Derita Tiada Akhir

  • Published on
    07-Aug-2015

  • View
    493

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Liputan Investigasi

Transcript

<p>DERITA TIADA AKHIRTERCEKIK, SESAK, DAN MATISemakin sesaknya ruang ekonomi kehidupan, kini semakin membuat rakyat kecil semakin tercekik. Sulitnya mencari lahan pekerjaan adalah sebuah alasan klasik yang selalu mereka lantunkan. Tak terbayang mahalnya pendidikan yang membuat rakyat kecil termarjinalkan dan pesimis untuk bersekolah. Biaya hidup yang melambung tinggi, beras, susu, dan kebutuhan pokok lainnya harus didapatkan oleh mereka dengan dana yang sangat terbatas. Sehingga segala upaya diusahakan mereka, agar segala kebutuhan keluarganya terpenuhi.</p> <p>Oleh Trivan Andreas Saragih Manihuruk</p> <p>Fenomena inilah yang menjadi para Lintah atau biasa disebut rentenir untuk mencari kesempatan dalam kesempitan ekonomi masyarakat. Mereka tidak akan segan-segan menghisap darah rakyat kecil dengan paksa sampai titik darah penghabisan. Harta mereka habis, sampai kepada recehnya pun ikut diambil. Berikut adalah cerita dari kisah seorang masyarakat yang nyaris terkuras hartanya oleh karena meminjam uang yang hanya sedikit nominalnya kepada rentenir. Sampai pada akhirnya ia terselamatkan dari lingkaran setan dengan beberapa hartanya yang dijual untuk melunasi utang-utangnya.</p> <p>Ag (nama samaran), adalah seorang wiraswasta berusia 23 tahun, terpaksa harus meminjam kepada seorang rentenir untuk memenuhi kebutuhan orang tuanya. Ia sangat membutuhkan dana proses cepat pada saat itu sehingga tanpa berpikir panjang, ia langsung saja mencari rentenir terdekat untuk menjadi rekanannya. Karena ia berpikir meminjam kepada rentenir prosesnya lebih cepat dan tunai. Berbeda dengan koperasi legal atau bank yang menyediakan pinjaman uang yang begitu rumit dan sulit untuk memberikan uang yang sesuai ia mau. Apalagi Ag hanya membutuhkan uang tiga ratus ribu saja. Awal ia meminjam uang kepada rentenir, nominal uang yang dipinjamnya tidak sesuia dengan jumlah yang dia minta. Rentenir memotong 15% dari uang yang dia minta menjadi sekitar Rp. 250.000,. Tetapi karena ia butuh, maka tak segan Ag pun langsung menerima saja dan rentenir tersebut menerangkan bahwa 15% itu dipakainya sebagai registrasi nasabah. Tetapi untuk tahap selanjutnya, Ag diperbolehkan meminjam uang sebesar apapun. Dengan syarat uang pinjamannya kepada rentenir itu lunas beserta bunga-bunganya. Angsuran yang ditawarkannya pun memiliki beragam versi. Saya mengambil angsuran harian, harian itu saya membayar sekitar lima belas ribu rupiah per harinya. Bayarnya pun harus ada lebihnya, ditotal-total menjadi tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah yang harus dilunasi. Belum termasuk bunga lain-lainnya, ungkapnya. Ag pun mengaku ia harus membayar double menjadi tiga puluh ribu rupiah per harinya, apabila ia tidak segera kembali menyicil angsuran bunganya setiap hari dalam jangka waktu satu bulan.</p> <p>Ag (23), saat dimintai keterangannya di warung makan</p> <p>Pinjaman dibawah satu juta rupiah, rentenir tidak akan meminta jaminan kepada nasabahnya. Tetapi bunga 15% itu akan terus bertambah terus sampai akhirnya membengkak. ketika sudah mulai membengka dan nasabah belum sanggup untuk memenuhi permintaan rentenir tersebut. Resikonya adalah barang-barang yang dimiliki akan diambil satu per satu oleh renternir. Rentenir tidak akan membiarkan nasabahnya terseok-seok oleh karena terlilit utang. Justru mereka akan membujuk rayu untuk segera melunasi utangnya dengan iming-imingi nasabahnya dengan bonus, artinya nasabah diperbolehkan meminjam uang yang lebih berlipat ganda dari Pentingnya kedekatan antara nasabah dan rentenir harus tetap terjaga, supaya kemauan dari nasabah yang meminjam akan lebih mudah untuk meminta uang yang lebih besar nominalnya dari pada orang yang belum sama sekali mengenal rentenir itu, akan jauh lebih sedikit uang yang dipinjamkannya. Ag mengatakan, rentenir yang sudah ada kedekatan dengan nasabahnya biasanya diawal ia meminjam empat ratus ribu akan semakin mudah dicairkannya, berbeda dengan dia yang masih baru mengenal, maka akan diberikan seratus ribu rupiah saja.