BI Rate Mei 2013: 5,75% LAPORAN MINGGUAN PERKEMBANGAN ?· kenaikan ICP dan pelemahan nilai tukar Rupiah.…

  • Published on
    06-Mar-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

LAPORAN MINGGUAN PERKEMBANGAN KONDISI MAKRO DAN MONETER 31 Mei 7 Juni 2013

BI Rate Mei 2013: 5,75% Inflasi Mei 2013: -0,03% (mtm)

USD/IDR: 9.886 (melemah 0,09%, mingguan) Harga Minyak Dunia: USD104,56/barrel

BERITA UTAMA PEREKONOMIAN GLOBAL Serapan tenaga kerja Amerika Serikat pada bulan Mei 2013

mencapai 175.000, atau meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 149.000 orang. Data Challenger job cuts dan initial jobless claims AS juga mengalami penurunan. Namun rasio pengangguran mengalami kenaikan tipis, dari 7,5 persen menjadi 7,6 persen. Apabila penyerapan tenaga kerja terus membaik The Fed akan mempertimbangkan kemungkinan memperlambat atau memperkecil program quantitative easing. Hal itu akan membuat nilai tukar Dollar AS menguat terhadap mata uang lain dan melemahkan harga komoditas.

Pasca krisis finansial 2008, nilai kekayaan warga AS berangsur meningkat. Selama Januari hingga Maret 2013, The Fed mencatat nilai kekayaan bersih rumah tangga dan kelompok non-profit di AS bertambah sebesar 3 triliun dollar AS menjadi 70,3 triliun Dollar AS atau tumbuh 4,5 persen, melampaui rekor tertingginya sebesar 68,1 triliun Dollar AS. Dua sektor yang mendongkrak kekayaan warga AS adalah sektor perumahan dan pasar finansial, termasuk saham dan dana pensiun. Nilai aset real estate warga AS melonjak sebesar 836,8 miliar Dollar AS. nilai kekayaan warga AS di sektor finansial, termasuk kepemilikan saham dan dana pensiun, bertambah 2,1 triliun Dollar AS menjadi sebesar 57,7 triliun Dollar AS atau meningkat 3,78 persen. Keuntungan di pasar saham dan pasar perumahan ikut menahan kenaikan pajak upah pada tahun ini. Kebijakan bank sentral AS yang menjaga suku bunga kredit tetap rendah ditambah meningkatnya lapangan pekerjaan, turut menyokong belanja konsumen yang berkontribusi sebesar 70 persen dari aktivitas perekonomian.

Bank of England (BoE) dan ECB mempertahankan tingkat suku bunganya. Tingkat pengangguran Perancis dan sejumlah data inflasi di berbagai wilayah Zona Euro mengalami penurunan.

Pada bulan Mei 2013 ekspor China mengalami pertumbuhan terendah dalam setahun sementara impor juga jatuh. Data perdagangan menunjukkan bahwa permintaan dari dalam dan luar negeri menurun. Hal ini mengindikasikan perlambatan ekonomi China pada kuartal II-2013.

Asian Development Bank (ADB) mencatat pasar obligasi di negara-negara berkembang yang berada di Asia Timur tumbuh sebesar 12,1 persen secara tahunan menjadi 6,7 triliun Dollar AS pada akhir Maret 2013. Pertumbuhan ini lebih banyak ditopang oleh pertumbuhan obligasi korporasi.

BERITA UTAMA PEREKONOMIAN NASIONAL

Rapat Kerja antara Badan Anggaran DPR RI dan Pemerintah menghasilkan kesepakatan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam RAPBN-P 2013 sebesar Rp 9.600 dari sebelumnya Rp 9.300. Asumsi itu sebelumnya juga telah disepakati oleh Komisi XI DPR RI.

Komisi VII DPR akhirnya menyetujui usulan subsidi listrik berjalan sesuai yang tercantum dalam Tabel Parameter Subsidi Listrik RAPBN 2014. Besaran subsidi listrik yang akan diberikan melalui PLN pada tahun depan berkisar antara Rp 81,97 triliun sampai Rp 91,10 triliun. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya biaya pokok produksi (BPP) akibat kenaikan ICP dan pelemahan nilai tukar Rupiah.

