Analisis Gender 2005_1

  • Published on
    05-Jul-2015

  • View
    404

  • Download
    9

Embed Size (px)

Transcript

<p>TEKNIK ANALISIS GENDER</p> <p>OLEH : NAHIYAH JAIDI FARAZ</p> <p>PUSAT STUDI WANITAUNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2003</p> <p>1</p> <p>TEKNIK ANALISIS GENDERNahiyah Jaidi Faraz</p> <p>Analisis gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang laki-laki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan, fungsi, peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Analisis gender merupakan langkah awal dalam rangka penyusunan kebijakan program dan kegiatan yang responsif gender. Untuk analisis gender diperlukan data gender, yaitu data kuantitatif maupun kualitatif yang sudah terpilah antara laki-laki dan perempuan. Data gender ini kemudian disusun menjadi indikator gender. Untuk memudahkan pemahaman dan bagaimana mengaplikasikan analisis gender, ada beberapa hal yang perlu dilakukan: 1). Menghimpun masalah-masalah kesenjangan gender, faktor-faktor penyebab dan upaya pemecahannya. 2). Mengetahui latar belakang terjadinya kesenjangan gender yang biasanya terjadi karena adanya diskriminasi gender antara kondisi normatif dengan obyektif. 3). Mengidentifikasi kesenjangan gender dari aspek peran, akses, kontrol, dan manfaat, guna menentukan isu gender secara menyeluruh. 4). Mengidentifikasi langkah-langkah intervensi atau tindakan yang diperlukan, berupa kebijakan, program serta rencana kegiatan yang dimungkinkan untuk dapat direalisasikan dengan memperhatikan kepentingan perempuan dan laki-laki. Dengan analisis gender diharapkan kesenjangan gender dapat diidentifikasi dan dianalisis sehingga dapat ditemukan langkah-langkah pemecahan masalahnya secara tepat. Analisis gender sangat penting khususnya bagi para pengambil keputusan dan perencana di setiap sektor, karena dengan analisis gender diharapkan masalah gender dapat diatasi atau dipersempit dan program yang berwawasan gender dapat diwujudkan.</p> <p>2</p> <p>Metode Analisis Gender Proses pemberdayaan perempuan dalam masyarakat patriarki seperti Indonesia, tidaklah mudah dilakukan. Dibutuhkan langkah-langkah strategis dan metode-metode yang memadai. Banyak cara dan model pemberdayaan perempuan yang telah dirumuskan, yang kita kenal sebagai model analisis gender. Tidak hanya itu, kepedulian pemerintah dan masyarakat untuk terwujudnya kondisi kesetaraan dan keadilan gender sangat menentukan. Untuk ini kita telah mencanangkan perlunya program Pengarusutamaan Gender (PUG). Pengarusutamaan Gender adalah suatu strategi yang ditempuh untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, program dan kegiatan dalam pembangunan. Proses penerapan strategi ini memerlukan sebuah alat (tools) yang menjadi dasar dari setiap proses PUG, baik dalam aspek kebijakan, program maupun kegiatan yang akan dilaksanakan. Alat yang dimaksud adalah Analisis gender. Analisis gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang laki-laki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan, fungsi, peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Analisis gender merupakan langkah awal dalam rangka penyusunan kebijakan program dan kegiatan yang responsif gender. Untuk analisis gender diperlukan data gender, yaitu data kuantitatif maupun kualitatif yang sudah terpilah antara laki-laki dan perempuan. Data gender ini kemudian disusun menjadi indikator gender. Untuk memudahkan pemahaman dan bagaimana mengaplikasikan analisis gender, ada beberapa hal yang perlu dilakukan: 1). Menghimpun masalah-masalah kesenjangan gender, faktor-faktor penyebab dan upaya pemecahannya. 2). Mengetahui latar belakang terjadinya kesenjangan gender yang biasanya terjadi karena adanya diskriminasi gender antara kondisi normatif dengan obyektif. 