</p> <p>1</p> <p>Apa Jaminan Anda ?Rentenir bisa mengajukan penawaran kepada koperasi gelapnya dengan minimal uang sebesar lima juta rupiah langsung cair. Terjadilah permainan gelap antara rentenir dan koperasinya untuk mempengaruhi nasabahnya agar segera meminjam uang kepadanya. Dengan syarat harus menjaminkan harta bendanya. Biasanya berupa BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermoto) atau AJB (Akta Jual-Beli). Semua pinjaman yang berbau rentenir ini teknis peminjamannya sama, pinjaman uang yang diminta akan dipotong sebagai biaya registrasi koperasi, tetapi dengan harga dua ratus lima puluh ribu rupiah dari nominal lima juta rupiah itu sudah termasuk terlalu besar dan sudah jelas melanggar undang-undang koperasi. Tidak heran jika kita sering kali melihat ibu-ibu yang selalu membawa tas pinggang dan catatan kecil atau berupa buku sebagai aplikasi untuk mendata orang-orang yang ingin meminjam uang dari koperasi yang ia kelola, dan keliling-keliling kompleks perumahan atau perkampungan untuk meagih angsuran nasabahnya. Miris memang melihat fenomena tersebut, bukan membantu mereka yang membutuhkan tetapi malah menjebak masyarakat kecil dengan hutang dan menguras harta-hartanya. Proses penyitaan harta nasabahnya diperlakukan tidak seewajarnya. Tanpa mengirimkan surat tertulis, mereka langsung saja merampas harta bendanya dengan paksa. Tanpa ada segel resmi dari kepolisian atau pemerintah. Biasanya para rentenir ini langsung menarik kunci rumah nasabahnya dan menagihkan surat-surat berharga yang akan dikembalikan, jika mereka sudah melunasi kewajibannya. Orang yang sudah tersita barangya, hanya bisa menggigit jari dan menderita melihat harta bendanya satu per satu raib. Ag sebagai nasabah dari salah satu rentenir di rumahnya (penGunung Batu), mengaku sudah tahu sebelumnya bahwa meminjam kepada rentenir ini banyak sekali dampak negatifnya. Namun dia menegaskan kondisi pada saat itu, Ag sangat membutuhkan uang tunai cepat untuk kebutuhan sehari-harinya. Dia sangat membutuhkan sekali kendaraan sepedah motor yang kini dipakainya untuk bekerja. Beberapa kali ia meminjam uang kepada rentenir, untuk menyicil angsuran motornya. Karena Ag sebagai karyawan honorer, gajinya belum memadai untuk menyicil cicilan motornya. Dengan demikian ia memilih lebih baik meminjam kepada retenir meskipun harus menerima akibatnya. Ag sempat memiliki kendala ketika hendak melunasi angsuran rentenirnya. Utang yang seharusnya ia lunasi sebesar satu juta rupiah, menjadi dua kali lipatnya. Rasa putus asa yang sempat ia miliki membuat keadaan keluarga dan tetangganya sebagai langganan rentenirnya menjadi panas. Ag merasa ditipu olehnya, karena selama ia mencicil angsuran tersebut, tidak dihitung ke dalam pembukuan tetangganya yang berprofesi sebagai rentenir yang selalu menjadi langganan Ag. Padahal Ag sudah menjaminkan surat AJB-nya kepada rentenir terseut. Tanpa ada perlawanan lebih lanjut, Ag pun segera mengambil langkah dengan pinjam uang sana, pinjam uang sini atau biasa disebut gali lubang, tutup lubang. Fatalnya Ag meminjam uang tersebut kepada rentenir yang lainnya. Sehingga dengan usaha yang keras perlahan ia berhenti dari jeratan utang rentenir yang selama ini terus melilit keluarganya. Dengan pasrah pada saat itu juga ia menjual motor yang dicicilnya untuk menutup angsuran hutang terakhirnya, agar surat AJB yang ia miliki dapat dikembalikan. Namun ketika saya menanyakan niat Ag ketika suatu saat nanti, ia membutuhkan uang tunai tesebut