33. AKUT MYOCARD INFARK

  • Published on
    30-Jun-2015

  • View
    399

  • Download
    6

Embed Size (px)

Transcript

AKUT MYOCARD INFARK Perhatian - 2 - 4% dari semua kasus IMA pulang tanpa diketahui diagnosanya.Mayoritas kasus ini melibatkan pasien usia muda dengan unsuspected IMA dan penderita tua dengan tampilan klinis tidak spesifik. Jadi pada penderita tua IMA harus disingkirkan, juga pada penderita diabetes dengan keluhan jantung,respirasi dan neurologi yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya. - Faktor-faktor yang menyebabkan luputnya diagnosa IMA ; 1. Lupa/gagal mengadakan pemeriksaan penunjang (EKG , Pertanda serum) 2. Diagnosa IMA tidak terpikirkan 3. Penderita dipulangkan dari UGD dengan tidak jela diagnosanya. 4. tidak benar dalam mengartikan hasil test penunjang. 5. Sangat mempercayai dari studi yang negatif (EKG maupun pemeriksaan awal Pertanda Serum) - Karakteristik penampilan Atypical IMA 1. Ciri pembawaan seseorang (kewanitaan,kalem, tidak tergantung,tenang) 2. Sifat pembawaan ( kaum medis jarang menceritakan penyakit terdahulu,pandai mengendalikan diri, penyangkalan) 3. Ambang nyeri yang tinggi 4. Depressi berat atau Psikosa 5. Dementia atau terdapat faktor yang menghalangi komunikasi 6. Interpretasi yang keliru antara Dokter Pasien tentang tanda & gejala IMA 7. Neuropathy Sensor, Motor dan saraf Otonom 8. Gangguan CNS dalam mengenali Ischemia. - Berikut ini adalah keluhan keluhan , sindroma,presentasi yang menyertai nyeri Angina 1. Keluhan-keluhan : sesak, mual/muntah, berkeringat, lemah/ pusing, batuk, pingsan 2. Sindroma : delirium, kebingungan, CVA. 3. Presentasi : henti jantung, new onset dysrhythmia, new onset Congestive heart failure, bronchospasme tachycardi- oedem perifer yang tidak diketahui penyebabnya - Berikut ini beberapa Risk Management Tips pada penderita IMA: 1. Umur dan gender wanita sebaiknya tidak menyingkirkan diagnosa Ischemi atau IMA 2. Riwayat positif penyakit jantung merupakan faktor kritis. Untuk pasien dengan riwayat angina atau IMA yang tampil dengan potensial ischemi baru,faktor resiko kuranglah berperan, lebih berperan riwayat penyakit jantungnya.

3. Berikut ini adalah faktor faktor yang relevan dengan timbulnya IMA :riwayat keluarga, DM, hipertensi, hiperlipidemia, merokok, dan riwayat penggunaan cocaine 4. Pertimbangkan untuk menerapkan kebijakan penyertaan rekaman EKG sebelumnya pada penderita penyakit jantung. 5. Nyeri dada disertai Left Bundle Branch Block baru, pertimbangkan sebagai IMA. Semua LBBB baru dengan nyeri dada menetap pertimbangkan dengan Thrombolytic terapi 6. Nyeri dada yang terjadi pada saat istirahat pada penderita penyakit jantung merupakan temuan yang tidak menyenangkan bagi penderita. Tatalaksana Beri oksigen dengan masker, monitor tanda-tanda vital Beri Aspirin 300 mg oral Beri tablet Glyceril Tri Nitrate SL , ulangi EKG 5 menit kemudian ( untuk menyingkirkan kelainan EKG karena vasospasme coroner) Buat rekaman EKG sisi kanan jantung pada inferior IMA untuk menyingkirkan infark jantung sebelah kanan. IV plug , buat pemeriksaan : darah lengkap, ureum/elektrolit/creatine,enzym jantung, Troponin T, PT/PTT, cross match. Hindari penusukan pembuluh arteri. Morphine 2 5 mg IV bolus pelan. Ulangi setiap 10 menit sampai nyeri dada hilang Beri metoclopramide 10 mg IV. Beri GTN IV 20 200 ug/ menit pada kondisi 1. nyeri ischemik yang berkepanjangan 2. gagal ventricle kiri 3. hipertensi Tingkatkan 5- 10 ug/ menit setiap 5-10 menit sampai nyeri dada hilang atau MAP turun 10% dari nilai awal. Stop pemberian bila terjadi hipotensi. Perhatian pada inferior myocardial infarction biasanya disertai infark jantung sebelah kanan , dimana pemberian Nitrate merupakan kontraindikasi. PertimbangkanMyocardial Salvage Therapy baik dengan Thrombo lytic maupun PCI ( Procedural Coronary Intervention). Tabel Reperfusi Dichotomy

