BAB II Perbedaan Posisi tekanan darah

  • Published on
    30-Dec-2015

  • View
    46

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian Tekanan DarahTekanan darah adalah daya dorong ke semua arah pada seluruh permukaan yang tertutup pada dinding bagian dalam jantung dan pembuluh darah.5 Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan oleh darah dari sistem sirkulasi atau sistem vaskuler terhadap dinding pembuluh darah. 6Darah mengambil oksigen dari dalam paru-paru. Darah yang mengandung oksigen ini memasuki jantung dan kemudian dipompakan keseluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah yang disebut arteri. Pembuluh darah yang lebih besar bercabang-cabang menjadi pembuluh-pembuluh darah yang lebih kecil hingga berukuran mikroskopik, yang akhirnya membentuk jaringan yang terdiri dari pembuluh-pembuluh darah yang sangat kecil yang disebut kapiler. Jaringan ini mengalirkan darah ke sel-sel tubuh dan menghantarkan oksigen untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan demi kelangsungan hidup. Kemudian darah yang tidak beroksigen kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena, dan dipompa kembali ke paru-paru untuk mengambil oksigen lagi.7Tekanan darah merujuk kepada tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri darah ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya diukur seperti berikut - 120 /80 mmHg. Nomor atas (120) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung, dan disebut tekanan sistol. Nomor bawah (80) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara pemompaan, dan disebut tekanan diastole. Saat yang paling baik untuk mengukur tekanan darah adalah saat istirahat dan dalam keadaan duduk atau berbaring. 8Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari. 8Kenaikan tekanan arteri pada usia tua biasanya dihubungkan dengan timbulnya arteriosklerosis. Pada penyakit ini, tekanan arteri yang terutama meningkat; pada kira-kira sepersepuluh dari semua orang tua akhirnya meinngkat di atas 200mmHg. 9Tekanan darah seseorang dapat lebih atau kurang dari batasan normal. Jika melebihi nilai normal, orang tersebut menderita tekanan darah tinggi/hipertensi. Sebaliknya, jika kurang dari nilai normal, orang tersebut menderita tekanan darah rendah/hipotensi. 7

II.2 Standar Tekanan Darah Normal 10II.2.1 Klasifikasi Tekanan Darah pada Usia Dewasa yang dapat dilihat pada Tabel 2.110Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Pada Usia Dewasa

Klasifikasi Tekanan Darah Pada Usia Dewasa

KategoriTekanan Darah SisitolikTekanan Darah Diastolik

Normal< 120 mmHg< 80 mmHg

Pre-Hipertensi120 139 mmHg80 89 mmHg

Stadium 1140 159 mmHg90 99 mmHg

Stadium 2>= 160 mmHg>= 100 mmHg

Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah. Tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55 60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau menurun drastis. 10Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam keadaan normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. 10Dalam pasien dengan diabetes melitus atau penyakit ginjal, penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus dianggap sebagai faktor resiko dan sebaiknya diberikan perawatan. 10II.2.2 Klasifikasi Tekanan Darah (mmHg) Menurut WHO yang Dapat Dilihat pada Tabel 2.210Tabel 2.2Klasifikasi Tingkat Tekanan Darah menurut WHO

KategoriSistolikDiastolik

Optimal< 120< 80

Normal< 130< 85

Normal Tinggi130 - 13985 89

Hipertensi Stage 1 (Mild)140 - 15990 99

Hipertensi Stage 2 (Moderate)160 - 179100 109

Hipertensi Stage 3 (Severe) 180 110

II.2.3 Klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa > 18 tahun menurut Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High blood Pressure / JNC VI, dapat dilihat pada tabel 2.3: 10Tabel 2.3Klasifikasi Tekanan Darah Pada Orang Dewasa > 18 tahun Menurut Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and treatment of High Blood Pressure / JNC VI.

KategoriTekanan Darah Sistolik (mmHg)Tekanan Darah Diastolik (mmHg)

Optimal< 120< 80

Normal< 130< 85

Normal Tinggi130 - 13985 89

Hipertensi

Derajat 1 (Ringan)140 - 15990 99

Derajat 2 (Sedang)160 - 179100 109

Derajat 3 (Berat) 180 110

Hipertensi Sistolik Terisolasi 140< 90

II.2.4 Klasifikasi tekanan darah tinggi menurut Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure / JNC VII tahun 2003, pada orang berusia 18 tahun ke atas yang dapat dilihat pada Tabel 2.4: 10Tabel 2.4Klasifikasi Tekanan Darah Pada Orang Dewasa > 18 tahun Menurut Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure / JNC VII.

