AKTIVITAS BEBERAPA ANTIMIKOTIK TERHADAP Microsporum ... ?· dengan arahan dari komisi pembimbing dan…

  • Published on
    09-Mar-2019

  • View
    216

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>AKTIVITAS BEBERAPA ANTIMIKOTIK TERHADAP </p> <p>Microsporum gypseum SEBAGAI PENYEBAB </p> <p>DERMATOFITOSIS PADA KUDA </p> <p>KARTINI IZREEN KURNIA </p> <p>FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN </p> <p>INSTITUT PERTANIAN BOGOR </p> <p>BOGOR </p> <p>2015 </p> <p>PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN </p> <p>SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* </p> <p>Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul AKTIVITAS </p> <p>BEBERAPA ANTIMIKOTIK TERHADAP Microsporum gypseum </p> <p>SEBAGAI PENYEBAB DERMATOFITOSIS PADA KUDA adalah benar </p> <p>karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam </p> <p>bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang </p> <p>berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari </p> <p>penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di </p> <p>bagian akhir skripsi ini. </p> <p>Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut </p> <p>Pertanian Bogor. </p> <p>Bogor, Agustus 2015 </p> <p>Kartini Izreen Kurnia </p> <p>NIM B04118009 </p> <p>ABSTRAK </p> <p>KARTINI IZREEN KURNIA. Aktivitas Beberapa Antimikotik terhadap </p> <p>Microsporum gypseum sebagai Penyebab Dermatofitosis pada Kuda. Dibimbing </p> <p>oleh AGUSTIN INDRAWATI. </p> <p>Dermatofitosis merupakan penyakit jamur yang bersifat kutaneous </p> <p>superfisial yang menyerang lapisan keratin dari kulit yang disebabkan oleh jamur </p> <p>golongan dermatofita. Microsporum gypseum merupakan dermatofita geofilik </p> <p>yang diduga sebagai penyebab penyakit dermatofitosis pada kuda. Dalam </p> <p>penelitian ini dilakukan isolasi dan identifikasi sampel dari kuda yang diduga </p> <p>menderita dermatofitosis oleh M.gypseum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk </p> <p>melakukan diagnosa secara tepat penyebab dermatofitosis pada kuda dan agen </p> <p>penyebab dermatofitosis tersebut. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi dan </p> <p>isolasi secara cepat, menggunakan KOH 10% serta isolasi dengan membiakkan </p> <p>pada DSA dan identifikasi dengan melakukan slide culture menurut Riddle. Uji </p> <p>aktivitas antimikotik dilakukan menggunakan metode cakram kertas dan </p> <p>antimikotik yang digunakan adalah ketokonazol, amfoterisin, vorikonazol, </p> <p>flukonazol, griseofulvin, dan mikonazol yang menghasilkan zona hambat dengan </p> <p>diameter 0 mm, 0 mm, 8.5 mm, 0 mm, 17.25 mm, dan 12.25 mm secara berurutan </p> <p>pada akhir pengujian. Penelitian menunjukkan bahwa griseofulvin merupakan </p> <p>antimikotik yang mempunyai aktivitas paling baik terhadap M. gypseum dan </p> <p>boleh digunakan sebagai obat pilihan dalam pengobatan dermatofitosis </p> <p>disebabkan oleh jamur tersebut. </p> <p>Kata kunci: dermatofitosis, uji aktivitas antimikotik, Microsporum gypseum, kuda </p> <p>ABSTRACT </p> <p>KARTINI IZREEN KURNIA. Antimycotics Activities against Microsporum </p> <p>gypseum as the cause of Dermatophytosis in Horses. Supervised by AGUSTIN </p> <p>INDRAWATI. </p> <p>Dermatophytosis is a superficial cutaneous fungal infection that attacks the </p> <p>keratin layer of the skin caused by a group of fungi known as dermatophytes. </p> <p>Microsporum gypseum is a geophilic dermatophyte that suspected to cause this </p> <p>infection in horses. In this research, isolation and identification of sample from the </p> <p>horse that was suspected to be infected with dermatophytosis caused by </p> <p>M.gypseum was done. As an effort to treat dermatophytosis, antimycotics are </p> <p>widely used. The aim of this study is to be able to diagnose accurately the cause of </p> <p>dermatophytosis in horses and the agent that causes it.The procedure of this </p> <p>research included rapid isolation and identification, using KOH 10%, isolation </p> <p>onto DSA media and