BANI BUWAIHI

  • Published on
    27-May-2015

  • View
    2.004

  • Download
    8

Embed Size (px)

Transcript

  • 1. TINJAUAN SOSIAL PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA BANI BUWAYHA. Pendahulaun.Masa kejayaan Bani Buwahy merupakan era transisi berakhirnya kekuasaan bangsa Arab di Kekhalifahan Abbasiyah. Selama mengendalikan kekuasaannya di Baghdad, Dinasti Buwahy turut berjasa mengembangkan supremasi peradaban Islam di bidang ilmu pengetahuan dan sastra. Sederet ilmuwan, pemikir dan ulama besar lahir di era kekuasaan Buwauhi di kota Baghdad. Ulama, pemikir dan ilmuwan penting yang muncul di era kejayaan Buwayh antara lain; Al-Farabi (wafat 950 M), Ibnu Sina (980- 1037 M), Al-Farghani, Abdurahman Al-Shufi (wafat 986 M), serta Ibnu Maskawih (wafat 1030 M).1Sumbangan ilmuwan dan intelektual yang berada dalam lindungan dan dukungan para penguasa Buwayh ini bagi pengembangan ilmu pengatahuan sungguh sangat besar. Tidak cuma itu, Philip K Hitti dalam bukunya History of Arab juga mencatat peran penting Bani Buwaihi dalam pembangunan di kota Baghdad. Menurut Hitti, di era kekuasaannya, para penguasa Buwaihy berhasil membangun masjid, rumah sakit, serta kanal- kanal. Pembangunan infrastruktur itu turut membuat sektor ekonomi, pertanian, perdagangan dan industri menggeliat.21A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Pustaka Alhusna,1993). H. 3242Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam ( Jakarta: PT Raja Grapindo, 1985). H. 231 1