Guna memudahkan Transaksi Uang Kartal Antar Bank (TUKAB), Bank Indonesia (BI) meminta perbankan melaporkan posisi uang kartalnya pada pagi dan sore hari. Penyiaran laporan posisi uang kartal ini berlaku secara

nasional dan dilakukan melalui grup mailing list. Nantinya BI akan menyebarkannya melalui sistem informasi layanan kas. Pelaporan ini bertujuan supaya 120 bank yang berpartisipasi tersebut tahu bank-bank mana saja yang kelebihan uang kartal (long) dan bank kekurangan (short), serta bank mana punya pecahan uang berapa. Bank dalam posisi short harus meminta pada bank dalam posisi long. TUKAB diharapkan dapat meningkatkan efektivitas perbankan dan akan menguntungkan manajemen kas bank sekitar 20 persen.

Cadangan devisa pada akhir Mei 2013 sebesar 105 miliar Dollar AS, turun 2 miliar Dollar AS dibandingkan akhir April yang mencapai 107,3 miliar Dollar AS. Penururunan tersebut akibat dari kebijakan operasi moneter yang dilakukan BI dalam rangka meredam gejolak nilai tukar Rupiah.

PERKEMBANGAN PASAR SAHAM Sebagian besar bursa saham dunia melemah secara mingguan

pada minggu pertama bulan Juni 2013, meski bursa saham Wall Street ditutup menguat pada akhir pekan (Tabel 1). Pada tanggal 7 Juni 2013 bursa saham Jepang dan Indonesia ditutup pada level 12.877,53 dan 4.865,32. Secara mingguan Indeks Nikkei 225 dan IHSG mengalami kontraksi terbesar dibanding bursa saham lainnya, yakni sebesar 6,51 persen dan 4,01 persen. Pelemahan IHSG mengikuti pelemahan mayoritas bursa saham Asia dan Eropa. IHSG tertekan oleh aksi jual investor asing. Kekhawatiran investor akan kemungkinan meningkatnya inflasi apabila terjadi kenaikan harga BBM telah mendorong aksi ambil untung investor sehingga menggerus nilai IHSG. Meski melemah secara mingguan, Indeks Nikkei 225 dan IHSG menguat sebesar 23,88 persen dan 12,71 persen apabila dibandingkan dengan posisi pada awal tahun 2013 (YTD) dan 49,05 persen dan 26,68 persen secara tahunan (YOY).

Bursa saham kawasan Asia juga melemah. Secara mingguan bursa saham China, Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong masing-masing terkontraksi sebesar 3,90 persen, 3,86 persen, 3,82 persen, dan 3,65 persen. Secara tahunan Indeks SSEA juga melemah sebesar 3,59 persen, sementara ketiga indeks saham lainnya menguat.

Sementara itu bursa saham Wall Street dan Malaysia menguat di tengah pelemahan bursa saham global. Indeks DJIA, S&P 500, dan KLSE menguat sebesar 0,88 persen, 0,78 persen, dan 0,36 persen secara mingguan. Ketiga indeks saham tersebut juga menguat secara tahunan, yakni masing-masing sebesar 22,37 persen, 24,97 persen, dan 12,71 persen. Data tenaga kerja AS yang membaik memberikan sentimen positif bagi bursa saham Wall Street.

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR Selama periode 31 Mei 7 Juni 2013 secara umum nilai tukar

Dollar AS melemah terhadap mata uang negara-negara lain (Tabel 2). Secara mingguan nilai tukar Yen, Poundsterling, dan Euro kembali mengalami apresiasi terbesar terhadap Dollar AS dibanding mata uang lainnya, yakni masing-masing sebesar 2,88 persen, 2,30 persen, dan 1,66 persen. Meski menguat secara mingguan, nilai tukar Yen mengalami pelemahan terbesar terhadap Dollar AS dibanding mata uang lainnya, yakni sebesar 12,53 persen apabila dibandingkan dengan posisinya pada awal tahun 2013 (YTD) dan 22,52 persen secara tahunan (YOY). Sedangkan Euro secara tahunan mengalami penguatan terbesar terhadap Dollar AS dibanding mata uang lainnya, yakni sebesar 4,96 persen.

