Chapter4 Communicating Across 27

  • Published on
    14-Jul-2015

  • View
    259

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>BAB 4 KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Komunikasi adalah faktor penting dalam manajemen lintas-budaya, khususnya dalam mengatasi persoalan sifat hubungan orang, yang berisi motivasi, leadership, interaksi kelompok dan negosiasi. Budaya dibawa dan diulang lewat komunikasi di satu bentuk atau bentuk lainnya. Budaya dan komunikasi bisa saling terkait, bahkan dianggap sinonim. Dengan memahami hubungan ini, manajer bisa menghasilkan manajemen lintas-budaya yang konstruktif. Komunikasi, baik dalam bentuk tulisan, bicara, mendengar, atau lewat Internet, adalah bagian dari peran manajer, dan menguras mayoritas waktu manajer dalam kerjanya. Studi oleh Mintzberg menemukan betapa pentingnya komunikasi lisan. Dia menemukan bahwa manajer menghabiskan 50 dan 90 persen waktunya bicara ke orang. Kemampuan manajer dalam komunikasi efektif lintas-budaya bisa menentukan kesuksesan transaksi bisnis internasional atau output angkatan kerjanya. Perlu untuk memecah elemen dalam proses komunikasi agar kita bisa memahami isu lintas-budaya dan memaksimalkan proses komunikasi lintas-budaya itu. PROSES KOMUNIKASI Istilah komunikasi mendeskripsikan proses pembagian makna dengan mengirim pesan lewat media seperti kata, perilaku, atau artifak materi. Manajer melakukan komunikasi untuk mengkoordinasi aktivitas, menyebarkan informasi, memotivasi orang, dan menegosiasi rencana masa depan. Penting bagi penerima untuk menginterpretasikan makna dari komunikasi dalam cara yang diinginkan pengirim. Sayangnya, proses komunikasi berisi tahap yang bisa mempengaruhi makna. Apapun yang bisa melemahkan komunikasi makna disebut noise. Sebab utama dari noise berasal dari fakta bahwa pengirim dan penerima</p> <p>1</p> <p>masing-masing berada di dunia privat yang menjadi ruang hidupnya. Konteks dunia privat ini, berdasarkan budaya, pengalaman, hubungan, nilai dan sebagainya, menentukan interpretasi makna dalam komunikasi. Orang menyaring, atau memahami secara selektif, pesan yang konsisten dengan harapan dan persepsi realita dan juga nilai dan norma perilakunya. Semakin berbeda budayanya, semakin besar kecenderungan misinterpretasi. Samovar, Porter dan Jain mengatakan bahwa faktor budaya bisa mempengaruhi proses komunikasi: Budaya bukan hanya menentukan siapa yang bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana cara melakukan komunikasi, tapi juga membantu menentukan bagaimana cara orang mengatur pesan, memberikan makna ke pesan, dan kondisi ketika pesan harus dikirim, diberitahukan atau diinterpretasikan. Faktanya, perilaku komunikasi kita selalu menggunakan budaya. Budaya, karena itu, menjadi pondasi komunikasi. Ketika budayanya beragam, praktek komunikasi juga beragam. Komunikasi, karena itu, adalah proses kompleks yang menghubungkan atau membagi persepsi pengirim ke dan ruang penerima. hidup Pengirim yang perseptif penerima membangun jembatan penerima. Setelah</p> <p>menginterpretasikan pesan dan menarik keismpulan dari maksud pengirim, dia mengingat dan mengirim lagi responnya, sehingga membuat komunikasi menjadi proses siklus. Proses komunikasi dengan cepat berubah sebagia imbas dari perkembangan teknologi. Karena itu, ini membawa bisnis global ke laju pertumbuhan yang fenomenal. Noise Budaya Dalam Proses Komunikasi Karena fokusnya diberikan ke komunikasi lintas-budaya efektif, maka penting bisa memahami variabel budaya apa yang menyebabkan noise di proses</p> <p>2</p> <p>komunikasi. Pengetahuan tentang noise budaya variabel budaya yang melemahkan komunikasi makna membuat kita mengambil tindakan mengurangi noise dan meningkatkan komunikasi. Ketika anggota satu budaya mengirim pesan ke anggota budaya lain, komunikasi