Contoh Kajian Situasi Unpad

  • Published on
    30-Oct-2015

  • View
    257

  • Download
    10

Embed Size (px)

DESCRIPTION

yyy

Transcript

<p>KAJIAN SITUASI DI RUANG KEMUNING LANTAI 5</p> <p>1. KARAKTERISTIK UNIT</p> <p>a. Visi RuangUsulan Visi ruangan</p> <p>Menjadi ruangan perawatan neurologi yang mampu memberikan asuhan keperawatan secara prima di RSUP Dr.Hasan Sadikin 2015.</p> <p>b. Misi Ruang</p> <p>Usulan Misi ruangan</p> <p>Memberikan asuhan keperawatan neurologi yang meliputi aspek biopsikososiospiritual dengan mengedepankan pelayanan yang cepat, tanggap, dan tepat. </p> <p>di tambahkan produktif, efektif dan efisien.</p> <p>c. Sifat Kekaryaan Ruang</p> <p>1) Fokus Telaah</p> <p>Bidang Pelayanan</p> <p>Merupakan pasien dewasa dengan usia lebih dari 14 tahun berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan dengan berbagai kelainan dan atau gangguan fisiologis pada sistem persarafan baik aktual maupun potensial yang memiliki indikasi rawat inap. Selain itu, ruangan ini juga menerima pasien titipan dari unit penyakit dalam maupun bedah. Unit ini merupakan unit pelayanan bagi pasien kelas III dengan bantuan dana kesehatan berupa GAKINDA dan JAMKESMAS.Bidang Pendidikan</p> <p>Adapun fokus telaah ruang rawat inap saraf (neuro) di Gedung Kemuning Lantai 5 RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung dalam bidang pendidikan adalah perawat, staff, pasien, keluarga pasien, dan juga mahasiswa praktik yang dinas atau berada di ruang rawat inap di Gedung Kemuning Lantai 5 RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung yang membutuhkan pengetahuan dan atau pengalaman dalam memenuhi kebutuhan pasien dengan gangguan sistem persarafan dan dampaknya bagi kondisi kesehatan pasien.</p> <p>Bidang Penelitian</p> <p>Dalam bidang penelitian, fokus telaah ruang rawat inap saraf (neuro) di Gedung Kemuning Lantai 5 RSUP Hasan Sadikin Bandung adalah individu, sekelompok individu, maupun institusi yang akan dan sedang menjalani riset/penelitian pada berbagai unsur yang ada di ruangan.</p> <p>2) Lingkup Garapan</p> <p>Bidang PelayananDalam bidang pelayanan, lingkup garapan di ruang rawat inap saraf (neuro) Gedung Kemuning Lantai 5 adalah pemenuhan kebutuhan dasar manusia berdasarkan fokus telaah medikal bedah, meliputi segala gangguan atau hambatan pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang terjadi akibat perubahan fisiologis pada system persarafan yang dialami oleh pasien.</p> <p>Bulan Mei 2012</p> <p>Jenis PenyakitJumlah PasienPersentase (%)</p> <p>Stroke6051, 28 % </p> <p>Meningitis1613, 67 %</p> <p>SOL1210, 26 %</p> <p>Myeloradiculopathy38, 55 %</p> <p>Myelopathy38, 55 %</p> <p>Tetanus10, 85 %</p> <p>Epileptikus10, 85 %</p> <p>Lain-lain10, 85 %</p> <p>Pasien Titipan2017, 09 %</p> <p>Berdasarkan data di atas tiga penyakit terbesar pada bulan Mei 2012 adalah penyakit stroke, meningitis, dan SOL. Menurut Doengoes, M.E. (2000) prioritas keperawatan pada pasien stroke adalah meningkatkan perfusi dan oksigenasi serebral yang adekuat, mencegah/meminimalkan komplikasi dan ketidakmampuan yang bersifat permanen, membantu pasien untuk menemukan kemandiriannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari, memberikan dukungan terhadap proses koping dan mengintegrasikan perubahan dalam konsep diri pasien, memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosisnya dan kebutuhan tindakan/rehabilitasi.Sedangkan prioritas keperawatan pada pasien infeksi serebral (meningitis) adalah memaksimalkan fungsi serebral dan perfusi jaringan, mencegah komplikasi/trauma, menghilangkan ansietas/memberikan dukungan emosional pada pasien/keluarga, nyeri menurun/minimal, memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan kebutuhasn akan pengobatan.