convert penyebab hipertensi.docx

  • Published on
    07-Dec-2015

  • View
    5

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hipertensi

Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding arteri ketika darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah mirip dengan tekanan air (darah) di dalam pipa (arteri). Makin kuat aliran yang keluar dari keran (jantung) makin besar tekanan air terhadap dinding pipa. Jika pipa tertekuk atau mengecil diameternya (seperti pada arterosklerosis), maka tekanan darah akan sangat meningkat. Tekanan darah dapat berubah-ubah sepanjang hari, sesuai dengan situasi. Tekanan darah akan meningkat dalam keadaan gembira, cemas, atau sewaktu melakukan aktivitas fisik. Setelah situasi ini berlalu, tekanan darah akan kembali normal. Apabila tekanan darah tetap tinggi maka disebut tekanan darah tinggi atau hipertensi (Hull, 1996).Penyakit hipertensi atau yang lebih dikenal penyakit darah tinggi adalah penyakit kronik akibat desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah. Hipertensi berkaitan dengan meningkatnya tekanan pada arterial sistemik, baik diastolik maupun sistolik, atau kedua-duanya secara terus-menerus (Hull, 1996). Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah 140 mmHg (tekanan sistolik) dan/atau 90 mmHg (tekanan diastolic) (Joint National Committee on Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High Pressure VII, 2003). Tekanan sistolik menunjukkan fase darah yang dipompa oleh jantung dan tekanan diastolik menunjukkan fase darah kembali ke dalam jantung (Depkes, 2006).

Prevalensi dan determinasi..., Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

2.2 Epidemiologi Hipertensi

Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang mengganggu kesehatan masayarakat. Umumnya, terjadi pada manusia yang berusia setengah baya (> 40 tahun). Namun banyak yang tidak menyadari bahwa mereka menderita hipertensi akibat gejalanya tidak nyata. Pada stadium awal, belum menimbulkan gangguan yang serius. Sekitar 1,8% - 28,6% penduduk dewasa penderita hipertensi. Prevalensi hipertensi di seluruh dunia diperkirakan antara 15- 20% (Depkes, 2006).Prevalensi hipertensi lebih besar ditemukan pada pria, daerah perkotaan, daerah pantai dan orang gemuk. Pada usia setengah baya dan muda, hipertensi ini lebih banyak menyerang pria daripada wanita. Pada golongan umur 55-64 tahun, penderita hipertensi pada pria dan wanita sama banyak. Pada usia 65 tahun ke atas, penderita hipertensi wanita lebih banyak daripada pria (Depkes, 2006). Penelitian epidemiologi membuktikan bahwa tingginya tekanan darah berhubungan erat dengan kejadian penyakit jantung. Sehingga pengamatan pada populasi menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah dapat menurunkan terjadinya penyakit jantung (Depkes, 2006). Seseorang penderita hipertensi mempunyai resiko terserang penyakit jantung koroner 5 kali lebih besar (Depkes, 2006).

2.3 Klasifikasi Hipertensi

Tekanan sistolik dan diastolik dapat bervariasi pada tingkat individu. Namun disepakati bahwa hasil pengukuran tekanan darah yang sama atau lebih besar dari 140/90 mmHg adalah hipertensi (WHO, 1999 dan JNC, 2003). Hipertensi menurut WHO-ISH tahun 1999 dapat dilihat pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Klasifikasi hipertensi menurut WHO-ISH tahun 1999KategoriTekanan SistolikTekanan Diastolik (mmHg)(mmHg)Optimal 200 mg.dl sesudah pemberian beban glukosa 75 g. Gejala klasik DM yaitu seperti sering kencing, cepat lapar, sering haus, berat badan menurun cepat tanpa penyebab yang jelas (Depkes, 2006).

Perjalanan penyakit diabetes melitus dipengaruhi oleh berbagai faktor resiko yaitu faktor resiko yang tidak dapat diubah (umur, jenis kelamin, keturunan, suku, dan budaya/adat istiadat), faktor resiko perilaku yang dapat diubah (merokok, konsumsi alkohol, kurang aktifitas fisik, kurang konsumsi serat, konsumsi lemak tinggi, dan konsumsi kalori tinggi), faktor resiko lingkungan (kondisi ekonomi daerah, lingkungan sosial seperti modernisasi, dan status sosial-ekonomi), dan faktor resiko fisik dan biologi (obesitas, hipertensi, hiperglikemia, toleransi glukosa terganggu, dan dislipidemia) (Depkes, 2006).Dalam sebuah penelitian kohort prospektif di Dubbo, New South Wales, yang melibatkan 1233 laki-laki dan 1572 perempuan usia lanjut, diamati dan dilakukan analisa survivalnya. Pada akhir penelitan, peneliti menyimpulkan bahwa berkurangnya waktu survival pada penduduk usia lanjut disebabkan karena merokok, diabetes, dan hipertensi berat. Hazard rasio diabetes melitus pada laki-laki sebesar 1,61 (95%CI 1,28-2,03) dan pada perempuan sebesar 1,94 (95%CI 1,49-2,53) (Simon, et.al., 2005). Pada mereka yang berkadar insulin tinggi karena diabetes, menyulitkan jantung memompa darah karena darah menjadi lebih kental. Akibatnya, tekanan harus ditingkatkan agar suplai darah tetap terjamin. Lama-lama, jadilah tekanan darah tinggi permanen. Dallas Heart Disease Prevention Project, yang dimulai tanggal 1 Juli 2000, telah mewawancara lebih dari 4000 partisipan di kota Dallas. Dari sejumlah itu, sebanyak 1186 merupakan kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi dan dari sebanyak itu, 417 orang terdiagnosis terkena diabetes. Dari 417 orang itu 73 orang tidak menyadari meningkatnya level glukosa darah, yang menghasilkan penyakit diabetes (Khania, 2002)

