Audit Operasional Sering Disebut

  • Published on
    04-Jul-2015

  • View
    211

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>BAB II TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>2.1</p> <p>Auditing</p> <p>2.1.1 Pengertian Auditing Definisi audit menurut Arens dan Loebbecke (1997;2) adalah sebagai berikut : Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing Should be done by a competence independent person. Dalam buku Cashins Handbook for Auditor (1988;1-4) dikatakan bahwa : Auditing is the process of accumulating and evaluating by a competence independent person about quantiable information of a specific economic entity for the purpose of determining and reporting upon the degree of correspondence between the quantiable into and established criteria. Sedangkan Cushing, Romney and Stainbart (1997;538) mendefinisikan audit sebagai : Auditing is a systematic process of objectively obtaining and evaluating evidence regarding assertions about economic actions and events to ascertain the degree of correspondence between those assertions and established criteria and communicating the results to interested users. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa auditing memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) Suatu proses yang sistematis yang terdiri dari serangkaian prosedur yang terstruktur.</p> <p>9</p> <p>10</p> <p>2) Mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti secara objektif. 3) Adanya pembandingan informasi perusahaan yang dapat diukur dengan kriteria yang telah ditetapkan untuk menentukan kesesuaian antara keduanya. 4) Dilakukan oleh orang yang kompeten, orang tersebut harus mempunyai pengetahuan yang cukup sehingga dapat memahami kriteria yang ditetapkan, juga kompeten dalam menentukan jumlah dan jenis bukti yang dibutuhkan agar dapat menarik kesimpulan dengan tepat. Orang tersebut juga harus memiliki mental yang bebas dan sikap tidak memihak (independen). 5) Adanya komunikasi yang melaporkan hasil penemuan audit dan sejauh mana kesesuaian informasi perusahaan dengan kriteria yang telah ditetapkan kepada pihak yang memerlukan atau menggunakan laporan audit.</p> <p>2.1.2</p> <p>Jenis-Jenis Audit Menurut Arens dan Loebbecke (1997;4-5) ada tiga jenis audit, yaitu :</p> <p>1) Financial Statement Audits 2) Operational Audits 3) Compliance Audits Financial Statement Audits (audit atas laporan keuangan) bertujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan secara keseluruhan (informasi yang diuji) telah disajikan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Pada umumnya kriteria yang telah ditetapkan tersebut adalah prinsip akuntansi yang berlaku umum (SAK).</p> <p>11</p> <p>Operational Audits (audit operasional) merupakan penelaahan atas bagian dari prosedur dan metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektivitasnya. Lingkup operational audits sangat luas, tinjauan yang dilakukan tidak terbatas pada masalah-masalah akuntansi. Pada saat selesainya audit operasional, auditor umumnya akan memberikan saran kepada manajemen atas jalannya operasi perusahaan. Compliance Audits (audit ketaatan) bertujuan untuk menentukan apakah klien telah mengikuti prosedur atau aturan tertentu yang telah ditetapkan, seperti pelaksanaan ketentuan upah minimum, pelaksanaan undang-undang perpajakan, dan pelaksanaan prosedur yang telah ditetapkan oleh pimpinan perusahaan. Sedangkan jenis-jenis audit menurut Nugroho Widjayanto adalah: 1) Audit Keuangan Adalah audit yang dilakukan atas laporan keuangan suatu organisasi atau perusahaan dengan tujuan untuk menetapkan kewajaran penyajian laporan keuangan tersebut. Audit ini biasanya dilakukan oleh para akuntan pemerintah yang posisinya di luar organisasi (Auditor Eksternal) 2) Audit Operasional Audit Operasional memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari audit keuangan karena mencakup masalah di luar keuangan. Audit Operasional terutama bertujuan untuk memeriksa kehematan, efesiensi dan efektifitas kegiatan dan menilai apakah cara-cara pengelolaan yang diterapkan dalam kegiatan tersebut sudah berjalan dengan baik. 3) Audit Sosial</p> <p>12</p> <p>Audit Sosial merupakan penilaian apakah suatu organisasi atau perusahaan telah melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Hal ini disebabkan suatu organisasi dalam melaksanakan pengembangan-pengembangannya selain memperhatikan tujuannya, harus memperhatikan situasi lingkungan yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pengembangan-pengembangan tersebut sebagai tanggung jawab sosialnya.</p> <p>2.2</p> <p>Audit Operasional Audit operasional mulai dikenal di Indonesia pada dasawarsa tujuh puluhan.</p> <p>Tidak seperti audit keuangan, penggunaan istilah audit operasional masih belum disepakati secara luas. Beberapa istilah sering digunakan untuk menunjukan audit operasional, misalnya audit pengelolaan (management audit), audit atas hasil kinerja (performance audit), audit fungsional (functional audit), audit program (program audit), dan audit efektivitas (efectiveness audit). Hingga sekarang belum terdapat kesepakatan tentang penggunaan istilah-istilah tersebut. Dalam skripsi ini, penulis menggunakan istilah audit operasional secara luas, sepanjang tujuannya adalah untuk menentukan efisiensi dan efektivitas organisasi maupun bagian-bagiannya.</p> <p>2.2.1 Pengertian Audit Operasional Audit operasional sering disebut audit manajemen, audit prestasi, audit sistem dan audit efisiensi. Menurut Nugroho Widjayanto(1985;15), dikemukakan definisi audit operasional yaitu :</p> <p>13</p> <p>Audit operasional adalah suatu audit yang tujuannya menilai organisasi dan efisiensi manajemen dari suatu perusahaan atau bagian dari suatu perusahaan. Audit seperti ini dapat juga dipandang sebagai suatu bentuk kritik membangun disertai dengan pemberian rekomendasi. Pengertian audit operasional menurut Arens dan Loebbecke (1997;4) adalah : An operational audits is a review of any part of organizations operating procedures and methods for the purpose of evaluating efficiency and effectiveness. At the completion of an operational audit, recommendations to management for improving operations are normally expected. Sedangkan menurut Walter G. Kell dan William C. Boynton (1992;10) adalah : Operational auditing is a systematic process of evaluating an organizations effectiveness, efficiency, and economy of operations under managements control and reporting to apropriate person the results of the evaluation along with recommendation for improvement. Kita dapat melihat bahwa pada prinsipnya audit operasional dilakukan untuk menilai dan mengevaluasi efisiensi dan efektivitas kegiatan objek yang diaudit sehingga jika ada suatu masalah yang timbul dapat segera diidentifikasi untuk dicari pemecahannya. Pada tahap akhir, auditor operasional diharapkan dapat memberi saran atau rekomendasi tetang pemecahan masalah, namun wewenang dan tanggung jawab pelaksanaan tindakan koreksi tersebut tetap terletak pada pihak manajemen perusahaan. Jadi inti dari konsep audit operasional didasarkan atas pemikiran bahwa seiring dengan semakin luas dan kompleks lingkup kegiatan perusahaan, pemilik tidak dapat mengawasi secara langsung seluruh operasi kegiatan perusahaannya maka pemilik akan membutuhkan suatu sistem yang dapat mendeteksi berbagai masalah yang merugikan perusahaan agar dapat segera dicari jalan pemecahannya.