BANGKA

  • Published on
    18-Jul-2015

  • View
    528

  • Download
    6

Embed Size (px)

Transcript

<p>DAFTAR ISI</p> <p>BAB 1 BAB 2 BAB 3 BAB 4 BAB 5</p> <p>PULAU BANGKA PENDATANG PEMULA DI PULAU BANGKA DAN NAMA PEMBERIANNYA ORANG YANG MULA-MULA MENGENAL PENDUDUK PULAU BANGKA PULAU BANGKA DIBAWAH PEMERINTAH KERAJAAN MAJAPAHIT PULAU BANGKA DISERANG OLEH MELUKUT</p> <p>BAB 6 PULAU BANGKA DIBAWAH PEMERINTAHAN SULTAN JOHOR DAN RAJA MINANGKABAU BAB 7 PULAU BANGKA DISERANG OLEH BAJAK LAUT DARI LAMPUNG BAB 8 PULAU BANGKA DIBAWAH PEMERINTAHAN BANTEN Bab 9 KERAJAAN BANTEN BERPERANG DENGAN KERAJAAN PALEMBANG BAB 10PULAU BANGKA DIBAWAH PEMERINTAH SULTAN PALEMBANG BAB 11KERAJAAN PALEMBANG TERBAGI DUA DAN SULTAN RATU MAHMUD BADARUDDIN I MELARIKAN DIRI KE JOHOR BAB 12SRI SULTAN RATU MAHMUD BADARUDDIN I DUDUK DI PULAU SIANTAN DAN MENIKAH DISANA BAB 13AWAL MULA BERDIRINYA NEGERI DI MUNTOK BAB 14ASAL USUL KETURUNAN BANGSAWAN DI MUNTOK BAB 15PULAU BANGKA DIKEPALAI OLEH SEORANG MENTERI RANGGA BAB 16PULAU BANGKA DIKEPALAI OLEH SEORANG TEMENGGUNG BAB 17PEMERINTAHAN DI PULAU BANGKA MENJADI RUSAK DILANDA BENCANA BAB 18KERJAAN PALEMBANG BERPERANG DENGAN GUBERNUR INGGERIS BAB 19KERAJAAN PALEMBANG BERPERANG DENGAN GUBERNUR BELANDA BAB 20RESIDEN BANGKA, TUAN M.A.P. SMISSAERT TERBUNUH BAB 21 PERANG DI PALEMBANG UNTUK KEDUA KALINYA</p> <p>BAB 22PEPEREANGAN DI PULAU BANGKA</p> <p>BAB 23ASAL USUL KETURUNAN ABANG ARIFIN TEMENGGUNG KERTA NEGARA, NAMA YANG KESOHOR DISELURUH PULAU BANGKA BAB 24PERUSUH TUAN AMIR BAB 25PENANGKAPAN BATIN TIKAL DAN DIBUANG KE MENADO BAB 26ABANG ARIFIN TEMENGGUNG KERTA NEGARA I, MENINGGAL DUNIA BAB 27PENJAGAAN PARA BAJAK LAUT OLEH PERAHU KERUIS PEMERINTAHAN BAB 28ZAMAN AKHIR BAB 29MASA TUAN RESIDEN ENGELENBERG</p> <p>BAB 1</p> <p>Pulau bangka dan belitung, menrut letak geografisnya sangat dimungkinkan pada mulanya bersatu dengan pulau-pulau lain-lainya, seperti kepulauan daratan riau-lingga, pulau singapura maupun tanah malaka. Hal ini dapat kita ketahui dari jenis ataupun ragam dari tumbuhtumbuhan, struktur tanah juga kandungan minereal logam, seperti misalnya timah. Memang untuk membuktikan secara ilmiah sejauh ini belum dapat kita peroleh, mengingat literatur atau pustaka yang mendukung data tersebut tidak lengkap, mungkin pula para ahli belum tertarik mengupas masalah ini secara lebih detail/rinci. Hanya dapat dikatakan pada zaman dahulu pulau bangka ditemukan oleha para pendatang, yang hanya mengetahui pulau yang mereka singgahi dengan kondisi beberapa bukit kecil serta diantaranya adajuga yang cukup tinggi, dengan hamparan daratn yang cukup luas serta ditumbuhi pepohonan dan hutan belukar serta rimba yang lebat. Pulau yang terletak pada posisi 1-30--3 Lintang Selatan serta 45-107 Bujur timur, dengan bentangan dari Barat Laut menuju ke Tenggara, yang memiliki kepanjangan sekitar 180 Km. Luas daratan yang diperkirakan mencapai 11.614.125 Km dengan berbatasan : Laut Cina Selatan (Laut Natuna) disebelah Utara dan Timur Laut. Selat Gaspar yang memisahakan dengan pulau Belitung disebelah Timur. Selat Bangka yang memisahkan dengan pulau Sumatera disebelah Barat Laut Jawa (Hindia Belanda) disebelah Selatannya.