Analisis Pembangunan Sutet (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) Dan Peran Amdal Di Indonesia

Embed Size (px)

Text of Analisis Pembangunan Sutet (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) Dan Peran Amdal Di Indonesia

MAKALAH EKONOMI LINGKUNGAN KELAS AA ANALISIS PEMBANGUNAN SUTET (SALURAN UDARA TEGANGAN EKSTRA TINGGI) DAN PERAN AMDAL DI INDONESIA

Dosen: Prof. Dr. Maryunani, SE, MS Asisten: Herman Cahyo Diartho

Andistya Oktaning Listra NIM. 0910210022

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI

DAFTAR ISI I. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 1.3 Tujuan........................................................................................ II. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pembangunan SUTET dan Masalah Lingkungan....................... 2.1.1 2.1.2 2.1.3 Pencemaran Air.............................................................. Pencemaran Tanah ........................................................ Pencemaran Udara ........................................................ 4 5 5 6 7 8 11 2 3 3

2.2 Kondisi Sistem Lingkungan ........................................................ 2.1.1 2.1.2 Manusia.......................................................................... Alam ...............................................................................

2.3 Dampak Pembangunan SUTET di Indonesia 2.1.1 2.1.2 2.1.1 2.1.2 2.1.2 Sosial Masyarakat .......................................................... Ekonomi ......................................................................... Kesehatan ...................................................................... Budaya ........................................................................... Rona Lingkungan ........................................................... 11 12 12 12 13

2.4 Peran AMDAL Mengatasi Dampak Pembangunan SUTET di Indonesia ................................................................................... III. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ IV. DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 13 19 20

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Rencana pemerintah untuk meningkatan kesejahteraan rakyat melalui industrialisasi tampaknya merupakan suatu rencana yang patut didukung oleh semua pihak. Berbagai investasi dalam bidang industri pada saat ini telah banyak dilakukan oleh pihak swasta, baik melalui penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun melalui penanaman modal asing (PMA). Sedangkan dari pihak pemerintah sendiri rupanya juga sudah cukup banyak yang dikerjakan melalui sektor industri, antara lain melalui kiprah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam kelompok industri strategis (BPIS) dan juga melalui industri petrokimia, industri semen, industri logam dan industri berat lainnya. Pembangunan di semua sektor menyebabkan kebutuhan tenaga listrik meningkat. Peningkatan kebutuhan tenaga listrik tersebut diiimbangi dengan pembangunan pembangkit listrik dan jaringan-jaringan

transmisinya. Penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit ke gardu induk maupun dari gardu induk satu ke gardu induk lain memerlukan jaringan transmisi, yang salah satunya dikenal dengan istilah SUTET.

SUTET adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (penghantar) di udara bertegangan di atas 245 kV sesuai standar di bidang ketenagalistrikan. Di Indonesia, SUTET yang beroperasi sebagian besar bertegangan 500 kV. Terkait hal ini, awal tahun 2006 merupakan puncak akumulasi protes yang dilakukan oleh masyarakat yang bertempat tinggal di bawah SUTET. Berbagai bentuk protes, mulai dari demo, aksi mogok makan,

menjahit mulut, sampai ancaman untuk merobohkan tower SUTET dilakukan untuk menuntut ganti rugi lahan tempat tinggal mereka yang dilintasi SUTET. Sebelumnya, bulan September 2004, masyarakat dari

enam kabupaten di Jawa Barat, Kabupaten Bandung, Sumedang, Bogor,

2

Cianjur,

Majalengka, dan Cirebon, menuju Istana Merdeka untuk

memprotes keberadaan SUTET yang melintas di atas pemukiman mereka. Demikian pula masyarakat di beberapa daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur, melakukan aksi serupa di daerah masing-masing. Sebenarnya sejak tahun 1991, warga Singosari, Gresik, Jawa Timur, telah melakukan aksi protes dan memperkarakan

lewat jalur hukum. Kemudian muncul pula kasus-kasus hukum yang lain dengan tujuan yang sama, yaitu meminta ganti rugi bagi lahan dan rumah yang dilintasi SUTET. Alasan utama yang dikemukakan, khawatir mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, dalam rangka melaksanakan pembangunan ketenagalistrikan perlu adanya perubahan konsep peraturan hukum sektoral kedalam konsep hukum pengelolaan yang bersifat ekologis dan bersifat komprehensif dengan menekankan perhatian pada daya dukung lingkungan (subtainable development) membawa perkembangan baru dalam sistem hukum lingkungan Indonesia. Konsep hukum ini didasarkan pada keampuhan alat prediksi yang lazim disebut sebagai analisis mengenai dampak lingkungan (an environmental impact assessment) atau AMDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. 1.2 Tujuan Mengetahui implikasi dari pembangunan SUTET di Indonesia baik dari segi ekonomi, lingkungan, dan masyarakat disertai peran AMDAL untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan dari SUTET. 1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, penulis mencoba merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: Bagaimanakah implikasi dari

pembangunan SUTET baik dari segi ekonomi, lingkungan, dan masyarakat disertai peran AMDAL untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan dari SUTET?

