Artikel Solusi

  • Published on
    31-Oct-2015

  • View
    146

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

solusi

Transcript

<p>PENGARUH JARAK TANAM DAN DOSIS KOMPOS LIMBAH MEDIA JAMUR MERANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea. L var botrytis sub var. cauliflora DC) DENGAN TEKNOLOGI MULSA DI DATARAN RENDAH PADA MUSIM KEMARAU</p> <p>Oleh: </p> <p>Netti Nurlenawati, Sulistyo Sidik Purnomo dan Endah FitriyahFakultas PertanianUniversitas Singaperbangsa Karawang</p> <p>Abstract:The objective of the experiment was to get the planting distance and dosage of mushroom compost waste that gives the best effect on the growth and yield of cauliflower (Brassica oleracea .L var botrytis sub var. cauliflora DC) with mulch technology during the dry season in lowland.Experiment was conducted in Karang Ligar village Telukjambe Karawang from July to September 2012.Experimental design used was Split Plot Design with planting distance (J) as main factor, while dosage of mushroom compost waste (K) as split plot. Planting distance has 3 levels: j1 : 50 cm x 50 cm, j2 : 60 cm x 40 cm, and j3 : 40 cm x 40 cm. Dosage of compost has 3 levels: k1 : 5 tonnes/ha, k2: 10 tonnes/ha and k3: 15 tonnes/ha. Each treatment was repeated 3 times.The result showed:a. There was an interaction effect of planting distance and dosage of mushroom compost waste on flower diameter.b. There was a main effect of planting distance on plant height at 14 days after planting and yield per plot .c. There was a main effect of dosage of mushroom compost waste on plant height, number of leaves, stem diameter, the average area per leaf, flower diameter, curd weight per plant, and yield per plot.d. Planting distance of 40 cm x 40 cm gave the highest yield (18.26 kg per plot or 30.43 tons per hektare).e. Compost dosage of 15 tons per hectare gave the highest yield (17.00 kg per plot or 28.33 tons per hectare).</p> <p>Keywords: cauliflower plant, planting distance, dosage of mushroom compost waste </p> <p>PENDAHULUANSayuran merupakan bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Selama ini daerah sentra sayuran terdapat di dataran tinggi, tetapi pada dua tiga tahun terakhir Kementrian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia telah mengembangkan jenis tanaman sayuran dataran tinggi untuk ditanam di dataran rendah yang dipadukan dengan tanaman pangan lainnya di lima kabupaten di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Provinsi Jawa Barat yaitu Kabupaten Karawang, Subang, Indramayu, Majalengka dan Cirebon. Walaupun program tersebut cukup ideal, tetapi tampaknya tidak semua petani tertarik untuk membudidayakan sayuran. Hal ini disebabkan petani belum terbiasa membudidayakan sayuran, mereka lebih terbiasa menanam padi, selain belum banyak informasi yang mereka peroleh tentang jenis sayuran yang menguntungkan mereka juga belum mengenal pasar sayuran, sehingga ada kekhawatiran tidak berhasil.Berdasarkan keadaan tersebut ada baiknya apabila memanfaatkan waktu antara panen padi dan waktu tanam berikutnya dengan cara membudidayakan sayuran berumur pendek serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga petani memperoleh tambahan pendapatan. Apabila petani bertanam padi dua kali setahun yaitu padi padi - bera, maka waktu yang ideal untuk bertanam sayuran adalah pada bulan Juni sampai dengan Agustus, setelah panen padi yang kedua. Sedangkan pada pola tanam padi padi padi maka budidaya sayuran dapat dilakukan menggantikan budidaya padi yang ke tiga sehingga pola tanam tersebut menjadi padi padi sayuran. Dengan pengaturan pola tanam tersebut selain meningkatkan pendapatan petani juga dapat memotong siklus hidup hama, penyakit dan gulma. Kembang kol (Brassica oleracea. L. var botrytis sub var. cauliflora DC) merupakan