</p> <p>BAB 2</p> <p>Pada dahulu kala yang belum dapat dipastikan di abad keberapa, dimana dikisahkan bahwa ada seorang putra raja dari bugis dengan nama SRI GADING, yang hendak mempersunting saudara perempuannya sendiri yang bernama PUTERI DADAENG. Namun puteri tersebut menolak lamaranya, dan hal itu disampaikan kepada ayahanda yang dikenal dengan nama RAJA TUMPU AWANG. Berita itu sangat membuat Baginda murka, sehingga SRI GADING diusir keluar istana dan dititahkan/diperintahkan untuk tidak diperkenalkan kembali sebelum dapat mempersunting seorang isteri yang soleh diluar. Untuk mewujudkan maksud tersebut SRI GADING telah berusaha menyiapkan sebuah perahu kayu yang cukup besar, yang juga dilengkapi persenjataan serta pengikutnya/anak buahnya, yang juga dilengkapi pesenjataan serta pengikutnya/anak buahnya, terdiri dari laki-laki maupun perempuan. Kemudian, mereka mulai berlayar meninggalkan tanah menuju kearah Barat, melintasi pulau Jawa jauh sampai ke tanah Malaka atau Melayu. Untuk membekali keperluan perjalanan, setiap kesempatan pada daerah yang disinggahi, mereka sering melakukan perampokan/perampasan yang lebih kenal dengan dengan Bajak Laut.</p> <p>Dengan hasil bajakan rampasan yang dimuatkan pada perahu mereka berlebihan sehingga untuk melakukan perjalanan selanjutnya menjadi terganggu dan akhirnya keadaan perahu terombang ambing dilautan lepas serta terbawa arus sampai terdampar di negeri Johor. Dengan demikian, waktu itu SRI GADING berkesempatan pergi dan menghadap SRI SULTAN JOHOR guna mendapatkan pertolongan dan bantuan bagi perbaikan perahu mereka. Ternyata di tanah Johor juga banyak dijumpai anggota masyarakatnya dari keturunan Raja yang berasal dari Bugis. Suasana yang demikian, yang membuat persahabatan cepat bertambah akrab dan dengan perantaraan mereka pula bantuan untuk perbaikkan perahu SRI GADING dapat diselesaikan. Tapi hal itu tidak membuat dan anak buahnya lantas melanjutkan perjalanan mereka, karena kesempatan yang terbina secara cepat serta bantuan SRI SULTAN JOHOR pula, akhirnya SRI GADING menemukan tambatan hatinya di Johor. Perempuan yang dipersunting menjadi isterinya adalah seorang keturunan Cina, dank arena perkawinan itu menjadikan SRI GADING menetap di tanah JOHOR dalam kurun waktu yang cukup lama. Kondisi itu pula mengharuskan perahu SRI GADING diperbaiki lagi setelah timbul niatnya kembali ke negeri asalnya. Namun untuk menempuh perjalan pulang yang paling aman dan dekat, oleh SULTAN JOHOR diberikan bantuan sebagai petunjuk yaitu seorang juragan dari keturunan Bugis pula yang bernama : NACHODA RAGAM. Dalam perjalanan kembali, perahu layar mereka mengalami musibah, dimana mereka dihantam ombak dan angin ribut yang membuat mereka kehilangan arah, serta trgisnya NACHODA RAGAM sampai meninggal dunia sewaktu kepanikan terjadi diatas kapal. NACHODA RAGAM tidak tertolong nyawanya yang diakibatkan tertusuknya dia oleh isteri SRI