Cerebrovascular Disease

  • Published on
    17-Oct-2015

  • View
    38

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ppt cerebrovaskular disease

Transcript

<ul><li><p>Cerebrovascular disease</p></li><li><p>Nama kelompok :Erisky P.(121.0033)Geovani Anggasta ( 121.0041)Renny Susanti(121.0083)Rizky Adista(121.0091)Sujiati(121.0101)Vebby Rizta V(121.0103)</p></li><li><p>Definisi Cerebrovasculer disease (CVD) Gangguan fungsi dari susunan saraf pusat yang disebabkan adanya gangguan proses suplai darah ke otak.</p></li><li><p>Klasifikasi CVD menurut perjalanan penyakit atau stadiumTIA atau (serangan iskemik sementara) gangguan neurologis lokal yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.Stroke involusi. Stroke yang terjadi masih terus berkembang, gangguan neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari.Stroke complete. Gangguan neurologis yang timbul sudah menetap atau permanen. Sesuai dengan istilahnya stroke complete dapat diawali oleh serangan TIA berulang.</p></li><li><p>Etiologi CVDPecahnya pembuluh darah otak sebagian besar diakibatkan oleh rendahnya kualitas pembuluh darah otak. Sehingga dengan adanya tekanan darah yang tinggi pembuluh darah mudah pecah.</p></li><li><p>Trombosis pembuluh darah (trombosis serebri)Emboli dari jantung (emboli serebri)HemoragikHipoksia UmumHipoksia lokal</p></li><li><p>Pemeriksaan diagnosisAngiografi serebralCT ScanPungsi LumbalMRIUltrasonografi DopplerEEG</p></li><li><p>Pemeriksaan laboratoriumPungsi lumbal (atas indikasi)EKGRadiologi</p></li><li><p>KomplikasiKomplikasi ini dapat dikelompokkan berdasarkan:Berhubungan dengan immobilisasiBerhubungan dengan paralisisBerhubungan dengan kerusakan otakHidrocephalusHipoksia serebralPenurunan aliran darah serebralEmbolisme serebral (brunner &amp; suddarth, 2002).</p></li><li><p>ASUHAN KEPERAWATAN CEREBROVASCULER DISEASE (CVD)</p></li><li><p>Pengkajian</p><p>Aktivitas/istirahat Sirkulasi Intergritas Ego Eliminasi</p><p>Makanan/ cairan Neuro Sensori </p></li><li><p>Diagnosa keperawatanRisiko Tinggi Terhadap Kerusakan Komunikasi Verbal b.d Afasia.</p><p>Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh b.d Disfagia.</p><p>Risiko Tinggi terhadap Perubahan Integritas Kulit b.d Inkontinensia urine dan feses.</p><p>Resiko Tinggi terhadap Cedera b.d Meluasnya gangguan perfusi jaringan serebral.</p><p>Resiko tinggi terhadap bersihan jalan nafas tidak efektif b.d turunnya tingkatb kesadaran</p><p>Resiko terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan dirumah b.d defisit sensorik atau motorik</p></li><li><p>Internvensi keperawatanDx. Keperawatan : Risiko Tinggi Terhadap Kerusakan Komunikasi Verbal b.d Afasia</p><p>Lakukan tindakan-tindakan yang tepat yang memungkinkan pasien untuk mengkomunikasikan kebutuhannya pada jenis afasianya. Antisipasi kebutuhan-kebutuhan pasien perlihatkan kesabaran. Hindari membuat pasien tergesa-gesa. Teruskan untuk menjelaskan tindakan-tindakan yang dilakukan meskipun mungkin pasien tidak mengerti.Lakukan rujukan kepada terapi wicara bila perlu.Gantungkan Kardex dan sistem interkom dengan Gangguan Komunikasi </p></li><li><p>Lanjutan Dx. Keperawatan : Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh b.d Disfagia.</p><p>Bila terjadi disfagia, tempatkan pasien pada posisi tegak dan tempatkan makanan dibalik lidah untuk mempermudah menelan. Berikan makanan halus. Bila terjadi aspirasi dengan pemberian makanan per oral gunakan selang NGT untuk pemberian makan sesuai program.</p><p>Timbang berat badan seminggu sekali.</p><p>Evaluasi kemampuan pasien untuk makan sendiri. Berikan bantuan bila diperlukan.</p></li><li><p>Lanjutan dx. Keperawatan : Risiko Tinggi terhadap Perubahan Integritas Kulit b.d Inkontinensia urine dan feses</p><p>Pertahankan agar kulit tetap bersih dan kering. Pada pria, gunakan kondom kateter atau celana sekali pakai. Bersihkan dan amati kulit penis. Kenakan kembali kondom kateter yang bersih dan hubungkan dengan tong penampung urine. Hindari kondom kateter bila menyebabkan iritasi kulit.