identification using Riddles slide culture method. The </p> <p>antimycotic test was done using disk diffusion assay method and the antimycotics </p> <p>used in the test were ketoconazole, amphotericine, voriconazole, fluconazole, </p> <p>griseofulvin, and miconazole, producing inhibition zones with diameters 0 mm, 0 </p> <p>mm, 8.5 mm, 0 mm, 17.25 mm, and 12.25 mm respectively at the end of the test. </p> <p>This study revealed that griseofulvin has the best antimycotic activity against </p> <p>M.gypseum and can be used as the drug of choice for the treatment of </p> <p>dermatophytosis caused by the fungi. </p> <p> Keywords: dermatophytosis, antimycotic activity test, Microsporum gypseum, </p> <p>horses </p> <p>Skripsi </p> <p>sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar </p> <p>Sarjana Kedokteran Hewan </p> <p>pada </p> <p>Fakultas Kedokteran Hewan </p> <p>AKTIVITAS BEBERAPA ANTIMIKOTIK TERHADAP </p> <p>Microsporum gypseum SEBAGAI PENYEBAB </p> <p>DERMATOFITOSIS PADA KUDA </p> <p>KARTINI IZREEN KURNIA </p> <p>FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN </p> <p>INSTITUT PERTANIAN BOGOR </p> <p>BOGOR </p> <p>2015 </p> <p>PRAKATA </p> <p>Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya </p> <p>sehingga skripsi berjudul Aktivitas beberapa Antimikotik terhadap Microsporum </p> <p>gypseum sebagai penyebab Dermatofitosis pada Kuda ini berhasil diselesaikan. </p> <p>Terima kasih penulis ucapkan kepada semua yang membantu penyelesaian skripsi </p> <p>ini : </p> <p> 1. Dr Drh Agustin Indrawati, MBiomed selaku pembimbing skripsi yang telah </p> <p>banyak mencurahkan ilmu dalam mengerjakan penelitian hingga selesainya </p> <p>skripsi ini. </p> <p>2. Ibu Siti Sadiah, S.Si, Apt., M.Si selaku pembimbing akademik selama </p> <p>perkuliahan yang telah banyak memberi semangat dan motivasi selama masa </p> <p>perkuliahan </p> <p>3. Ibu Esih dan Bapak Ismet yang sangat banyak membantu serta memberi saran </p> <p>dan arahan selama pelaksanaan penelitian. </p> <p>4. Keluarga; Mama Mas Illazreen Ghazali , Papa Azaman Abu Bakar, Nenda </p> <p>Datin Hj. Zaiton Hussein, Maklong Mas Idura Ghazali, Aiman Izaaz, Abdul Aziz, </p> <p>Toby, Boy, serta seluruh keluarga atas seluruh semangat, doa, dan kasih sayang </p> <p>yang telah diberikan. </p> <p>5. Nico Ferdian Arisona, Charisha Fraser, Clarisse Francyne, dan Lim Su-Szien </p> <p>serta teman-teman Ganglion 48 lainnya yang telah menjadikan masa-masa </p> <p>perkuliahan menjadi lebih menyenangkan. </p> <p>6. Pihak-pihak yang telah membantu yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. </p> <p>Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat dan memperkaya ilmu </p> <p>pengetahuan khususnya di bidang Kedokteran Hewan. </p> <p>Bogor, Agustus 2015 </p> <p>Kartini Izreen Kurnia </p> <p>DAFTAR ISI </p> <p>DAFTAR TABEL vi </p> <p>DAFTAR GAMBAR vi </p> <p>DAFTAR LAMPIRAN vi </p> <p>PENDAHULUAN 1 </p> <p>Latar Belakang 1 </p> <p>Tujuan Penelitian 2 </p> <p>Manfaat Penelitian 2 </p> <p>TINJAUAN PUSTAKA 2 </p> <p>Dermatofitosis pada Kuda 2 </p> <p>Microsporum gypseum 3 </p> <p>Antimikotik 5 </p> <p>METODE 7 </p> <p>Waktu dan Tempat 7 </p> <p>Bahan dan Alat 7 </p> <p>Tahapan Penelitian 7 </p> <p>HASIL DAN PEMBAHASAN 9 </p> <p>SIMPULAN DAN SARAN 16 </p> <p>Simpulan 16 </p> <p>Saran 16 </p> <p>DAFTAR PUSTAKA 16 </p> <p>RIWAYAT HIDUP 19 </p> <p>DAFTAR TABEL </p> <p>1 Tabel 1 Diameter zona hambat (mm) di sekitar cakram kertas antimikotik terhadap M.gypseum pada hari ke-3 13 </p> <p>2 Tabel 2 Diameter zona hambat (mm) di sekitar cakram kertas antimikotik terhadap M.gypseum pada hari ke-7 13 </p> <p>DAFTAR GAMBAR </p> <p>1 Gambar 1 Lesio dermatofitosis pada kuda 3 2 Gambar 2 Gambaran makroskopis dan mikroskopis Microsporum </p> <p>gypseum 4 3 Gambar 3 Posisi peletakan cakram kertas antimikotik pada media </p> <p>biakan 8 4 Gambar 4 Lesio infeksi yang diduga dermatofitosis pada Kuda 9 5 Gambar 5 Hasil pengamatan mikroskopis pemeriksaan cepat </p> <p>menggunakan KOH 10% (Pembesaran 400x) 10 6 Gambar 6 Gambaran