3). Mengidentifikasi kesenjangan gender dari aspek peran, akses, kontrol, dan manfaat, guna menentukan isu gender secara menyeluruh. 4). Mengidentifikasi langkah-langkah intervensi atau tindakan yang diperlukan, berupa kebijakan, program serta rencana kegiatan yang dimungkinkan untuk 3</p> <p>dapat direalisasikan dengan memperhatikan kepentingan perempuan dan lakilaki. Dengan analisis gender diharapkan kesenjangan gender dapat diidentifikasi dan dianalisis serta dapat ditemukan langkah-langkah pemecahan. Analisis gender sangat penting khususnya bagi para pengambil keputusan dan perencana di setiap sektor, karena dengan analisis gender diharapkan masalah gender dapat diatasi atau dipersempit dan program yang berwawasan gender dapat diwujudkan. Ada beberapa model teknis analisis gender yang pernah dikembangkan para ahli, antara lain: 1. Model Harvard 2. Model Moser 3. Model SWOT 4. Model Gender Analysis Pathway (GAP)</p> <p>Analisis Model Harvard Analisis Model Harvard yang dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development ini didasarkan pada pendekatan efisiensi women in developmen (WID) yang merupakan kerangka analisis gender dan perencanaan gender yang paling awal.</p> <p>Tujuan kerangka Harvard ini antara lain: 1. Untuk menunjukan bahwa ada suatu investasi secara ekonomi yang dilakukan kaum perempuan maupun laki-laki, secara rasional. 2. Untuk membantu para perencana merancang proyek yang lebih efisien dan memperbaiki produktivitas kerja secara menyeluruh. 3. Mencari informasi yang lebih rinci sebagai dasar untuk mencapai tujuan efisiensi dengan tingkat keadilan gender yang optimal. 4. Untuk memetakan pekerjaan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan melihat faktor penyebab perbedaan.</p> <p>4</p> <p>Kerangka Harvard terdiri atas sebuah matriks yang mengumpulkan data pada tingkat mikro (masyarakat dan rumah tangga) meliputi empat komponen yang berhubungan satu dengan lainnya.</p> <p>a. Profil Kegiatan, didasarkan pada konsep pembagian dengan data terpilah jenis kelamin. Profil kegiatan ini merinci kegiatan nyata menurut umur (siapa mengerjakan apa), penjadwalan (alokasi waktu) untuk kelompok-kelompok sosial ekonomi. Untuk memudahkan analisis, maka secara umum profil kegiatan dikelompokan menjadi kegiatan produktif, reproduktif, sosial budaya dan kemasyarakatan.</p> <p>b. Profil Akses dan Kontrol, merinci sumber-sumber apa yang dikuasai laki-laki dan perempuan untuk melaksanakan kegiatannya dan manfaat apa yang diperoleh setiap orang dari hasil kegiatan tersebut. Profil ini memperlihatkan siapa yang memiliki akses kepada sumberdaya dan kontrol atas penggunaannya, selanjutnya diidentifikasi, disusun dalam daftar apakah perempuan dan laki-laki mempunyai akses atau tidak kepada sumberdaya dan kontrol atas penggunaannya.</p> <p>c. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kegiatan, Akses dan Kontrol; Berpusat pada faktor-faktor dasar, yang menentukan pembagian kerja berdasarkan gender. Analisis disini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan antara laki-laki dan perempuan pada butir a dan b. Karena pekerjaan yang dilakukan laki-laki dan perempuan berubah dari waktu ke waktu sebagai akibat dari proses pembangunan atau perubahan lingkungan, maka pengertian tentang kecenderungan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial budaya harus turut diperhitungkan dalam analisis.</p> <p>Penggunaan Kerangka Analisis Harvard, terutama: 1. Lebih cocok untuk perencanaan proyek dibandingkan perencanaan program atau kebijakan.</p> <p>5</p> <p>2. Dapat digunakan sebagai titik masuk (entry point) gender netral, ketika melontarkan isu gender kepada peserta yang resisten terhadap adanya ketimpangan dalam relasi gender 3. Untuk menyimpulkan data dasar 4. Dapat digunakan bersama sama dengan kerangka lain, misalnya bersama analisis moser, untuk mencari gagasan dalam menentukan kebutuhan strategik gender.