BAB v Ideologi Dalam Gugur Merah

  • Published on
    07-Aug-2015

  • View
    57

  • Download
    9

Embed Size (px)

Transcript

<p>BAB V REPRENTASI IDEOLOGI DALAM GUGUR MERAHPuisi-puisi yang terhimpun dalam antologi Gugur Merah semuanya pernah dimuat di Harian Rakjat selama periode 1954-1965. Antologi ini memuat 452 puisi dari 111 penyair. Persebaran puisi-puisi tersebut berdasarkan tahun pemuatan di Harian Rakjat dapat dilihat pada tabel 6 dalam lampiran. Di antara penyair-penyair tersebut, Agam Wispi adalah yang paling banyak karyanya dimuat (41 judul), di bawahnya, disusul oleh S. Anantaguna (23 judul), F.L. Risakotta (21 judul), Kusni Sulang (20 judul), S.W. Kuncahjo (19 judul), H.R. Bandaharo dan A.S. Rahman Hadi (masing-masing 15 judul), Putu Oka (14 judul), Sutikno W.S. (12 judul), Dharmawati (10 judul), dan D.N. Aidit (9 judul). Selebihnya, antologi ini memuat karya antara 1-8 judul dari seorang penyair. Penyunting antologi ini tidak menggunakan pertimbangan khusus dalam memilih karya selain karena didasari oleh keinginan untuk menjangkau sejauh mungkin puisi-puisi Lekra yang pernah dimuat di Harian Rakjat. Dengan demikian, penyunting berharap, melalui antologi ini, tradisi puisi Indonesia yang berbasis realisme sosialis yang telah putus beberapa dekade karena persoalan politik, dapat disambung kembali. Dari Catatan Penyusun yang berfungsi sebagai kata pengantar antologi ini, diketahui bahwa bagi kubu Lekra, puisi adalah karya sastra yang sangat istimewa karena semaraknya tradisi menulis puisi di kalangan pucuk pimpinan Lekra dan PKI. Di samping itu, menurut Lekra, puisi adalah bentuk karya sastra</p> <p>53</p> <p>54</p> <p>yang sudah diakrabi rakyat sebagaimana hal ini masih hidup di dalam tradisi kesusastraan lama di Nusantara. Karena puisi-puisi tersebut digunakan untuk kepentingan perjuangan kelas maka harus menjadi pencerminan konkret dan menyeluruh permasalahanpermasalahan kehidupan rakyat. Di samping itu, puisi adalah alat untuk</p> <p>merespons berbagai permasalahan sehingga hubungan antara puisi dengan realitas sosial kemasyarakatan sangat erat. Sejalan dengan fungsi tersebut, sebelum penyair menulis puisi, mereka menjalani gerakan turun ke bawah (Turba) untuk menyerap perasaan, pemikiran, dan aspirasi-aspirasi rakyat. Dalam bab ini dikemuakan hasil pengkajian puisi dengan menggunakan Teori New Historicism, dengan metode membaca pararel. Puisi-puisi Gugur Merah dibaca secara pararel dengan buku Tentang Marxisme (Aidit, 1964). Bab ini memuat ulasan secara umum guna memberi gambaran yang menyeluruh mengenai pararelitas puisi dengan teks nonsastra, yang berwujud representasi ideologi di dalam puisi. Di samping itu, disajikan juga analisis secara khusus terhadap puisi-puisi yang dipilih untuk memperdalam pemahaman dan dalam rangka mempertahankan keutuhan puisi. Pararelitas puisi-puisi tersebut tampak melalui representasi empat pokok/inti ideologi Marxis menurut pandangan Aidit (1964). Keempat pokok tersebut dijadikan kerangka berpikir dalam pengkajian puisi-puisi tersebut.</p> <p>55</p> <p>4.1 Pencipta Sejarah adalah Massa Rakyat Pekerja a. Perlawanan Kaum Tani dan Buruh Puisi-puisi yang terhimpun dalam Gugur Merah menggambarkan penderitaan, kemiskinan, ketertindasan, kemelaratan kehidupan massa rakyat pekerja. Hal itu misalnya dikemukakan oleh A. Qadar dalam puisi Panen (hal. 34-35) dan Riak Batanghari (hal. 36-37). Kedua puisi ini menggambarkan kelaparan yang dialami oleh kaum tani yang disebabkan oleh kaum pengisap di desa mereka. Di tengah-tengah penderitaan tersebut, rakyat tidak henti-hentinya melawan keadaan agar terbebas dari derita, kemiskinan, kemelaratan,</p> <p>ketertindasan. Hal itu misalnya dikemukakan dalam puisi Lautan (karya Rosa S.B., hal. 619) bahwa rakyat senantiasa melakukan perlawanan dan tidak pernah