2. Menurut Ensiklopedi Britannica Online, penguasa Buwayh sempatmembangun bendungan jembatan yang membelah Sungai Kur denganShiraz. Jembatan itu mampu menyambungkan Dinasti Buwayh dengankerajaan lainnya seperti Samanid, Hamdaniyah, Bizantium dan Fatimiyah.Penguasa Buwayh pun turut menopang geliat seni dan kesusasteraan.3B. PEMBAHASAN 1. Kronologis Kedatangan Bani BuwaihMasapemerintahanBuwayh yaituperiodeketiga dari pemerintahan bani Abbasiah, dimana kekhilafahannya dikuasai oleh bani Buwaih sejak 334 -447 H/945-1055 M kehadiran bani Buwaihi berawal dari tiga orang putera Abu Syuja Buwayh, seorang pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam, yaitu Ali, Hasan dan Ahmad. Untuk keluar dari tekanan kemiskinan, tiga bersaudara ini memasuki dinas militer yang ketika itu dipandang banyak mendatangkan rezeki.4 sehingga sebagian besar ahli sejarah Islam merangkai awal dari kemunculan bani Buwayh dala paggung sejarah bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali bin Ahmad dalam psukan Makan Ibn Kali dari dinasti Saman, tetapi kamudian berpinadah ke kubu Mardawij. Ketika Mardawij tebunuh pada tahun 943, Ali sudah menjadi penguaa Isfahan dan sedang berusaha menjadi penguasa yang mandiri. Kira-kira dua tahun kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat3 G.E. Bosworrt Dinasti-dinasti Ilam (Bandung: Mizan, 1993). H 122-123.4 Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam (Bandung:Nuansa Cendikia, 2004), hal. 1812 3. daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jendral Tuzun,penguasa sebenarnya atas Baghdad, Ahmad memasuki Baghdad danmemulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah. Gelar muizzal- Daulah (yang memuliakan Negara) diperolehnya dari khalifah. Iamemerintah Baghdad selama leih dari 24 tahun, sementara keduasaudaranya menguasai bagian kerajaan sebelah timur.5 Sebenarnyaketurunan Bani Buwayh adalah keturunan kaum Syiah, dan bukanketurunan Bani Abbas secara langsung pada saat itu. Melihat kekuasaanBani abbas yang semakin melemah di dalam bidang pemerinahan atauperpolitikan yang mngakibatkan timbulnya keinginan dari daulat-daulatkecil yang ada di bawah kekuasaan Baghdad. Kesempatan ini tidak kalahpentingnya bagi Ali sebagai pemimpin Bani Buwayh sehingga langkahawal yang dilakukan yaitu mulai menakkan di daerah-daerah Persiamenjadikan Syiraz sebagi pusat pemerintahan. Ketika Mardawijmeninggal, Bani Buwayh yang bermarkas di Syiraz itu berhasilmenalukkan beberapa daerah di Persia seperti Rayy, Isfahan, dab daerah-daerah Jabal. Ali berusaha mendapat legalisasi dari Khlifah abbasiyah Al-Radhi Billah, dan mengirimkan sejumlah uang untuk pembendaharaanNegara.Ia berhasil mendapat legalitas itu. Kemudian, melakukan ekspasike Irak, Ahwaz, dan Wasith. Dari sini tetara Buwaih menuju Baghdaduntuk merebut kekuasaan di pusat pemerintahan .ketika itu ,Baghdaddilanda kekisruhan politik, akibat perebutan jabatan Amir Al Umara5 Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (terj.) oleh Zaimul Am,(Bandung: Mizan, 2002), hal. 643 4. antara wazir dan pemimpin miiter. Para pemimpin militer memintabantuan kepada Ahmad Ibnu Buwaih yang berkedudukan di Akhwazpermintaan itu dikabulkan, Ahmad dan pasukannya tiba di Baghdad padatanggal 11 jumadil ula (334 H/945M). 6 2. Orang-Orang Bani Buwaih dan Khilafah Bani Abbasiah Buwaih bermahzab Syiah sehingga mereka patut menjadikanseorang khalifah dari syiah zaidiyah, akan tetapi mereka menerimakailafah Abbasiah. Sehingga timbullah pertanyaan apa yang menjadipenyebab semua itu? Seperti yang dicantumkan dalam buku Al isy yusuf, tahun 1968 Myaitu mereka adalah orang yang berpandangan jauh, para sejarawanmenyebutkan bahwa Ahmad bin Buwaih, pernah bermusyawarah denganorang-orang untuk menunjuk seorang khalifah dari keluarga Ali. Namun,orang-orangnya mengingatkan dia agar menjauhinya mereka berkata, jikakamu membawa salah seorang diantara mereka, kamu pasti menjadipembantu, dan dia akan menjadi pemimpin. Dailam adalah kelompoknya.jika dia menyuruh orang untuk membunuhmu.kanu akan ada didalamtangannya seperti cincin. Adapun ketika kamu membiarkan khalifahAbbasiah, kamu akan menjamin untuk dirimu seseorang yang bisa kamukendalikan sesuai dengan kehendakmu. Kamu bisa memecatnya jika kamumau untuk mengantikannya dengan yang lain kapanpun