GADING dengan jarum jahit. Kepanikan semakin menjadi diatas perahu akibat meninggalnya NACHODA RAGAM yang disangka dibunuh, sehingga terjadi pecekcokan yang mengarah pada perkelahian yang menyebabkan banyak pula yang meninggal dan mengalami luka-luka. Sementara perahu tetap melaju tanpa arah tujuan pasti, akhirnya terdampar lagi disuatu tempat/pulau yang diketahui waktu itu memiliki bukit yang cukup tinggi (sekarang dikenal dengan nama Gunung MARAS), kemudian SRI GADING dengan sisa anak buahnya yang masih hidup meneruskan perjalanan/mendarat untuk menuju bukit tersebut. Sesampainya diatas bukit itu, ditemui sebuah pondok tua yang perkarangannya (halamannya) ditumbuhi serumpun pohon bamboo/buluh Aur dan didekatnya didapati sepasang mayat manusia (laki-laki dan perempuan). Dan dari tempat itulah terlontar pertama kali kata BANGKAI, yang kemudian dikenal dengan nama BANGKA. Oleh masyarakat Bangka dianggap sebagai riwayat dari pulau Bangka sendiri. Menurut ceriteranya yang dapat dipercaya bahwa pasangan itu berasal dari daratan Sumatera sebagai putera raja. Karena berbuat serong/zinah maka oleh raja, ayahandanya, mereka dengan rakit di laut sehingga terdampar dipulau yang bukitnya dijadikan tempat tinggal mereka (Gunung Maras). Mereka berusaha mengarungi hidup mereka sebagai suami-isteri, berladang, bercocok tanamsayur mayor serta memelihara ternak diatas bukit tersebut. Semuanya itu mereka peroleh sayur-mayur serta memelihara ternak diatas bukit tersebut. Semuanya itu mereka peroleh sewaktu mereka mulai dihukum, maka dibekali bibit sayuran dan ternak untuk di bawa serta dengan rakit mereka. Setelah selang beberapa tahun kemudian, suatu ketika mereka digigit oleh ular yang berbisa yang dikenal dengan banyak waktu itu, sehingga mereka menemui ajalnya dan mereka menghembuskan napas di dekat rumpun pohon bamboo/buluh tersebut, makanya buluh/bamboo tersebut diberi nama : BULUH MEERINDU atau AUR MERINDU. Tidak berapa jauh dari pondok itu, oleh SRI GADING ditemui lagi sebuah kandang ternak, dimana, dimana ternak didalamnya juga dalam keadaan mati semuanya, bahkan telah menjadi tulang belulang beserakan/bertambun-tambun. Maklumlah, sejak tuanya meninggal, ternakternaknya tadi tidak ada lagi yang memberikan makan. Oleh kondisinya yang demikian, Sri</p> <p>gading menamakan bukit bukit tersebut dengan bukit TAMBUN TULANG. (Dekat Gunung Maras) Kemudian kedua mayat tersebut, dikuburkan oleh SRI GADING dan rombongan sebagai tempat tinggal mereka. Dari peristiwa yang dimaksudkan itu, penghuni pertama manusia di pulau Bangka adalah pasangan yang telah dikuburkan tersebut. Yaitu anak atau putra raja dari daratan Sumatera. Sementara SRI GADING dan rombongan menempati daratan pulau itu, mereka mulai melakukan kegiatan harian, selain itu juga berusaha membuatkan perahu lagi sebagai niat semula untuk kembali ke negeri Asalnya, setelah sekian lama menanti tidak ada perahu yang singgah/bersandar. Setelah rampung perahunya, SRI GADING dengan istrinya serta sebagian kecil anak buahnya, melanjut perjalanan (berlayar) kearah