</p> <p>14</p> <p>Audit operasional dapat digunakan oleh pihak manajemen perusahaan atau pemilik untuk membantu mereka dalam mempertahankan efisiensi dan efektivitas kegiatan perusahaan semakin kompleks. Pelaksanaan audit operasional tidak terlepas dari keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya, seperti waktu, biaya, dan keahlian auditor yang diperlukan. Auditor operasional tidak dapat memecahkan semua masalah tapi hanya membantu memecahkan masalah yang mempunyai pengaruh cukup besar dalam kegiatan objek yang diaudit. Audit operasional digambarkan sebagi review (kaji ulang) terhadap prosedur dan metode operasi perusahaan dengan tujuan untuk menilai efisiensi dan efektivitasnya. Audit terhadap efektivitas pengendalian internalal juga merupakan bagian dari audit ini jika tujuannya untuk membantu perusahaan dalam menjalankan bisnisnya secara lebih efisien dan efektif.</p> <p>2.2.2</p> <p>Tujuan Audit Operasional Audit operasional bertujuan untuk menghasilkan perbaikan dalam</p> <p>pengelolaan aktivitas objek yang diperiksa dengan membuat saran-saran tentang cara-cara pelaksanaan yang lebih hemat, lebih efisien, dan lebih efektif. Hal tersebut dilakukan dengan menilai ketaatan pada ketentuan yang berlaku, efisiensi, dan efektivitas objek yang diperiksa dalam mengelola dan</p> <p>mempertanggungjawabkan pelaksanaan aktivitas. Tujuan audit operasional menurut Nugroho Widjayanto ( 1985;11) adalah : Audit operasional terutama bertujuan untuk memeriksa kehematan, efisiensi dan efektivitas kegiatan dan juga menilai apakah cara-cara</p> <p>15</p> <p>pengelolaan yang diterapkan dalam kegiatan tersebut sudah berjalan dengan baik. Menurut Supriyono R.A ( 1990;13) : Tujuan Audit manajemen adalah membantu semua peringkat manajemen dalam meningkatkan perencanaan dan pengendalian manajemen dengan cara mengidentifikasikan aspek-aspek sistem dan prosedur serta rekomendasi kepada manajemen untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kehematan. Sedangkan menurut Cashin, Neuwirth, Levy (1988;12-6-12-13) dikemukakan pula beberapa tujuan audit operasional yaitu : 1) Appraisal of control It deals with the administrative controls exercised over all phases of business and its purpose is to determine if the controls provided are adequate and proving effective in accomplishing managements objectives or plan of operations. 2) Appraisal of performance The basis for these performance evaluation is the develoopment and application of standards of performance. The audit sought to determine if people were actually meeting these standards. 3) Assistance to management The prime objective of operasional auditing-management-oreinted auditing is to help managers at all levels of enterprise. Dari uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tujuan dilakukannya audit operasional adalah untuk menghasilkan peningkatan atau perbaikan dalam pengelolaan kegiatan dengan membuat saran-saran atau rekomendasi tentang cara pelaksanaan yang lebih efisien, efektif, dan hemat bagi perusahaan. Tujuan audit operasional ini tidak hanya mendukung tindakan korektif atau perbaikan, akan tetapi juga mendorong untuk menghindari kemungkinan terjadinya kekurangan atau kelemahan di masa yang akan datang.</p> <p>16</p> <p>2.2.3</p> <p>Manfaat dan Keterbatasan Audit Operasional Menurut Nugroho Widjayanto (1985;28-29), manfaat yang dapat diperoleh</p> <p>dari audit operasional adalah sebagai berikut : a) Identifikasi tujuan, kebijakan, sasaran, dan prosedur organisasi yang sebelumnya tidak jelas. b) Identifikasi kriteria yang dapat dipergunakan untuk mengukur tingkat tercapainya tujuan organisasi dan menilai kegiatan manajemen. c) Evaluasi yang independen dan objektif atas suatu kegiatan tertentu. d) Penetapan apakah organisasi sudah mematuhi prosedur, peraturan,kebijakan, serta tujuan yang telah ditetapkan. e) Penetapan efektivitas dan efisiensi sistem pengendalian manajemen. f) Penetapan tingkat keandalan (reliability) dan kemanfaatan (usefullness) dari berbagai laporan keuangan. g) Identifikasi daerah-daerah permasalahan dan mungkin juga penyebabnya. h) Identifikasi berbagai kesempatyanyang dapat dimanfaatkanuntuk lebuih meningkatkan laba, mendorong pendapatan, dan mengurangibiaya atau hambatan dalam organisasi. i) Identifikasi berbagai tindakan alternatif dalam berbagai daerah kegiatan. Meskipun audit operasional memiliki banyak manfaat, audit ini juga memiliki bebrapa keterbatasan. Audit operasional memiliki keterbatasan karena tidak dapat menyelesaikan semua masalah yang timbul dalam organisasi. Ada tiga faktor yang membatasi audit operasional yaitu:Waktu, keahlian yang diperlukan, dan biaya.