Dampak Bantuan IMF

  • Published on
    13-Aug-2015

  • View
    648

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pada masa krisis moneter IMF memberikan bantuan keuangan kepada Indonesia. Dampak dari pemberian bantuan ini hingga saat ini begitu berpengaruh dan memiliki efek positif dan negatif

Transcript

<p>Hany Ayuining Putri, Dampak Campur Tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter) 1997</p> <p>BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan pemerintah Indonesia sesuai dengan UUD 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.1 Salah satu tujuan tersebut, yaitu memajukan kesejahteraan umum tercapai apabila pertumbuhan ekonomi positif. Karena itu, pertumbuhan ekonomi positif merupakan target pemerintah. Jika pertumbuhan ekonomi positif atau tinggi maka akan berdampak pada kesejahteraan rakyat. Indikator pertumbuhan ekonomi positif dapat dilihat dari meningkatnya pendapatan nasional (GNP) perkapita, dalam arti tingkat pertumbuhan pendapatan nasional harus lebih tinggi dibanding tingkat pertumbuhan penduduk. Sebaliknya Indikator Pertumbuhan ekonomi negatif dapat dilihat dari menurunnya pendapatan nasional (GNP) perkapita, dalam arti tingkat pertumbuhan pendapatan nasional lebih rendah dibanding tingkat pertumbuhan penduduk.2 Untuk itu kerjasama pun dilakukan, baik secara bilateral maupun multilateral. Kerjasama secara bilateral banyak dilakukan saat ini. Kerjasama dilakukan dalam berbagai bidang. Pada bidang ekonomi Indonesia melakukan kerjasama dalam rangka meminta bantuan pinjaman modal. Secara bilateral, kerjasama semacam ini banyak dilakukan dengan Jepang dan negara-negara Eropa. Kerjasama pun dilakukan dengan lembaga-lembaga bantuan keuangan atau moneter Internasional. Lembaga-lembaga itu antara lain IMF dan IDB. Tetapi kerjasama ini lebih banyak dilakukan dengan IMF, terutama pada saat dimulainya krisis 1997. IMF mulai memberikan bantuan secara aktif pada Indonesia tahun 1997. Pada saat itu nilai rupiah benar-benar jatuh kemudian IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar. Banyaknya bantuan diberikan tentu mempunyai dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah menyelamatkan Indonesia dari kebangkrutan. Sedangkan dampak negatifnya adalah dengan bantuan yang begitu besar membuat rupiah jatuh lebih dalam lagi karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan1 2</p> <p>Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat http://maximusblue.blogspot.com/2009/11/review-dampak-bantuan-imf-terhadap_30.htm</p> <p>1</p> <p>Hany Ayuining Putri, Dampak Campur Tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter) 1997</p> <p>rupiah, permintaan dolar yang kuat. Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan September 1997 Banyak pihak yang menuding bahwa bantuan IMF tidak memberikan efek positif, malah memperdalam krisis yang terjadi di Indonesia. Tetapi disisi lain bantuan itu juga mampu menyelamatkan Negara dari kebangkrutan. Untuk itu perlu diberikan sedikit ulasan mengenai bagaimana dampak bantuan IMF terhadap Indonesia? 1.2 Batasan Masalah Untuk menghindari adanya kesimpangsiuran dalam penulisan makalah ini, maka penulis akan membatasi masalahnya sebagai berikut: 1. Krisis Moneter dan kebijakan Pemerintah RI2. Dampak Campur Tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter) 1997</p> <p>1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan batasan masalah di atas, masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kondisi Indonesia ketika terjadinya krisis moneter? Apa tindakan Pemerintah pada saat itu?2. Apa dampak adanya campur tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter</p> <p>1997)? 1.4 Tujuan Penulisan Adapun Tujuan Penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Tujuan Umuma. Mengamalkan hokum Ekonomi Internasional b.