lintas-budaya bisa terjadi. Pesan ini berisi makna yang memang diinginkan encoder (pengirim). Ketika menjangkau penerima, meski begitu, ini menghasilkan perubahan yang mana budaya decoder (penerima) menjadi bagian dari makna. Perhatikan atribusi perilaku yang berbeda di setiap partisipan. Atribusi adalah proses ketika orang mencari penjelasan tentang perilaku orang lain. Ketika sadar bahwa mereka tidak memahami satu sama lainnya, mereka menyalahkan orang lain dengan ungkapan bodoh dan tolol. Bagaimana cara menghindari ini? Kita tidak punya banyak informasi tentang orang atau konteks situasi, tapi kita bisa mempelajari variabel yang bisa digunakan sebagai basis analisis. HUBUNGAN BUDAYA-KOMUNIKASI Bagian berikut akan mengulas beberapa elemen budaya yang mempengaruhi komunikasi. Kondisi saat orang mampu melakukan komunikasi efektif ditentukan oleh sama atau tidaknya harapan budaya orang lain. Meski begitu, gap budaya bisa diatasi dengan mempelajari dan memahami variabel ini dan mencari cara menyesuaikan dengan itu. Kepercayaan dalam Komunikasi Komunikasi efektif, dan kolaborasi aliansi antar bangsa, ditentukan oleh pemahaman informal antar pihak yang didasarkan pada kepercayaan antar mereka. Meski begitu, makna kepercayaan dan cara ini dibentuk dan dikomunikasikan bisa berbeda antar masyarakat. Di China dan Jepang, contohnya, transaksi bisnis didasarkan pada network hubungan jangka panjang berdasarkan kepercayaan, bukan kontrak formal dan hubungan yang tipikal</p> <p>3</p> <p>United States. Ketika ada kepercayaan antar pihak tersebut, pemahaman bisa muncul dalam komunikasi. Pemahaman ini memberikan keuntungan ke bisnis, termasuk mendorong komunikator mengesampingkan perbedaan budaya dan meminimkan masalah. Ini membuat komunikator bisa menyesuaikan diri ke kondisi tidak terduga dengan sedikit konflik. Ini juga membantu menciptakan komunikasi terbuka yang akan menukar ide dan informasi. Dari penelitian tentang kepercayaan di kolaborasi global, John Child memberikan panduan pembentukan kepercayaan: Menciptakan basis jelas untuk keuntungan mutual. Harus ada komitmen realistik dan intensi baik untuk menghormati itu. Meningkatkan prediktabilitas: Berusaha menyelesaikan konflik dan menjaga komunikasi agar terbuka. Menghasilkan ikatan mutual lewat sosialisasi dan kontak yang ramah. Apa yang bisa diantisipasi manajer untuk menghasilkan level kepercayaan di dalam komunikasinya dengan orang di negara lain? Jika eksperimen didasarkan pada seberapa besar keterpercayaan ke seseorang, maka ini berbeda berdasarkan apakah ada atau tidak budaya yang mendukung norma dan nilai yang membuat orang harus bertindak kredibel. Apakah ada perbedaan antar masyarakat dalam mengukur kepercayaan? Ada beberapa wawasan dalam nilai budaya ketika menjelaskan kepercayaan. Hampir semua masyarakat mengatakan bahwa banyak orang bisa dipercaya, tapi yang berbeda adalah kadar kepercayaan yang diberikannya. GLOBE Project Hasil dari penelitian GLOBE tentang budaya memberikan wawasan tentang gaya dan harapan komunikasi yang tepat dan yang bisa digunakan manajer. Temuan dari penelitian tersebut (Javidan dan House) adalah sebagai berikut. Bagi orang yang masyarakatnya menghormati orientasi kinerja contohnya,</p> <p>4</p> <p>United States memberikan informasi obyektif dalam cara langsung dan eksplisit adalah sebuah cara penting untuk komunikasi. Ini berbeda dari Rusia atau Yunani karena mereka rendah dalam orientasi kinerja, dan karena itu, lebih suka pendekatan tidak langsung. Orang dari negara yang rendah dalam ketegasan, seperti Swedia, juga kurang suka keterbukaan. Preferensinya adalah wacana dua-arah dan hubungan ramah. Orang dengan dimensi humanis tinggi, seperti di Irlandia dan Philipina, menghindari konflik dan cenderung melakukan komunikasi dengan tujuan mendukung orang, bukan meraih hasil