ANALISIS GENDER

  • Published on
    11-Nov-2015

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

GENDER MERUPAKAN BENTUK DARI PERBEDAAN PERAN, FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAN ANTARA LAKI - LAKI DAN PEREMPUAN. BAIK DI BIDANG PRODUKTIF, REPRODUKTIF ATAUPUN SOSIAL KEMASSYARAKATN.

Transcript

<ul><li><p> 337 Seminar Nasional Serealia 2011 </p><p>KAJIAN USAHATANI JAGUNG DI LAHAN SAWAH SETELAH PADI MELALUI PENDEKATAN PTT DI KABUPATEN BOLMONG SULAWESI UTARA </p><p> Yenny Tamburian, W. Rembang dan Bahtiar </p><p>Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Utara </p><p>ABSTRAK </p><p>Kajian usahatani jagung di lahan sawah setelah padi telah dilakukan di Desa Werdi Agung, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolmong, Sulawesi Utara, pada MT I 2010 dan MT II 2011. Kajian ini bertujuan untuk memacu peningkatan produktivitas dan pendapatan petani dalam usahatani jagung melalui pendekatan PTT. Pada MT I 2010 penanaman jagung seluas 2 ha melibatkan petani peserta PTT dan non PTT masing-masing pada lahan seluas 1 ha. Pada MT II 2011 penanaman jagung seluas 12 ha melibatkan 24 petani, masing-masing 12 petani koperator peserta PTT dan 12 petani nonkoperator orang. Metode yang digunakan adalah pendekatan PRA. Komponen teknologi PTT yang diterapkan terdiri dari varietas unggul, benih bermutu, jarak tanam 75 cm x 25 cm 1 biji/lubang, pemupukan berimbang dan pengedalian OPT dengan menerapkan konsep PHT. Hasil pengkajian pada MT I 2010 menunjukkan varietas unggul Srikandi Kuning dan Sukmaraga yang dikelola petani peserta PTT memberikan hasil masing-masing 7,0 t/ha dan 7,8 t/ha atau 54% lebih tinggi varietas Bisi 2 (4,50 t/ha) yang dikelola petani nonkoperator. Analisis usahatani menunjukkan varietas Srikandi kuning dan Sukmaraga memberikan nilai B/C ratio berturut-turut 1,29 dan 1,63 atau rata-rata 1,46 sedangkan varietas Bisi 2 hanya 0,84. Pendapatan Rp 8.687.500 lebih besar 1,97 kali lipat dibanding petani nonkoperator (Rp 4.390.000). Pada MT II 2011 varietas Srikandi Kuning dan Sukmaraga memberikan hasil masing-masing 7,45 t/ha dan 7,90 t/ha atau rata-rata 7,675 t/ha, meningkat 119% varietas Manado Kuning (3,50 t/ha). Usahatani varietas Srikandi Kuning dan Sukmaraga memberikan nilai B/C ratio 1,52 dan 1,67 atau rata-rata 1,60 sedangkan petani nonkoperator lebih rendah 0,79. Keuntungan petani koperator Rp 9.860.000 atau meningkat 3,05 kali lipat disbanding petani nonkoperator (Rp 3.425.000). Disarankan model PTT dapat diperluas implementasinya dalam usaha peningkatan produktivitas dan pendapatan petani jagung di lahan sawah di Bolmong. Kata kunci: Usahatani, jagung, lahan sawah, PTT, produktivitas, pendapatan. </p><p>PENDAHULUAN </p><p>Permintaan jagung di Indonesia terus meningkat, baik untuk pangan sebagai sumber karbohidrat juga merupakan bahan baku industri pakan. Dewasa ini kebutuhan jagung untuk pakan sudah lebih 50% kebutuhan nasional. Peningkatan kebutuhan jagung terkait dengan makin berkembangnya usaha peternakan, terutama unggas. Sementara itu produksi jagung dalam negeri belum mampu memenuhi semua kebutuhan, sehingga kekurangannya dipenuhi dari jagung impor. </p><p>Di Sulawesi Utara jagung merupakan komoditas unggulan sehingga pengembangannya terdapat </p><p>pada semua kabupaten, namun yang sangat luas pengembangannya adalah kabupaten Bolmong. Di Kabupaten Bolmong hampir sepanjang tahun tanaman jagung diusahakan baik pada lahan kering maupun lahan sawah. Pada lahan sawah tanaman jagung ditanam setelah panen padi. Tahun 2008 Kabupaten Bolmong memiliki luas panen jagung 47.450 ha dengan produksi 168.292 ton berarti rata-rata produksi 3,54 t/ha (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Bolmong 2009). Tingkat produktivitas tersebut masih rendah jika dibandingkan dengan potensi hasil dari varietas unggul nasional. Potensi varietas jagung unggul komposit mencapai rata-rata 5,0-6,0 t/ha bahkan </p></li><li><p> 338 Yenny