</p> <p>Membuat pembaca memahami tentang hal-hal yang berkaitan</p> <p>dengan dampak adanya campur tangan IMF di Indonesia (KrisisPascakrisis Moneter 1997)</p> <p>2.</p> <p>Tujuan Khusus 2</p> <p>Hany Ayuining Putri, Dampak Campur Tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter) 1997</p> <p>a. Menyelesaikan Tugas Hukum Ekonomi Internasional b.</p> <p>Menambah pengetahuan tentang dampak adanya campur</p> <p>tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter 1997) 1.5 Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan studi kepustakaan. Penulis membaca buku-buku ataupun kumpulan mata pelajaran yang berkaitan dengan materi makalah ini, Selain media cetak yang merupakan salah satu media yang dipakai oleh penlis untuk mendapatkan data, penulis juga menggunakan media internet yang merupakan jendela dunia bagi seluruh umat manusia di dunia.</p> <p>3</p> <p>Hany Ayuining Putri, Dampak Campur Tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter) 1997</p> <p>BAB II TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>2.1 Pengertian IMF</p> <p>Dana</p> <p>Moneter</p> <p>Internasional</p> <p>atau</p> <p>International</p> <p>Monetary</p> <p>Fund</p> <p>(IMF) adalah organisasi internasional yang bertanggungjawab dalam mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk membantu masalah-masalah keseimbangan neraca keuangan masing-masing negara. Salah satu misinya adalah membantu negara-negara yang mengalami kesulitan ekonomi yang serius, dan sebagai imbalannya, negara tersebut diwajibkan melakukan kebijakan-kebijakan tertentu, misalnya privatisasi badan usaha milik negara3</p> <p>2.2 Latar Belakang dan Perkembangan IMF</p> <p>IMF dilahirkan di bulan Juli tahun 1944 pada konferensi Perserikatan BangsaBangsa yang diselenggarakan di Bretton Woods, New Hampshire, A.S., ketika perwakilan dari 45 pemerintah menyetujui suatu kerangka kerjasama ekonomi yang3</p> <p>Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas</p> <p>4</p> <p>Hany Ayuining Putri, Dampak Campur Tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter) 1997</p> <p>dirancang untuk menghindari terulangnya kebijakan ekonomi buruk yang turut mengakibatkan Depresi Besar (Great Depression) di tahun 1930an. Selama dekade tersebut, pada saat kegiatan ekonomi di sejumlah negara industri utama melemah, negara-negara berusaha untuk mempertahankan ekonomi mereka masingmasing dengan cara meningkatkan hambatan untuk import; tetapi ini hanya makin mempercepat jatuhnya perdagangan dunia, tingkat output, dan kesempatan kerja. Untuk mengatasi berkurangnya cadangan emas dan valuta asing, sejumlah negara membatasi kebebasan warga negaranya untuk membeli dari luar negeri, sejumlah negara lain mendevaluasi mata uang mereka, dan sejumlah negara lain memperkenalkan pembatasan yang rumit terhadap kebebasan warga negaranya untuk memiliki valuta asing. Namun langkah-langkah tersebut justru makin memperlemah kondisi masing-masing negara, dan tak satu negarapun mampu mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam jangka waktu yang lama. Kebijakan yang tidak menghiraukan dampak pada negara-negara lain tersebut mencelakai perekonomian internasional; perdagangan dunia merosost dengan cepat, juga tingkat kesempatan kerja dan standard hidup di beberapa negara. Ketika Perang Dunia II berakhir, negara-negara sekutu utama</p> <p>mempertimbangkan berbagai rencana untuk membangun kembali ketertiban dalam hubungan moneter internasional, dan pada konferensi Bretton Woods terbentuklah IMF. Beberapa perwakilan negara merancang suatu piagam (atau Pasal-pasal Perjanjian) dari suatu lembaga internasional untuk mengawasi sistem moneter internasional dan mempromosikan penghapusan pembatasan pertukaran valuta asing yang berkaitan dengan perdagangan barang dan jasa, dan stabilitas nilai tukar. IMF terbentuk di bulan Desember 1945, ketika 29 negara pertama menandatangani Pasalpasal Perjanjian itu. Tujuan yang diemban IMF saat ini adalah sama dengan