</p> <p>Pada pasien SOL prioritas keperawatan adalah Bidang Pendidikan</p> <p>Lingkup garapan yang ada di ruang rawat inap saraf (neuro) Gedung Kemuning Lantai 5 dalam bidang pendidikan merupakan peningkatan kemampuan baik pada segi kognitif, afektif, maupun</p> <p>psikomotor dari peserta didik (perawat, staff, pasien, keluarga pasien, dan juga mahasiswa) dalam memenuhi kebutuhan pasien dengan gangguan sistem persarafan.</p> <p>Bidang Penelitian</p> <p>Memfasilitasi penelitian yang ada di ruang rawat inap saraf (neuro) Gedung Kemuning Lantai 5 demi meningkatkan pelayanan ruangan dan rumah sakit.</p> <p>3) Basis Intervensi</p> <p>Bidang PelayananBasis intervensi dalam bidang pelayanan di ruang rawat inap saraf (neuro) Gedung Kemuning Lantai 5 adalah ketidaktahuan, ketidakmampuan, dan ketidakmauan pasien maupun keluarga pasien untuk memenuhi kebutuhan dasar klien yang berhubungan dengan gangguan sistem persarafan.NO. PASIENDIAGNOSAMASALAH KDM YG MUNCUL</p> <p>1. Meningitis1. Infeksi</p> <p>2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan</p> <p>3. Defisit perawatan diri</p> <p>4. Gangguan integritas kulit</p> <p>2.Stroke1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>2. Gangguan ADL</p> <p>3. Ansietas</p> <p>3.SOL1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>2. Gangguan rasa nyaman nyeri : nyeri kepala</p> <p>3. Defisit perawatan diri</p> <p>4. Menser TB Grade I1. Gangguan rasa nyaman nyeri : nyeri kepala</p> <p>2. Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit</p> <p>5. Meningitis1. Gangguan integritas kulit</p> <p>6. Menser TB Grade II1. Gangguan rasa nyaman nyeri : nyeri kepala</p> <p>7. Stroke1. Gangguan mobilitas fisik</p> <p>8. Stroke1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan</p> <p>3. Gangguan mobilitas fisik</p> <p>4. Deficit perawatan diri</p> <p>9. Stroke1. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>10. Mieloradiculopaty1. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan</p> <p>3. Pola nafas tidak efektif</p> <p>11. Stroke1. Gangguan mobilitas fisik.</p> <p>12. Stroke1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>2. Gangguan mobilitas fisik.</p> <p>3. Gangguan komunikasi verbal.</p> <p>13. Stroke1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>2. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>3. Ansietas</p> <p>14. Tetanus1. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>2. Gangguan bersihan jalan nafas.</p> <p>3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan</p> <p>15. Stroke1. Pola nafas tidak efektif</p> <p>2. Nutrisi kurang dari kebutuhan</p> <p>3. Kekurangan volume cairan.</p> <p>16. Stroke1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>2. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>3. Ansietas</p> <p>17. Stroke1. Pola nafas tidak efektif</p> <p>2. Nutrisi kurang dari kebutuhan</p> <p>3. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>18. Stroke1. Pola nafas tidak efektif</p> <p>2. Nutrisi kurang dari kebutuhan</p> <p>3. Ganggauan pemenuhan ADL.</p> <p>19. Stroke1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>2. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>3. Gangguan integritas kulit</p> <p>20. SOL1. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>2. Gangguan mobilitas fisik</p> <p>21. Stroke1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhsn</p> <p>2. Gangguan pemenuhan ADL.</p> <p>22. SOL1. Ansietas</p> <p>23. Stroke1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>2. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>3. Ansietas</p> <p>24. Stroke1. Gangguan perfusi serbral.</p> <p>25. Stroke1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>2. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>3. Ansietas</p> <p>26. Menser TB1. Gangguan perfusi serebral</p> <p>27. Menser TB1. Risiko infeksi</p> <p>2. Gangguan pemenuhan ADL</p> <p>3. Ansietas</p> <p>28. Meningitis1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan</p> <p>29. Menbak1. Gangguan nutrisi</p> <p>2. Gangguan pemenuhan ADL.</p> <p>Kesimpulan :1. Diagnosa penyakit yang paling banyak ditemukan adalah : stroke, meningitis, dan SOL.2. Diagnosa keperawatan yang paling banyak ditemukan di Ruang Neurologi adalah:</p> <p>a. Gangguan pemenuhan ADL : 16 orang pasienb. Gangguan perfusi serebral : 11 orang pasien</p> <p>c. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan : 9 orang pasien</p> <p>d. Ansietas : 7 orang pasien</p> <p>e. Gangguan mobilitas fisik : 5 orang pasien</p> <p>3. Intervensi keperawatan yang biasanya diberikan perawat adalah : a. Gangguan pemenuhan ADL :</p> <p> Pemasangan NGT</p> <p> Pemasangan kateter</p> <p> Pemasangan infuse</p> <p>b. Gangguan perfusi serebral :</p> <p> Posisi head up 300 Kolaborasi untuk pemberian oksigen</p> <p> Kolaborasi pemberian obat</p> <p> Pemeriksaan tanda-tanda vital</p> <p>c. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan</p> <p> Pemasangan NGT</p> <p> Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai jenis dan jumlah diet pasiend. Ansietas</p> <p> Pemeriksaan TTV</p> <p> Mengajarkan teknik relaksasi </p> <p>e. Gangguan mobilitas fisik</p> <p> Mengajarkan ROM</p> <p>Bidang Pendidikan</p> <p>Adapun basis intervensi dalam bidang pendidikan di ruang rawat inap saraf (neuro) Gedung Kemuning Lantai 5 adalah ketidaktahuan, ketidakmampuan, dan ketidakmauan peserta didik (perawat, staff, pasien, keluarga pasien, dan mahasiswa) dalam usaha pemenuhan kebutuhan dasar manusia pada pasien dengan gangguan system persarafan.Bidang Penelitian</p> <p>Dalam bidang penelitian, basis intervensi di ruang rawat inap saraf (neuro) Gedung Kemuning Lantai 5 adalah menjadi lahan penelitian bagi individu, sekelompok individu, maupun institusi yang sedang dan akan melakukan penelitian pada berbagai unsur yang terdapat di ruangand. Model Layanan</p> <p>Metode yang digunakan di ruang rawat inap saraf (neuro) Gedung Kemuning Lantai 5 dalam memberikan asuhan keperawatan adalah metode tim yang dibagi dalam 2 tim. Namun dalam pelaksanaannya metode tim tidak dilaksanakan.