Diplomasi Jalur Sutra - Upload

  • Published on
    08-Nov-2015

  • View
    6

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

maritime

Transcript

  • Universitas Diponegoro | Program Studi Ilmu Hubungan Internasional 1

    Diplomasi Jalur Sutra, Overheating Ekonomi dan Interdependensi Kompleks: Sebuah Observasi

    Internal Atas Sebuah Modernisasi Peradaban

    Wahyu Setiawan

    Abstrak

    Semenjak Open door policy di tahun 1985, ekonomi China terus tumbuh secara impresif secara year on

    year (YoY). Model pertumbuha ekonomi china sendiri boleh dibilang hampir tanpa cacat. Namun disisi lain

    model ekonomi China yang mengacu pada model ekonomi Keynesian sendiri juga memiliki beberapa

    kelamahan mendasar. Kelemahan ini terletak dari kecendrungan munculnya malinvestasi, overheating,

    yang kemudian diikuti oleh Minsky moment yang berujung pada crash. Dilema ini kemudian mendorong

    perubahan pendekatan kebijakan luar negeri Beijing yang cendrung assertive menjadi jauh lebih soft headed

    di era Xi Jinping. Perubahan ini ditujukan untuk mengakomodir sebuah skema penyelaman ekonomi baru

    yang termaktub dalam new silk road diplomacy, yang membutuhkan sebuah pendekatan baru untuk

    menciptakan sebuah interdependensi dan sebuah skema multilateralisme sebagai penampung spill over atas

    liquiditas china.

    Kata Kunci: Diplomasi Jalur Sutra, Complex Interdependency, Malinvestasi, Overheating

    Pendahuluan, Diplomasi Jalur Sutra

    Paska menjabat sebagai President China, Xi Jinping terus melakukan upaya untuk melakukan ekspansi bagi

    peranan China pada level state-sysstem. Salah satu yang diinisiasi oleh Presiden xi adalah membangun

    ulang kejayaan jalur sutra di era abad 21. Jalur Sutra sendiri merupakan jalan perdagangan kuno yang

    dirintis semenjak tahun 206 sebelum masehi, diera Dinasti Han. Dimasa kegemilangannya jalur sutra

    membentang sejauh lebih dari 6000 Km menghubungkan China dengan peradaban barat.1 Jalur Sutra

    berfungsi sebagai transmission belt penting bagi penyebaran teknologi, pengetahuan, ideology kala itu.

    Jalur Sutra juga berperan segnifikan bagi akselerasi pertumbuhan peradaban yang dilantasinya baik China,

    Persia, Eropa, dan Sub kontinen India. Tidak hanya mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, Jalur Sutra

    menjadi sebuah platform bagi interaksi dan munculnya mutual understanding bagi Negara-negara yang

    dilewatinya.

    Secara garis besar Jalur Sutra dapat dibagi menjadi dua klaster besar yaitu land based Silk Road dan

    maritime Silk Road. Jalur Sutra yang berbasis laut sendiri mulai dibangun pada abad pertama di Giao Chi.

    Jalur ini menghubungkan peradaban China dengan kota-kota pelabuhan utama dibawah control kekaisaran

    romawi di Mesir dan juga wilayah nabatean di sekitar Laut Merah melalui kota-kota pelabuhan di India

    sebagai transit. Peran segnifikan inilah yang kemudian disadari china untuk kemudian dibangkitkan sebagai

    platform untuk membawa china sebagai hi-income state. Diplomasi Jalur Sutra ini sendiri memiliki posisi

    yang sangat segnifikan bagi Beijing, dimana Beijing secara intensif terus melakukan lobi-lobi bagi terhadap

    Negara-negara yang akan dilewati. Hal ini dapat dilihat melalui turunnya langsung Presiden Xi dalam

    1 Boulnois, Luce. 2005. Silk Road: Monks, Warriors & Merchants. Hong Kong: Odyssey Books..

  • Universitas Diponegoro | Program Studi Ilmu Hubungan Internasional 2

    menjalankan lobi-lobinya ke berbagai negara, tidak hanya terhadap Negara-negara mayor seperti India dan

    Indonesia, namun juga terhadap negara-negara least developed Countries seperti Sri Lanka dan Maldive.