yang tercantum di dalam Akta Pendirian yang dirumuskan pada tahun 1944, yaitu untuk mencegah terulangnya krisis moneter pada tahun 1930an. Untuk mencapai tujuan tersebut, IMF melaksanakan fungsi-fungsi kegiatan berikut: menetapkan suatu kerangka bagi suatu sistem pembayaran multilateral dan suatu mekanisme untuk mencegah fluktuasi nilai tukar mata uang, memberikan pinjaman-pinjaman jangka pendek dan menengah kepada negara yang membutuhkan, membangun dan mengembangkan aturan-aturan bagi negara-negara mengenai moneter internasional dan berfungsi sebagai forum diskusi serta menyelesaikan persoalan-persoalan moneter</p> <p>5</p> <p>Hany Ayuining Putri, Dampak Campur Tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter) 1997</p> <p>dan keuangan internasional.4 Sejak saat itu, dunia telah mengalami pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam pendapatan riil. Dan walaupun manfaat pertumbuhan belum dirasakan secara merata oleh semua orang baik di dalam maupun di antara negara-negara kebanyakan negara telah melihat pertambahan dalam tingkat kemakmuran yang sangat berbeda dengan standar yang terjadi pada jaman di antara perang dunia pertama dan kedua, khususnya. Sebagian penjelasan dari pencapaian tersebut adalah pada mengingkatnya pelaksanaan kebijakan ekonomi, termasuk kebijakan yang telah mendorong pertumbuhan perdagangan internasional dan kebijakan untuk membantu meredam siklus ekonomi yang terdiri dari pertumbuhan cepat (boom) dan keruntuhan (bust). IMF bangga telah berpartisipasi dalam perkembangan tersebut. Dalam dekade sejak Perang Dunia II, selain proses peningkatan kemakmuran, perekonomian dunia dan sistem moneter telah mengalami perubahan besar lain perubahan tersebut makin meningkatkan pentingnya dan relevansi tujuan yang merupakan mandat dari IMF, tetapi yang juga telah menuntut adaptasi maupun reformasi dari IMF.5 Kemajuan cepat dalam teknologi dan komunikasi telah ikut mengakibatkan peningkatan penyatuan (integrasi) pasar internasional dan mendorong hubungan yang lebih erat di antara perekonomian nasional. Sebagai akibatnya, ketika krisis keuangan timbul di suatu negara maka akan cenderung untuk menular dengan lebih cepat di antara negara-negara. Dalam dunia yang semakin terintegrasi dan saling beketergantungan, kemakmuran setiap negara akan semakin sangat ditentukan oleh kinerja ekonomi negara lain maupun keberadaan lingkungan ekonomi global yang stabil dan terbuka. Demikian juga, kebijakan keuangan dan ekonomi yang diikuti masing-masing negara akan mempengaruhi baik atau buruknya pelaksanaan sistem perdagangan dan pembayaran dunia. Dengan demikian, globalisasi menuntut kerjasama internasional yang lebih erat, yang pada gilirannya telah meningkatkan tanggung jawab lembaga internasional yang mengorganisasi kerjasama semacam itu termasuk IMF. Tujuan IMF juga telah menjadi semakin penting dikarenakan meluasnya keanggotaan. Jumlah negara anggota IMF sudah bertambah empat kali lipat dibandingkan dengan 45 negara yang terlibat dalam awal pendiriannya, bahkan4 5</p> <p>Louis Henkin, et.al., Internasional Law, St. Paul: West Publishing Co., 3rd.ed., 1993, hlm. 1420. http://www.indonesia-ottawa.org/information/details.php?type=news_copy&amp;id=4471</p> <p>6</p> <p>Hany Ayuining Putri, Dampak Campur Tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter) 1997</p> <p>hingga tahun 2000, negara anggota IMF mencapai 182 negara6. Ini mencerminkan pencapaian kemandirian (kemerdekaan) politik oleh sejumlah negara berkembang dan dari negara-negara bekas blok Soviet. Meluasnya keanggotaan IMF dan perubahan di dalam perekonomian dunia, telah membuat IMF beradaptasi dengan berbagai cara untuk terus mampu melaksanakan tujuannya secara efektif. Negara-negara yang bergabung dengan IMF antara tahun 1945 dan 1971 setuju untuk menjaga nilai tukar mereka (pada dasarnya nilai tukar mata uang mereka dalam nilai dolar