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pembangunan SUTET dan Masalah Lingkungan Setiap pembangunan ketenagalistrikan pada pembangkit baik thermal maupun hidro, akan menimbulkan implikasi positif dan negatif. Besaran dampak tersebut bisa bersifat penting dan tidak penting, tergantung dari jenis dan besar pembangkit tersebut. Begitu pula terhadap komponen lingkungan yang akan terkena dampak, juga tidak akan sama dampaknya walaupun jenis kegiatannya sama. Hal ini sangat terpengaruh pada lokasi kegiatan, pola kehidupan masyarakat dan teknologi

pengendalian dampak yang digunakan. Pemantauan yang dilakukan secara rutin, seperti yang disepakati dalam dokumen, dimaksudkan untuk melihat sejauh mana efektifitas pelaksanaan pengelolaan lingkungan. Hasil pemantauan akan dapat digunakan sebagai acuan tindakan

penanggulangan (corrective action) secara akurat dan tepat. Untuk pembangunan SUTET implikasinya terhadap lingkungan adalah timbulnya keresahan masyarakat terutama yang tinggal di bawah jalur SUTET. Menurut UU No.15 tahun 1985 tentang kenagalistrikan, Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No 01.P/47/MPE/1992 Tentang Ruang Bebas SUTET Untuk Penyaluran Tenaga Listrik dan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 975 K/47/MPE/1999 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. 01.P/47/M.PE/1992 Tentang Ruang Bebas SUTET Untuk Penyaluran Tenaga Listrik. Oleh karena itu, pembangunan SUTET 500 kV juga sudah mempunyai Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu SNI 04.6918-2002 tentang ruang bebas dan jarak bebas minimum SUTET dan SNI 04.69502003 tentang Nilai Ambang Batas Medan Listrik dan Medan Magnet SUTET. Besarnya kuat medan magnet dan medan listrik yang

dipersyaratkan WHO adalah: kuat medan magnet sebesar 0,1 mT, kuat medan listrik sebesar 5 kV/m.

4

2.1.1

Pencemaran Air Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Dalam hal ini, pembangunan SUTET akan mengakibatkan aspek fisik-kimia pada kualitas air khususnya air tanah yang telah terkontaminasi radiasi gelombang elektromagnetik dari SUTET sehingga terjadi kenaikan suhu pada badan air dimana dapat membahayakan kesehatan masyarakat jika mengkonsumsinya adapun hal ini juga berpengaruh pada penurunan kualitas tanaman yang mengandalkan irigasi dari air tanah yang berada di kawasan SUTET.

2.1.2

Pencemaran Tanah Pencemaran tanah akibat SUTET terjadi karena adanya partikel atau benda yang bermuatan listrik, di sekitarnya akan timbul medan listrik. Pada medan listrik, garis medannya mempunyai awal dan akhir, yaitu berawal dari kawat penghantar yang bertegangan sebagai sumbernya dan berakhir pada struktur konduktif, misalnya tanah atau permukaan benda-benda yang berada di atas tanah dan merupakan titik akhir garis medan listrik tersebut. Besaran medan dinyatakan dalam kuat medan listrik E dengan satuan V/m atau kV/m. Kuat medan listrik tertinggi terdapat pada permukaan kawat penghantar, sedangkan yang terendah pada permukaan tanah atau benda-benda yang berada di atas permukaan tanah. Hal inilah yang menyebabkan peningkatan suhu badan tanah dan mengurangi tingkat kesuburan tanah sehingga banyak pohon dan tanaman yang sulit tumbuh bahkan mati. Adapun implikasi lain pencemaran tanah akibat SUTET dapat mempengaruhi terhadap kesehatan tergantung pada jumlah radiasi gelombang

elektromagnetik dari tanah yang akhirnya menciptakan kerentanan populasi sehingga sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak

5

seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit yang jelas pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat

menyebabkan kematian. 2.1.3 Pencemaran Udara Pencemaran udara merupakan peristiwa masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke udara dan/ atau berubahnya tatanan udara oleh kegiatan manusia atau proses alam. SUTET yang menciptakan radiasi

elektromagne