KlasifikasiSistolik (mmHg)Diastolik (mmHg)

Normal 120< 80

Prehypertension120 - 13985 89

Derajat 1140 - 15990 99

Derajat 2 160100

Hipertensi Sistolik Terisolasi 140< 90

II.3 Teknik dan Metode Pengukuran Tekanan Darah11Untuk mengukur tekanan darah pada manusia, diperlukan berbagai macam alat yang dapat digunakan untuk mendapatkan bacaan tekanan darah. Secara umum ada 2 metode atau teknik yang digunakan untuk mendapatkan bacaan tekanan darah, yaitu Metode Palpasi atau Rabaan, dan Metode Auskultasi dengan menggunakan berbagai macam alat dan teknik pengukuran sesuai dengan keragaman jenis alat yang digunakan. 11II.3.1 Metode Palpasi 12Tekanan sistolik dapat ditentukan dengan memompa manset lengan dan kemudian membiarkan tekanan turun dan tentukan tekanan pada saat denyut radialis pertama kali teraba. Oleh karena kesukaran menentukan secara pasti kapan denyut pertama teraba, tekanan yang diperoleh dengan metode palpasi biasanya 2-5 mmHg lebih rendah dibandingkan dengan yang di ukur dengan metode auskultasi. 12Adalah bijaksana melakukan kebiasaan meraba denyut radialis ketika memompa manset selama pengukuran tekanan darah dengan metode auskultasi. Bila tekanan manset diturunkan, bunyi Korotkoff kadang-kadang menghilang pada tekanan di atas tekanan diastolik, kemudian muncul lagi pada tekanan yang lebih rendah (celah auskultasi). Bila manset dimulai untuk dipompa sampai denyut radialis menghilang, pemeriksa dapat yakin bahwa tekanan manset di atas tekanan sistolik, dan nilai tekanan rendah palsu dapat dihindari. 12

Gambar 2.1 : pengukuran tekanan darah metode palpasi (perabaan denyut nadi)Sumber : http://witaridewi.files.wordpress.com/2011/01/foto-nensi.jpg

II.3.2 Metode auskultasi 11Metode auskultasi telah menjadi andalan pengukuran tekanan darah klinis selama ini tetapi secara bertahap digantikan oleh teknik lain yang lebih cocok untuk pengukuran pengukuran secara otomatis.

Gambar 2.2 : pengukuran tekanan darah metode auskultasiSumber : http://www.kapukonline.com/2011/10/prosedurtindakancarapengukuranpemeriksa.html

A. Metode Auskultasi-Merkuri, Sphygmomanometer Aneroid, dan Sphygmomanometer Hybrid 11Hal ini mengejutkan bahwa hampir 100 tahun setelah pertama kali ditemukan, dan pengakuan akan akurasi yang terbatas, teknik pengukuran Korotkoff untuk megukur tekanan darah terus digunakan tanpa perbaikan besar.Arteri brakialis disumbat oleh sabuk yang dilingkarkan di lengan atas dan dan dibuat mengembang untuk mencapai tekanan sistolik.Karena secara bertahap mengempis, aliran darah yang berdenyut ini menjadi normal kembali dan disertai dengan suara yang dapat dideteksi dengan stetoskop yang di letakkan di atas arteri tepat di bawah manset.Secara tradisional, suara tersebut telah diklasifikasikan dalam 5 tahap yaitu: 11 Tahap / Fase I, adanya suara denyutan menjadi tanda adanya denyutan nadi yang dapat teraba untuk kemudian dijadikan patokan; Tahap / Fase II, suara menjadi lebih lembut dan lebih lama; Tahap / Fase III, suara menjadi lebih tajam dan keras; Tahap / Fase IV, suara menjadi teredam dan lebih lembut, Tahap / Fase V, suara hilang sepenuhnya.Tahap kelima dengan demikian tercatat sebagai suara terakhir yang dapat didengar.Suara diperkirakan berasal dari kombinasi turbulensi aliran darah dan osilasi dari dinding arteri.Ada kesepakatan bahwa awal dari tahap I menyatakan tekanan sistolik tetapi cenderung berada pada perkiraan kurang dari tekanan sistolik yang terekam oleh pengukuran intra-arteri secara langsung.Hilangnya suara (tahap V) menyatakan tekanan diastolik tetapi cenderung terjadi sebelum tekanan diastolik ditentukan oleh pengukuran intra-arteri secara langsung.Tidak ada signifikansi klinis pada fase II dan III. 11Metode suara Korotkoff cenderung memberikan nilai untuk tekanan sistolik yang lebih rendah dari tekanan intra-arteri yang sebenarnya, dan nilai-nilai diastolik yang cenderung lebih tinggi.Rentang perbedaannya cukup mencolok, perbedaan antara 2 metode mungkin sebanyak 25 mmHg pada beberapa individu.11Telah ada perselisihan di masa lalu, apakah fase IV atau V bunyi Korotkoff harus digunakan untuk merekam tekanan diastolik, tetapi fase IV cenderung lebih tinggi daripada fase V bila dibandingkan terhadap tekanan intra-arteri diastolik yang sebenarnya dan lebih sulit untuk diidentifikasi dari fase V. 11Saat ini sudah ada konsensus umum bahwa fase kelima harus digunakan, kecuali dalam situasi di mana hilangnya suara tidak dapat dipercaya karena suara yang terdengar bahkan setelah deflasi lengkap manset, misalnya, pada wa