kepada rentenir, Ag menjawab, Saya mah tidak munafik ya. kalau seandainya saya butuh sekali dengan uang itu, ya tidak akan menutup suatu kemungkinan untuk meminjam uang kepada rentenir.2</p> <p>Strategi yang dilakukan agensi dari pemilik modal rentenir berkedok koperasi ini, untuk memperkenalkan jasa simpan pinjamnya, melalui edaran brosur sebagai contoh berikut :</p> <p>Brosur Proses Dana Cepat</p> <p>Daftar Angsuran Pinjaman</p> <p>Brosur yang dikemas secara sederhana ini, akan memudahkan pemilik jasa simpan pinjam untuk mendapatkan pelanggannya. Seperti yang diungkapkan Ag dengan adanya edaran brosur ini, masyarakat kecil yang membutuhkannya lebih mudah mengerti atas apa yang disampaikan agensi melalui edaran brosur ini. Biasanya Agensi menggunakan jasa pengemis atau anak jalanan untuk mengedarkan brosurbrosur ini. Selain hemat biaya dan efisien untuk menemukan target pelanggannya. Jasa simpan pinjam yang dilakukan rentenir ini, sudah bisa dibilang kelas kakap. Karena pinjaman yang dapat mereka cairkan dengan plafond kredit minimal 1 juta rupiah. Syarat dan ketentuan yang mereka gunakan, hampir mirip dengan sistem kredit kendaraan bermotor. Leasing di Koperasi ini berfungsi untuk menagihkan tunggaka-tunggakan pelanggannya yang telat membayar atau sudah jatuh tempo. Mereka juga melakukan survey kepada orang yang hendak meminjam dana dari koperasinya. Data pribadi merupakan salah satu aplikasi yang wajib dipenuhi berikut data kendaraan seperti STNK, BPKB, bahkan surat akta jual beli tanah, jika pinjaman melebihi plafond yang ada. Misalnya pelanggan tersebut membutuhkan dana 20 juta rupiah. Segala resikonya kembali kepada pelanggan yang menggunakan jasa simpan pinjam koperasi gelap ini. Jika kita sadar, ini merupakan salah satu kegiatan tindak kejahatan ekonomi rakyat UKM. Harta kita akan lebih cepat terkuras dikarenakan bunga pinjaman yang terlampau besar, bukan menguntungkan tetapi akan merugi pesat dari apa yang kita bayangkan. Sangat jelas kegiatan ini melanggar UU Perkoperasian Indonesia.3</p> <p>KLARIFIKASI</p> <p>!</p> <p>Masyarakat kecil, pedagang warung dan eceran, menjadi bulan-bulanan rentenir untuk memperkaya dirinya. Begitu pula dengan Ag yang menyatakan demikian seolah-olah ia tidak merasa kapok untuk dihisap darahnya berulang-ulang oleh manusia lintah itu, sungguh amat disayangkan. Namun Ag menegaskan akan meminjam uang tersebut dari si penghisap darah, mana kala sangat membutuhkannya dan sifatnya mendadak bukan untuk keperluan pribadinya. Cuaca semakin mendung dan turun hujan, saya pun memutuskan tetap lanjut dari Gunung Batu menuju kantor Dinas Koperasi kota Bandung. Jam 11.30 sebetulnya saya sudah sampai di lokasi, tetapi sehubung pada saat itu sedang ada sholat Jumat, saya menepi dan mencari tempat perteduhan. Ketika berteduh perut mulai keroncongan karena memang sudah waktunya jadwal makan siang. Saat itu juga saya langsung mencari warung makan terdekat, dan makan siang di warung Padang. Tepat pukul 13.00 saya kembali lanjut menerobos hujan untuk datang ke kantor Dinas Koperasi Bandung, tak perduli cuaca pada saat itu sedang diguyur hujan. Kantor dinasnya cukup dekat dengan warung tempat saya berteduh dan makan siang. Sesampainya di sana saya langsung menanyakan kepada sekretariat letak ruangan kepala seksi kelembagaan Dinas Koperasi. Karena kondisi beliau sedang sibuk saya langsung diarahkan menuju lantai 3 tepat ruang kepala seksi kelembagaan yang menurut saya cukup relevan untuk mengklarifikasi permasalahan rentenir itu. Di dalam ruangan ada sekitar 6 orang pegawai negeri yang sedang sibuk bertugas. Tidak ada rasa takut apapun, saya langsung berpermisi untuk masuk ketemu dengan kepala seksi kelembagaan Bapak Ahmad Guntara (51). Wajahnya yang cukup serius memandang saya, sebentar membuat langkah saya terhenti. Kemudian saya menyapanya dan dipersilahkan duduk. Ternyata beliau seorang yang ramah dan humoris. Ketegangan yang ada membuat perasaan saya mulai tenang.