Analisis Buku Mochtar Lubis Bicara Lurus Bagian 1

  • Published on
    14-Jun-2015

  • View
    591

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Analisis Buku Mochtar Lubis Bicara Lurus bab 1-20

Transcript

<p>T5/ Wawancara/ KB/ 2009</p> <p>Nama: Citra Ananda NPM:210111090004</p> <p>I. Rangkuman dan Pembahasan I.1 1.1.a Setelah keluar dari tahanan: Mochtar Lubis akan menulis novel dan beberapa buku Kronologis penangkapan Mochtar Lubis adalah ia ditangkap tanggal 4 febuari 1975 saat baru pulang dari bermain tenis. Namun, setelah hasil interogasi pemeriksaan ternyata tidak terdapat kesalahan pada dirinya. Dalam menghabiskan waktu selama berada di tempat tahanan Mochtar Lubis menjaga kesehatan badan dengan berolahraga. Perbedaan penahanan ketika masa soekarno dengan sekarang ini adalah dahulu ia benar-benar disekap di balik terali besi sedangkan sekarang ia mendiami sebuah bungalow. Rencana Mochtar Lubis setelah keluar dari penjara adalah menulis untuk surat kabar dan majalah apapun dan terserah pada media-media apa yang mau menerima dan memuat tulisannya 1.1.b Jika dibandingkan dengan buku Jurnalistik Indonesia, wawancara ini sudah memenuhi delapan persyaratan wawancara berita, yaitu mempunyai tujuan yang jelas, efisien, menyenangkan, mengandalkan persiapan dan riset awal, melibatkan khalayak, memunculkan spontanitas, pewawancara sebagai pengendali, dan mengembangkan berita. Hal yang paling utama terpenuhi dari kedelapan syarat tersebut adalah efisien. Wawancara ini berhasil mengungkapkan tujuan pokok wawancara yaitu mengetahui kegiatan Mochtar Lubis setelah keluar dari penjara. Tujuan ini berhasil dicapai dalam waktu yang ringkas, ditandai dengan wawancara yang dilakukan tidak bertele-tele. Bila dilihat dari jenis wawancara, menurut buku Jurnalistik Indonesia wawancara ini termasuk jenis wawancara sosok pribadi (personal interview). Sedangkan menurut buku Penulisan Feature, wawancara ini termasuk jenis wawancara perseorangan. I.2 1.2.a Menampilkan makna dari kehidupan dalam sastra Tanggal 15 Desember 1979 Yayasan Jaya Raya menyampaikan Hadiah Sastra dengan penghargaan uang sebesar satu juta rupiah kepada Mochtar Lubis atas novelnya yang berjudul Maut dan Cinta (1977). Menurut Mochtar Lubis bidang berita adalah urusan wartawan, sedangkan makna kehidupan seharusnya menjadi tugas sastrawan. Dalam menampilkan karya sastra konsep yang ditampilkan</p> <p>adalah makna dari kehidupan. Semua makna dari kehidupan dan nilai-nilai manusia mencoba mengajak pembaca untuk berfikir dan menentukan bagi dirinya sendiri tentang makna hidupnya, dan tempatnya berdiri dalam kehidupan ini. Menurut Mochtar Lubis, dngan membaca karya sastra akan timbul minat pejabat di Indonesia untuk lebih memperhatikan nasib dan kehidupan rakyat banyak. Ketika ditanyakan tentang kebebasan kreatif, Mochtar Lubis mengatakan bahwa kebebasan kreatif masih ada di Indonesia. Namun, bisa saja terjadi korsleting seperti penahanan Rendra. Menurut Mochtar Lubis, sebaiknya kita jangan berputus asa untuk berjuang terus menerus agar kebebasan kreatif terjamin dengan baik di seluruh tanah air kita. 1.2.b Menurut buku Jurnalistik Indonesia, wawancara ini termasuk jenis wawancara sosok pribadi (personal interview). Begitu juga menurut buku Jurnalistik Praktis, wawancara ini termasuk jenis wawancara pribadi. Dalam buku Jurnalistik Praktis, wawancara pribadi adalah wawancara untuk memperoleh data tentang diri pribadi dan pemikiran Interviwee. Dalam hal ini, Mochtar Lubis dimintai pendapat tentang masalah sastra Indonesia pada saat itu. Menurut buku Jurnalistik Indonesia, wawancara ini sudah memenuhi delapan persyaratan wawancara berita. Hal utama yang terpenuhi dari kedelapan syarat wawancara berita adalah wawancara ini mengandalkan persiapan dan riset awal. Wawancara ini juga mengembangkan logika. Pewawancara