tanaman sayuran yang termasuk dalam suku kubis-kubisan atau Brassicaceae. Tanaman sayuran ini pada awalnya hanya dibudidayakan di dataran tinggi. Namun saat ini sayuran yang biasanya tumbuh di dataran tinggi ini dapat dibudidayakan di dataran rendah. Salah satu kultivar kembang kol yang bisa ditanam di dataran rendah adalah PM 126 F1. Seperti tanaman hibrida lainnya, kultivar PM 126 F1 ini dapat tumbuh dan memberikan hasil dengan baik apabila lingkungan tumbuhnya baik klimatik maupun edafiknya sesuai dengan syarat tumbuh kembang kol tersebut.Berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman kembang kol (Brassica oleracea. L var botrytis sub var. cauliflora DC), antara lain kerapatan tanaman, sifat fisik tanah serta ketersediaan air.Dalam suatu pertanaman sering terjadi persaingan antar tanaman maupun antara tanaman dengan gulma untuk mendapatkan unsurr hara, air, cahaya matahari maupun ruang tumbuh. Jika tanaman terlalu rapat maka berpengaruh pada pertumbuhan tanaman akibat dari menurunnya laju fotosintesis dan perkembangan daun. Kerapatan tanam sangat mempengaruhi perkembangan vegetatif tanaman dan juga mempengaruhi tingat produksi panen suatu tanaman (Gardner dkk, 1991).Semakin rapat suatu populasi tanaman maka semakin sedikit jumlah intensitas cahaya matahari yang didapat oleh tanaman dan semakin tinggi tingkat kompetisi antar tanaman untuk mendapatkan sinar matahari tersebut. Di pihak lain dengan populasi yang tinggi akan meningkatkan kelembaban di sekitar tanaman serta menurunkan evapotransipari.Gardner et. al (1991) menyatakan bahwa jika tanaman terlalu rapat maka berpengaruh pada pertumbuhan tanaman akibat dari menurunnya laju fotosintesis dan perkembangan daun. Kerapatan tanam sangat mempengaruhi perkembangan vegetatif tanaman dan juga mempengaruhi tingkat produksi panen suatu tanaman.Kartasapoetra (1989) menambahkan bahwa persaingan antar tanaman dalam mendapatkan air maupun cahaya matahari berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif. Sehingga jarak tanam yang lebih lebar akan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman. Jarak tanam yang longgar dapat menghasilkan berat kering brangkasan yang lebih besar daripada berat kering pada penanaman pada jarak tanam yang rapat. Hal ini terjadi karena pada jarak tanam yang rapat terjadi kompetisi dalam penggunaan cahaya matahari yang berpengaruh pula terhadap pengambilan unsur hara, air maupun udara. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan pengaturan jarak tanam.Menurut Rukmana (1994) jarak tanam kultivar kembang kol yang bertajuk lebar adalah 50 cm x 50 cm, sedangkan untuk kultivar yang bertajuk sempit 60 cm x 45 cm.Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada jarak tanam yang lebar akan diperoleh hasil per tanaman yang tinggi, tetapi hasil per hektar yang rendah karena populasinya rendah. Sedangkan pada populasi yang terlalu rapat akan diperoleh hasil per tanaman yang rendah, tetapi dengan populasi yang tinggi diharapkan akan diperoleh hasil per hektar yang tinggi.Kembang kol memiliki akar yang dangkal dan tidak terlalu kuat untuk melakukan penetrasi serta tidak tahan genangan, sehingga memerlukan tanah yang cukup poreus, memiliki drainase dan aerasi yang baik. Oleh karena itu pada budidaya kembang kol biasanya menggunakan kompos. Salah satu kompos yang dapat dimanfaatkan di daerah pantura adalah yang berasal dari limbah media jamur merang. Dari hasil penelitian Juliardi dan Suprihatno (1995) diperoleh bahwa dengan menggunakan 5 ton kompos jerami padi per hektar yang dikombinasikan dengan anorganik memberikan hasil gabah yang lebih tinggi dibandingkan dengan hanya diberikan pupuk anorganik saja. Pemberian bahan organik juga dapat memberikan peningkatan hasil rata-rata 6,1 9,4 % dibandingkan tanpa bahan organik. Hal ini sejalan dengan penedlitian Kuswana (2006) yang menyatakan bahwa pemberian 7,5 ton per hektar kompos limbah media jamur merang yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik dapat meningkatkan hasil gabah kering panen sebesar 3% dibandingkan tanpa bahan organik.Hasil penelitian Nurlenawati dkk (2011) menunjukkan bahwa bokashi limbah media jamur merang sebanyak 10 sampai 20 ton per hektar yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik dapat meningkatkan hasil cabai merah sebesar 41% dibandingkan dengan perlakuan tanpa bahan organik.Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dosis kompos limbah media jamur yang berbeda diduga akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kembang kol.Pada populasi yang tinggi, pemberian kompos per tanaman menjadi lebih rendah dibandingkan dengan populasi yang rendah. Tetapi dengan populasi yang tinggi akan menurunkan penguapan serta tanah menjadi lebih lembab.Pada populasi yang rendah, pemberian kompos per tanaman akan menjadi lebih tinggi sehingga struktur tanah menjadi lebih remah. Selain itu kompos juga dapat mempertahankan kelembaban tanah.Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terjadi interaksi antara jarak tanam dan dosis kompos limbah media jamur merang. Selain itu terdapat salah satu dosis kompos limbah media jamur merang yang tepat untuk jarak tanam tertentu.Permasalahan lainnya adalah waktu tanam pada musim kemarau meningkatkan penguapan, juga menyebabkan meningkatnya suhu tanah. Hal ini menyebabkan meningkatnya kehilangan air serta unsur hara yang mudah menguap misalnya nitrogen, padahal tanaman kembang kol memerlukan nitrogen dalam dosis yang tinggi. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian mulsa. Di daerah pesawahan kebutuhan mulsa ini dapat diatasi dengan pemanfaatan jerami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan jarak tanam dosis dan kompos limbah media jamur merang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kembang kol (Brassica oleracea. L var botrytis sub var. cauliflora DC) yang dibudidayakan dengan penggunaan mulsa jerami di dataran rendah pada musim kemarau.</p> <p>METODE PENELITIANPercobaan ini dilaksanakan di lahan sawah di Desa Karang Ligar Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang. Daerah ini memiliki jenis tanah asosiasi podzolik kuning dan hidromorf kelabu, tekstur lempung berdebu dengan pH H2O 5,5, kadar C-organik rendah (1,72 %), N total rendah (0,18 %), C/N rasio rendah (9 %), dan KTK tinggi (30,16 me/100g). Lokasi percobaan berada pada ketinggian 14 m di atas permukaan laut. Menurut Schmidt dan Ferguson (1951) tipe iklim untuk Desa Karangligar Kecamatan Telukjambe Barat Kabupaten Karawang adalah tipe iklim D (Sedang).Percobaan dilaksanakan pada musim kemarau 2012 setelah panen padi kedua yaitu pada awal bulan Juli sampai dengan Agustus 2012. Suhu rata-rata harian selama percobaan berlangsung antara 21 oC sampai 36,4 oC dengan kelembaban relatif udara berkisar antara 25 % sampai dengan 88 % Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design). Sebagai petak besar (Main Plot) adalah jarak tanam terdiri dari tiga taraf yaitu j1 = 50 cm x 50 cm, j2 = 60 cm x 40 cm, dan j3 = 40 cm x 40 cm. Sedangkan anak petak (Split plot) adalah adalah dosis kompos limbah media jamur merang terdiri dari tiga taraf yaitu k1 = 5 ton/ha, k2 = 10 ton/ha, k3 = 15 ton/ha. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.Pelaksanaan percobaan meliputi pengolahan tanah, pembuatan kompos limbah media jamur merang, pembuatan lubang tanam dan pemberian mulsa jerami, pemberian kompos limbah media jamur merang, penanaman, penyulaman, pemberian pupuk anorganik, pemeliharaan tanaman dan panen.Pengolahan tanah dilakukan dua minggu sebelum tanam, dengan cara tanah dibajak, digaru, kemudian dicangkul sedalam 20-30cm sebanyak dua kali sehingga tanah menjadi gembur kemudian diratakan. Setelah itu diberikan kapur pertanian sesuai kebutuhan. Selanjutnya lahan percobaan dibagi menjadi tiga blok sesuai dengan banyaknya ulangan, jarak antar blok 75 cm. Pada tiap blok dibuat tiga petak utama. Setiap petak utama dibuat plot-plot dengan ukuran 3 m x 2 m sesuai dengan banyaknya anak petak, antar plot dibuat saluran drainase sedalam 15 cm dengan lebar 50 cm.Pembuatan kompos limbah media jamur merang dilakukan dengan cara limbah media jamur merang dihamparkan di atas karung, kemudian dikeringanginkan selama satu bulan. Berdasarkan hasil analisis Laboratorium Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman Jurusan Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung (2012) kompos limbah media jamur merang tersebut mengandung kadar C-organik 10,42 % dan CN rasio 8,76 serta unsur hara makro yaitu 1,19%, N, 3,83% P2O5, serta 0,96% K2O. Lubang tanam dibuat sehari sebelum tanam dengan ukuran 30 cm x 30 xm x 30 cm. Setelah itu jerami padi yang telah kering dihamparkan di atas petakan dengan ketebalan 5 cm atau setara dengan 5 kg per petak. Kompos diberikan sesuai perlakuan dengan cara dimasukan ke dalam lubang tanam pada saat tanam.Penanaman dilakukan setelah bibit berdaun 3 helai. Satu bibit di tanam di dalam lubang tanam dan segera disiram sampai tanah menjadi lembab. Penyulaman dilakukan pada 4 sampai dengan 7 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan sebagai pengganti tanaman yang rusak atau mati. Pupuk yang diberikan yaitu pupuk ZA, Urea dan KCl. Dosis pupuk anorganik adalah Urea sebanyak 220 kg per hektar, 470 kg per hektar, dan 225 kg per hektar. Pada percobaan ini tidak diberikan pupuk fosfat mengingat kandungan P total di lahan percobaan ini tinggi. Pemupukan tidak dilakukan sekaligus namun secara bertahap dengan 3 kali pemupukan susulan. Sebagai pupuk dasar adalah 188 kg/ha ZA, 88 kg/ha urea, 90 kg/ha KCl. Pupuk susulan I diberikan 7-10 hst terdiri dari ZA 94 kg/ha, urea 44 kg/ha dan KCl 45 kg/ha. Pupuk susulan II diberikan 20 hst terdiri atas ZA 94 kg/ha, urea 44 kg/ha, KCl 45 kg/ha. Pupuk susulan III diberikan 30-35 hst terdiri atas ZA 94 kg/ha, Urea 44 kg/ha, dan KCl 45 kg/ha.Pemeliharaaan tanaman meliputi penyiraman, pengendalian hama dan gulma. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari terutama pada saat tanaman berada pada fase pertumbuhan awal dan pembentukan bunga. Selama percobaan dilaksanakan tidak ditemukan adanya serangan penyakit. Hama yang menyerang adalah ulat plutella (Plutella xylostella L), ulat croci (Crocidolomia binotalis Zeller) dan belalang (Valanga nigricornis). Hama ulat dikendalikan secara kimiawi yaitu menggunakan Insektisida Decis 25 EC. Sedangkan belalang dikendalikan secara mekanis karena populasinya sedikit. Selain hama, terdapat juga organisme pengganggu tanaman lainnya berupa gulma. Jenis gulma yang berada di lokasi percobaan yaitu rumput teki (Cyperus rotundus), jukut kakawatan (Cynodon dactilon), cacabean (Ludwigia octovalvis), papayungan (Fimbrystilis litoralis, dan Fimbrystilis millicea). Pengendalian gulma dilakukan secara mekanik yaitu dengan cara penyiangan/ mencabut gulma. Penyiangan gulma dilakukan tiga kali yaitu pada saat tanaman berumur pada 18, 25 dan 32 hst. Pemanenan kembang kol dilakukan saat massa bunga mencapai ukuran maksimal dan mampat yaitu pada saat tanaman berumur 40 sampai dengan 54 hst. Pengamatan utama meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per tanaman, diameter batang, luas per helai daun, diameter bunga, berat bunga per tanaman serta berat bunga per petak. Pengamatan dilakukan terhadap 5 tanaman sampel per petak. Sedangkan untuk menunjang pengamatan utama dilakukan juga pengamatan pada berat...</p>