</p> <p>Ahmad Guntara (Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Koperasi Kota Bandung) ketika sedang menjelaskan pertanyaan dari penulis</p> <p>Beliau dengan senang hati untuk diwawancara oleh saya. Karena ibunda sempat menjadi salah satu staff bagian di Dinas Koperasi Bandung, sehingga beliau begitu bersemangatnya menerima saya dan siap melayani apapun yang saya butuhkan. Tak berlama-lama saya pun langsung melontarkan berbagai macam pertanyaan mengenai permasalahan yang sedang terjadi terkait kasus lintah darat ini. Guntara menerangkan bahwa setiap Kosipa yang terdaftar itu, sudah diatur oleh unda-undang perkoperasian. Segala aspek Koperasi yang ada tentu harus ada badan hukumnya. Bapak Ahmad menjelaskan, bahwa kepala seksi di dalam struktur organisasi ini terbagi dua antara lain, seksi kelembagaan dan seksi pendaftaran. Seksi pendaftaran ini sekarang ditangani oleh Imas Histohari. Adapun wakilnya pada saat itu sedang bertugas di ruang dinas, Hj. Hubadiah.4</p> <p>Undang-undang yang mengatur Kosipa sudah memasuki pogja yang baru No. 17 Tahun 2012, tentang Perkoperasian. Prosedur yang perlu ditekankan dalam Kosipa ini diatur dalam Keperaturan Menteri tentang pengelolaan simpan pinjam. Dengan adanya UU yang baru sekarang, kini terbentuk kembali Kepmen yang baru. Kepmen ini terdiri dari 17 bab, 126 Pasal, 10 PP (Peraturan Pemerintah), dan 6 Permen (Peraturan Menteri). Tata cara pengelolaan dan permohonan membentuk koperasi badan hukum, pengembangan, membentuk aspek badan perkoperasian syari'ah, mengatur lembaga koperasi simpan pinjam, ketentuan mengenai simpan pinjam, tata cara pembubaran dan penyelesaian badan hukum koperasi, peran pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada koperasi berbadan hukum, tata cara mengatur mekanisme sampai dengan bab-bab yang mengatur teknis untuk perangkat, modal, tingkat usaha Koperasi. Data-data tersebut tertera pada buku yang dimiliki Bapak Guntara, saat dimintai keterangan ketentuan secara hukum dan aturan dinas Koperasi Kota Bandung. Syarat yang harus dipenuhi dalam membentuk Koperasi keanggotaan minimal 20 orang. Tentunya perlu diketahui bahwa setiap badan Koperasi wajib mengadakan rapat khusus untuk mengesahkan berdirinya Koperasi Simpan Pinjam itu. Koperasi legal dikatakan sah apabila anggota dan pengurus sudah menyepakati tujuan dan rencana dari kegiatan yang akan direalisasikan. Apakah Koperasi yang disepakati ini berupa simpan pinjam, jasa, konsumen, dan untuk disampaikan juga nama Koperasi, domisilinya di mana, nama pengurus diantaranya bisa tiga atau lima yang penting harus ganjil dan harus jelas strukturnya. Pengawas bisa mengusulkan pengurus yang baru, jika diharuskan pergantian dan tentu kembali kepada anggotanya untuk disepakati dan dipilih siapa yang layak untuk menjadi pengurus. Mulai sekarang tidak ada simpanan wajib lagi, tetapi menjadi SMK (Sertifikat Modal Koperasi), nominalnya harus maksimum dengan setoran pokok, misalkan setoran pokoknya Rp. 50.000,maka SMKnya pun juga harus sama agar seimbang. Jadi semakin banyak saham yang diberikan kepada anggota maka akan semakin kuat dan kokoh Koperasi yang dikelolanya. Dalam hal ini pun anggota dianjurkan untuk berpartisipasi lagi, menyimpan dan berbelanja di Koperasi untuk melangsungkan kepedulian sesam anggota terutama kepada lingkungan. Harus mandiri dan profesional sehingga sekarang menjadi koperasi yang swadaya. Undang-undang No. 12 Tahun 1967 dikatakan bahwa koperasi adalah sebagai organisasi pemerintah yang berwatak sosial. Tahun 1952 sebagai badan usaha, dan UU yang baru ini Tahun 2012 sebagai badan hukum. Jadi harus lebih profesional lagi dalam mengelola badan koperasinya. Pro dan kontra t...</p>

Recommended

View more >