A.S., dan, dalam hal ini Amerika Serikat, nilai dolar A.S. dalam nilai emas) ditetapkan pada tingkat yang dapat disesuaikan, tetapi penyesuaian hanya untuk mengoreksi ketidakseimbangan fundamental dalam neraca pembayaran dan dengan persetujuan IMF. Ini kemudian disebut sistem nilai tukar Bretton Woods yang berlaku sampai tahun 1971 ketika pemerintah A.S. menangguhkan konvertibilitas dolar A.S. (dan cadangan dolar yang dipegang oleh pemerintah lain) menjadi emas. Sejak itu, anggota IMF sudah bebas memilih setiap bentuk pengaturan nilai tukar yang mereka inginkan (kecuali meman cangkan nilai mata uang mereka pada emas): sejumlah negara sekarang mengizinkan mata uang mereka mengambang dengan bebas, sejumlah negara memancangkan mata uang mereka terhadap mata uang lain atau sekelompok mata uang, sejumlah negara lainnya mengadopsi mata uang negara lain sebagai mata uang mereka sendiri, dan sejumlah negara berpartisipasi dalam blok mata uang. Pada waktu yang sama ketika IMF diciptakan, Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (International Bank for Reconstruction and Development atau IBRD), lebih umum dikenal sebagai Bank Dunia, didirikan untuk mempromosikan air. IMF dan Kelompok Bank Dunia yang termasuk Korporasi Pembiayaan Internasional (International Finance Corporation IFC) dan Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association IDA) saling melengkapi pekerjaan masing-masing. Sementara perhatian IMF terutama pada kinerja ekonomi makro, dan pada kebijakan makro ekonomi dan sekor keuangan, Bank Dunia terutama6</p> <p>pembangunan</p> <p>ekonomi</p> <p>jangka</p> <p>panjang,</p> <p>termasuk</p> <p>melalui</p> <p>pembiayaan proyek infrastruktur, seperti pembangunan jalan dan meningkatkan suplai</p> <p>Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cetakan Ketiga,</p> <p>2005, hlm. 102</p> <p>7</p> <p>Hany Ayuining Putri, Dampak Campur Tangan IMF di Indonesia (Krisis-Pascakrisis Moneter) 1997</p> <p>menangani pembangunan jangka panjang dan isu-isu pengurangan kemiskinan. Kegiatannya termasuk memberikan pinjaman kepada negara-negara berkembang dan negara-negara yang berada dalam transisi, pembiayaan proyek infrastruktur, reformasi sektor ekonomi khusus, dan reformasi struktural yang lebih luas. IMF, sebaliknya, tidak menyediakan pembiayaan untuk sektor atau proyek khusus tetapi sebagai dukungan umum terhadap neraca pembayaran maupun cadangan devisa suatu negara sementara negara tersebut sedang mengambil langkah kebijakan untuk mengatasi kesulitannya. Ketika IMF dan Bank Dunia didirikan, suatu organisasi untuk mempromosikan liberalisasi perdagangan dunia juga dipikirkan, tetapi baru tahun 1995 Organisasai Perdagangan Dunia (World Trade Organization atau WTO) dibentuk. Diselang tahuntahun tersebut, isu-isu perdagangan diselesaikan melalui Perjanjian Umum Tarif dan Perdagangan (General Agreement on Tariffs and Trade GATT)7.</p> <p>2.3 Kegiatan IMF</p> <p>Sudah</p> <p>banyak</p> <p>yang</p> <p>dilakukan</p> <p>IMF</p> <p>dalam</p> <p>mengembangkan</p> <p>tingkat</p> <p>pertumbuhan perekonomian dunia. Selama tahun1990an IMF telah memprioritaskan usahanya kepada tiga kegiatan utama:</p> <p>IMF membantu negara-negara yang perekonomiannya rusak karena terjadi invansi terhadap kuwait dan pengaruh perang teluk pada 1980-an</p> <p>Memberikan bantuan keuangan dan teknik kepada negara-negara Eropa Timur yang sedang berupaya beralih dari sisitem ekonomi terpusat kepada sisitem ekonomi yang didasarkan pada pasar</p> <p>7</p> <p>Pada mulanya GATT merupakan suatu persetujuan multilateral yang mensyaratkan pengurangan</p> <p>secara timbale balik tariff yang berada di bawah naungan ITO. Namun ketika ITO gagal berdiri, GATT kemudian dijadikan sebagai organisasi internasional yang diberlakukan dengan protocol of provisional application yang ditandatangani pada tahun 1947 dan dibuat untuk menerapkan GATT sebagai perjanj...</p>