6. Role Playing

  • Published on
    19-Jun-2015

  • View
    3.960

  • Download
    8

Embed Size (px)

Transcript

<p>BAB I PENDAHULUAN</p> <p>A. Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidaklah terlepas dari perubahan yang ada dalam pendidikan karena pendidikan merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan sumber daya manusia. Untuk itu pemerintah selalu berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan. Untuk mencapai keberhasilan dalam dunia pendidikan, maka keterpaduan antara kegiatan guru dengan kegiatan siswa sangat diperlukan. Oleh karena itu guru diharapkan mampu mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana yang mampu memotivasi siswa untuk belajar. Karena guru merupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan. Upaya peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat berhasil dengan maksimal tanpa didukung oleh adanya peningkatan kualitas pembelajaran. Peluang yang dibawa KTSP memberikan keleluasaan kepada guru sebagai pengembang kurikulum dalam tatanan kelas juga belum dapat dimanfaatkan secara optimal, karena keterbatasan kemampuan guru. Keterbatasan kemampuan guru akan berdampak pada munculnya sikap intuitif dan spekulatif dalam menggunakan strategi pembelajaran. Kondisi ini berakibat pada rendahnya mutu hasil belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan kondisi yang kurang menguntungkan itu tidak berkelanjutan dan berkembang lebih jauh adalah dengan memberikan persepsi mengenai metode pembelajaran pembelajaran. Pada hakikatnya proses belajar mengajar pada adalah suatu kegiatan antara guru dan siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam suasana yang edukatif untuk mencapai tujuan belajar. interaksi dan komunikasi timbal balik antara guru dan siswamerupakan ciri dan syarat utama berlangsungnya proses belajar mengajar tidak sekedar hubungan komunikasi antara guru dan siswa tetapai juga antar siswa yang merupakan interaksi yang edukatif. Tidak hanya dalam hal materi pelajaran melainkan dalam hal penanaman sikap dan nilai pada diri siswa (Nuryani, 2005). Lebih Lanjut Sagala, 2006 mengatakan bahwa mengajar adalah yang dipandang kondusif dapat meningkatkan efektivitas</p> <p>mengorganisasikan aktifitas siswa dalam arti yang luas. Dimana peranan guru bukan</p> <p>1</p> <p>semata-mata memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberikan fasilitas belajar (directing and facilitating the learning). Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menekankan pada pendekatan proses, dan bukan pemaksaan pencapaian materi,akan tetapi pendalaman materi melalui proses. Oleh sebab itu, pembelajaran yang dilaksanakan adalah melibatkan aktivitas siswa, dan guru berperan sebagai fasilitator dan mediator. Pembelajaran haruslah dilaksanakan atas dasar apa yang diketahui dan dapat dilakukan siswa sebaik bagaimana siswa berpikir dan belajar dan untuk menyelaraskan proses belajar dengan performa yang dibutuhkan sejalan dengan kebutuhan individu siswa. Salah satu model pembelajaran yang dipandang kondusif dapat</p> <p>meningkatkan efektifitas pembelajaran adalah metode pembelajaran Role Playing. Melalui kegiatan role playing, pembelajar mencoba mengekspresikan hubunganhubungan antar manusia dengan cara memperagakannya, bekerja sama dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama pebelajar dapat mengeksplorasi perasaan, sikap , nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah. Teknik yang terkenal akhir-akhir ini, bermain peran (role play) mengajak kita kembali kepada psikoterapi tahun 1930-an. Sejak itu, "role play" telah berkembang menjadi berbagai bentuk dan variasi pendidikan dari tingkat pemula di sekolah dasar hingga ke tingkat yang lebih tinggi dalam pelatihan manajerial bisnis eksekutif. Banyak guru yang tidak bisa membedakan