    Di Indonesia, Presiden Xi sendiri bahkan langsung menyampaikan proposal terkait rencana pembangunan

    Jalur Sutra ini langsung dihadapan parlemen. Tidak hanya itu bahkan untuk menggoalkan proposal ini, Xi

    bahkan juga menawarkan mekanisme swap bagi Indonesia senilai 15 Milyar Dollar untuk merecover rupiah

    yang sudah terdepresiasi sebesar 16 persen akibat quantitative easing. Tidak hanya mekanisme swap,

    Beijing juga menyertakan paket investasi senilai 12 Milyar dollar dalam bentuk joint venture pembangunan

    smelter dalam mendukung pemerintah Indonesia untuk menjalakan UU no. 4 Tahun 2009.2 Serangkaian

    penawaran investasi ini membuah penawaran Beijing ini menjadi sangat sulit untuk ditolak oleh Jakarta

    dan juga menjadi wujud keseriusan oleh Beijing.

    Tidak hanya lobi-lobi secara poltis, china secara serius terus mempersiapkan infrastruktur pendukung bagi

    rencana jalur sutra maritime. Beberapa proyek infrastruktur segnifikan yang dimulai Beijing antara lain

    pembangunnan mid-point port di Srilanka. Dimana mid-point port ini berfungsi sebagai transit port bagi

    merchant vessel yang berlayar dari China menuju Eropa maupun Afrika. Nilai proyek inipun bernilai lebih

    dari 1,4 Milyar dollar yang nantinya juga akan didukung dengan sistem kelistrikan yang akan didukung

    oleh pembangkit listrik sebesar 900MW yang juga akan dibangun China di utara Sri Lanka.3

    Selain di Sri Lanka, Beijing melalui China Merchants Holding, co juga menjadi partner utama bagi Pelindo

    II, sebuah perusahaan milik Negara, di Indonesia, dalam pembangunan pelabuhan container dan juga iron

    ore di Tanjung Sawuh, Batam. Pelabuhan dengan kapasitas 4 Juta Teu dan 100 Juta ton Iron ore ini sendiri

    diprediksi akan menelan investasi sebesar 2 milyar dollar dan akan selesai ditahun 2016.4 Lalu bagaimana

    tujuan dari model baru diplomasi China yang mahal ini dan segnifikansinya terhadap Beijing dapat

    dijelaskan secara teoritis? Sebuah upaya membangun konstruksi sebagai pemegang mandat surga? Ataukah

    sebatas sebuah scenario penyelamatan?

    Untuk menjawab pertanyaan diatas, paper ini akan disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut. Pada

    Bagian pertama kita akan melakukan sebuah observasi internal atas China dan modernisasi peradabanya

    paska administrasi Pimpinan Xiaoping. Pada bagian Kedua kita akan melakukan sebuah analis terhadap

    kelemahan substansial pada sistem ekonomi yang diterapkan oleh china, dan pada bagian terakhir kita akan

    menganalisis bagaimana diplomasi jalur sutra menjadi sebuah skema penyelamatan atas modenisasi

    peradaban china

    A Godot?

    Dalam peradaban China kita akan menemukan sebuah konsep bernama Zhongguo, sebuah wujud

    exceptionalisme dalam peradaban China. Konsep ini mengkonstruksikan China sebagai Negara tengah,

    sebuah peradaban superior didunia.5 Dan hal inilah yang kemudian menjadi alasan bagaimana China

    kontemporer begitu assertive dalam memperjuangkan interestnya di Laut China Selatan. Dan ketika kita

    mengacu pada teori exceptionalisme dalam perspektif psikologi maka kecendrungan ini akan terus naik,

    2 China's Xi to give first speech by foreign leader to Indonesia parliament. Thompson Reuters. 2 Oktober 2013. diakses pada 5 oktober 2014 3 China's About To Launch Construction Of A New $1.4 Billion Port City. Business Insider. 16 September 2016. Diakses pada 5 Oktober 2014 4 China Merchants to help build Indonesia port. Market Watch. 27 Juni 2012. Diakses Pada 5 Oktoer 2014 5 Hui, Victoria Tin-Bor.2007. War and Historical China: Problematizing Unification and Division in Chinese History. Singapore East Asian Institute

  • Universitas Diponegoro | Program Studi Ilmu Hubungan Internasional 3

    seiring trend hard power yang dimiliki china.6 Ditambah lagi eksistensi nasionalisme assertive yang muncul

    di china modern paska abad penghinaan yang menolak segala realitas sebuah kerjasama dalam hubungan

    antar negara.7 Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, kenapa china menjadi begitu ambivalent,

    dan menjadi sebuah Negara softheaded yang seakan akan memposisikan dirinya sebagai godot dan menjadi

    panacea bagi Negara-negara LDP? Kenapa kebijakan pendekatan diplomasi jalur sutra begitu bertentangan

    dengan logic-logic dalam peradaban China dan juga paham komunisme-leninisme yang menyusun

    kebijakan politik luar negeri Baijing

    Observasi Internal

    Chinese Modernization, an observation over doctrine

    Paska berkuasanya Den Xiaoping dalam Communist Party of China, China mulai merubah kebijakan

    dibidang ekonominya dari yang bersifat dogmatis isolasionis menjadi pragmatis inclusive. Perubahan ini

    menghasilkan sebuah model ekonomi dengan apa yang disebut sebagai sosialis developmentalis. Sebuah

    model yang menggabungkan nilai-nilai sosialis dengan nilai-nilai kapitalisme.8 Secara garis besar

    sosialisme pembangunan china ini adalah apa yang saat ini kita sebut sebagai eksperimentalism Keynesian.

