Data Kes Nad

  • Published on
    05-Aug-2015

  • View
    237

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>BAB I : PendahuluanPembangunan kesehatan tahun 2006 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam menunjukkan peningkatan yang lebih baik dari tahun 2005, kondisi daerah yang semakin kondusif dan peningkatan anggaran pembangunan kesehatan memberi arah yang lebih menunjang, usaha-usaha didalam peningkatan pelayanan publik disektor kesehatan mulai dari pelayanan dasar sampai dengan pelayanan rujukan terus mendapat pembenahan. Konstribusi petugas kesehatan di seluruh kabupaten/kota menunjukkan komitmen yang semakin baik dan bergairah didalam melaksanakan pelayanan kesehatan baik pada tingkat administrasi maupun tehnis. Kesadaran masyarakat terhadap prilaku hidup bersih dan sehat menunjukkan peningkatan dari waktukewaktu hal ini harus terus kita jaga, mengingat penyebab penyakit yang disebabkan lingkungan dan pola hidup yang tidak sehat masih sangat dominan, keluhan masyarakat terhadap pelayanan rujukan masih terasa namun secara bertahap permasalahan ini dapat diatasi dengan peningkatan pengetahuan tenaga medis maupun non medis baik secara tehnis maupun manajemen. Hal lain yang perlu disadari bahwa keberhasilan peningkatan kesehatan masyarakat juga dipengaruhi dari dukungan instansi instansi pemerintah lainnya seperti pendidikan, pertanian, perdagangan, BKKBN, Pekerjaan Umum, Bappeda dan lain-lain, dengan kolaborasi semua instansi yang ada semakin mempercepat pencapaian Visi Aceh Sehat 2010. Kondisi pembangunan kesehatan tahun 2006 secara lintas program dijalankan dengan strategi dan perencanaan yang berpihak kepada masyarakat, saat ini yang masih dibutuhkan adalah dukungan tehnis dari semua pihak terutama Departemen Kesehatan RI, Pemda Provinsi NAD dan Pemda Kabupaten/Kota</p> <p>Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>1</p> <p>maupun pihak terkait lainnya terhadap peningkatan mutu pelayanan yang lebih baik. Untuk memberi gambaran terhadap peningkatan pelayanan kesehatan maka profil kesehatan yang dikeluarkan setiap tahun merupakan media untuk memberi gambaran terhadap langka-langkah yang telah ditempuh oleh Dinas Kesehatan Provinsi, Dinkes Kab/Kota, RSU dan Puskesmas beserta seluruh jajaran kesehatan yang ada. Namum demikian masih dijumpai beberapa issu kesehatan strategis yang mendesak antara lain: 1. Pemerataan penempatan tenaga kesehatan. 2. Kekurangan tenaga dokter spesialis. 3. Desa Siaga 4. Peningkatan kualitas pelayanan Issu strategi diatas merupakan tantangan yang harus secepatnya dapat diselesaikan. Kondisi keamanan yang sudah kondusif merupakan peluang didalam mendorong penyelesaian tantangan yang ada. Sebagai salah satu pedoman didalam pencapai visi yang telah ditetapkan dan penyelesaian tantangan yang ada, Renstra Pembangunan Kesehatan Provinsi NAD 2006-2010 harus menjadi pedoman yang kuat didalam perencanaan pembangunan kesehatan. Hal lain yang cukup signifikan adalah peningkatan jumlah anggaran untuk sektor kesehatan melalui anggaran APBN yang diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), Tugas Pembantuan (TP) dan Bantuan Luar Negeri yang secara langsung melakukan perbaikan terhadap seluruh fasilitas kesehatan, baik fisik maupun non fisik yang mengalami kerusakan diakibatkan bencana tsunami. Dukungan ini merupakan hal yang positif untuk peningkatan pelayanan kesehatan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang dapat dikatakan cukup tertinggal dibanding dengan Provinsi lainnya.Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>2</p> <p>Sejalan hal tersebut di atas, didalam usaha pemantauan peningkatan pelayanan kesehatan, profil kesehatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2007 telah dapat terbit. Pada tahun-tahun mendatang profil kesehatandiupayakan dapat terbit pada awal bulan April dengan kualitas dan sajian data yang lebih baik. Untuk tahun ini strategi didalam penyusunan data profil dilakukan dengan metode kroscek data, analisa, korelasi antar table dan program, serta cek and balance dari seluruh program, sehingga keakuratan dan informasi yang disajikan dapat memberi gambaran yang benar dari kondisi yang ada kemudian dilakukan memutakhiran data di tingkat Provinsi. Secara data dilakukan dalam bentuk peta, grafik kependudukan dan pencapaian indikator SPM per Kabupaten/Kota, sedangkan didalam pembahasan menyajikan perbandingan pencapaian indikator dari tahun sebelumnya dan target yang akan dicapai. Sampai saat ini Profil Kesehatan Provinsi NAD masih mengacu kepada tabel Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Tabel Standar Pelayanan Minimal yang bersumber dari Program-Program Kesehatan, data yang diperoleh dari Kantor Statistik, BKKBN, Bappeda serta dukungan penuh dari Dinkes/RSU Kabupaten/ Kota di seluruh Provinsi NAD.</p> <p>Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>3</p> <p>BAB II : Gambar Umum</p> <p>A. GEOGRAFI DAN KEPENDUDUKAN 1. Geografis Nanggroe Aceh Darussalam merupakan provinsi yang terletak antara 2 sampai 6 lintang utara dan 95 sampai 980 0 0 0 0</p> <p>bujur timur , temperatur rata-</p> <p>rata 25 C, dengan kelembaban rata-rata 85%, Curah hujan rata-rata setiap tahun berkisar 3,0 sampai 245,9 mm. Secara geografis Provinsi NAD berbatasan sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka; sebelah selatan dengan Provinsi Sumatera Utara; sebelah timur berbatasan dengan Selat Malaka dan sebelah barat dengan Samudera Indonesia, luas Provinsi NAD kurang lebih 57.755,87 km , terdiri dari 21 Kabupaten/Kota, 257 Kecamatan, 6.335 Desa. 2. Kependudukan. a. Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk. Jumlah penduduk Provinsi NAD tahun 2006 sebesar4.247.9052</p> <p>jiwa. Laju pertumbuhan penduduk pada periode 2005-2006 sebesar 1,06 % hal ini sedikit mengalami perubahan dibandingkan dengan periode sebelumnya yaitu 1.65%. Jumlah penduduk laki-laki2006).</p> <p>2.073.948 dan</p> <p>perempuan 2.027.647 dengan sex rasio 1,05. (Sumber data Kabupaten/Kota</p> <p>b. Kepadatan Penduduk</p> <p>Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>4</p> <p>Kepadatan penduduk tahun 2006 di Provinsi NAD adalah 73.97/km2, bila kepadatan penduduk dilihat untuk setiap kabupaten/kota maka kota Banda Aceh dengan tingkat kepadatan tertinggi, yaitu 3.501,47 per km2, sedangkan yang paling jarang adalah Kabupaten Aceh Jaya dengan tingkat kepadatan17,46 per km2.</p> <p>Kepadatan penduduk Provinsi NAD menurut Kabupaten/Kota pada tahun 2006 dapat dilihat pada gambar berikut: Grafik II. 1 Kepadatan Penduduk menurut Kabupaten/Kota Tahun 2006Kepadatan Penduduk Tahun 2006 di Provinsi NADA ce h Ja ya G a yo L u e s Na g a n Ra ya A ce h T e n g a h Si m e u lu e Ace h Si n g kil A ce h S e la ta n Ace h B a ra t Da ya A ce h T i m u r Ace h B a ra t Ace h T e n g g a ra B e n e r M e ri a h A ce h Be sa r A ce h T a m i a n g Pi d ie Ace h Uta ra Ko ta S a b a n g Bi re u e n Ko ta L a n g sa K o ta L h o kse u m a we Ko ta B a n d a A ce h</p> <p>-</p> <p>500,00</p> <p>1.000,00</p> <p>1.500,00</p> <p>2.000,00</p> <p>2.500,00</p> <p>3.000,00</p> <p>3.500,00</p> <p>4.000,00</p> <p>Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>5</p> <p>c. Distribusi Usia Penduduk di Provinsi NAD Secara grafik dapat dilihat distribusi usia penduduk melalui grafik dibawah ini Grafik II. 2 Distribusi Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2006</p> <p>&gt;65</p> <p>Laki-laki</p> <p>45-64</p> <p>Perempuan</p> <p>15-44</p> <p>5-14</p> <p>0-4</p> <p>1000000</p> <p>800000</p> <p>600000</p> <p>400000</p> <p>200000</p> <p>0,</p> <p>200000,</p> <p>400000,</p> <p>600000,</p> <p>800000,</p> <p>1000000,</p> <p>1200000,</p> <p>Bila