Thrombolysis Keuntungan - Pemberian cepat - Mudah diperoleh -Nyaman

PCI - lebih superior dalam menjaga patency - pembuluh darah - komplikasi perdarahan kurang - definisi dini dari anatomi coroner sehingga memudahkan terapi dan lebih efisien dalam stratifikasi resiko. - tidak mudah diperoleh - dibutuhkan keahlian

Kerugian

-keberhasilan patency vascu lar 60-85%, dengan aliran coroner 45-60% - Reoklusi 5-15% pada ming gu I dan 20-30% pada bu lan ke 3

Pertimbangkan apakah pasien merupakan kandidat untuk terapi Thrombolisis 1. nyeri dada tipikal karena IMA 2. elevasi ST segmen paling sedikit 1 mm di 2 sandapan inferior atau elevasi diatas 2 mm paling sedikit di 2 sandapan anterior. 3. kejadian < 12 jam sejak nyeri dada. 4. umur < 75 tahun. Bila pasien memenuhi persyaratan untuk thrombolisis,perhatikan kontraindikasinya : 1. suspect robekan aorta 2. punya riwayat stroke 3. terdapat neoplasma intracranial. 4. baru cedera kepala 5. patologi intrcranial lainnya 6. hipertensi berat (tensi 180/110 mmHg) 7. ulcus pepticum akut 8. perdarahan akut didalam 9. perdarahan didalam dalam kurun 1 bulan 10. operasi besar dalam 1 bulan lalu. 11. penggunaan anti koagulant 1 bulan lalu. 12. terdapat riwayat gangguan koagulasi 13. resusitai jantung paru > 5 menit 14. pemakaian thrombolysis yang baru 15. kehamilan 16. diabetes retinopathy 17. hipotensi (sistolik 65 tahun b. berat badan < 70 kg c. hipertensi pada saat diperiksa d. pemakaian rtPA 2. alergi Streptokinase 5% dari semua kasus baru, teristimewa mereka yang baru saja mengalami infeksi Streptococcus dan 0,2% bagi mereka yang mengalami reaksi anaphylatik sebelumnya. 3. hipotensi selama pemberian infus streptokinase (15%), tetapi ini akan membaik dengan penurunan kecepatan infus dan ekspansi volume intrvascular. Dosis rtPA Streptokinase - 100 mg rtPA dilarutkan dalam 100 cc aquadest - beri 15 mg IV bolus - selanjutnya 0,75 mg/kg selama 30 menit, dosis tidak melebihi 50 mg - selanjutnya 0,50 mg/kg selama 60 menit, dosis tidak melebih 35 mg . - 1,5 juta units dalam 100 cc NS selama 1 jam.

Bila penderita dalam kondisi shock , cari faktor yang mendasarinya seperti: 1. perdarahan intestinum,lakukan rectal-toucher dengan gentle 2. bradycardi,tatalaksana sesuai protokol ACLS 3. tachycardi, tatalaksana sesuai protokol ACLS 4. infark jantung kanan a. Pada inferior IMA ,buatlah rekaman jantung sebelah kanan, cari ST elevasi pada V4R,V5R,V6R minimal 1 mm. b. Bila gambarannya positive,beri test cairan NS 100-200 ml selama 5-10 menit , nilai responnya. c. Prosedur (b) bisa diulang sepanjang pasien tidak menjadi sesak dan secara klinik tidak dijumpai tanda-tanda Oedema Paru.

d. Berikan inotropik ( dopamin/dobutamin 5-20 ug/kg/menit) bila tekanan darah tetap rendah dengan test cairan NS sebanyak 500 ml diatas. 5. bila pasien mengalami shock cardiogenic akibat komplikasi mekanik seperti ruptur/disfungsi musculus Papillaris , ruptur septum, ruptur dinding jantung yang berakibat tamponade , a. konsul ahli penyakit jantung, ahhli bedah thorak b. sementara itu berikan obat-obat inotropik seperti dopamin/dobutamin 5-20 ug/kg/menit c. pasang urin kateter untuk mengukur produksi urin

Acute Miocard Infark (AMI)Ditulis oleh Nenk Pada tanggal 26 January 2009

MAU GAJI 20 JUTA / BULAN ? INVESTASI CUMA 100 RIBU MODAL 100 RIBU DAPAT 38 JUTA DARI INTERNET, MAU ??