menggali fakta yang terjadi dalam kesusastraan Indonesia pada saat itu, serta menggali pendapat Mochtar Lubis mengenai hal tersebut. Dalam wawancara ini, pewawancara sering kali mengemukakan pertanyaan terbuka. Menurut buku Jurnalistik Indonesia, pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang menghendaki jawaban yang luas dan bebas. Pertanyaan pewawancara yang sebagian besar menanyakan pendapat Mochtar Lubis mengenai suatu hal, menandakan pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan terbuka. I.3 1.3.a Bebaskan wanita Indonesia dari sikap feodalisme Mochtar Lubis berpendapat bahwa organisasi istri-istri pegawai negeri sipil maupun militer kurang menguntungkan perjuangan emansipasi wanita. Istri petugas Negara belum menikmati hak-hak kebebasan. 1.3.b Bila dibandingkan dengan delapan syarat yang dijelaskan dalam buku Jurnalistik Indonesia, wawancara ini mengandalkan syarat persiapan dan riset awal. Terlihat</p> <p>sekali penguasaan pewawancara terhadap topik wanita Indonesia. Pewawancara juga sangat mengenal struktur organisasi istri-istri pegawai negeri dan angkatan bersenjata. Wawancara ini juga mengandalkan syarat mengembangkan logika, seperti yang ada dalam buku Jurnalistik Indonesia. Pewawancara menggali fakta dan opini Mochtar Lubis mengenai organisasi wanita yang masih memiliki jiwa feodalisme.Masih menurut buku Jurnalistik Indonesia, wawancara ini banyak memakai jenis pertanyaan hipotek terbuka. Pertanyaan hipotek terbuka hampir sama gayanya dengan pertanyaan terbuka. Namun, pada jenis pertanyaan ini penanya dapat membuat pertanyaan lebih luas dengan memberikan beberapa keterangan untuk menyesuaikan dengan situasi wawancara. Dilihat dari jenis wawancara, menurut buku Jurnalistik Indonesia wawancara ini termasuk jenis wawancara sosok pribadi (personal interview). Sedangkan bila dilihat dari segi tujuan wawancara, menurut buku Jurnalistik Indonesia, wawancara merupakan wawancara riset pendapat. Wawancara riset pendapat (the opinion research interview)terutama dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang menjadi perhatian, pemikiran, dan pendapat narasumber. I.4 1.4.a Penjara di Madiun Paling Enak Wawancara ini tentang kebebasan pers, kemungkinan Indonesia Raya terbit kembali, dan seputar pengalaman Mochtar Lubis ditahan di Zaman Oede Lama. Menurut Mochtar Lubis, pers harus bertanggung jawab kepada masyarakat dan kebebasan pers berlaku sejauh pers tidak mengganggu ketertiban umum. Ketika ditanyakan apakah Indonesia Raya akan terbit lagi, ia mengatakan doakan saja. Mengenai suka duka dalam penjara, Mochtar Lubis bercerita bahwa penjara yang paling enak adalah di Madiun. Karena disana terasa agak bebas dan dapat bermain tenis dan berenang. Sedangkan penjara yang paling tidak enak adalah Rumah Tahanan Militer di jalan Budi Utomo, Jakarta. Karena di sana ia dicampur dengan tahanan kriminal yang diperlakukan jauh lebih buruk dari dirinya. 1.4.b Menurut buku Jurnalistik Indonesia, wawancara ini mengandalkan syarat efisien. Wawancara ini juga menimbulkan spontanitas. Hal ini terlihat dari jawaban Mochtar Lubis yang mengatakan bahwa penjara yang paling enak adalah penjara di Madiun. Masih menurut buku Jurnalistik Indonesia, beberapa pertanyaan dalam wawancara ini memakai jenis pertanyaan langsung. Dilihat dari jenis</p> <p>wawancara, menurut buku Jurnalistik Indonesia wawancara ini termasuk jenis wawancara sosok pribadi (personal interview). I.5 1.5.a Masyarakat Kita sedang Sakit Menurut Mochtar Lubis, penyakit pemerintahan kita yang paling parah adalah birokratis-it is, biroktasi yang membengkak dan tidak berhati nurani, kurang peka, dan kurang berorientasi pada kepentingan rakyat kecil yang tidak berdaya. Ketika ditanya factor apa yang paling dominan sebagai penyebab penyakit itu adalah factor hipokrisis alias kemunafikan. 