antara "role play" dan drama. Meskipun keduanya tampak sama, tetapi mereka sangat berbeda dalam gaya. Mungkin perbedaan yang paling menonjol adalah pada pelaksanaannya; drama yang asli biasanya menggunakan naskah, sedangkan role play menggunakan unsur spontan atau setidaknya reaksi yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu. Role-Playing adalah teknik yang luar biasa bermanfaat untuk mewujudkan kehidupan nyata di dalam kelas. Bermain peran akan membangkitkan minat siswa terhadap materi yang diajarkan dan memacu siswa untuk memandang suatu permasalahn dari sudut yang berbeda. Oleh karena siswa dilibatkan sepenuhnya dalam pembelajaran, maka teknik ini mengembangkan dimensi emosi, psikomotor, dan kognisi siswa.</p> <p>2</p> <p>Dalam pelaksanaan Role-playing, siswa dapat berekspresi dengan bebas karena tidak akan dipusingkan dengan satu jawaban tunggal yang benar. Kesalahan yang dilakukan siswa justru akan memicu mereka untuk berani mengambil risiko dan bereksperimen. Kreativitas siswa dapat dilepaskan melalui kegiatan bermain peran. Bermain peran memberikan kemungkinan kepada para siswa untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tak dapat mereka kenali tanpa bercermin kepada orang lain. Penggunaan model pembelajaran role-playing dimaksudkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan Untuk lebih memahami bagaimana pelaksanaan model pembelajaran roleplaying, penulis mengangkat 3 artikel dari jurnal American Biology Teacher yang membahas mengenai model pembelajaran ini.</p> <p>B. Rumusan Masalah Sejalan dengan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah: 1. Apakah pengertian model pembelajaran Role-playing? 2. Bagaimakah melaksanakan model pembelajaran Role-playing pada materi mitosis yang diangkat dari Jurnal American Biology Teacher Vol 62 nomor 5 (Role-Playing Mitosis)? 3. Bagaimakah pelaksanaan Role-Playing sesuai dengan artikel pada Jurnal American Biology Teacher Vol 60 (8) dengan judul From the Los Angeles Zoo to the Classroom 4. Bagaimakah melaksanan Role-Playing di dalam kelas sesuai dengan artikel pada Jurnal American Biology Teacher Vol 57 (1) dengan judul Maximizing Learning Using Role Playing In The Class Room</p> <p>3</p> <p>BAB II TERJEMAHAN/ISI ARTIKEL</p> <p>A. Artikel 1 (ROLE-PLAYING PADA MATERI MITOSIS) Instruksi dalam pembelajaran biologi berlangsung efektif ketika siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru biologi harus mengurangi ketergantungan mereka pada modus kuliah mengajar dan menggunakan strategi yang mendorong pertanyaan siswa/penemuan, pengalaman, dan kerja kelompok interaktif untuk memberikan situasi belajar. Misalnya, dalam</p> <p>menggunakan sweat socks untuk menggambarkan pembelahan nukleus. Oakley (1994), mendemonstrasikan suatu komitmen guru untuk secara aktif melibatkan siswa di dalam proses pembelajaran. Dia berkata semakin banyak saya mengajar, semakin banyak saya menyadari pentingnya keterlibatan siswa secara fisik di dalam proses pembelajaran. Semakin banyak indra yang terlibat dalam proses pembelajaran maka semakin mudah bagi siswa untuk memahami materi. Role playing adalah suatu metode yang berguna untuk meningkatkan keterlibatan siswa di dalam pembelajarannya. Beberapa guru menerapkan metode role playing untuk membantu siswa memahami konsep-konsep biologi yang abstrak. Sebagai contoh, Stencel dan Barkoff (1993) mengajarkan sintesis protein melalui metode role playing. Dalam metode ini, Stencel dan Barkoff merancang sintesis protein dengan menyertakan tarian Tchaikovskys Guru-guru lainnya menggunakan role playing untuk mengajak siswa memecahkan masalah dalam situasi tertentu. Yang mengintegrasikan sains dan masyarakat. Cherf dan Somervill (1995), menggunakan role playing di dalam kelas mereka untuk memaksimalkan pembelajaran. Siswa-siswa mensimulasikan</p> <p>perdebatan antara masyarakat dan kalangan industri. Sebagian siswa berperan sebagai anggota dewan kota yang mewakili masyarakat dan siswa lainnya merupakan delegasi industri. Terjadi perdebatan tentang pembangunan suatu perusahaan bioteknolog di lingkungan masyarakat mereka. Di kelas lain juga terjadi perdebatan tentang industri nuklir yang berlangsung ketika kelompok siswa yang berperan sebagai komite senat di bidang energi mengajukan proposal untuk membangun industri nuklir di lingkungan masyarakat mereka.