Timur menuju tempat asalnya. Sementara anak buahnya yang lain ditinggalkan dengan janji bahwa kemnudian hari akan dijemput kembali. Namun, setelah dinantikan sekian lamanya belum ada yang menjemput, maka diperkirakan bahwa SRI GADING mengalami musibah dalam perjalanan/pelayarannya. Sehingga tinggalah mereka dipulau tersebut tanpa ada yang memimpin atau mengepalainya. Dengan bergesernya waktu, maka pertumbuhan dan perkembangan kelompok ini bertambah banyak dalam bentuk kelompok-kelompok. Mengingat pertumbuhan masyarakat kecil itu tanpa diatur seorang pemimpin, membuat tidak teratur dan condong lebih bersifat liar, terputus dengan dunia luar, serta sandangnya pun masih terbuat dari kulit kayu mengingat masyarakat kecil itu terbentuk dari berbagai suku yang dibawa serta dari hasil rampasan/pereampokan sepanjang menelusuri perjalanan yang dilakukan SRI GADING tersebut, menjadi asal muasal penduduk asli pulau ini (pulau Bangka). Perampasan/perampokan waktu itu juga melibatkan pengambilan orang-orang yang dirampok.</p> <p>Kembali disebutkan bahwa ceriterea tentang kedua mayt tersebut yang ditemukan oleh SRI GADING dan dikuburkan di dekat serumpun bambu/buluh peerindu itu. Hingga sekarang menjadi semacam legenda atau seritera rakyat atas BULUH PERINDU tersebut. Cereritera rakyat itu berkembang, dimana pada masa itu ada dua bersaudara dari tanah Sumatera (Palembang), tersebut dalam pelayaranya dan perahu mereka terdampar pada sebuah bukit (Gunung Maras), serta diatas bukit itu terdapat/di jumpai seekor ular, lalu secara spontan itu di bunuhnya menjadi dua bagian atau terpotong menjadi dua bagian. Setelah itu, saudara tuanya tertidur arena kecapaian, sementara adikny atetap menunggu sambil duduk didekat saudara tuanya itu. Tiba-tiba diluar kesadarannya, didatangiseorang kakek (Dewa) dan menanyakan peristiwa yang baru saja yang dilakukan saudaranya (membunuh ular itu). Lantas potongan dari bagian yang lain membentuk seperti semula yang menyatukan, serta pada kubung, selanjutnya diolesi dengan minyak yang dibawa. Dalam sekejab ular yang semula telah mati, menjadi bergerak lagi lalu ular tadi dapat hidup kembali dan ular itu diangkat serta dilepaskan di hutan sekitar itu. Kemudian orang tua (kakek) itu lenyap dari pandangan tetapi minyak yang dibawa nya tadi tertinggal. Stelah kakaknya terbangun dan menanyakan kemana ularr yang dibunuhnya itu, oleh adiknya diceriterakan kejadian yang baru dialami, tetapi kakanya tidak percaya sama sekali. Untuk meyakinkan kakaknya itu, adiknya lalu mengambil sepotong kayu dan memotongnya menjadi dua bagian, lalu dihubungkan kembali serta mengusapkan dengan daun mengnkubung dan mengolesnya dengan minyak tadi, maka tadi kembali menyatu seperti sediakala. Namun kakanya yang semula diharapkan dapat dipercaya, tidak pula bergeming maupun berubah pendirianya untuk percaya begitu saja. Tetapi oleh adiknya tidak menyerah begitu saja, dan timbul akalnya untuk menyuruh kakaknya duduk berdua dengan saling</p> <p>membelakangi (bertemu punggung) secara rapat satu sama