</p> <p>e. Letak Ruang</p> <p>Lokasi ruang rawat inap saraf (neuro) Gedung Kemuning Lantai 5 terletak di bagian sayap kiri RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, berjauhan dengan beberapa sarana seperti UGD, Kamar Operasi, Laboratorium, Bank Darah, MMG, Unit Fisioterapi, dan Unit Radiologi. Unit layanan yang terdekat adalah HCU Gedung Kemuning, NCCU, dan Depo Farmasi. Denah terlampir.</p> <p>DATA YANG DITAMBAHKAN Jumlah ruang rawat</p> <p>Denah ruangan ruangan yang terdiri dari jarak ruangan ?</p> <p>STRATEGI : observasi jumlah ruangan</p> <p>observasi letak ruangan</p> <p>observasi jarak tiap ruangan</p> <p>f. Kapasitas Unit Ruang</p> <p>Ruangan rawat inap saraf (neuro) di Gedung Kemuning Lantai 5 memiliki kapasitas sebanyak 5 ruangan dengan tempat tidur sebanyak 40 tempat tidur yang siap digunakan yang terbagi menjadi 8 tempat tidur di setiap kamar.</p> <p>2. ANALISIS TERHADAP KLIENa. Karakteristik</p> <p>Karakteristik dari pasien di ruangan rawat inap saraf (neuro) Gedung Kemuning Lantai 5 adalah pasien dewasa dengan gangguan pada system persarafan yang diindikasikan untuk dirawat inap.</p> <p> Berdasarkan Kelompok Usia:</p> <p>Tabel Karakteristik Pasien di Ruang Rawat Inap Saraf (Neuro) RSHS Bandung Berdasarkan Kelompok Usia Pada Bulan Maret-Mei 2012</p> <p> No.Kelompok UsiaF%</p> <p>1.&lt; 21 Tahun247,8%</p> <p>2.21-40 Tahun7524,4%</p> <p>3.41-60 Tahun11938,8%</p> <p>4.&gt; 60 Tahun8828,7%</p> <p>5.Tidak terkaji10,3%</p> <p>JUMLAH307100%</p> <p>Sumber: Administrasi Gd. Kemuning Lt. V</p> <p> Berdasarkan Jenis Kelamin:</p> <p>Tabel Karakteristik Pasien di Ruang Rawat Inap Saraf (Neuro) RSHS Bandung Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Bulan Maret-Mei 2012No.Jenis KelaminF%</p> <p>1.Laki-laki14447%</p> <p>2.Perempuan16353%</p> <p>JUMLAH307100%</p> <p>Sumber: Administrasi Gd. Kemuning Lt. V</p> <p> Berdasarkan Cara Pembayaran:</p> <p>Tabel Karakteristik Pasien di Ruang Rawat Inap Saraf (Neuro) RSHS Bandung Berdasarkan Cara Pembayaran Pada Bulan Maret-Mei 2012 </p> <p>No.Cara PembayaranF%</p> <p>1.GAKINDA RSHS 113,6%</p> <p>2.GAKINDA Kota9029,4%</p> <p>3.GAKINDA Kabupaten5517,9%</p> <p>4.GAKINDA Bandung Barat62,0%</p> <p>5.JAMKESMAS13744,6%</p> <p>6.Tidak Terkaji82,6%</p> <p>JUMLAH307100%</p> <p>Sumber: Administrasi Gd. Kemuning Lt. V</p> <p>b. Tingkat Ketergantungan</p> <p> Minimal Care</p> <p>: 6 orang Partial Care</p> <p>: 14 orang Total Care</p> <p>: 10 orangFormat observasi dan wawancara klasifikasi pasien berdasarkan derajat ketergantungan (Teori D. Orem)Tingkat KetergantunganItemYaTidak</p> <p>Minimal Care1. pasien bisa mandiri/ hampir tidak memerlukan bantuan:</p> <p>a. mampu naik turun tempat tidur</p> <p>b. mampu ambulasi dan berjalan sendiri</p> <p>c. mampu makan dan minum sendiri</p> <p>d. mampu mandi sendiri/ mandi sebagian dengan bantuan</p> <p>e. mampu membersihkan mulut( sikat gigi) sendiri</p> <p>f. mampu berpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan</p> <p>g. mampu BAB dan BAK dengan sedikit bantuan</p> <p>2. status psikologis stabil</p> <p>3. pasien dirawat untuk prosedur diagnostik </p> <p>4. operasi ringan</p> <p>Partial Care1. Pasien memerlukan bantuan perawat sebagian:</p> <p>a. membutuhkan bantuan satu orang untuk naik turun tempat tidur</p> <p>b. membutuhkan bantuan untuk ambulasi/ berjalan</p> <p>c. membutuhkan bantuan untuk menyiapkan makanan</p> <p>d. membutuhkan bantuan untuk makan (disuapi)</p> <p>e. membutuhkan bantuan untuk melakukan kebersihan