atau target. Ini berbalik dengan orang dari Perancis dan Spanyol yang agendanya adalah pencapaian tujuan. Kita perlu memahami implikasi gaya komunikasi dari temuan penelitian tentang perbedaan budaya antar masyarakat. Manajer global pintar tahu bahwa budaya dan komunikasi berhubungan erat dan bahwa mereka harus bersiap dengan itu. Banyak dari mereka memilih melihat dan mendengar cara komunikasi orang lain, dan mengikuti arahannya. Variabel Budaya Dalam Proses Komunikasi Di level berbeda, perlu memahami variabel budaya yang mempengaruhi proses komunikasi dengan mempengaruhi persepsi seseorang. Varibael ini bisa berupa sikap, organisasi sosial, pola pikir, peran, bahasa (lisan atau tulisan), komunikasi non-verbal (termasuk perilaku kinesik, proksemik, para-bahasa, dan bahasa obyek), dan waktu. Meski variabel ini didiskusikan secara terpisah, efeknya bisa saling terkait dan tidak bisa dipisah. Hecht, Andersen dan Ribeau mengatakan bahwa Encoder dan decoder mengolah petunjuk non-verbal menjadi gestalt konseptual yang multi-channel. Sikap. Kita semua tahu bahwa sikap mendasari cara kita bertindak melakukan komunikasi, dan mempengaruhi cara kita menginterpretasikan pesan dari orang lain. Sikap ethnosentris adalah sumber noise dalam komunikasi lintas-</p> <p>5</p> <p>budaya. Orang Amerika dan Yunani bisa berusaha menginterpretasikan dan membawa makna berdasarkan pengalaman mereka dalam jenis transaksi yang ditemui. Orang Amerika bisa salah dalam men-stereotype-kan pegawai Yunani. Masalah ini, stereotyping, terjadi ketika orang berasumsi bahwa setiap anggota masyarakat atau subbudaya memiliki karakteristik atau sifat sama. Stereotyping adalah sebab salah paham dalam komunikasi lintas-budaya. Ini adalah cara yang destruktif dalam memahami orang. Manajer pintar adalah yang waspada dengan stereotyping dan melakukan hubungan dengan orang lain sebagai individu yang berbeda. Organisasi Sosial. Persepsi bisa dipengaruhi oleh perbedaan nilai, pendekatan atau prioritas yang dipertimbangkan organisasi sosial. Organisasi ini bisa dibuat berdasarkan bangsa, suku atau sekte agama, atau berisi anggota dari profesi tertentu. Contoh dari ini adalah serikat buruh. Pola Pikir. Kemajuan logika alasan bisa berbeda antar dunia, dan mempengaruhi proses komunikasi. Manajer tidak bisa berasumsi bahwa orang lain menggunakan proses alasan sama. Peran. Masyarakat bisa berbeda dalam persepsinya tentang peran manajer. Banyak perbedaan ini dihubungkan dengan persepsi mereka soal siapa yang membuat keputsan dan siapa yang bertanggungjawab ke apa. Orang Amerika berasumsi bahwa perannya sebagai otonomi, manajer dan adalah mendelegasikan manajemen tanggungjawab, mendukung mempraktekkan</p> <p>partisipatif. Dia menetapkan peran pegawai tanpa mempertimbangkan apakah pegawai memahami peran itu atau tidak. Kebiasaan pikir orang Yunani adalah bahwa manajer adalah atasan, dan harus memberikan perintah kapan pekerjaan diselesaikan. Dia menginterpretasikan perilaku Amerika sebagai yang merusak</p> <p>6</p> <p>kebiasaan pikir orang Yunani, dan karena itu, dia merasa bahwa atasan bisa dianggap bodoh bila memberikan perintah salah dan tidak memahami pencapaian yang dilakukan bawahan. Manajer harus mempertimbangkan perilaku yang diharapkan oleh pekerja Yunani, dan memainkan peran atau mendiskusikan situasi secara hati-hati. Bahasa. Bahasa lisan atau tulisan sering menjadi sebab mis-komunikasi, yang berawal dari ketidakmampuan orang dalam mengucapkan bahasa lokal, penterjemahan yang buruk atau terlalu literal, ketidakmampuan speaker untuk menjelaskan idiom, atau orang tidak memahami makna dari bahasa tubuh atau simbol tertentu. Di antara negar yang memiliki bahasa sama, masalah bisa muncul pada situasi dan kesan dari penggunaan bahasa. George Bernard Shaw mengatakan bahwa Inggris dan Amerika adalah