</p> <p>Waktu juga merupakan faktor yang membatasi auditor operasional untuk mencapai tujuan dan manfaat audit operasional. Hal ini disebabkan karena auditor harus dapat denga segera memberikan informasi kepada manajemen mengenai masalah organisasi yang timbul dan cara-cara yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Audit operasional harus dilaksanakan secara teratur untuk menjamin bahwa masalah-masalah organisasi yang penting tidak menjadi kronis dalam perusahaan.</p> <p>17</p> <p>Salah satu keterbatasan dalam audit operasional adalah kurangnya keahlian auditor operasional terhadap teknik audit dan objek yang diperiksa. Tidak mungkin bagi seorang auditor untuk ahli dalam semua bidang bisnis. Untuk mengatasi keterbatasan ini perlu pendidikan dan pelatihan bagi auditor operasional. Bagian yang bersangkutan diperiksa oleh orang yang tidak ahli secara teknis, audit itu harus dibatasi pada kekurangan-kekurangan yang umum saja. Biaya juga merupakan salah satu faktor pembatas dalam audit operasional. Audit operasional selalu mencoba untuk menghemat uang kliennya. Keterbatasan biaya yang tersedia ini mengharuskan auditor untuk menentukan skala prioritas Auditnya. Masalah organisasi yang mengancam keberadaan organisasi perlu mendapatkam prioritas audit.</p> <p>2.2.4 Ruang lingkup Audit Operasional Ruang lingkup audit operasional mencakup tinjauan atas tujuan perusahaan, lingkungan operasiperusahaan, personalia dan kadang kala mencacup fasilitas fisik. Dalam menentukan ruang lingkup audit, auditor terlebih dahulu harus memperhatikan tujuan pimpinan perusahaan yang menyelenggarakan audit, sebab setiap pimpinan selalu mengharapkan agar tujuan penugasannya tercapai. Jadi dalam menentukan ruang lingkup audit diperlukan komunikasi yang baik antara auditor dengan pimpinan perusahaan. Hal ini ditegaskan dalam surat penugasan yang salah satu isinya adalah tentang ruang lingkup kerja audit.</p> <p>18</p> <p>2.2.5 Jenis-Jenis Audit Operasional Menurut Arens dan Loebbecke (1997;793-794), ada tiga kategori audit operasional yaitu : 1) Functional Audit (Audit Fungsional) Audit fungsional berkaitan dengan sebuah fungsi atau lebih dalam suatu organisasi, misalnya fungsi pengeluaran kas, penerimaan kas, pembayaran gaji. Audit fungsional memungkinkan adanya spesialisasi oleh auditor. Auditor yang merupakan staf dari internalal audit dapat lebih efisien memakai seluruh waktu mereka untuk memeriksa dalam bidang tersebut. Tapi di samping itu, audit fungsional memiliki kekurangan yaitu tidak dievaluasinya fungsi yang saling berkaitan. 2) Organizatinal Audit (Audit Organisasional ) Audit organisasional menyangkut keseluruhan unit organisasi, seperti departemen, cabang atau anak perusahaan. Penekanan dalam audit ini adalah seberapa efisien dan efektif fungsi-fungsi saling berinteraksi. Rencana organisasi dan metode-metode untuk mengkoordinasikan aktivitas yang ada, sangat penting dalam audit jenis ini. 3) Special Assignment (Penugasan khusus ) Penugasan khusus ini timbul atas permintaan manajemen, sehingga dalam Audit jenis ini terdapat banyak variasi. Contohnya adalah menentukan penyebab sistem EDP yang efektif, peneyelidikan kemungkinan fraud dalam</p> <p>19</p> <p>suatu divisi dan membuat rekomendasi untuk mengurangi bia...</p>