dikalahkan. Di samping itu, puisi ini memperingatkan dengan keras bahwa kemarahan rakyat menjadi pemicu bangkitnya perlawanan mereka.1 Perlawanan kaum tani terhadap pengisap (penyebab bencana kelaparan) misalnya, dilakukan dengan cara revolusi.2 Sementara itu, perlawanan kaum buruh diserukan oleh S. Anantaguna misalnya dalam puisi Surat dari Buruh (hal. 658-659). Perlawanan ini ditujukan kepada musuh rakyat sesuai dengan keterangan tambahan pada judul puisi tersebut, Kepada Musuh Rakyat. Sejalan dengan puisi Surat dari Buruh, S.W. Kuncahjo dalam puisi Maju Laju ke Kemenangan Baru!! (hal. 704-705) juga mengemukakan perlawanan kaum buruh untuk meraih kebebasan dan dalam rangka menenuaikan tugas sejarah. Puisi ini menggelorakan semangat perjuangan1</p> <p>[...]tapi lautan tak pernah terkalahkan/Rakyat adalah lautan/tak kenal henti berlawan/makin sengit makin bangkit 2 [...]petani punya jalan sendiri/jalan revolusi:/padinya tani!/tanahnya tani!</p> <p>56</p> <p>kaum buruh yang ditulis dalam kaitan dengan pelaksanaan kongres nasional II SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Dalam puisi Agam Wispi yang berjudul Surabaya (hal. 123-124) dikemuakan bahwa perlawanan kaum buruh dilakukan melalui pemogokan. Alasan perlawanan kaum buruh bahwa mereka lapar dikemukakan misalnya dalam puisi S.W. Kuncahjo yang berjudul Suatu Malam (hal. 731-732). Walaupun kaum buruh sedang lapar namun mereka tetap melakukan perlawanan seperti kelaparan yang dirasakan oleh Djuhainah, seorang buruh dari Banyuwangi. Derita berkepanjangan Djuhainah yang lebih panjang dari jalanraya Anyer-Banyuwangi, ternyata tidak menyurutkan niatnya untuk bertahan dan melakukan perlawanan, sebagaimana hal itu ditulis oleh H.R. Bandaharo dalam puisinya Djuhainah Masih Bernyanyi (hal. 382). Perlawanan kaum buruh yang dikemukakan dalam puisi Jangan Kauhina karya S.W. Kuncahjo (hal. 727) memberi satu fakta bahwa kaum buruh tidak hanya berjuang menuntut kenaikan upah tetapi juga berjuang melawan imperialisme dengan kesiapan-siagaan. Perlawanan kaum buruh terhadap</p> <p>imperialisme dan dalam kerangka Revolusi Indonesia dikemukakan oleh S.W. Kuncahjo dalam puisi Yang Tak Tergoyahkan (hal. 722-724). Puisi ini ditulis sebagai persembahan kepada para pejuang yang mengambil alih perusahanperusahan Inggris, sebagaimana keterangan pada judul untuk para</p> <p>pejuang/ambillah perusahan-perusahan Inggeris. Dalam puisi Persatuan karya Klara Akustia (hal. 410-411) diserukan kepada kaum buruh agar bersatu dan bahu-membahu dalam melakukan perjuangan.</p> <p>57</p> <p>Puisi Pensiunan Buruh Tambang karya Sobron Aidit (hal. 797) tidak menyerukan perlawanan kaum buruh sebagaimana puisi-puisi bertema buruh tetapi menceritakan masa tua kaum buruh, ketika tubuh mereka bungkuk karena kerja keras dan usia namun mereka telah mewariskan hasil kerja kepada dunia. Melalui puisi tersebut, Sobron Aidit hendak mengatakan bahwa hanya PKI yang paling peduli nasib kaum buruh dan memperjuangkan perbaikan hidup mereka. Di samping mengemukakan perlawanan kaum buruh, puisi-puisi yang merepresentasikan kehidupan massa rakyat pekerja juga mengemukakan perlawanan-perlawanan kaum tani, misalnya yang dikemukakan oleh A. Qadar dalam Riak Batanghari (hal. 36-38). Puisi ini dengan sangat lugas mengemukakan bahwa penderitaan hidup memicu semangat perlawanan kaum tani terhadap tujuh setan desa, Malaysia, dan setan dunia atau Amerika). Dalam puisi itu juga dikemukakan perjuangan kaum tani yang berani mati untuk</p> <p>menegakkan UUPA (Undang-undang Pokok Agraria) dan UUPBH (Undangundang Pokok Bagi Hasil).3 Sejalan dengan itu, tujuan perjuangan kaum tani ditegaskan oleh Kuslan Budiman pada bait terakhir puisinya yang berjudul Pengadilan (hal. 442), tegakkan tanah untuk tani! Puisi ini secara tegas menuntut agar ada tanah untuk kaum tani. Sementara itu ada wadah bagi perjuangan kaum tani yaitu melalui organisasi BTI (Barisan Tani Indonesia),4 seperti dikemukakan dalam puisi Penyair dari Desa (karya A.T. Khoswara, hal. 204-205).3</p> <p>[...]yang kerja tak punya apa-apa/[...]rela mati untuk merdeka/untuk uupa/untuk uupbh/ganyang tujuh setan desa/ganyang malaysia/ganyang setan dunia-/Amerika 4 Dalam puisi Padi yang Lenyap (karya Slamet Atmoredjo, hal. 784): [...]tetap dalam BTI mereka bersatu dan berjuang[...]