Sementara itu mata uang Thailand dan Indonesia justru mengalami depresiasi terhadap Dollar AS di tengah apresiasi mata uang lainnya. Secara mingguan dan apabila dibandingkan dengan posisinya pada awal tahun 2013 Baht melemah terhadap Dollar AS sebesar 0,96 persen dan 0,13 persen, namun secara tahunan Baht masih menguat sebesar 3,25 persen. Sedangkan Rupiah ditutup sebesar Rp9.886 per Dollar AS pada tanggal 7 Juni 2013, melemah sebesar 0,09 persen secara mingguan, 0,93 persen apabila dibandingkan dengan posisinya pada awal tahun 2013, dan 4,51 persen secara tahunan. Pelemahan nilai tukar Rupiah disebabkan oleh semakin melebarnya defisit neraca perdagangan dan pembayaran Indonesia. Menurunnya harga komoditas membuat ekspor semakin menurun sementara impor BBM semakin membengkak. Perbaikan ekonomi AS juga menekan nilai tukar Rupiah. Namun fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS diperkirakan segera mereda, menyusul intervensi yang dilakukan oleh BI.

PERKEMBANGAN HARGA KOMODITAS INTERNASIONAL

Secara mingguan dan apabila dibandingkan dengan posisinya pada awal tahun 2013 (YTD) harga sebagian besar komoditas internasional cenderung mengalami penurunan pada minggu pertama bulan Juni 2013, namun secara tahunan (YOY) cenderung meningkat (Tabel 3). Pergerakan harga komoditas dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Dollar AS, bursa saham global, ketersediaan suplai, dan spekulasi mengenai keberlanjutan kebijakan stimulus moneter The Fed.

Secara mingguan gas alam, perak, jagung, dan gandum mengalami penurunan harga terbesar dibanding komoditas lainnya, yakni sebesar 3,92 persen, 2,25 persen, 1,54 persen, dan 1,31 persen. Apabila dibandingkan dengan posisi awal tahun 2013 dan tahun lalu harga perak juga mengalami penurunan terbesar dibanding komoditas lainnya, yakni sebesar 30,10 persen dan 24,27 persen. Sedangkan gas alam justru mengalami peningkatan harga terbesar dibanding komoditas lainnya apabila dibandingkan dengan posisinya pada awal tahun 2013 dan tahun lalu, yakni sebesar 10,51 persen dan 13,76 persen.

Harga gula dan emas juga menurun sebesar 0,73 persen dan 0,72 persen secara mingguan. Apabila dibandingkan dengan posisi awal tahun 2013, harga kedua komoditas tersebut turun sebesar 16,56 persen dan 18,41 persen. Sedangkan secara tahunan harga kedua komoditas tersebut turun sebesar 16,85 persen dan 13,59 persen. Pasaran gula memasuki level terendah dalam tiga tahun disebabkan oleh dugaan bahwa surplus pada 2013 meningkat akibat panen diprediksi akan meningkat. Membaiknya data tenaga kerja AS memberikan dukungan bagi bursa saham Wall Street sehingga para pelaku pasar mengalihkan investasinya dari pasar komoditas ke pasar ekuitas AS. Spekulasi akan diakhirinya program pelonggaran moneter AS juga menurunkan permintaan emas sebagai aset pelindung terhadap inflasi. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah pelarangan impor emas oleh pemerintah India.

Secara mingguan cokelat, minyak mentah (Brent), beras, dan kacang kedelai mengalami peningkatan harga di tengah penurunan harga komoditas lainnya, yakni masing-masing sebesar 7,64 persen, 4,15 persen, 3,66 persen, dan 1,21 persen. Secara tahunan harga keempat komoditas tersebut juga meningkat sebesar 4,83 persen, 4,63 persen, 11,46 persen, dan 7,02 persen. Lonjakan harga cokelat dipicu oleh kekhawatiran atas besarnya perkiraan defisit suplai. Organisasi Kakao Internasional (ICCO) melaporkan proyeksi defisit menjadi 60.000 ton untuk penutupan September 2012/13, naik 45.000 ton dari periode sebelumnya. Sementara publikasi perdagangan yang diterbitkan oleh Public Ledger mengestimasi bahwa angka defisit jauh lebih besar, yakni 74.000 ton. Harga minyak mentah meningkat

didukung prospek peningkatan permintaan dari AS. Positifnya data non-farm payroll mengindikasikan perbaikan perekonomian AS dan mendorong ekspektasi pelaku pasar untuk menambah jumlah transaksi pembelian. Berkurangnya stok minyak mentah AS juga ikut menopang pergerakan harga. Departemen Energi AS melaporkan bahwa cadangan minyak mentah AS merosot ke 6,3 juta barel dalam akhir periode 31 Mei, jauh lebih besar dibandingkan dugaan penurunan sebesar 400.000 barel. Minimnya suplai minyak mentah terjadi pada liburan musim panas, di mana permintaan melonjak sebab umumnya orang AS melakukan perjalanan dan berlibur.

