54436719 Makalah an Profesionalisme Konselor

  • Published on
    22-Jul-2015

  • View
    478

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

MAKALAH PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING PENGEMBANGAN PROFESIONALISME KONSELORDisusun guna melengkapi tugas tengah semester 2 Dosen pengampu : Indah Lestari S.Pd

Disusun oleh: Nama Nim Kelas : Novita Niki Astuti : 2010-31-098 : 2C

UNIVERSITAS MURIA KUDUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING TAHUN AKADEMIK 2010/2011

KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada penulis, sehingga penlis dapat menyelesaikan tugas individu mata kuliah Profesi Bimbingan dan Konseling dengan tema Pengembangan profesionalisme konselor, sehingga makalah ini dapat di susun dengan baik. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucaokan terima kasih kepada: 1. Kedua orang tua dan keluarga yang selalu mendoakan serta memberi dukungan materiil serta spiritual kepada penulis. 2. Indah Lestari S.Pd selaku dosen pembimbing. 3. Sahabat-sahabat yang telah memberikan masukan dan saran kepada penulis. 4. Semua pihak yanng telah membantu memberikan informasi dan dukungan demi terwudkannya makalah ini. Penulis sadar bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna,oleh sebab itu penlis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Penulis sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menyusun makalah ini agar menampilkan yang terbaik. Penulis berharap semoga makalah yang telah tersusun ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .. i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI .. iii BAB I PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah .. 1 BAB II PEMBAHASAN . 2 A. Pengertian dan pentingnya profesionalisme konselor dalam bimbingan dan konseling 2 B. Konselor sebagai profesi . 4 C. Kompetensi konselor .. 5 D. Pribadi konselor ... 12 E. Pengembangan Kode etik profesional konselor F. Pengembangan profesi bimbingan dan konseling . G. Pengembangan standarisasi profesi konselor 14 14 19

BAB III PENUTUP 24 A. Kesimpulan .. 24 B. Saran . 25 DAFTAR PUSTAKA 26

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Profesionalisasi merupakan proses yang berlangsung sepanjang hayat, Artinya profesionalisasi pada dasarnya merupakan serangkaian proses pengembangan keprofesionalan, baik di lakukan melalui pendidikan, Latihan pra-jabatan maupun pendidikan latihan dalam jabatan. Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik strata satu ( S1) program studi bimbingan dan konseling. Sebagai seorang konselor kita harus dapat profesional dalam menjalankan pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang sudah berlaku. Konselor yang profesional dapat berusaha memahami, bukan menghakimi tingkah laku orang yang mereka upayakan bantu. Selain itu sebagai konselor yang profesional juga harus dapat membangkitkan rasa percaya diri dan kredibilitas kliennya. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dan pentingnya profesionalisme konselor dalam bimbingan dan konseling ? 2. Mengetahui mengapa konselor sebagai profesi ? 3. Mengetahui apa saja kompetensi seorang konselor ? 4. Pribadi konselor profesional ? 5. Pengembangan kode etik profesional konselor ? 6. Pengembangan profesi bimbingan dan konseling ? 7. Pengembangan Standarisasi Profesi Konselor ?

BAB II

PEMBAHASAN A. Pengertian dan pentingnya profesionalisme dalam bimbingan dan konseling 1. Pengertian Istilah profesi memang selalu menyangkut pekerjaan, tetapi tidak semua pekerjaan dapat di sebut profesi. Ada beberapa yanng berkaitan dengan profesi yang hendaknya tidak di campuradukkan, yaitu profesi, profesional, profesionalisme, profesionalitas dan profesionalisasi. Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya. Artinya pekerjaan yang di sebut profesi itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak di siapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu. Profesional menunjukkan kepada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi: misalnya sebutan dia sebagai profesional. Kedua, penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Dalam pengertian ini, istilah profesional sering di pertentangkan dengan istilah non-profesional atau amatiran. Profesionalisme menunjuk kepada komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan strategi-strategi yang di gunakan dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Profesionalitas mengacu pada sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam rangka melakukan pekerjaannya. Profesionalisasi menunjuk pada proses peningkatan kualifikasi maupun kemampuan para anggota suatu profesi dalam mencapai kriteria yang standar dalam penampilannya sebagai anggota suatu profesi. Profesionalisasi pada dasarnya merupakan serangkaian proses

pengembangan keprofesionalan, baik di lakukan melalui pendidikan / latihan pra-jabatan maupun pendidikan/ latihan dalam jabatan.

