ANALISIS PANDANGAN REMAJA TENTANG CINTA, SAHABAT DAN ARTI SEBUAH KEJUJURAN DALAM FILM ADA APA DENGAN CINTA? :SUATU KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

  • Published on
    10-Oct-2015

  • View
    315

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kajian film

Transcript

Bab 1 Pendahuluan

a. Latar belakang

Membuat film adalah suatu kerja kolaboratif. Sebuah film dihasilkan oleh kerjasama berbagai macam variabel yang saling mendukung. Di antara berbagai variabel itu adalah skenario, yang dianggap sebagai suatu variabel penting, karena secara prosedural merupakan bagian dari tahap awal pembuatan sebuah film. Langkah pertama seorang produser dalam membuat film adalah mencari cerita yang layak. Menurut Winston (1973:199), pembuatan film adalah proses kreatif berkesinambungan yang bisa dibagi dalam tiga tahap: penulisan skenario, penyutradaraan dan penyuntingan.Skenario dianggap penting dalam pembuatan film, karena keberadaannya merupakan rancangan untuk membuat film. Sebuah skenario yang baik telah menjadi sebuah film dalam bentuk tertulis. Dalam sebuah skenario yang sempurna, visualisasi dari gagasan sebuah film sudah tergambar dengan jelas. Secara rinci, dalam sebuah skenario tertulis elemen-elemen sebuah film seperti dramaturgi, konsep visual, montase, karakterisasi, pengadeganan, dialog, dan tata suara (Herman, 1952). Sebuah film dibuat berdasarkan skenario tersebut.Hal ini membuktikan betapa pentingnya skenario. Berdasarkan sebuah skenario yang buruk, sebuah film yang baik tidak mungkin dihasilkan. Berdasarkan skenario yang baik, kemungkinan untuk menghasilkan film yang baik lebih besar. Sebuah film, sebagai produk kesenian maupun sebagai medium, adalah suatu cara untuk berkomunikasiada sesuatu yang ingin disampaikan pada penonton. Menurut Stephenson (1976:20), salah satu aspek kesenian adalah komunikasi, dan hanya punya arti bila disana terdapat setidaknya dua orang yang mempunyai perhatian terhadapnya. Sang seniman bahkan kadangkala berlaku sebagai penonton bagi karyanya sendiri.Dalam hal film, cara berkomunikasinya adalah cara bertuturada tema, tokoh, cerita, secara audiovisual, yang pada akhirnya mengkomunikasikan suatu pesan eksplisit maupun implisitsecara dramatik.Menurut Bordwell, cara bertutur ini adalah menghadirkan kembali kenyataan, dengan makna yang lebih luas (1985:xi). Film yang paling tidak komunikatif pun ingin menyampaikan sesuatu. Makin komunikatif sebuah film, makin mulus penyampaian gagasan yang dikandungnya pada penonton. Cara bertutur adalah bagian dari teknik berkomunikasi, yakni bagaimana sebuah film menancapkan pesan ke benak penonton, dengan cara yang mengesankan (Jowett, 1980:87-101). Pengertian mengesankan dalam hal ini: penonton memahami sebuah pesan bukan karena pemberitahuan mentah-mentah, melainkan berdasarkan pengalaman yang didapatnya dari sebuah film. Dengan begitu, sebuah film dianggap berhasil berkomunikasi secara baik jika berhasil menyampaikan pesan secara mengesankan. Kemampuan untuk menuntun penonton kepada identifikasi dengan tokoh adalah bagian terbesar dari ketrampilan seorang penulis skenario (Jowett, 1980:92).Herman (1952:3) menyatakan: Skenario film adalah komposisi tertulis yang dirancang sebagai semacam diagram kerja bagi sutradara film. Skenario ini yang menjadi dasar pemotretan sekuen-sekuen gambar. Ketika disambung-sambung, sekuen-sekuen ini akan menjadi sebuah film yang selesai, setelah efek suara dan latar musik yang cocok dibubuhkan.Lebih lanjut Herman mengatakan bahwa tidak seperti naskah drama atau novel, skenario film jarang menjadi karya sastra. Seperti blue print dalam arsitektur, hanya berfungsi sebagai penghubung kemana gambar-hidup itu mesti melewatinya, sebelum tampil dalam struktur sebuah film yang utuh. Skenario lebih ditekankan sebagai suatu fungsi, yakni sebagai rancangan untuk membuat film. Namun demikian, skenario film masih memiliki ruang untuk menjadi karya tekstual. Dengan kata lain, skenario bisa tidak menjadi penghubung, melainkan menjadi karya tekstual yang mandiri. Dalam hal ini, skenario film bukan hanya sebuah fungsi, melainkan juga substansi.John Gassner (via Winston, 1973:13) mengatakan bahwa skenario film bukan hanya bisa disadari sebagai bentuk sastra yang baru, namun sebagai bentuk sangat penting yang mempunyai otonominya sendiri.Dengan demikian, untuk memahami sebuah film bisa dilakukan dengan cara mengkaji scenario film. Film Ada Apa Dengan Cinta merupakan film terbaik pada ajang Piala Citra Festival Film Indonesia 2004. Hal ini menjadi sangat menarik jika dikupas dari segi struktur maupun hal-hal luar yang turut membangunnya.