3. Faktor Perilaku

a. Stress

Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam, rasa lajut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah meningkat. Jika stess berlangsung lama, tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis. Gejala yang muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit maag. Diperkirakan prevalensi atau kejadian hipertensi pada orang kulit hitam di Amerika Serikat lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih disebabkan stress atau rasa tidak puas orang kulit hitam pada nasib mereka (Depkes, 2006).Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya transaksi antara individu dengan lingkungannya yang mendorong seseorang untuk mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan situasi dan sumber daya (biologi, psikologi, sosial) yang ada pada diri seseorang (Damayanti, 2003). Peningkatan tekanan darah akan lebih besar pada individu yang mempunyai kecenderungan stress emosional yang tinggi (Pinzon, 1999). Stress merupakan pengalaman emosional negatif yang dialami seseorang, yang lebih besar dari kemampuannya untuk beraksi. Stress dapat terjadi karena adanya bencana atau kehilangan, peristiwa penting dalam hidup atau karena peristiwa kecil harian (Matlin, 1999). Oleh karena stress, maka tubuh akan bereaksi, termasuk antara lain berupa ketegangan otot, meningkatnya denyut jantung, dan menigkatnya tekanan darah. Reaksi ini dipersiapkan tubuh untuk bereaksi secara cepat, yang apabila tidak digunakan, maka akan dapat menimbulkan penyakit, termasuk hipertensi (Greenberg, 1999).

Dalam penelitian Framingham dalam Yusida tahun 2001 bahwa bagi wanita berusia 45-64 tahun, jumlah faktor psikososial seperti keadaan tegang, ketidakcocokan perkawinan, tekanan ekonomi, stress harian, mobilitas pekerjaan, gejala ansietas dan kemarahan terpendam didapatkan bahwa hal tersebut berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan manifestasi klinik penyakit kardiovaskuler apapun. Studi eksperimental pada laboratorium animals telah membuktikan bahwa faktor psikologis stress merupakan faktor lingkungan sosial yang penting dalam menyebabkan tekanan darah tinggi, namun stress merupakan faktor resiko yang sulit diukur secara kuantitatif, bersifat spekulatif dan ini tak mengherankan karena pengolahan stress dalam etikologi hipertensi pada manusia sudah kontroversial (Henry & Stephens, 1997 dalam Kamso, 2000).

b. Merokok

Merokok merupakan suatu proses pembakaran yang menimbulkan polusi udara dan secara sadar dihirup dan diserap oleh tubuh manusia (Hoepoedio, 1988). Rokok mengandung lebih dari 40000 komponen bahan kimia diantaranya adalah nikotin dan karbonmonoksida. Nikotin dapat menyebabkan kerusakan lapisan dalam pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah dan kecanduan. Sedangkan karbon monoksida dapat mengikat Hb darah sehingga tubuh kekurangan oksigen dan dapat menyebablan penyumbatan pembuluh darah. Rokok mengandung nikotin, yang merupakan bahan pemberi kenikmatan pada rokok, yang dapat, meningkatkan denyut jantung, tekanan darah sistolic dan tekanan darah diastolik. Peningkatan denyut jantung pada perokok terjadi pada menit pertama merokok dan sesudah 10 menit peningkatan mencapai 30 %. Menurut Winniford (1990) dalam Hasudungan (2002)

lebih jauh mengatakan bahwa efek merokok akan meningkatkan kadar asam bebas lemak dalam plasma yang dapat mengurangi jumlah kadar lemak HDL. Selain itu merokok juga akan menghadirkan LDL, yang sebagai kolesterol jahat, yang akan menyebabkan penyempitan arteri akibat terjadinya penumpukan kolesterol pada dinding arteri dan hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipertensi. Pada orang merokok keadaan jantung juga tidak dapat bekerja dengan efisien. Oleh karena itu seorang yang menderita hipertensi yang disertai dengan merokok dan hiperkolesteromia akan memiliki resiko terkena penyakit jantung koroner 8 kali (Kannel, 1990 dalam Hasudungan 2002). Farmingham Heart Study menemukan bahwa merokok menurunkan kadar kolesterol baik (HDL). Penurunan HDL pada laki-laki rata-rata 4,5 mg/dl dan pada perempuan 6,5 mg/dl. Penelitan yang dilakukan oleh Lipid Research Program Prevalence Study menunjukkan bahwa mereka yang merokok dua puluh batang atau lebih per hari, mengalami penurunan kadar HDL sekitar 11 % pada laki-laki dan 14 % pada perempuan.Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri, dan mengakibatk