1.5.b Menurut buku Jurnalistik Indonesia, jenis pertanyaan yang sering digunakan adalah pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang menghendaki jawaban yang luas dan bebas. Hal ini ditandai dengan seringnya penanya menanyakan pendapat Mochtar Lubis mengenai berbagai permasalahan yang ada di Indonesia. Dilihat dari jenis wawancara, menurut buku Jurnalistik Indonesia wawancara ini termasuk jenis wawancara sosok pribadi (personal interview). Masih menurut buku Jurnalistik Indonesia, dari segi tujuan, wawancara ini merupakan wawancara riset pendapat. Wawancara riset pendapat (the opinion research interview) terutama dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang menjadi perhatian, pemikiran, dan pendapat narasumber. Wawancara ini juga mengandalkan syarat mengembangkan logika, seperti yang ada dalam buku Jurnalistik Indonesia. Pewawancara menggali fakta dan opini Mochtar Lubis tentang masalah-masalah yang ada di Indonesia setelah 36 tahun merdeka. I.6 1.6.a Orang Indonesia Tak Suka Lagi Berpikir yang Berat-berat Mochtar Lubis mengatakan jangan sekali-kali meminta adanya menteri kesenian, nanti penguasa mau mengatur kita semua lagi. Kalau seni nanti diatur, maka kita akan punya seni yang tidak berjiwa. 1.6.b Menurut buku Jurnalistik Indonesia wawancara ini mengandalkan syarat mengembangkan logika. Pewawancara menggali fakta dan opini Mochtar Lubis tentang masalah kebudayaan yang ada di tanah air. Selain itu, wawancara ini juga memenuhi syarat mengandalkan persiapan dan riset awal. Hal ini tergambar dari pertanyaan yang diberikan oleh pewawncara selalu dihubungkan dengan keadaan yang berkembang di masyarakat. Dilihat dari jenis wawancara, menurut buku</p> <p>Jurnalistik Indonesia wawancara ini termasuk jenis wawancara sosok pribadi (personal interview). Sedangkan menurut buku Penulisan Feature, wawancara ini termasuk jenis wawancara perseorangan. Wawancara perseorangan adalah cara untuk mengeruk informasi guna penulisan biografi, profil, pandangan, sikap, pengalaman dari seorang obyek atau narasumber. Pewawancara sering kali mengemukakan pertanyaan terbuka dalam wawancara ini. Menurut buku Jurnalistik Indonesia, pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang menghendaki jawaban yang luas dan bebas. Pertanyaan ini biasanya ditandai dengan pertanyaan yang menanyakan pendapat narasumber mengenai suatu hal. Sedangkan, tujuan wawancara ini adalah untuk riset pendapat. Menurut buku Jurnalistik Indonesia Wawancara riset pendapat (the opinion research interview) terutama dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang menjadi perhatian, pemikiran, dan pendapat narasumber. I.7 1.7.a Dapat Mempengaruhi Sikap dan Pikiran serta Menggerakkan Masyarakat Wawancara ini adalah wawancara Pikiran Rakyat dengan Mochtar Lubis tentang masalah sastra. Menurut Mochtar Lubis, sebuah karya sastra dan seorang sastrawan bisa mengubah masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa sastra dapat mempengaruhi sikap, pikiran, dan menggerakkan manusia atau masyarakat untuk berbuat sesuatu. Tapi, sastra yang dapat menggerakkan orang berpikir dan kemudian setelah berpikir berbuat sesuatu adalah sastra yang ada kaitan langsung dengan kondisi manusia dan kondisi masyarakat. Dengan keyakinan ini Mochtar Lubis membuat karya sastra agar dibaca oleh orang muda. Dapat dipastikan di masa mendatang orang muda yang akan menjadi elite menggantikan yang tuatua. Sehingga Mochtar Lubis berharap orang muda yang membaca karya sastra kemudian menjadi elite politik akan membawa perubahan dan penyegaran bagi Indonesia. 