Tamburian, W.Rembang dan Bahtiar : Kajian Usahatani Jagung di Lahan Sawah setelah Padi Melalui Pendekatan PTT di Kabupaten Bolmong Sulawesi Utara </p><p>mencapai 7,0 t.ha, sedangkan varietas unggul hibrida mencapai sekitar 9 - 13,3 t/ha bila pemeliharaannya intensif (Balitsereal 2007). Rendahnya tingkat produktivitas jagung tersebut disebabkan cara pengelolaannya belum intensif. </p><p>Berdasarkan wawancara langsung dengan petani melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) terdapat berbagai permasalahan teknis yang dapat menjadi hambatan untuk peningkatan produksi jagung di daerah ini antara lain: pola curah hujan yang tidak menentu sering mengakibatkam tanaman stres kekeringan; sumber air tergantung curah hujan dengan intensitas terbatas dan distribusi yang tidak merata, sehingga resiko kekeringan sangat tinggi; penggunaan varietas lokal Manado Kuning yang memiliki potensi hasil rendah atau varietas hibrida Bisi 2 yang ditanami berulang-ulang 2-3 kali menyebabkan produksi rendah; jarak tanam atau populasi tanaman yang terlalu rapat atau jarang, sehingga pertumbuhan tanaman tidak optimal; pengendalian hama dan penyakit yang kurang tepat, seperti hama peggerek batang dan penyakit bulai dapat mengurangi hasil dan bahkan puso sama sekali; pemupukan belum berimbang; panen dilakukan dengan membiarkan tongkol jagung sampai kering dilapang/alot, menyebabkan serangan hama tikus. Modal yang terbatas merupakan alasan pokok bagi petani sehingga tidak melakukan pemupukan dan pengendalian hama penyakit dengan tepat. Lembaga pelayanan sistem produksi seperti KUD, Balai Benih atau penangkar benih, dan sistem pelayanan sarana produksi termasuk penyuluhan, dinilai oleh petani belum berfungsi dengan optimal. Teknologi yang diterapkan oleh petani masih bertumpu pada cara tradisional yang turun temurun dari generasi sebelumnya. Secara sosiologis petani di daerah ini pada umumnya masih bersifat konservatif, sulit menerima teknologi baru yang belum dipercayai keunggulannya (BP4K Kabupaten </p><p>Bolmong 2009 dan BP3K kecamatan Dumoga Bara 2009). </p><p>Berbagai upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas jagung diantaranya melalui terobosan teknologi dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Jagung (Badan Litbang Pertanian 2000). Dalam pengembangannya PTT adalah memanfaatkan sumberdaya pertanian secara optimal sehingga petani memperoleh keuntungan maksimal secara berkelanjutan dalam sistem produksi yang memadukan komponen teknologi sesuai kapasitas lahan. Setiap komponen teknologi sumberdaya alam, dan kondisi sosial ekonomi memiliki kemampuan untuk berinteraksi satu sama lain. Dengan demikian akan tercipta suatu keseimbangan dan keserasian antara aspek lingkungan dan aspek ekonomi untuk keberlanjutan sistem produksi. Indikator keberhasilan pengelolaan tanaman terpadu yang paling penting adalah rendahnya biaya produksi, penggunaan sumberdaya pertanian secara efisien dan pendapatan petani meningkat tanpa merusak lingkungan (Kartaatmadja et al. 2000). </p><p> Pada prinsipnya model PTT adalah mengelola dan menyediakan lingkungan produksi yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman sesuai dengan kondisi sumberdaya yang tersedia di daerah setempat dan bersifat spesifik lokasi (Badan Litbang Pertanian 2008). Dengan pendekatan ini diupayakan menciptakan hubungan sinergisme antara komponen-komponen produksi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya tersedia dengan memanfaatkan internal input tanpa merusak lingkungan sesuai dengan permasalahan spesifik dari sistem usahatani jqgung di lokasi tersebut. </p><p> Model PTT memiliki potensi dan prospek cukup baik untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan yang akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Pengkajian ini bertujuan: penerapan model PTT jagung dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. </p></li><li><p> 339 Seminar Nasional Serealia 2011 </p><p>METODOLOGI PENELITIAN </p><p>Pengkajian dilakukan di lahan sawah setelah panen padi di Desa Werdi Agung Kecamatan Dumoga Barat Kabupaten Bolmong Provinsi Sulawesi Utara. Pengkajian berlangsung sejak April 2010 s/d Februari 2011, selama dua musim tanam (MT I 2010 dan MT II 2011). Penanaman jagung pertama pada MT I 2010 (April s/d Agustus) dilakukan pada lahan seluas 2 ha yang melibatkan kelompok tani Kembang Sari sebagai petani peserta PTT dan petani non PTT masing-masing 1 ha. Penanaman kedua pada MT II 2011 (Nopember s/d Maret) di lahan seluas 12 ha yang melibatkan 24 petani masing-masing 12 petani peserta PTT (petani koperator) dan 12 petani non PTT ( petani non kopertor). </p><p>Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk mengetahui masalah utama spesifik lokasi, kemudian dipecahkan bersama dengan petani dan penyuluh. Model PTT yang dikaji berasal dari Balitsereal Maros, kemudian dimodifikasi sesuai dengan kondisi di lapangan. Kajian ini dititik beratkan pada aspek ekonomi dan persepsi petani terhadap teknologi. </p><p>Data yang dikumpulkan meliputi sosial ekonomi (input, out put, harga saprodi dan harga jagung pipilan kering, upah tenaga kerja, dan persepsi petani) dan keragaan agronomi. Data ekonomi dikumpulkan dengan menggunakan Farm Record Keeping (FRK). Untuk mengetahui respon petani dilakukan wawancara secara semi struktural. Data agronomis yaitu umur panen, tinggi tanaman saat panen, tinggi tongkol, panjang tongkol, lingkar tongkol, jumlah baris, bobot 1000 butir dan hasil dikumpulkan melalui pengamatan langsung di lapangan. Kegiatan yang dilakukan di lokasi pengkajian adalah sebagai berikut: komponen teknologi yang diterapkan dalam model PTT disesuaikan dengan hasil yang dirumuskan bersama-sama dengan petani dan PPL pada saat PRA. Paket teknologi didasarkan pada ketersediaan sumberdaya, permasalahan yang dihadapi, dan kebiasaan petani. Komponen teknologi yang dianggap baru adalah Varietas, pemupukan berimbang (urea dengan menggunakan BWD) dan jarak tanam 75 cm x 25 cm dengan 1 biji/lubang. Komponen teknologi PTT dibandingkan dengan teknologi petani disajikan pada Tabel 1. </p></li><li><p> 340 Yenny Tamburian, W.Rembang dan Bahtiar : Kajian Usahatani Jagung di Lahan Sawah setelah Padi Melalui Pendekatan PTT di Kabupaten Bolmong Sulawesi Utara </p><p>Tabel 1. Komponen Teknologi PTT vs.Teknologi petani jagung di lahan sawah setelah padi di Desa Werdi Agung Kecamatan Dumoga Barat, MT I 2010 dan MT II 2011 </p><p>Variabel MT I tahun 2010 MT II tahun 2011 </p><p>Teknologi PTT (Petani koperator) </p><p> Teknologi petani (Nonkoperator) </p><p>Teknologi PTT (Petani koperator) </p><p>Teknologi petani </p><p>(Nonkoperator) - Pengolahan tanah - Varietas - Mutu benih - Kebutuhan benih </p><p>(kg/ha) - Jarak tanam - Pupuk (kg/ha) Phonska Urea Kandang - Pengendalian OPT </p><p>Sempurna Sukmaraga Srikandi Kuning Berlabel/Sertifikat 20 75 cm x 20 cm, 300 150 (BWD) 1500 Menerapkan Konsep PHT </p><p>Sempurna Bisi 2 Berlabel/Sertifikat 25 75 cm x 25 cm 100 300 Tanpa acuan </p><p>Sempurna Sukmaraga Srikandi Kuning Berlabel/Sertifikat 20 75 cm x 20 cm 300 150 (BWD) 2000 Menerapkan Konsep PHT </p><p>Sempurna Manado Kuning Tidak Berlabel 40 80 cm x 40 cm 100 300 _ Tanpa acuan </p><p>Keragaan agronomis akan dilihat dengan analisis statistik uji t antar teknologi, sedangkan analisis ekonomis menggunakan anggaran keseluruhan usahatani (whole farm budget). Untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatani, maka digunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya atau B/C ratio, dengan rumus: B/C = Total Pendapatan/Total Biaya </p><p>HASIL DAN PEMBAHASAN </p><p>I. Karakteristik Lokasi Pengkajian </p><p>a. Keadaan umum </p><p>Kabupaten Bolaang Mongondow merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Utara yang terletak dibagian Selatan dengan jarak 183,72 km dari kota Manado. Luas daerah ini sekitar 354.749 ha, dari luasan tersebut terdapat 