OLES HERBAL UTK TAHAN LAMA ANTI EJAKULASI DINI Ramuan Oles Anti Ejakulasi Dini BPOM.

OBAT OLES LUAR Bisnis ANTI EJAKULASI Online...Cukup 1x DINI, Dr.Boyke Investasi Seumur Hidup Freelance Bahasa Inggris KumpulBlogger.com DEFINISI Serangan Jantung (infark miokardial) adalah suatu keadaan dimana secara tiba-tiba terjadi pembatasan atau pemutusan aliran darah ke jantung, yang menyebabkan otot jantung (miokardium) mati karena kekurangan oksigen. Proses iskemik miokardium lama yang mengakibatkan kematian (nekrosis) jaringan otot miokardium tiba-tiba. ETIOLOGI Serangan jantung biasanya terjadi jika suatu sumbatan pada arteri koroner menyebabkan terbatasnya atau terputusnya aliran darah ke suatu bagian dari jantung. Jika terputusnya

atau berkurangnya aliran darah ini berlangsung lebih dari beberapa menit, maka jaringan jantung akan mati. Kemampuan memompa jantung setelah suatu serangan jantung secara langsung berhubungan dengan luas dan lokasi kerusakan jaringan (infark). Jika lebih dari separuh jaringan jantung mengalami kerusakan, biasanya jantung tidak dapat berfungsi dan kemungkinan terjadi kematian. Bahkan walaupun kerusakannya tidak luas, jantung tidak mampu memompa dengan baik, sehingga terjadi gagal jantung atau syok Jantung yang mengalami kerusakan bisa membesar, dan sebagian merupakan usaha jantung untuk mengkompensasi kemampuan memompanya yang menurun (karena jantung yang lebih besar akan berdenyut lebih kuat). Jantung yang membesar juga merupakan gambaran dari kerusakan otot jantungnya sendiri. Pembesaran jantung setelah suatu serangan jantung memberikan prognosis yang lebih buruk. Penyebab lain dari serangan jantung adalah: Suatu bekuan dari bagian jantungnya sendiri. Kadang suatu bekuan (embolus) terbentuk di dalam jantung, lalu pecah dan tersangkut di arteri koroner. Kejang pada arteri koroner yang menyebabkan terhentinya aliran darah. Kejang ini bisa disebabkan oleh obat (seperti kokain) atau karena merokok, tetapi kadang penyebabnya tidak diketahui. EPIDEMIOLOGI Kematian mendadak, yang dalam bahasa aslinya disebut sudden cardiac death, didefinisikan sebagai kematian yang tidak terduga atau proses kematian yang terjadi cepat, yaitu dalam waktu 1 wad sejak timbulnya gejala. Sekitar 93 persen SCD adalah suatu kematian aritmik. Artinya, kematian terjadi akibat timbulnya gangguan irama jantung yang menyebabkan kegagalan sirkulasi darah. Di negara maju seperti Amerika Serikat, kejadian sudden cardiac death (SCD) mencapai 400.000 kasus per tahun. Jumlah ini hampir 50 persen dari seluruh kematian yang terjadi. Keadaan yang sama bisa jadi dialami juga oleh negara kita, khususnya di perkotaan, di mana pola penyakitnya sudah sama dengan pola penyakit negara-negara maju. SCD dapat terjadi pada orang yang memiliki sakit jantung yang manifes secara klinis maupun pada penyakit jantung yang silent. Artinya, kematian mendadak dapat terjadi baik pada mereka yang telah diketahui menderita sakit jantung sebelumnya maupun pada mereka yang dianggap sehat-sehat saja selama ini. Wanita yang pernah mengalami serangan jantung atau infark miokard akut (IMA) memiliki peluang yang sama dengan pria untuk mengalami SCD. Studi Framingham, suatu landmark studi epidemiologik jangka panjang, menunjukkan bahwa pada penderita dengan riwayat penyakit jantung, pria mempunyai risiko SCD 2-4 kali lipat dibandingkan dengan wanita. Sementara itu, data yang lebih baru dari Abildstrom dan kawan-kawan yang melakukan studi prospektif selama empat tahun pada 6.000 pasien yang selamat dari IMA menemukan bahwa pria mengalami SCD hanya 1,3 kali lebih sering dibanding wanita. Temuan yang dipublikasikan tahun 2002 itu menunjukkan terjadi peningkatan SCD pada