1.7.b Menurut buku Jurnalistik Indonesia jenis pertanyaan yang digunakan dalam wawancara ini adalah pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka menghendaki jawaban yang luas dan bebas. Pertanyaan ini umumnya, menanyakan pendapat narasumber mengenai suatu hal. Dalam wawancara ini, pendapat yang ditanyakan kepada Mochtar Lubis menyangkut masalah sastra. Jenis wawancara yang digunakan, menurut buku Jurnalistik Indonesia, adalah wawancara sosok pribadi (personal interview). Masih menurut buku Jurnalistik Indonesia,</p> <p>wawancara ini sudah memenuhi delapan persyaratan wawancara berita. Persyaratan yang sangat terlihat dari wawancara ini adalah menimbulkan spontanitas. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara membuat Mochtar Lubis tertawa. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk riset pendapat. Menurut buku Jurnalistik Indonesia Wawancara riset pendapat (the opinion research interview) terutama dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang menjadi perhatian, pemikiran, dan pendapat narasumber. I.8 1.8.a Mochtar Lubis Berbicara tentang Dirinya dan Dunia Pendidikan Karya fiksi Mochtar Lubis tidak seratus persen merupakan imajinasi dirinya, melainkan ada segi kehidupan nyata. Dalam menulis, Mochtar Lubis tidak memiliki waktu khusus dalam menulis. Ketika ditanya tentang suksesi yang tengah berlangsungn pada saat itu, Mochtar Lubis mengatakan bahwa diatur atau tidak suksesi generasi tetap tak terelakkan. Generasi pengganti yang berkualitas adalah yang mempunyai sikap mandiri, tidak membeo, dan mempunyai inisiatif. Apapun bentuk pemimpin karbitan, dia tetap tak akan mampu menjawab persoalan esensial yang dihadapi bangsa ini. Mochtar Lubis tidak merasa memiliki hambatan ketika menulis. Ia menulis apa yang ia rasa harus ditulis. Ketika ditanya tentang generasi muda pada masa itu, khususnya mahasiswa, ia mengatakan kondisi mahasiswa sangat menyedihkan. Mereka tidak berperan sebagaimana seharusnya mereka berperan. Menurut Mochtar Lubis, gejala melempemnya mahasiswa atau pemuda ada kaitannya dengan mutu pendidikan Indonesia yang memprihatinkan. Mochtar Lubis mengidamkan masyarakat yang ideal, yaitu manusia baru yang siap menerima kemajuan teknologi. 1.8.b Dilihat dari segi tujuan, wawancara ini merupakan wawancara penegasan kredibilitas narasumber. Menurut buku Jurnalistik Indonesia wawancara penegasan kredibilitas narasumber (a well known personality interview) dimaksudkan untuk menguji tingkat kesahihan (validitas) sebuah informasi yang berkembang di masyarakat. Sedangkan jenis pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan terbuka. Menurut buku Jurnalistik Indonesia, pertanyaan terbuka menghendaki jawaban yang luas dan bebas. Pertanyaan ini umumnya, menanyakan pendapat narasumber mengenai suatu hal. Jenis wawancara yang dilakukan, menurut buku Jurnalistik Indonesia, adalah wawancara sosok pribadi (personal interview). Masih menurut buku Jurnalistik Indonesia, wawancara ini</p> <p>sudah memenuhi delapan persyaratan wawancara berita. Persyaratan yang sangat terlihat dari wawancara ini adalah mengembangkan logika. Mochtar Lubis banyak ditanyakan tentang pendapatnya mengenai situasi terkini. I.9 1.9.a Wanita Indonesia Masih Terbelenggu Mochtar Lubis mengatakan bahwa sebagai laki-laki, ia sangat terpesona pada kepribadian wanita Indonesia. Menurut Mochtar Lubis, ciri wanita Indonesia yang paling menonjol adalah cirri kewanitaannya, yaitu kelembutan. Seorang wanita Indonesia dididik supaya menjadi wanitaistriibu yang baik. Yang mengabdi pada suami. Yang mengabdi pada keluarga. Mochtar juga mengatakan ciri lain manusia Indonesia adalah kasih ibu dan kasih bapak. Namun sayangnya di kota-kota besar tradisi tersebut sudah mulai rapuh. Ketika ditanya pendapat tentang wanita pedesaan, Mochtar Lubis mengatakan bahwa ia kasihan melihat wanita yang disuruh mengabdi kepada suami dan keluarga secara keterlaluan. Idealnya, menurut Mochtar Lubis wanita Indonesia harus sama hak-haknya dengan laki-laki. 1.9.b Jenis wawancara yang digunakan, menurut buku Jurnalistik Indonesia, adal...</p>