6,47 % atau 22980 ha lahan sawah irigasi yang dapat ditanami jagung setelah panen padi. Jumlah penduduk 302.393 jiwa yang terdiri 159.184 laki-laki dan 143.209 perempuan (Sulut dalam Angka 2008). Penggunaan lahan di daerah ini disajikan dalam Tabel 2 </p><p>Tabel 2. Penggunaan Lahan di Kabupaten Bolaang Mongondow, 2008 </p><p> Jenis Penggunaan Luas </p><p>(ha) Persentase </p><p>(%) Sawah irigasi teknis Sawah irigasi teknis Sawah irigasi sederhana/desa Sawah tadah hujan Pekarangan Tegal Ladang Penggembalaan Rawa Tambak Kolam Lahan tidak diusahakan Hutan rakyat Hutan negara Perkebunan Lain-lain </p><p>12.344 </p><p>6.807 </p><p>3.829 </p><p>3.556 7.610 </p><p>36.723 18.143 </p><p>627 139 129 465 </p><p>4.706 </p><p>35.626 75.793 21.854 </p><p>126.398 </p><p>3,48 </p><p>1,92 </p><p>1,079 </p><p>1,002 2,145 10,35 5,11 0,18 </p><p>0,039 0,036 0,13 1,32 </p><p> 10,04 21,40 6,20 </p><p>35,63 </p><p>Jumlah </p><p>354.749 100,00 </p><p>Sumber: Sulut dalam Angka 2008. </p><p> Topografi Kabupaten Bolmong </p><p>sangat bervariasi, dari dataran hingga berbukit sampai bergunung-gunung. Tinggi tempat 0 - 1000 m dpl, dataran tinggi terletak di bagian Timur dan Barat, </p></li><li><p> 341 Seminar Nasional Serealia 2011 </p><p>sedangkan bagian bagian Utara dan Selatan merupakan dataran rendah. Jenis tanah yang dominan adalah Aluvial, Latosol, dan Regosol (Sulut dalam Angka 2008). </p><p>Kecamatan Dumoga Barat terletak di sebelah Barat Kabupaten Bolmong dan dalam pengembangan wilayah pertanian termasuk daerah Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering. Daerah ini mempunyai topografi datar hingga agak miring dengan jenis tanah Aluvial dan Regosol. Kesuburan tanah tergolong sedang. </p><p>Sumber air utama untuk pertanian di daerah ini adalah curah hujan dan bendungan Toraut sebagai sumber irigasi padi sawah. Selama tahun 2008, jumlah curah hujan dan hari hujan masing-masing 2630 mm dan 21,20 hari, yang tersebar pada musim hujan antara bulan Oktober sampai Maret , dengan 3-5 bulan basah 6-7 bulan kering. Sesuai kriteria Oldeman (1975), daerah ini termasuk tipe iklim kering (D) . </p><p> b. Teknologi Usahatani </p><p>Pola tanam yang diterapkan di lahan sawah adalah: Padi - Padi - Bero; Padi - Padi - Jagung dan Padi - Padi - Kedelai berdasarkan pembagian air pengairan. Pengaturan jadwal pembagian air digilir menurut kelompok. Kelompok bagian Barat meliputi desa Toraut, Matayangan, Uuwan, Ikhwan, Doloduo, Mekaruo dan Wangga Baru dan kelompok bagian Timur yaitu desa Kosio, Kinomaligan, Ibolian, Werdi Agung, Werdi Agung Selatan , Ibolian I dan Kosio Timur. Apabila kelompok Barat mendapat jadwal pengairan maka kelompok bagian Timur akan menanam palawija dan seterusnya bila kelompok Timur mendapat jadwal pengairan maka kelompok bagian Barat menanam palawija. Palawija yang dominan (sekitar 50 % dari luas areal) adalah jagung yang diusahakan secara monokultur, sehingga hampir sepanjang tahun terdapat penanaman jagung di lahan sawah. Penanaman jagung dilakukan setelah panen padi dengan </p><p>memanfaatkan sisa air pengairan yang ada. </p><p>Cara budidaya jagung didaerah pengkajian masih sederhana. Persiapan lahan di dilakukan sudah cukup baik. Di lahan sawah persiapan lahan dilakukan dengan cara olah tanah minimum (OTM) yaitu lahan dibajak satu kali kemudian disemprot herbisida atau olah tanah sempurna (OTS) yaitu lahan dibajak dua kali, kemudian diratakan. Pengolahan tanah umumnya dilakukan dengan menggunakan bajak yang ditarik oleh tenaga hewan sapi. </p><p>Varietas jagung lokal Manado Kuning telah lama diusahakan petani, namun saat ini varietas tersebut perlahan-lahan sudah ditinggalkan oleh sebagian petani dengan menggantikan varietas hibrida Bisi 2 yang berpotensi hasil tinggi. Alasan petani meninggalkan varietas lokal Manado Kuning karena varietas tersebut selain berumur panjang juga produksinya rendah sekitar 1,5 3,0 t/ha. Hanya sebagian kecil petani yang masih me...</p></li></ul>