kamu mau.6 Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam (Bandung:Nuansa Cendikia, 2004), hal. 1874 5. Orang-orang Dailam adalah kelompokmu.mereka tidak akan taat denganama madzhab dan nama baiat yang ada didalam pundakmu.Dengan hal itulah Ahmad bin Buwayh menghindari penunjukankalangan keluarga Ali sebagai Khalifah. padahal pada awalnya rakyat Iraktelah menerima Abbasiyah sebagai khilafah yang sudah menjadi bagiandari hidup mereka, atau jabatan khalifah adalah jabatan yang bersifatmutlak di dalam agama yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat, daninilah alasan untuk memnerima bani Abbasiyah menjadi khilafah padamasa itu.Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mutazilah bangkit lagi,terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syiah.Pada masa ini muncul banyak pemikir Mutazilah dari aliran Basrah yangwalaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasakejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibacasampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mutazilah dari karya-karyalawan-lawan mereka, terutama kaum Asyariyah. Yang terbesar diantaratokoh Mutazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.73. Keadaan politik pada masa bani buwaihiyahDi dalam masalah politik yang berperan penting hanya banibuwaih yang memegang jabatan penting pada Amir Al umara, sehingga7 Ibid. hal. 1885 6. orang-orang bani Buwaih menetapkan orang-orang Abbasiyah dalampemerintahan, namun tidak memberikian kekuasaan. Mereka melarangkhalifah memperoleh pendapatan untuk kemudian mereka ambilsendiriu.Mereka ,membuat pasukan khusus untuk khlifah yang berjumlahlima ribu dirham sehari. Hal tersebut terjadi dimasa Almustakfa.8 Sejaksaat itu para khalifah tunduk kepada Bani Buwayh, sehingga para khalifahAbbasiyah benar-benar tinggal nama saja. Pelaksanaan pemerintahansepenuhnya berada di tangan amir-amir Bani Buwaih.4. Bidang ilmu pengetahuan. Kekuasaan Buwayh mencapai puncaknya dibawahkepemimpinan Addud Ad-Daulah (949-983). Hal yang menarikyang bisa kita banggakan dalam pola dan tatanan kehidupan masyrakatpada masa Dinasti ini. Sebagaimana para khalifah Abbasiyah periodepertama, para penguasa Bani Buwayh mencurahkan perhatian secaralangsung dan sungguh-sungguh terhadap pengembangan ilmu pengetahuandan kesusasteraan. Para pangeran dan wazir Dinasti ini menjadi contohdalammemberikandukungan terhadap berbagai disiplinilmupengetahuan.Pada masa tersebut, Baghdad sebagaitempatberkembangnya Dinasti tersebut mengalami kemajuan yang sangatpesat. Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan. Kedekatannya denganpara Ilmuan menjadikan loyalita mereka terhadap pemerintahan sangat8Ibit. hal. 1906 7. tinggi. Istana pemerintahan pernah dijadikan sebagai tempat pertemuan Ilmuwan saat itu. Bahkan saat itu dibangun Rumah sakit besar yang terdiri dari 24 orang Dokter, dan digunakan juga sebagai tempat Praktek mahasiswa Kedokteran saat itu. Di bidang sastrawan Para penguasa saling berlomba-lomba dalammengumpulkan para sastrawanuntuk menyampaikan syair-syair indahnya di istana. Sehingga bukan sebuah keanehan jika sarjana dan penyair sering kali melakukan pengembaraan dari satu istana menuju istana yang lain.Para penguasapun sering mengumpulkan para kerabatnya dalam sebuah majlis ataupertemuan untuk mempelajari disiplin ilmu pengetahuan seperti; ilmu kalam, hadits, fikih, kesusastraan dan lain sebagainya dengan dipandu oleh para guru yang diundang secara khusus ke dalam istana. Selain di istana, pertemuan dalam membahas ilmu pengetahuan juga diselenggarakan di masjid-masjid, rumah-rumah pribadi, kedai-kedai, alun-alun bahkan di taman-taman kotaPada masa Dinasti Buwaihy merupakan titik puncak dari apayang disebut "humanisme", karena betapa kosmopolitannya atmosferbudaya pada saat itu. Percampuran pemikiran di antara orang-orang Islam,Kristen, Yahudi, Kaum Pagan, kelompok-kelompok aliran teologi dankelompok religius sangat menghargai pluralitas. Titik tolak kesepakatanmereka adalah bahwa "ilmu-ilmu kuno" adalah milik seluruh umat manusiadan tidak ada satu kelompok religius atau kultural satu pun dapatmengklaim kepemilikan eksklusif ilmu-ilmu tersebut. Dimana semangat 7 8. pluralitas itu mereka kembangkan atas prinsip "shadaqah" yang diartikan "persahabatan" yaitu sebuah prinsi