</p> <p>58</p> <p>Perlawanan rakyat dalam skala internasional yaitu melawan imperialisme dan kolonialisme juga muncul dalam beberapa puisi, misalnya dalam puisi Lagu (hal. 772) karya Sjariffuddin Tandjung. Perlawana tersebut mengandung semangat Konferensi Asia-Afrika atau Semangat Bandung dalam rangka mencapai kemerdekaan dan kebebasan dan mengakhiri segala menindasan kaum penjajah di negara-negara Asia-Afrika. Menurut dua baris terakhir puisi tersebut, rakyat di Asia-Afrika harus berjuang untuk mendapatkan hak hidupnya.5 Puisi-puisi tersebut menggambarkan penderitaan rakyat yang diakibatkan oleh penindasan yang dilakukan oleh musuh-musuh rakyat. Untuk membebaskan diri dari penindasan, rakyat melakukan perlawanan, baik melalui jalan revolusi maupun dengan pemogokan (bentuk perlawanan kaum buruh yang sangat khas). Alasan mendasar perlawanan rakyat adalah karena lapar, mendrita, tertindas, dan tereksploitasi. Sejalan dengan itu, makna perlawanan bagi rakyat antara lain membebaskan diri dari penderitaan dan memikul tugas sejarah. Puisi-puisi tersebut menunjukkan peranan massa rakyat pekerja yang sangat menonjol tanpa dibayang-bayangi oleh tokoh individu. Dengan cara itu, puisi-puisi tersebut merepresentasikan kekuatan massa rakyat dan karena kekuatan itulah mereka menentukan jalannya sejarah. Untuk menunjukkan analisis secara utuh terhadap perlawanan kaum tani, berikut ini dibicarakan puisi Panen karya A. Kadar. Melalui perulangan barisbaris yang menggambarkan padi menguning yang terbentang di areal persawahan yang luas, penyair tengah menegaskan suatu ironi kehidupan kaum tani. Seharusnya kaum tani berbahagia karena mereka akan memanen padi yang bernas5</p> <p>Kehidupan kita adalah juang-/kehidupan itu hak milik rakyat</p> <p>59</p> <p>sebagai hasil kerja keras. Namun demikian, yang bekerja keras tidak memiliki beras dan tangis kaum tani belum juga berhenti. Ironi tersebut seperti kutipan berikut.dibentangkan luas padi menguning bernas hati ini kian keras padi merunduk petani menunduk padi bernas yang kerja tak punya beras panen hari ini tangis belum juga berhenti</p> <p>Ironi kehidupan tersebut memicu perlawanan kaum tani. Hal inilah yang menjadi titik berat puisi tersebut. Ironi kehidupan kaum tani hanyalah realitas bagi penyair untuk menyerukan perlawanan. Realitas tersebut bukan merupakan tujuan atau pesan yang ingin disampaikan tetapi untuk menunjukkan bahwa ada realitas lain di balik realitas tersebut, yaitu realitas yang seharusnya atau realitas yang dibangun dalam pandangan penyair. Puisi ini terdiri atas lima bait dan menggunakan gaya repetisi untuk membangun gradasi nada perlawanan kaum tani, dari rendah bergerak naik dan berhenti pada titik puncak. Bait pertama menggambarkan latar belakang kehidupan kaum tani di tengah-tengah sawah yang membentang luas, padi bernas menguning menjelang panen. Walaupun demikian, kaum tani yang bekerja keras tidak memiliki beras. Pada bait kedua, nada perlawanan mulai bergetar melalui pernyataan yang terkesan dingin bahwa hati kaum tani kian keras dan hari-hari mereka kelam, seperti berikut.[...]hati ini kian keras petani bercelana hitam harinya kelam dipeluk padi segenggam.