b. Masalah

Bagaimana struktur sintaksis yang terdapat dalam naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ? Bagaimana struktur semantic yang terdapat dalam naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ? Bagaimana struktur pragmatic yang terdapat dalam naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ? Apa saja unsur-unsur pementasan yang terdapat dalam naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ? Bagaimana aspek pertunjukan yang terdapat dalam film Ada Apa Dengan Cinta ? Apa saja yang terdapat dalam naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ? ditinjau melalui kajian sosiologi sastra?

c. Tujuan

Secara teoritis dapat melihat bgaimana struktur yang terdapat dalam naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ?. Secara aplikatif dapat menilai baik-buruknya suatu karya dan melihat hal-hal apa saja yang terdapat dalam naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ? Secara umum sebagai bahan bacaan yang dapat menambah wawasan pembaca mengenai penganalisisan naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ?

d. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra, yaitu pendekatan yang mengkaji karya sastra berdasrkan perhatian pada aspek dokumenter sastra, dengan landasan suatu pandangan bahwa sastra merupakan gambaran atau potret fenomena sosialLangkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini sebagai berikut. Pertama, teks dianalisis secara struktural menurut Todorov. Analisis yang dilakukan meliputi analisis struktur alur, pengeluran, tokoh, dan latar. Selanjutnya dilakukan analisis aspek-aspek yang merupakan cerminan masyarakat dan nilai-nilai yang terdapat dalam naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta .

e. Sistematika Penulisan

Tulisan ini mengikuti sistematika sebagai berikut:Bab 1 mengemukakan pendahuluan yang meliputi latar belakang, masalah, tujuan, pendekatan, dan landasan teori. Bab 2 berisi analisis struktur naskah naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ?yang meliputi analisis alur dan pengaluran. Bab 3 membahas masalah tokoh dan latar. Bab 4 mengungkapkan aspek-aspek yang merupakan cerminan masyarakat dan nilai-nilai yang terdapat dalam naskah naskah film/scenario film Ada Apa Dengan Cinta ?.

Bab 2 Landasan Teori

Teori Sosiologi SastraSosiologi sastra atau sosiokritik dianggap sebagai disiplin yang baru. Sebagai disiplin yang berdiri sendiri, sosiologi sastra dianggap baru lahir di abad ke-18, ditandai dengan tulisan Madame de Stael (Albrecht, dkk., eds., 1970:xi; Laurenson dan Swingewood, 19972:25-27 dalam Ratna: 2013). Secara bahasa, Ratna Nyoman K. (2003:1) menguraikan istilah sosiologi sastra sebagai berikut.Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari akar kata sosio (Yunani) (socius berarti bersama-sama, bersatu, kawan, teman) dan logi (logos berarti sabda, perkataan, perumpamaan). Perkembangan berikutnya mengalami perubahan makna, sosio/socius berarti masyarakat, logi/logos berarti ilmu. Jadi, sosiologi berarti ilmu mengenai asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Makna kata sastra bersifat lebih spesifik sesudah terbentuk menjadi kata jadian, yaitu kesusastraan, artinya kumpulan hasil karya yang baik. Sosiologi sastra merupakan ilmu yang dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya. Paradigma sosiologi sastra berakar dari latar belakang historis dua gejala, yaitu masyarakat dan sastra: karya sastra ada dalam masyarakat, dengan kata lain, tidak ada karya sastra tanpa masyarakat. Sosiologi sastra bertolak dari orientasi kepada semesta, namun bisa juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Wilayah sosiologi sastra cukup luas. Welek dan Weren (1993: 111) mengklasifikasi sosiologi sastra menjadi tiga bagian: 1) sosiologi pengarang yang mempermasalahkan status sosial, ideologi sosial, dan yang menyangkut pengarang sebagai penghasil sastra; 2) sosiologi karya sastra yang mengetengahkan permasalahan karya sastra itu sendiri, yang menjadi pokok permasalahannya adalah apa yang tersifat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya; dan 3) sosiologi yang mempermasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya sastra.Klasifikasi tersebut tidak jauh berbeda dengan bagan yang dibuat oleh Ian Watt. Telaah suatu karya sastra menurut Ian Watt akan mencakup tiga hal, yakni konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin masyarakat, dan fungsi sosial sastra. Hal ini dijelaskan Damono sebagai berikut:Ian Watt menjelaskan hubungan timbal balik sastrawan, sastra dan masyarakat sebagai berikut: 1) Konteks sosial pengarang yang berhubungan antara posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dengan masyarakat pembaca. Termasuk faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan selain mempengaruhi karya sastra. 2) Sastra sebagai cermin masyarakat, yang dapat dipahami untuk mengetahui sampai sejauh mana karya sastra dapat mencerminkan keadan masyarakat ketika karya sastra itu ditulis, sejauh mana gambaran pribadi pengarang mempengaruhi gambaran masyarakat atau fakta sosial yang ingin disampaikan, dan sejauh mana karya sastra yang digunakan pengarang dapat dianggap mewakili masyarakat. 3) Fungsi sosial sastra, untuk mengetahui sampai be

Recommended

View more >