</p> <p>Analisis Model Moser Teknik Analisis Model Moser atau disebut juga Kerangka Moser, didasarkan pada pendapat bahwa perencanaan gender bersifat teknis dan politik. Kerangka ini mengasumsikan adanya konflik dalam proses perencanaan dan proses transformasi serta mencirikan perencanaan sebagai suatu debat. Ada 6 alat (instrumen) yang dipergunakan kerangka ini dalam perencanaan untuk semua tingkatan, dari proyek sampai ke perencanaan daerah.</p> <p>Alat 1. : Identifikasi Peranan Gender Alat ini mencakup penyusunan pembagian kerja gender/ pemetaan aktivitas laki-laki dan perempuan (termasuk anak perempuan dan laki-laki) dalam rumah tangga selama periode 24 jam.</p> <p>Alat 2: Penilaian Kebutuhan Gender Moser mengembangkan alat ini dari konsep minat/ kebutuhan gender dari sudut perempuan yang pertama kalinya dikembangkan oleh Maxine Molyneux pada 1984. Perempuan mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang berbeda dengan laki-laki karena tri-peranan mereka sebagaimana posisi subordinat mereka terhadap lakilaki dalam masyarakat. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dibedakan dalam</p> <p>minat/kebutuhan praktis gender dan strategis gender.</p> <p>Kebutuhan Praktis Gender Kebutuhan ini dapat diidentifikasi dengan mudah oleh perempuan dan lakilaki karena selalu berhubungan dengan kondisi kehidupan. Perempuan dapat</p> <p>6</p> <p>mengindentifikasi air bersih, makanan, pemneliharaan kesehatan dan penghasilan tunai sebagai minat/kebutuhan yang harus segera mereka penuhi. Memenuhi kebutuhan praktis perempuan sangat penting untuk memperbaiki kondisi kehidupan, tetapi pemenuhan kebutuhan praktis tidak akan mengubah posisi perempuan yang lemah (subordinat). Malahan dalam kenyataannya memperkuat pembagian kerja gender.</p> <p>Kebutuhan Strategis Gender Minat/kebutuhan strategis gender adalah semua hal yang oleh perempuan sendiri diidentifikasi sebagai kebutuhan yang disebabkan posisi subordinat mereka. Hal ini berhubungan dengan isu kekuasaan dan kontrol, sampai pada eksploitasi karena pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Kebutuhan strategis mencakup perubahan-perubahan dalam pembagian kerja gender (misalnya: perempuan melakukan pekerjaan yang secara tradisional bukan sebagai pekerjaan perempuan, laki-laki mengambil lebih banyak tanggungjawab dalam pekerjaan domestik dan mengurus anak), hak-hak legal, penghapusan tindak kekerasan, upah yang sama, dan kontrol perempuan atas tubuhnya sendiri.</p> <p>Alat 3: Pendisagregasian (pemisahan) Kontrol atas Sumberdaya dan Pengambilan Keputusan dalam Rumah Tangga.</p> <p>Alat ini digunakan untuk menemukan siapa yang mengontrol sumberdaya dalam rumah tangga, siapa yang mengambil keputusan penggunaan sumberdaya dan bagaimana keputusan itu dibuat.</p> <p>Alat 4: Menyeimbangkan Peranan Sangat berhubungan dengan bagaimana perempuan mengelola</p> <p>keseimbangan antara tugas-tugas produktif, reproduktif dan kemasyarakatan mereka. Termasuk mempertanyakan tentang Apakah suatu intervensi yang direncanakan akan meningkatkan beban kerja perempuan pada suatu peranan dengan konsekwensi terhadap peranan perempuan lainnya?</p> <p>7</p> <p>Alat 5: Matriks Kebijakan WID (Women In Development)</p> <p>Matriks kebijakan Women In Developmen memberikan suatu kerangka untuk mengidentifikasi atau mengevaluasi pendekatan-pendekatan yang sedang (atau dapat) digunakan untuk ditujukan pada tri peranan, serta kebutuhan-kebutuhan praktis dan strategis gender pada perempuan dalam proyek dan program. Matriks ini dibedakan ke dalam 5 pendekatan.</p> <p>a. Kesejahteraan Pendekatan ini ditujukan untuk membawa perempuan dalam pembangunan agar menjadi ibu yang lebih baik.. Pendekatan ini mengakui peranan reproduktif perempuan dan berusaha memenuhi kebutuhan praktis gender melalui suatu uluran bantuan yang bersifat top-down.