makroskopis Microsporum gypseum pada media </p> <p>DSA 10 7 Gambar 7 Gambaran mikroskopis Microsporum gypseum.dan adanya </p> <p>sekat pada bagian ujung distal M.gypseum (Pembesaran 400x) 11 8 Gambar 8 Hasil keseluruhan pengujian antimikotika terhadap </p> <p>M.gypseum pada hari ke-3 12 9 Gambar 9 Hasil keseluruhan pengujian antimikotika terhadap </p> <p>M.gypseum pada hari ke-7 13 10 Gambar 10 Zona hambat yang terbentuk di sekitar cakram kertas </p> <p>antimikotik pada hari ke-3 14 </p> <p>11 Gambar 11 Zona hambat yang terbentuk di sekitar cakram kertas </p> <p>antimikotik pada hari ke-7 14 </p> <p>file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc330897740file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc330897740file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc330897741file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc330897741file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485136file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485137file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485138file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485139file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485140file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485140file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485141file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485142file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485143file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485144file:///E:/PPKI/CD%20PPKI/CD/Templat/Skripsi-Custom.dotx%23_Toc331485144</p> <p>PENDAHULUAN </p> <p>Latar Belakang </p> <p>Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur dari golongan </p> <p>dermatofita. Dermatofitosis merupakan suatu penyakit kutaneus superfisial yang </p> <p>menyerang lapisan keratin seperti lapisan kulit, rambut, dan kuku. Penyakit ini </p> <p>disebabkan oleh jamur dari golongan dermatofita. Selama dua abad terakhir, </p> <p>kejadian dermatofitosis telah meningkat dengan kasus yang menunjukkan adanya </p> <p>respon negatif terhadap obat antimikotik (Singh et al. 2007). Dermatofita dapat di </p> <p>kelompokkan berdasarkan habitat hidupnya yaitu dermatofita geofilik, zoofilik, </p> <p>dan antropofilik. Dermatofita geofilik berhabitat dan bereplikasi di dalam tanah </p> <p>dan berasosiasi dengan material keratin yang terdekomposisi seperti rambut dan </p> <p>bulu (Weitzman dan Summerbell 1995). Hewan dapat terinfeksi oleh dermatofita </p> <p>geofilik melalui tanah atau kontak langsung dengan hewan lain yang terinfeksi </p> <p>(Quinn et al. 2006). </p> <p>Dermatofitosis pada kuda dapat terjadi karena kontak langsung atau melalui </p> <p>peralatan grooming. Gejala klinis yang muncul pada kulit menunjukan ada sumber </p> <p>infeksi pada hewan yang terserang. Lesio terbentuk terbatas pada bagian pelana, </p> <p>saddle atau tersebar luas akibat peralatan grooming yang terkontaminasi. Infeksi </p> <p>disebabkan oleh Microsporum gypseum dapat terjadi karena kebiasaan kuda </p> <p>berguling di atas tanah yang menyebabkan lesio pada bagian dorsal badan kuda </p> <p>(Quinn et al. 2006). </p> <p>Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki kelembaban </p> <p>tinggi, dimana kelembaban relatif rata-rata 80% dan merupakan tempat yang </p> <p>cocok bagi mikroorganisme seperti jamur untuk berkembangbiak dan salah </p> <p>satunya adalah jamur Microsporum gypseum. Pada manusia, jamur Microsporum </p> <p>gypseum dapat berkembang pada bagian kulit yang sifatnya tidak membahayakan </p> <p>namun cukup mengganggu. Perlu diketahui jamur Microsporum gypseum </p> <p>merupakan jamur penyebab penyakit kulit, pengurai keratin, serta perusak kuku </p> <p>dan rambut. Sifat keratinofilik dimiliki oleh jamur ini sehingga berkemampuan </p> <p>untuk mencerna lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampai stratum basalis. </p> <p>Antimikotik merupakan zat berkhasiat yang digunakan untuk penanganan </p> <p>penyakit yang disebabkan oleh jamur (Mutschler 1991). Obat