Sementara laporan bersama FAO dan OECD mengindikasikan bahwa harga-harga produk pertanian akan meningkat pada sepuluh tahun ke depan karena kombinasi antara biaya energi yang tinggi, produktivitas yang menurun, dan permintaan yang meningkat, selain juga terkendala oleh pasokan air dan meningkatnya biaya input setelah pajak.

PERKEMBANGAN HARGA BAHAN-BAHAN KEBUTUHAN POKOK NASIONAL

Pergerakan harga bahan-bahan kebutuhan pokok nasional selama periode 31 Mei 7 Juni 2013 secara mingguan dan apabila dibandingkan dengan harga pada akhir bulan sebelumnya (MTD) cukup variatif (Tabel 4). Sementara itu, dibandingkan dengan harga pada awal tahun 2013 (YTD) maupun secara tahunan (YOY) terjadi kecenderungan peningkatan pada sebagian besar harga bahan-bahan kebutuhan pokok nasional.

Telur ayam ras dan cabe merah biasa mengalami kenaikan harga terbesar dibanding komoditas lain, yakni sebesar 2,50 persen dan 1,02 persen secara mingguan dan apabila dibandingkan dengan harga pada akhir bulan sebelumnya. Kenaikan harga tersebut berpotensi memberikan sumbangan inflasi pada inflasi nasional bulan Juni 2013.

Bawang merah secara mingguan dan apabila dibandingkan dengan harga pada akhir bulan sebelumnya mengalami penurunan harga terbesar dibanding komoditas lain, yakni sebesar 4,16 persen. Penurunan harga bawang merah tersebut berpotensi memberikan sumbangan deflasi pada inflasi nasional bulan Juni 2013.

Apabila dibandingkan dengan harga pada awal tahun 2013, bawang merah, cabe merah biasa, dan cabe merah keriting mengalami lonjakan harga sebesar 72,78 persen, 70,23 persen, dan 67,17 persen. Sedangkan secara tahunan harga ketiga komoditas tersebut juga meningkat sebesar 65,20 persen, 30,70 persen, dan 28,26 persen.

PERKEMBANGAN KEBIJAKAN MONETER NASIONAL Hingga awal bulan Juni 2013, Bank Indonesia masih tetap

mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen. Tingkat suku bunga acuan tersebut dianggap masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2013 dan 2014 sebesar 4,5 persen 1 persen. Meski pada bulan April dan Mei 2013 terjadi deflasi secara bulanan, BI tetap mewaspadai tekanan inflasi dari kenaikan ekspektasi inflasi terkait dengan rencana kenaikan harga BBM yang tengah disiapkan oleh pemerintah. BI bersama pemerintah terus berupaya menekan defisit transaksi berjalan akibat impor BBM yang terus meningkat. Di sisi lain BI bersama pemerintah juga berusaha menekan potensi inflasi jangka pendek harga pangan (volatile food) dan mengamankan pasokan dan distribusi barang melalui forum TPI (Tim Pengendalian Inflasi) dan TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) dan kebijakan impor hortikultura.

BI akan menerapkan bauran kebijakan dengan kebijakan nilai tukar, likuiditas, hingga makro prudensial. BI juga akan melanjutkan operasi moneter melalui penyerapan ekses likuiditas yang lebih besar ke tenor jangka panjang. Hal ini juga dimaksudkan untuk mendukung kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan tingkat fundamentalnya.

Kebijakan ini didukung dengan langkah-langkah lanjutan pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing (valas), antara lain dengan memperkuat mekanisme intervensi valas, mempublikasikan kurs referensi spot Rupiah/Dollar AS di pasar domestik dalam waktu dekat, dan menerapkan Term Deposit (TD) valas.

BI juga berusaha mendorong penggunaan uang elektronik atau e-money. Namun, upaya ini belum berdampak banyak terhadap penurunan jumlah uang tunai atau kartal. Dalam 5 tahun terakhir 2008-2012, jumlah uang kartal masih naik rata-rata 14,92 persen per tahunnya.

Sumber:

Bloomberg www.reuters.com

www.bi.go.id www.kompas.com

www.kemendag.go.id www.detik.com

www.analisadaily.com

PenanggungJawab: Ir. Sidqy LP Suyitno, MA

Tim Penyusun:

Muhammad Fahlevy, SE, MA Maria Fransisca Erlina Dewi, SE

http://www.reuters.com/http://www.bi.go.id/http:/...