</p> <p>4</p> <p>Dalam usaha untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, kami merancang metode role playing pada materi mitosis. Role playing merupakan metode yang mudah untuk dilakukan, tidak memerlukan materi yang berlebihan, dan meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Kami menyesuaikan aktivitas untuk mencocokkan berbagai objek. Dengan beragamnya siswa, kami mengubah aktivitas untuk menyesuaikan intelektual yang berbeda dari siswa. Sebagai contoh, pada tingkat sekolah menengah, siswa-siswa menjelaskan dalam tulisan dan gambar proses duplikasi materi genetik dan pembelahan sel setelah melaksanakan role playing. Pada sekolah tinggi dan mahasiswa, mereka menunjukkan penguasaan dalam memahami mitosis dengan membuat gambar yang benar (struktur dan urutannya) dilengkapi dengan istilah-istilah untuk menjelaskan proses mitosis.</p> <p>Setting the Stage Untuk memperkenalkan role playing pada materi mitosis (role playing mitosis), pasangan siswa (dengan jenis kelamin berbeda) yaitu dua laki-laki dan dua perempuan di dalam kelas diberikan baju kaos dengan warna yang sama. Jumlah siswa yang diseleksi untuk mengenakan baju kaos tergantung pada ukuran kelas dan jumlah baju kaos yang tersedia. Kami menyarankan memulai dengan empat siswa, dua perempuan dan dua laki-laki. Tiap orang dalam pasangan memakai baju kaos yang berwarna sama satu dengan lainnya akan tetapi berbeda dengan pasangan lainnya. Misalnya baju kaos merah dan kuning bias digunakan. Baju kaos ini bisa dipinjam dari jurusan atletik. Alternatif lainnya. Guru bisa memilih sweater. Atau siswa bisa membawa baju kaos dari assosiasi basket favorit mereka dan guru bisa membuat kombinasi pasangan dari kontribusi siswa tersebut. Siswa-siswa yang tidak memakai baju kaos membentuk lingkaran besar (satu lingkaran terdiri dari 10 sampai 20 siswa tergantung ukuran kelas). Siswa yang menggunakan baju kaos masuk ke tengah lingkaran. Guru menjelaskan bahwa siswa yang membentuk lingkaran berperan sebagai batas sel (membran sel). Siswa yang menggunakan baju kaos membawa informasi yang mengontrol aktivitas di dalam sel. Siswa-siswa ini merepleksikan kromosom yang mengandung gen. Secara bersamasama mereka merepleksikan sebuah sel matur yang disebut dengan sel induk.</p> <p>5</p> <p>Continuing the Role-play Activity Guru mengajukan permasalahan kepada sel induk: buatlah sel lain yang sama sepertimu, walaupun lebih kecil ukurannya, yang bisa mengontrol aktivitas sel. Setelah melakukan diskusi dan mencoba-coba, mereka akhirnya membuat dua lingkaran (mewakili dua membran sel baru). Akan tetapi ada setengah siswa yang memakai baju kaos berada di dalam lingkaran awal. Di sini guru memberikan panduan bahwa siswa-siswa yang memakai baju kaos harus melakukan penggandaan. Guru mestinya yakin bahwa siswa berpikir penggandaan terjadi di dalam sel induk sebelum dua lingkaran sel baru terbentuk. Sebagai tambahan, ternyata ada siswa yang menganjurkan bahwa penggandaan terjadi setelah dua sel baru terbentuk. Anjuran ini menjadi batu loncatan guru untuk membicarakan dengan siswa tentang model hipotesis berbeda pada reproduksi sel. Istilah mitosis dikenalkan kepada siswa setelah kelas menerima hipotesis bahwa duplikasi kromosom dan pemisahan dari sel induk terjadi sebelum dua sel baru (sel