dilihat dari grafik diatas maka usia produktif di Provinsi NAD masih sangat dominan disusul usia pra usila, usia sekolah dan balita selanjutnya sebahagian kecil adalah usia usila. Hal ini sangat memberi arti bagi pembangunan, dimana dengan masih tingginya usia produktif menunjukkan beban tanggungan dapat dibiayaiProfil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>6</p> <p>secara maksimal. Hal lain yang dapat dilihat bahwa perbandingan laki-laki dengan perempuan masih seimbang.B. LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGIK</p> <p>Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator yang diprogramkan dalam sektor kesehatan, yaitu presentase keluarga yang memiliki akses air bersih, presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM) . Secara geografis wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berada pada daerah tropis, dimana iklim dan lahannya cukup potensial untuk berkembang biaknya vektor serta kuman penyakit yang setiap saat dapat mengancam kesehatan masyarakat. Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar, pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan. Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air untuk minum, pemantauan sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantuan sanitasi tempat-tempat umum (Hotel, Terminal), tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya. Didalam memantau pelaksanaan program kesehatan lingkungan dapat dilihat beberapa program kesehatan lingkungan sebagai berikut:Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>7</p> <p>1. Penggunaan Air Bersih</p> <p>Untuk tahun 2006 jumlah keluarga yang diperiksa yang memiliki akses air bersih masih sangat minim. Dari hasil pengumpulan data melalui profil Kesehatan Kabupaten/kota penggunaan air bersih pada setiap keluarga yang paling tertinggi adalah sumur gali + 67,24%, ledeng + 19,41%, Lainlain + 7%, sumur pompa tangan + 3,327% dan Penampungan Air Hujan + 2,2%, sedangkan penggunaan air kemasan 0,84%. Secara grafik dapat dilihat sebagai berikut: Grafik II.4 Persentase Keluarga Memiliki Akses Air Bersih Tahun 2006 dan 2005</p> <p>LAINNYA KEMASAN PAH SGL SPT LEDENG 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 2006 2005</p> <p>Dari gambaran diatas menunjukkan penurunan pada akses lain-lain pada sumur gali menunjukkan peningkatan serta pada ledeng, hal ini berarti peningkatan penggunaan air bersih pada keluarga tahun 2006 lebih baik. 2. Rumah Sehat Bagi sebagian besar masyarakat, rumah merupakan tempat berkumpul bagi semua anggota keluarga dan menghabiskan sebagian besar waktunya, sehingga kondisi kesehatan perumahan sangat berperanProfil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>8</p> <p>sebagai media penularan penyakit diantara anggota keluarga atau tetangga sekitarnya. Pada tahun 2006 telah dilakukan pemeriksaan rumah sehat di beberapa Kabupaten/Kota menunjukkan kondisi 54,47% dinyatakan sehat dari 480.884 rumah yang dilakukan pemeriksaan. Dari data yang ada maka program sosialisasi terhadap masyarakat untuk membangun rumah sehat perlu terus dilakukan sehingga pencegahan terhadap penyakit vektor dapat diperkecil dan penyebab penyakit lainnya dari lingkungan sekitar rumah. Grafik II.5 Persentase Rumah Sehat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2006 dan 2005100,00 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00Nagan Raya Bener Meriah Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Barat Daya Gayo Lues Simeulue Pidie Kota Lhokseumawe</p> <p>2006 2005</p> <p>Aceh Tenggara Aceh Selatan</p> <p>Aceh Jaya</p> <p>Kota Sabang</p> <p>V</p> <p>Kota Banda Aceh</p> <p>Kota Langsa</p> <p>Bireuen</p> <p>Aceh Utara</p> <p>Aceh Barat</p> <p>Aceh Besar</p> <p>Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>9</p> <p>Dari Grafik diatas menunjukkan beberapa kabupaten/kota menunjukkan peningkatan rumah sehat dan beberapa kabupaten/kota lainnya menunjukkan penurunan, namun demikian strategi peningkatan rumah sehat perlu terus dilakukan.