wanita. Sejumlah besar data menunjukkan bahwa wanita dan dokternya harus memahami bahwa penyakit jantung dan SCD bukan hanya isu kaum adam atau manula saja. Beberapa peneliti dari National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion Amerika Serikat mendapatkan bahwa kejadian kematian mendadak yang disebabkan penyakit jantung yang dialami oleh wanita muda meningkat lebih dari 31 persen selama periode 1989-1996. Padahal, pria hanya mengalami peningkatan sekitar 10 persen selama periode yang sama. Temuan ini sangat mengejutkan para ahli sehingga secara aktif digali faktor-faktor yang diduga menyebabkan keadaan tersebut. Peningkatan yang bermakna dari frekuensi kejadian diabetes, overweight dan obesitas pada wanita, kecenderungan meningkatnya wanita perokok, dan screening kesehatan serta pengobatan penyakit jantung yang kurang agresif pada wanita dibandingkan pria diduga merupakan faktor-faktor yang turut berperan pada peningkatan SCD pada wanita. Kemudian, data lain juga menunjukkan bahwa wanita kurang menyadari gejala serangan jantung sehingga terlambat mendapatkan pertolongan. Wanita tidak mendapatkan perawatan yang tepat waktu karena mereka dan dokternya lambat mengambil kesimpulan terhadap suatu gejala penyakit jantung. Badan epidemiologi nasional di Amerika mendapatkan bahwa proporsi wanita yang mengalami kematian di luar rumah sakit lebih tinggi dari pada pria. Hampir 52 persen wanita yang mengalami SCD terjadi di luar rumah sakit, dibandingkan hanya 42 persen pada pria. Hal ini terjadi karena gejala penyakit jantung pada wanita sering berbeda dengan pria sehingga terlambat dikenali. PATOFISIOLOGI Kebanyakan pasien dengan infark miokard akut mencari pengobatan karena rasa sakit didada. Namun demikian ,gambaran klinis bisa bervariasi dari pasien yang datang untuk melakukan pemeriksaan rutin, sampai pada pasien yang merasa nyeri di substernal yang hebat dan secara cepat berkembang menjadi syok dan eadem pulmonal, dan ada pula pasien yang baru saja tampak sehat lalu tiba-tiba meninggal. Serangan infark miokard biasanya akut, dengan rasa sakit seperti angina,tetapi tidak seperti angina yang biasa, maka disini terdapat rasa penekanan yang luar biasa pada pappa atau perasaan akan datangnya kematian. Bila pasien sebelumnya pernah mendapat serangan angina ,maka ia prejudice bahwa sesuatu yang berbeda dari serangan angina sebelumnya sedang berlangsung. Juga, kebalikan dengan angina yang biasa, infark miokard akut terjadi sewaktu pasien dalam keadaan istirahat ,sering pada jam-jam awal dipagi hari. Nitrogliserin tidaklah mengurangkan rasa sakitnya yang bisa kemudian menghilang berkurang dan bisa pula bertahan berjam-jam malahan berhari-hari. Nausea dan vomitus merupakan penyerta rasa sakit tsb dan bisa hebat, terlebih-lebih apabila diberikan martin untuk rasa sakitnya. Rasa sakitnya adalah diffus dan bersifat mencekam, mencekik, mencengkeram atau membor. Paling nyata didaerah subternal, dari mana ia menyebar kedua lengan, kerongkongan atau dagu, atau abdomen sebelah atas (sehingga ia mirip dengan kolik cholelithiasis, cholesistitis akut ulkus peptikum akut atau pancreatitis akut). Terdapat laporan adanya infark miokard tanpa rasa sakit. Namun hila pasien-pasien ini ditanya secara cermat, mereka biasanya menerangkan adanya gangguan pencernaan atau

rasa benjol didada yang samar-samar yang hanya sedikit menimbulkan rasa tidak enak/senang. Sekali-sekali pasien akan mengalami rasa napas yang pendek (seperti orang yang kelelahan) dan bukanya tekanan pada substernal.Sekali-sekali bisa pula terjadi cekukan/singultus akibat irritasi diapragma oleh infark dinding inferior. pasien biasanya tetap sadar ,tetapi bisa gelisah, cemas atau bingung. Syncope adalah jarang, ketidak sadaran akibat iskemi serebral, sebab cardiac output yang berkurang bisa sekali-sekali terjadi.Bila pasien-pasien ditanyai secara cermat, mereka sering menyatakan bahwa untuk masa yang bervariasi sebelum serangan dari hari 1 hingga 2 minggu ) ,rasa sakit anginanya menjadi lebih parah serta tidak bereaksi baik tidak terhadap pemberian nitrogliserin atau mereka mulai merasa distres/rasa tidak enak substernal yang tersamar atau gangguan pencernaan (gejala -gejala p...