</p> <p>b. Keadilan Pendekatan WID yang pertama, muncul pada dekade 1976-1985, dalam konteks paradigma pembangunan pertumbuhan dengan keadilan. Pendekatan ini bertujuan untuk memperoleh keadilan bagi perempuan yang dipandang sebagai partisan aktif dalam pembangunan. Pendekatan ini mengakui tri peranan, dan berusaha memenuhi kebutuhan strategis gender melalui intervensi langsung pemerintah dengan memberikan otonomi plitik dan ekonomi serta mengurangi ketidaksetaraan perempuan dengan laki-laki.</p> <p>c. Anti-kemiskinan Merupakan pendekatan WID yang diadopsi sejak tahun 1970-an dan merupakan kebalikan dari versi keadilan, menggunakan konteks pendekatan kebutuhan dasar terhadap pembangunan. Tujuannya untuk menjamin agar perempuan miskin meningkat produktivitasnya. Pendekatan ini mengakui peranan produktif perempuan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis</p> <p>8</p> <p>dan strategis untuk memperoleh pendapatan, khususnya dalam proyek-proyek peningkatan pendapatan berskala kecil.</p> <p>d. Efisiensi Pendekatan WID ini, sekarang menjadi sangat penting, diadopsi sejak krisis hutang tahun 1980. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa pembangunan menjadi lebih efisien dan efektif melalui kontribusi ekonomi perempuan, dimana partisipasi sering disamakan dengan keadilan.</p> <p>e. Pemberdayaan Pendekatan yang mutakhir, diartikulasikan perempuan dunia ketiga. Pendekatan ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan melalui kepercayaan diri yang besar. Subordinasi perempuan diekspresikan tidak hanya disebabkan oleh dominasi laki-laki, tetapi juga karena penindasan kolonial dan neo-kolonial.</p> <p>Alat 6: Melibatkan Perempuan, Organisasi Penyadaran Gender dan Perencana dalam Perencanaan</p> <p>Tujuan dari alat ini untuk memastikan bahwa kebutuhan praktis gender dan kebutuhan strategis gender diidentifikasi dan dijamin sebagai kebutuhankebutuhan nyata perempuan, berlawanan dengan pengertian atas kebutuhankebutuhan yang digabungkan ke dalam proses perencanaan selama ini.</p> <p>Analisis Model SWOT Teknik ini merupakan suatu teknik analsis manajemen dengan cara mengidentifikasi secara internal mengenai peluang dan ancaman. Aspek internal dan eksternal tersebut dipertimbangkan dalam kaitan dengan konsep strategis dalam rangka menyusun program aksi, langkah-langkah atau tindakan untuk mencapai sasaran maupun tujuan kegiatan dengan cara memaksimalkan kekuatan dan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan ancaman sehingga dapat mengurangi risiko.</p> <p>9</p> <p>Dalam analisis SWOT ada lima langkah yang harus dilakukan: a. Langkah Pertama, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan b. Langkah Kedua, mengidentifikasi peluang dan ancaman. c. Langkah Ketiga, analisis keterhubungan kunci internal Dari langkah yang ketiga, melakukan analisis keterhubungan dan tahap pencocokan dengan membuat kuadran. 1). Kuadran I (strategi SO) menciptakan strategi dengan menggunakan/mengembangkan kekuatan-kekuatan (strengths) untuk memanfaatkan peluang (opportunities). Strategi yang digunakan adalah agresif. 2). Kuadran II (strategi ST) menciptakan strategi dengan menggunakan dan mengembangkan kekuatan (Strengths) untuk meminimalkan atau mengatasi ancaman (threats), misalnya dengan strategi diversifikasi. 3). Kuadran III (strategi WO) menciptakan strategi untuk meminimalkan kelemahan-kelemahan (weaknesess) dan untuk memanfaatkan peluang-peluang (opportunities), misalnya dengan cara meninjau kembali kegiatan-kegiatan. 4). Kuadran IV (strategi WT) menciptakan strategi untuk meminimalkan kelemahan-kelemahan (weaknesess) dan menghindari ancaman (threats), dengan strategi, misalnya, menunggu peluang baru. d. Langkah Keempat: Setelah diana...</p>