Oleh

sebab

itu

profesionalisasi

merupakan

proses

yang

berlangsung sepanjang hayat tanpa henti ( lifelong learning process). Konselor adalah orang yang profesional, artinya secara formal mereka telah di siapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang. Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik strata satu ( S1) program studi bimbingan dan konseling dan program Pendidikan Profesi Konselor dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi. Jadi profesionalisme konselor merupakan keahlian pelayanan pengembangan pribadi dan pemecahan masalah yang mementingkan pemenuhan kebutuhan dan kebahagiaan pengguna ( klien) sesuai dengan martabat, nilai, potensi dan keunikan individu.

2.

Pentingnya Profesionalisasi Bimbingan dan Konseling bagi Konselor Bimbingan dan konseling merupakan suatu profesi, karena suatu pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya. Artinya pekerjaan bimbingan dan konseling tidak bisa di lakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak di siapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu. Kegiatan bimbingan dan konselling tidak bisa di lakukan oleh sembarang orang, karena untuk melakukan kegiatan tersebut di tuntut keahlian khusus atau kompetensi sebagai konselor atau ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Konselor merupakan orang yang profesional, artinya secara formal mereka telah di siapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang. Dalam proses bimbingan dan konseling, konselor memang memiliki peranan penting, karena konselor merupaka jabatan yang penting, oleh karena itu orang yang menjabat sebagai konselor harus mempunyai dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap khusus tertentu dimana pekerjaan itu diakui oleh masyarakat sebagai suatu

keahlian. Profesi konselor adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian khusus dalam bidang bimbingan dan konseling. Artinya, tidak bisa di lakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak di siapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan bimbingan dan konseling.

B. Konselor sebagai profesi Djojonegoro ( 1998:350) menyatakan bahwa profesionalisme dalam suatu pekerjaan atau jabatan di tentukan oleh tiga faktor penting, yaitu: (1) memiliki keahlian khusus yang di persiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesialisasi, (2) kemampuan untuk memperbaiki kemampuan ( keterampilan dan keahlian khusus) yang di miliki, (3) penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian yang dimiliki itu. Menurut Vollmer & Mills ( 1991:4) profesi adalah sebuah pekerjaan atau jabatan yang memerlikan kemampuan intelektual khusus, yang di peroleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis ( nasihat) pada oran lain dengan memperoleh upah atau gaji dalam jumlah tertentu. Suatu profesi memiliki persyaratan tertentu, yaitu (1) menuntut adanya keterampilan yang mendasarkan pada konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendasar, (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya, (3) menuntut tingkat pendidikan yang memadai, (4) menuntut adanya kepekaan terhadap dampak

kemasyarakatan dari pekerjaan yang di laksanakan, (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan, (6) memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, (7) memiliki objek tetap seperti dokter dengan pasiennya, konselor dengan kliennya, dan (8) di akui di masyarakat maupun di lembaga karena memang diperlikan jasanya. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa unsur-unsur tepenting dalam suatu profesi adalah penguasaan sejumlah kompetensi sebagai keahlian khusus, untuk melaksanakan bimbingan secara efektif dan efisien.

Kompetensi konselor berkaitan dengan profesionalisme adalah konselor yang kompeten ( memiliki kemampuan ) di bidangnya. Karena itu kompetensi profesionalisme seorang konselor dapat diartikan sebagai kemampuan memiliki keahlian dan kewenangan dalam menjalankan profesinya.

C. Kompetensi konselor Sahertian ( 1990: 4) mengatakan kompetensi adalah pemilikan, penguasaan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut jabatan seseorang. Oleh sebab itu seorang konselor agar dapat menguasai kompetensinya harus dengan mengikuti organisasi seperti ABKIN. Kompetensi konselor untuk melaksanakan kewenangan profesionalnya, mencakup tiga komponen sebagai berikut : (1) kemampuan kognitif, yakni kemampuan konselor menguasai kemampuan serta keterampilan atau keahlian kependidikan dan pengetahuan materi bidang studi yang di ajarkan, (2) kemampuan afektif, yakni kemampuan yang meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi serta sikapsikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain, (3) kemampuan psikomotor, yakni kemampuan yang berkaitan dengan keterampilan atau kecakapan yang bersifat j