lainnya, selanjutnya dia mulai mengusap daun mengkubung dan memoles minyak tadi kepunggung mereka yang sedang merapat itu. Dan apa yang terjadi, kakak beradik itu ternyata menjadi lengket dan tidak dapat dipisahkan sampai mereka meninggal. Merupakan takdir Tuhan rupanya mayat kakak adik itu akhirnya menjadi serumpun bambu. Dan rumpun bambu/aur inilah yang kemudian disebutkan sebagai BULUH PERINDU. Bagamianadan apa sebanya dinamakan BULUH PERINDU/MERINDU? *) Alkisah dari legenda rakyattadi bahwa buluh merindu itu diartikan dengan pandai menyanyi memakai kata-kata indah atau pandai berpantun. Sehingga buluh merindu yang mengeluarkan suara yang indah nan merdu akibat dari terpaan angin yang membuat batang-batang buluh saling bergesekan. Karena suara yang ditimbulkan sangat indah dan meerdu juga kedengarannya diantara langit dan bumi, bergaung merdu di angkasa, dapat berakibat menjadi fasik bagi orang beriman tipis, yang telah bersahabat dapat menjadi musuh, jyuga demikian sebaliknya musuh dapat menjadi teman, arus hilir dapat berbalik ke mudik, burung terbang pundapat sekonyong-konyong terjatuh dari angkasa. Demikianlah ceritera rakyat yang beredar disebagian masyarakat Bangka, sehingga dapat disimpulkan bahwa sebetulnya sebelum mayat suami-isteri yang ditemukan oleh SRI GADING tadi sudah dianggap sebagai manusia pertama penghuni pulau Bangka, ternyata masih ada pula yang mendahuluinya sebagai penghuni pertama. Terlepas benar atau tidaknya sangatlah sulit dibuktikan.</p> <p>BAB 3ORANG YANG MULA- MULA MENGENAL PENDUDUK PULAU BANGKA</p> <p>Seiring dengan berjalannya waktu dan ini telah berlangsung beberapa puluh tahun lamanya meninggal SRI GADING yang telah di ungkapkan diatas, maka pada suatu ketika, sebuah perahu yang berlayar dari tanah Arab dengan Nahkodanya bernama Soelaiman. Setelah berlangsung beberapa lama menempuh perlayaran, akhirnya ditemukan lagi dartan dengan berbukitan yang menonjol cukup tinggi. Lalu diputuskan untuk singgah gunan keperluan mengambil air tawar pada mulanya. Kemudian keinginan untuk mengetahui lebih jauh situasi daratan ini dilaksanakan, khususnyabukit yang cukup tinggi tersebut. Dengan demikian oleh Soelaiman demikian oleh Soelaiman bukit itu diberi nama : MANOEMBINA (Dalam Bahasa Arab, yang diartikan adalah DATANG BERULANG KALI), hingga sekarang bukit itu biasanya dipanggil dengan sebutan : GUNUNG MENUMBIN atau GUNUNG MENUMBING. Petualangan Soelaman tetap dilanjutkan dan kali ini dia dan rombongan pergi kebukit lainnya. Dan disana dapat dijumpai sekelompok manusia yang kehidupanya sangat memprihatinkan, merana, liar dan kurang beradab, disamping itu sebagian dari mereka sedang terjangkit penyakit seperti demam, sakit kepala, yang terlantar tanpa ada perawatan, seolah-olah menunggu ajal atas panggilan Tuhan. Melihat kejadian itu, Soelaiman berusaha membantu</p> <p>memelihara dan merawat mereka yang sakit sebisa mungkin serta mencarikan ramuan obatnya. (Waktu itu, katanya konon obat tersebut di buat dari daun mengkujang yang dire...</p>

Recommended

View more >