mulut</p> <p>f. membutuhkan bantuan untuk berpakaian dan berdandan</p> <p>g. membutuhkan bantuan untuk BAB dan BAK (tempat tidur/kamar mandi)</p> <p>2. Pasca Operasi Minor (24 jam)</p> <p>3. melewati fase akut dari operasi mayor</p> <p>4. fase awal dari penyembuhan</p> <p>5. observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam</p> <p>6. gangguan emosional ringan</p> <p>Total Care1. pasien memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu perawat yang lebih lama</p> <p>a. membutuhkan 2 orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat tidur ke kereta dorong / kursi roda</p> <p>b. membutuhkan latihan pasif</p> <p>c. kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi melalui therapi intravena (infus) atau NGT (sonde)</p> <p>d. membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut</p> <p>e. membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan</p> <p>f. dimandikan perawat</p> <p>g. dalam keadaan inkontenensia, pasien menggunakan kateter</p> <p>2. setelah 24jam pasca operasi mayor</p> <p>3. pasien dalam keadaan tidak sadar</p> <p>4. keadaan pasien tidak stabil</p> <p>5. observasi TTV setiap kurang dari 2 jam</p> <p>6. perawatan Luka bakar</p> <p>7. Perawatan Kolostomi</p> <p>8. Menggunakan alat bantu pernafasan (respirator</p> <p>9. Menggunakan WSD</p> <p>10. irigasi kandung kemih secara terus menerus</p> <p>11. menggunakan alat traksi (skeletal traksi)</p> <p>12. fraktur atau pasca operasi tulang belakang/leher</p> <p>13. gangguan emosional berat, bingung, dan disorientasi.</p> <p>3. ANALISIS UNIT LAYANAN KEPERAWATAN</p> <p>a. Flow of Care</p> <p> Strategi : Wawancara</p> <p> Alat Ukur : Format Wawancara</p> <p> Alur pelayanan administrasi </p> <p>1) Pasien </p> <p>i. Apakah pasien sudah mengetahui alur pelayanan administrasi?</p> <p>ii. Jika sudah, apakah pasien mengerti mengenai alur tersebut atau malah membingungkan klien?</p> <p>iii. Keefektifan alur yang sudah ditempel?</p> <p>2) Perawat</p> <p>i. Apakah perawat sudah mensosialisasikan tentang alur pelayanan administrasi?</p> <p>ii. Bagaimana cara perawat mensosialisasikan alur pelayanan admisnistrasi kepada pasien?</p> <p>iii. Jika belum, apa kendalanya?</p> <p>iv. Apakah sudah mempunyai format discharge planning?</p> <p>v. Jika ada, apakah sudah dilaksanakan dan sudah optimal atau belum?</p> <p>vi. Jikaada namun tidak dilaksanakan, apa kendalanya?</p> <p>vii. Kalo belum ada, direncanakan akan membuat</p> <p>b. Manajemen Unit</p> <p> Kriteria Minimal Ruang Rawat </p> <p>1. Strategi : Observasi</p> <p>2. Data yang diperoleh sebelumnya: </p> <p>1) Ruang kurang bersih dan sedikit berbau</p> <p>2) Penerangan cukup, sirkulasi baik namun masih berbau</p> <p>3) Lantai tidak licin, ruangan luas</p> <p>4) Warna dan design ruangan nyaman</p> <p>5) Masih menyimpan barang-barang berbahaya di ruang perawatan seperti spuit dan bekas ampul</p> <p>Data tambahan : </p> <p>6) Kerapian ruangan (penataan dokumentasi)</p> <p>3. Alat ukur : lembar observasi</p> <p>a. Ruangan bersih tidak bersih</p> <p> rapi tidak rapi</p> <p> wangi berbau</p> <p>b. Penerangan cukup kurang </p> <p>c. Sirkulasi baik tidak baik</p> <p>4. Lantai Licin tidak licin</p> <p>5. Warna dan design ruangan Menarik tidak menarik</p> <p>6. Barang barang berbahaya dalam ruang perawatan Ada perawatan kurang</p> <p> O...</p>