dua bangsa yang berbahasa sama, dan masalah dari ini muncul di sub-budaya atau sub-kelompok. Lebih dari sekadar memberikan informasi obyektif, bahasa juga membawa pemahaman budaya dan sosial dari satu generasi ke lainnya. Contoh dari betapa pentingnya bahasa di masyarakat adalah 6.000 kata Arab untuk mendeskripsikan unta, dan 50 atau lebih klasifikasi salju yang digunakan Inuit, orang Eskimo di Kanada. Karena bahasa membawa budaya, teknologi dan prioritas, ini juga memecah dan melestarikan sub-budaya. Di India, 14 bahasa resmi dan banyak bahasa tidak resmi tetap digunakan, dan sekitar 800 bahasa diucapkan di benua Afrika. Karena keberagaman angkatan kerja di dunia, maka bisnis internasional harus menghadapi berbagai jenis bahasa. Manajer internasional, karena itu, membutuhkan interpreter bahasa lokal yang kompeten. Tugas terjemahan akurat untuk menjembatani gap budaya bukannya mudah. Selalu ada perbedaan interpretasi dan respon, bahkan meski telah menggunakan pakar dalam proses penterjemahan.</p> <p>7</p> <p>Bahkan terjemahan langsung kata-kata tertentu tidak menjamin kongruensi makna. Kesopanan dan keinginan mengatakan apa yang ingin didengar malah menciptakan noise di proses komunikasi. Penterjemahan yang jelas tidak lalu membuat orang paham apa yang dimaksud karena proses encoding bisa menutupi pesan sebenarnya. Bahasa sastra Arab yang dipenuhi dengan eksagerasi, elaborasi dan repetisi makna bisa dihubungkan ke bagaimana sesuatu dikatakan, bukan apa yang dikatakan. Dalam konteks supervisor Amerika dan pegawai Yunani, orang Amerika mungkin mengambil petunjuk dari bahasa tubuh pegawainya, yang mungkin memunculkan masalah dalam interpretasi makna. Bagaimana kemudian bahsa tubuh ini menciptakan noise? Komunikasi Non-Verbal. Perilaku yang berkomunikasi tanpa kata (meski sering disertai kalimat) disebut komunikasi non-verbal. Orang biasanya yakin dengan apa yang mereka lihat daripada yang didengar. Jadi, sebuah gambar bernilai lebih ribuan kali daripada kata. Studi menunjukkan bahwa pesan ini terjadi antara 65 dan 93 persen komunikasi. Variasi minor dalam bahas tubuh, ritme bicara, dan ketepatan waktu, contohnya, sering menimbulkan ketidakpercayaan dan mispersepsi pada situasi pihak lintas bangsa. Media dari komunikasi non-verbal dikategorikan menjadi empat tipe (1) perilaku kinesik, (2) proksemi, (3) para-bahasa, dan (4) bahasa obyek. Istilah perilaku kinesik adalah komunikasi lewat gerakan tubuh postur, isyarat badan, ekspresi wajah, dan kontak mata. Meski aksi tersebut universal, seringkali maknanya tidak demikian. Karena sistem kinesik dari makna adalah spesifik dan bisa dipelajari, ini tidak bisa digeneralisasikan antar budaya. Banyak orang di Barat tidak bisa menginterpretasikan banyak ekspresi wajah orang China, seperti menjulurkan lidah untuk terkejut, melebarkan mata untuk marah, dan mengosok telinga dan pipi sebagai wujud senang. Meski begitu, banyak orang di dunia memiliki tampilan emosi dasar</p> <p>8</p> <p>seperti marah, jijik, takut, bahagia, sedih, terkejut dan terhina . Banyak pebisnis dan pengunjung bereaksi negatif ke ekspresi wajah yang dirasa tidak tepat, tapi tanpa memahami makna budaya di balik itu. Dalam stuidi tentang negosiasi lintas-budaya, Graham menunjukkan bahwa orang Jepang merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan postur mata-kemata dari orang Amerika. Mereka diajar sejak kecil untuk menundukkan kepala sebagai sikap merendah, sedangkan respon orang Amerika adalah tetap melihat pembicara ketika diajak bicara. Perbedaan dalam perilaku mata (disebut okulesik) bisa merusak komunikasi jika ini tidak dipahami. Perilaku mata berisi perbedaan bukan hanya dalam kontak mata tapi juga menggunakan mata untuk membawa pesan lain, apakah itu menyenangkan atau tidak. Edward T. Hall, penulis karya klasik The...</p>