</p> <p>3. Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar.</p> <p>Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar meliputi persediaan air bersih, kepemilikan jamban keluarga, tempat sampah dan pengelolaan air limbah keluarga keseluruhan hal tersebut sangat diperlukan didalam peningkatan kesehatan lingkungan. Dari hasil pendataan yang diberikan oleh kabupaten/kota melalui data profil menggambarkan sampai tahun 2006 persediaan air bersih mencapai 64,99%, ketersediaan jamban keluarga 68,54%, ketersediaan tempat sampah 52,12% dan tempat pengelolaan air limbah keluarga 38,36%. Secara nominal dapat dilihat pada grafik berikut. Grafik II.6 Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Tahun 2006 dan 2005</p> <p>Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>10</p> <p>500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 PERSEDIAAN AIR BERSIH 444.418 317.737 215.385 150.841 TEMPAT SAMPAH 275.328 127.057 128.816 72.628 PENGELOLAA N AIR LIMBAH 376.749 167.705 180.452 69.214</p> <p>JAMBAN 419.436 234.241 182.734 125.250</p> <p>JUMLAH KK DIPERIKSA 2006 JUMLAH KK MEMILIKI 2006 JUMLAH KK DIPERIKSA 2005 JUMLAH KK MEMILIKI 2005</p> <p>Dari data diatas menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan terhadap kepemilikan sarana sanitasi dasar di provinsi NAD tahun 2006 dibandingkan tahun 2005, hal pertama adalah kelengkapan data dari Kabupaten/Kota pada tahun 2006 lebih lengkap dibandingkan tahun 2005, hal lain menunjukkan penilaian terhadap sarana sanitasi dasar sudah lebih aktif.</p> <p>4. Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM)</p> <p>Makanan termasuk minuman, merupakan kebutuhan pokok dan sumber utama bagi kehidupan manusia, namun makanan yang tidak dikelola dengan baik justru akan menjadi media yang sangat efektif didalam penularan penyakit saluran pencernaan (Food Borne Deseases). Terjadinya peristiwa keracunan dan penularan penyakit akut yang sering membawa kematian banyak bersumber dari makanan yang berasal dari tempat pengolahan makanan (TPM) khususnya jasaboga, rumah makan dan makanan jajanan yang pengelolaannya tidak memenuhi syarat kesehatan atau sanitasi lingkungan. Sehingga upaya pengawasan terhadap sanitasi makanan amat penting untuk menjaga kesehatan konsumen atau masyarakat. Hasil pengawasan terhadap kualitas</p> <p>Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>11</p> <p>penyehatan tempat umum dan pengolahan makanan</p> <p>tahun 2005 +</p> <p>72,88% dinyatakan sehat secara absolut dapat dilihat pada grafik berikut. Grafik II.7 Persentase Tempat Umum Dan Pengelolaan Makanan (TUMP) Yang Telah di Lakukan Pemeriksaan Tahun 2006 dan 2005</p> <p>10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 JUMLAH YANG ADA 6.433 8.607 JUMLAH YG DIPERIKSA 3.744 5.393 JUMLAH YG SEHAT 2.524 3.418</p> <p>2005 2006</p> <p>BAB III: Situasi Derajat KesehatanBeberapa indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat pada suatu daerah adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup (UHH) dan Status Gizi. Indikator tersebut ditentukan dengan 4 faktor utama yaitu Perilaku Masyarakat, Lingkungan, Pelayanan Kesehatan dan Faktor Genetika. Keempat faktor utama ini diintervensi melalui beberapa kegiatan pokok yang mempunyai dampak ungkit besar terhadap upaya-upaya percepatan penurunan</p> <p>Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006</p> <p>12</p> <p>AKI, AKB, AKABA dan Peningkatan Status Gizi Masyarakat serta status Angka Kesakitan dan Kondisi Penyakit...</p>