (3) maturasional; (4) fungsional. Tongue thrust dapat dibagi menjadi 4 jenis, (1) tipe fisiologis, meliputi bentuk normal pola menelan tongue thrust anak-anak; (2) tipe habitual, tongue thrust merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan bahkan setelah dilakukan koreksi maloklusi; (3) Fungsional, mekanisme tongue thrust merupakan perilaku adaptif untuk membentuk oral seal; (4) Anatomis, individu dengan lidah besar atau terjadi perbesaran (enalrgement) dapat memiliki postur lidah ke depan.

3. Mouth Breathing Definisi: Chopra (1951) mendefinisikan mouth breathing sebagai kebiasaan bernapas melalui mulut daripada hidung. Chacker (1961) mendefinisikan mouth breathing sebagai perpanjangan atau kelanjutan terpaparnya jaringan mulut terhadap efek pengeringan dari udara inspirasi. Sassouni (1971) mendefinisikannya sebagai kebiasaan bernapas melalui mulut daripada hidung (Singh, 2007). Etiologi: Mouth breathing dapat disebabkan secara fisiologis maupun kondisi anatomis, dapat juga bersifat transisi ketika disebabkan karena obstruksi nasal. True mouth breathing terjadi ketika kebiasaan tetap berlanjut ketika obstruksi telah dihilangkan (Kohli, 2010). Beberapa tipe mouth breathing dalam tiga kategori menurut Finn (1962): a. Tipe Obstruktif. Tipe ini adalah anak yang bernafas melalui mulut karena adanya hambatan, seperti (a) rinitis alergi, (b) polip hidung, (c) deviasi atau penyimpangan septum nasal