</p> <p>60</p> <p>Getaran perlawanan tersebut semakin menguat pada bait ketiga, yang mengemukakan bahwa kaum tani (Sombok, Senduk, dan Tolo) akan melakukan perlawanan demi tanah dan padi mereka:[...]sombok, senduk, tolu beladiri melawan mati ditanah sendiri dipadi sendiri</p> <p>Getaran perlawanan kaum tani terasa semakin kuat dan penuh energi pada bait keempat melalui transformasi makna perlawanan yang semakin jelas, yaitu revolusi. Revolusi bagi kaum tani adalah jalan untuk mempertahankan padi dan tanah mereka. Perlawanan tersebut mencapai klimaks pada bait kelima karena di dalam bait ini penyair menegaskan bahwa musuh revolusi kaum tani adalah kaum pengisap di desa. Melalui puisi tersebut penyair memposisikan diri sebagai kaum tani yang tertindas untuk menyuarakan teriakan perlawanan kepada kaum pengisap di desa. Kaum tani dihadirkan di dalam puisi itu bersama latar belakang kehidupan mereka (padi menguning bernas, bercelana hitam), ironi hidup mereka (yang kerja tak punya beras), dan yang terpenting adalah teriakan perlawanan mereka (beladiri melawan mati, hati kian keras, revolusi, menghentak keras, brtindak tegas, beraniberapi) yang disulih oleh penyair sendiri. Penghadiran kaum tani di dalam puisi tersebut adalah representasi pokok ideologi Marxis, yaitu massa rakyat pekerja sebagai pembuat sejarah. Dalam puisi-puisi Lekra pokok ini berwujud puisi-puisi bersubjek rakyat, puisi-puisi yang menghadirkan berbagai aspek kehidupan rakyat yang tertindas, yang sedang melakukan perlawanan, yang giat bekerja untuk hidup, yang tengah membangun harapan terhadap hari depan yang lebih baik</p> <p>61</p> <p>(sosialisme). Hal itulah yang menjadi ciri khas puisi bercorak kerakyatan yang diciptakan oleh penyair-penyair Lekra. b. Pujian kepada Massa Rakyat Pekerja Sejumlah puisi dalam antologi Gugur Merah mengandung penjelasan mengenai konsep rakyat sesuai dengan pandangan penyairnya. Hal itu muncul dalam sejumlah puisi, misalnya puisi Lagu (karya Sjariffuddin Tandjung, hal. 772) yang mengemukakan bahwa rakyat dan sejarah adalah satu padu. Sedangkan dalam Ya Mustaza (karya Tjarakarakjat, hal. 864) dikemukakan bahwa rakyat adalah maha tahu karena telinga dan matanya disebulatan bumi. Benni Cung dalam puisinya, Selamat Tinggal Selamat Berjumpa (hal. 240) dengan tegas mengungkapkan bahwa kebenaran ialah Rakyat, keadilan ialah Rakyat, dan kekuatan ialah Rakyat. Sedangkan pada puisi Bila Engkau Bertanya (karya S.W. Kuncahjo, hal. 733-734) dan Surabaya (karya Agam Wispi, hal. 122-131), rakyat pekerja (buruh dan tani) dijelaskan sebagai sokoguru Revolusi (tiang penyangga utama). Karena adanya pemahaman terhadap rakyat sedemikian mulia (menyatu dengan sejarah, mahatahu, simbol kebenaran, keadilan, dan kekuatan, sokoguru Revolusi Indonesia) maka pesan puisi-puisi tersebut antara lain kita harus mencintai rakyat, misalnya seperti rasa cinta seorang penyair yang mendalam kepada petani (dalam puisi Penyair dari Desa, karya A.T. Khoswara, hal. 204205). Di samping dicintai, harkat kaum tani juga harus dibela dan ditegakkan karena mereka bekerja keras untuk menghasilkan pangan. Melalui puisi tersebut, A.T. Khoswara menyampaikan makna yang lebih luas bahwa cinta penyair</p> <p>62</p> <p>kepada kaum tani, tanah, dan padi adalah jalan untuk mencintai tanah air Indonesia dan pengabdian kepada revolusinya. Kecintaan, pembelaan, dan kesetiaan terhadap kaum buruh dan tani juga harus kita wujudkan dalam kehidupan, seperti yang dilakukan oleh seorang wanita pejuang Komunis, yang bernama Usani (dalam puisi Ziarah ke Makam Usani karya D.N. Aidit, hal. 297-298) atau Aminahdjamil (dalam puisi Aminahdjamil karya Koe Iramanto, hal. 426). Pada bagian ini dibicarakan sebuah puisi, Penyair dari Desa karya A.T. Khoswara. Puisi ini menghadirkan rakyat (dalam hal ini kaum tani) bukan sebagai subjek yang diberi suara perlawanan oleh penyair tetapi sebagai objek yang menerima simpati, pembelaan, pujian kemuliaan. Puisi-puisi seperti ini merupakan co...</p>