</p></li><li><p>Lanjutan Dx. Keperawatan : Resiko Tinggi terhadap Cedera b.d Meluasnya gangguan perfusi jaringan serebral.Selama fase akut:Pantau:Hasil analisa gas darah arteri (GDA)Status neurologis setiap 2jam dalam 48jam, kemudian setiap 4jam sekali.Tanda-tanda vital setiap 2jam dalam 48jam, kemudian setiap 4jam sekali.Status umum setiap 8jam.Pemeriksaan EKG dengan frekuensi sering.Masukan dan haluaran setiap 8jam, atau tiap jam bila jumlah haluaran urine dalam 8jam kurang dr 240cc.</p></li><li><p>Beritahu dokter bila ada perubahan status neurologis dari batas-batas normal.Pasang pemantau EKG untuk memantau secara terus-menerus kondisi jantung. Pasang kertas EKG setiap 8jam atau bila perlu kalau dideteksi adanya aritmia.Pasang kateter foley sesuai program. Lakukan perawatan kateter dua kali sehari sesuai dengan ketentuan dan prosedur.Berikan antihipertensi sesuai program dan evaluasi efektivitasnya.CVD dengan pendarahan:Berikan asamaminokaproik atau amicar sesuai program.Beritahu dokter bila anda keluhan sakit, nyeri dada yang tiba-tiba atau dispnea, atau tekanan darah turun disertai meningkatnya denyut nadi.Lakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi tekanan intrakranial, termasuk mempertahankan tirah baring pada posisi setengah duduk, mengurangi stimulasi lingkungan, dan memberikan pelunak fases sesuai program. </p></li><li><p>7. CVD dengan trombosis:Berikan obat-obat anti koagulan dan anti trombosit sesuai program dan evaluasi efektivitasnya.Beritahu dokter bila PT dan PTT melebihi nilai batas tertinggi maupun terendah.Laporkan tanda-tanda pendarahan termasuk etistaksis, hematuria, ekimosis, petekie, dan melena.Siapkan pemberian protamin vulvat untuk kelebihan heparin dan vitamin K untuk kelebihan koumadin.</p><p>8. CVD karen oklusi karotisSiapkan untuk endaterektomi sesuai program.</p></li><li><p>Lanjutan Dx. Keperawatan : Resiko tinggi terhadap bersihan jalan nafas tidak efektif b.d turunnya tingkatb kesadaran</p><p>Pantau:Hasil analisa GDA Kondisi pernafasan setiap 4jam.</p><p>Bila pasien koma dan lidah jatuh kebelakang sehingga menutup jalan nafas, pasang mayo (pipa nafas peroral). Lakukan penghisapan bila perlu pertahankan pasien dalam posisi miring.</p><p>Berikan tambahan oksigen lewat kanul hidung sesuai program. </p></li><li><p>Lanjutan Dx. Keperawatan : Resiko terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan dirumah b.d defisit sensorik atau motorik</p><p>Evaluasi kebutuhan pasien akan kelanjutan perawatan dan kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dirumah.Ijinkan pasien atau keluarga untuk mengungkapan perasaanya tentang perubahan gaya hidup mereka sebagai akibat dari kondisinya. Rujuk mereka kepada kelompok-kelompok dukungan dimasyarakat bila ada.Berikan informasi tentang obat yang harus diberikan dirumah. Termasuk tujuan, daya kerja, dosis, jadwal dan efek samping.Sediakan petunjuk tertulis untuk kontrol lanjutan dan perawatan dirumah.</p></li><li><p>INTERVENSI BERDASARKAN CRITICAL REVIEW JURNAL</p></li><li><p>TERAPI LATIHAN DI AIR BAGI PENDERITA STROKETerapi latihan adalah latihan yang terdiri gerakan tubuh atau bagian tubuh tertentu untuk mengatasi gangguan atau memperbaiki fungsi. Menurut Suharto yang sebagai dokter spesialis olahraga, renang merupakan salah satu terapi air {hydrotherapy), bagian dari proses penyembuhan saraf yang terganggu atau bahkan rusak, seperti penderita stroke. Tujuan terapi latihan di air adalah membantu mempercepat pemulihan. Proses penyembuhan dalam air merangsang saraf sensorik, lalu merangsang sel-sel otak. Pada penderita stroke, waktu pemulihan tergantung berat-ringan dan jenis strokenya, apakah akibat perdarahan atau penyumbatan. Gerakan yang dilakukan pada penderita stroke adalah secara rileks, sesuai kemampuan, dan bertahap. Selain jenis penyakitnya, pemulihan stroke juga bergantung dari motivasi pasien sendiri. </p></li></ul>