anak) terbentuk. Setelah pengantar aktivitas role palying mitosis, guru menyampaikan pembelajaran. Selama penyampaian pembelajaran, guru</p> <p>memperkenalkan istilah kromosom homolog, kromatid, sentromer, dan lain-lain. Setelah kegiatan ini selesai, guru bisa melakukan kegiatan lain yang lebih tinggi tergantung pada tingkatannya. Setelah beberapa kegiatan pengenalan, siswa kembali ke kelas mereka atau duduk dan menonton presentasi photograph mengenai mitosis dalam siklus hidup sel. Film-film komersial tentang hal ini sudah tersedia, videotape atau laserdisc juga sudah tersedia. Guru juga bisa melakukan penguatan dengan menyuruh siswa kembali melakukan role palying untuk menjelaskan tahap-tahap mitosis. Siswa menutup pembelajaran dengan meringkas secara visual dan menuliskan berbagai istilah dan kegiatan yang berlangsung selama role playing. Kami berpikir bahwa menyimpulkan pembelajaran dengan menulis dan menggambarkan secara visual adalah penting. Hubungan aktivitas fisik dan mental dibangun oleh siswa ketika mereka melakukan role playing. Setiap siswa mempersiapkan brosur mitosis yang merupakan salah satu metode yang kami gunakan untuk membuat rekaman permanen yang bisa digunakan sebagai alat evaluasi. Brosur ini berukuran 8.5 x 11 inci yang terdiri dari 4 lembar</p> <p>6</p> <p>kertas. Lembaran pertama merupakan judul yang bertuliskan Mitosis Bookle dengan tulisan tangan atau diketik. Pada lembaran kedua siswa menuliskan bagaimana sel induk membuat dua sel anak, meskipun dengan ukuran yang lebih kecil akan tetapi bersifat seperti induknya. Pada lembar berikutnya siswa menuliskan istilah-istilah yang berhubungan dengan mitosis. Istilah-istilah ini dikenalkan oleh guru atau dengan melihat video. Pada halaman ke empat, siswa menggambarkan lima atau lebih gambar berbeda yang menunjukkan struktur dan kejadian yang terjadi pada sel induk ketika melakukan simulasi dengan menggunakan role playing. Gambar-gambar tersebut diberi keterangan untuk mengidentifikasi membran sel dan kromosom. Sebagai penguatan, guru bertanya kepada siswa tentang deskripsi</p> <p>aktivitas kromosom. Siswa dianjurkan untuk bekerja, berpikir, dan berdiskusi secara cepat di dalam kelompok kecil. Selama siswa membuat rangkuman pembelajaran, guru beredar mengelilingi kelas untuk menilai kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan siswa. Guru bisa mengecek deskripsi siswa tentang mitosis melalui jawaban pertanyaan.</p> <p>Concluding Comments Role playing mitosis pertama kali digunakan oleh penulis dengan dua kelas pada sekolah menengah. Walaupun instruktur hanya memiliki beberapa minggu pengalaman sebagai pembantu dalam dua kelas yang melaksanakan role playing, pengelolaan kelas tidak menjadi masalah dan guru yang mengajar pada kelas regular menilai aktivitasnya berlangsung sukses. Aktivitas ini secara lengkap berlangsung selama 50 menit. Kemudian, role playing mitosis digunakan secara sukses pada kelas 9 dan mahasiswa. Guru yang mengajar pada kelas regular memiliki pengalaman mengajar selama 9 tahun dalam mengajar biologi. Nilai kuis, ketertarikan yang berbeda pada kelas biologi berhubungan dengan perbedaan dalam metode yang digunakan. Kuis yang dilakukan terdiri dari menjawab pertanyaan singkat, mencocokkan, dan menggambar. Hasilnya menunjukkan kelas yang diajar menggunakan role playing lebih baik dari pada kelas yang tidak memiliki pengalaman dalam role playing. Skor rata-rata untuk kelas role playing adalah 34,5 sedangkan untuk kelas non role playing adalah 29,3. Meskipun sampelnya kecil dan tujuannya bukan untuk menilai</p> <p>7</p> <p>signifikansi dari metode yang digunakan, namun ada perbedaan skor pada kedua kelas. Antusiasme dan kesaksian dari guru yang mengajar pada kelas reguler, memberikan kesimpulan bahwa role playing mitosis memberikan efek positif pada pe...</p>