antimikotik topikal </p> <p>digunakan untuk merawat infeksi jamur superfisial. Obat ini efektif dalam </p> <p>merawat Ringworm dan Thrush pada kuda. Pada beberapa kasus, penggunaan </p> <p>antimikotik sering dikombinasikan dengan antibiotik maupun kortikosteroid. </p> <p>Apabila dalam pemberiannya secara lokal tidak efektif, maka direkomendasikan </p> <p>pengobatan menggunakan antimikotik yang bersifat sistemik. Dalam industri obat, </p> <p>perkembangan antimikotik dalam dekade terakhir ini sangat pesat baik berupa </p> <p>sediaan topikal, oral ataupun injeksi. Perkembangan dan penggunaan antimikotik </p> <p>secara tidak beraturan akan berpeluang menyebabkan terjadinya resistensi </p> <p>sehingga dalam penelitian ini dicoba dilakukan uji aktivitas beberapa antimikotik </p> <p>terhadap jamur Microsporum gypseum penyebab dermatofitosis dengan tujuan </p> <p>untuk mempelajari aktivitas dari antimikotik terhadap jamur dermatofita tersebut. </p> <p>2 </p> <p>Tujuan Penelitian </p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aktivitas beberapa antimikotik </p> <p>terhadap jamur dermatofita M.gypseum yang diduga sebagai penyebab </p> <p>dermatofitosis pada kuda. </p> <p>Manfaat Penelitian </p> <p>Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi tentang aktivitas dan </p> <p>tingkat suseptibilitas obat antimikotik terhadap jamur dermatofita M.gypseum </p> <p>penyebab dermatofitosis, sehingga hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai </p> <p>referensi dalam pemilihan obat antimikotik untuk pengobatan infeksi dermatofita. </p> <p>. </p> <p>TINJAUAN PUSTAKA </p> <p>Dermatofitosis pada Kuda </p> <p>Ringworm merupakan istilah yang biasa digunakan untuk infeksi jamur </p> <p>superfisial pada bagian kulit. Jamur yang merupakan penyebab dari infeksi kulit </p> <p>ini dikenal sebagai dermatofita. Maka istilah yang tepat bagi ringworm adalah </p> <p>dermatofitosis. Istilah ringworm mungkin dikembangkan dari gambaran gejala </p> <p>penyakit yang muncul dari jamur yang mengakibatkan infeksi, namun istilah ini </p> <p>sering dikelirukan dengan kecacingan dan infeksi parasit yang tidak berkaitan </p> <p>dengan kondisi tersebut. Terdapat 2 genera dari dermatofita yang dapat </p> <p>menginfeksi kuda yaitu Microsporum dan Trichophyton. Pada setiap genera ada </p> <p>beberapa spesies yang mampu menginfeksi kuda, dan kebanyakan kasus </p> <p>disebabkan oleh beberapa spesies antaranya; Tricophyton equinum adalah </p> <p>penyebab utama dari dermatofitosis diikuti dengan Trichophyton mentagrophytes, </p> <p>Tricophyton verrucosum, Microsporum equinum, dan Microsporum gypseum </p> <p>(Rendle 2015). </p> <p>Dermatofita menginfeksi dengan tiga langkah utama yaitu perlekatan </p> <p>dermatofit pada keratin, penetrasi melalui dan di antara sel, serta terbentuknya </p> <p>respon imun. Proses terjadinya infeksi memerlukan beberapa gangguan yang ada </p> <p>pada permukaan kulit untuk membantu penetrasi ke dalam folikel rambut. Respon </p> <p>humoral dan cell-mediated akan tampak setelah infeksi munculnya reaksi </p> <p>peradangan ditandai dengan peningkatan proliferasi epidermal. Lesio yang </p> <p>muncul dapat berupa alopecia, scaling, miliary dermatitis, nodul-nodul atau </p> <p>bahkan tidak menunjukkan semua gejala di atas. Apabila infeksi terjadi, gejala </p> <p>bersifat permanen dan menyebar hingga rambut yang terinfeksi berhenti tumbuh </p> <p>atau munculnya respons imun dan jamur dieliminasi. Pada hewan sehat, infeksi </p> <p>bersifat self-limiting dan kemudiannya menghilang. Dermatofitosis lebih banyak </p> <p>menyerang hewan yang sangat muda atau tua dan hewan yang menderita </p> <p>immunosupresi. Kandang yang bersamaan dapat mempercepat terjadinya </p> <p>penularan (Schaer 2010). </p> <p>3 </p> <p> Gejala klinis biasanya terlihat dalam jangka waktu 1 hingga 6 minggu dan </p> <p>lesio mulai membesar dalam waktu beberapa bulan sebelum akhirnya menghilang. </p> <p>Hewan akan menderita kerontokan rambut (alopecia) dan kuli...</p>

Recommended

View more >