    Hal ini ditandai dengat kecendrungan kebijakan moneter dan fiscal yang mengacu pada nilai-nilai Keynes,

    seperti pemberlakuan open door policy, dual-track interest rate, moneterisme pasar bebas, investasi yang

    massive disektor infrastruktur, serta bagaimana spending menjadi mantra dalam sistem ekonomi china.

    Merski sukses menghantarkan China menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua didunia, model ekonomi

    ini memiliki sebuah kelemahan mendasar.

    Austrian School Critics

    Stagflasi di awal decade 70an menjadi akhir dari kejayaan Keynesian economic pada rezim moneter

    internasional dan mengakhiri The Golden Ages of Capitalism, salah satu factor yang menyebabkan

    kejatuhan rezim Keynesian economic ini adalah kritik dari Frederick Hayek atas Keynesian economis

    terkait apa yang mereka sebut sebagai malinvestasi.9 Malinvestasi sendiri sebuah konsep Austrian Business

    Cycle dimana pada kondisi tertentu Keynesian economic cendrung untuk mengakibatkan investasi yang

    tidak tepat sasaran. Secara garis besar hal ini diakibatkan oleh dua hal, yang pertama adalah pemberlakuan

    dual-track interest rate, yang memastikan rendahnya likuiditas yang terparkir di sektor perbankan, serta

    memastikan business cycle untuk terus berputar akibat rendahnya bunga bank, namun tetap memasang

    bunga obligasi pada angka keekonomisan.10 Factor yang kedua adalah overheating, yaitu kecendrungan

    dimana masyarakat cendrung menjadi sangat konsumeris pada produk-produk tertier seperti properti

    mewah yang tidak dapat diimbangi oleh sektor manufaktur. Kedua factor inilah yang kemudian

    menimbulkan investasi yang membabi buta tanpa memperhatikan return on investment. Kecendrungan

    seperti inilah yang dipahami oleh Beijing akan menjadi sebuah bahaya latent yang berpotensi menimbulkan

    eskalasi inflasi dan juga bubble khususnya disektor property dan berakhir dengan apa yang disebut Hyman

    6 William R. Canton, Riley Dunlap.1978. Environmental Sociology: A New Paradigm. Washington D.C: The American Sociologist Journal. Hal 42 7 Whitting S. Allen.1983. Assertive Nationalism in Chinese Foreign Policy dalam Asian Survey Vol 23 No.8 California: University of California Press 8 Tisdall, Glem, 2009. ECONOMIC REFORM AND OPENNESS IN CHINA: CHINAS DEVELOPMENT POLICIES IN THE LAST 30 YEARS dalam economics analysis & Policy. Queenslang: Australian Economics Society 9 Glyn, Andrew.1988. The Rise and Fall of The Golden Age Cambridge: World Institute for Development Economics Research of The United Nations University 10 He, Dong. 2011. Dual-track interest rates and the conduct of monetary policy in China: Helsinki: Bank of Finland, Institute for Economies Transition

  • Universitas Diponegoro | Program Studi Ilmu Hubungan Internasional 4

    Minsky sebagai Minsky Moment, sebuah kondisi dimana kenaikan segnifikan atas nilai investasi dan juga

    spekulasi penggunaan kredit pada moment tertentu akan mengakibatkan collapsenya nilai asset, yang pada

    akhinya secara sistemik dapat mentrigger sebuah financial crisis. 11 Berangkat dari kritik ini kami mencoba

    menganalisis makroekonomi China untuk menemukan rasionalisasi atas model diplomasi yang mahal ini.

    Untuk itu kami menganalisis hal ini melalui teori interdepensi kompleks nye, pemilihan ini didasari atas

    pemahaman bahwa kondisi market/sistem ekonomi internasional yang semakin terintegrasi melalui skema

    free trade.

    Malinvestasi, dan Economic Overheating

    Overheating akibat peningkatan demand akan consumer & luxury good di China sendiri merupakan sebuah

    fenomena yang boleh dibilang unavoidable. Dimana hal ini dibentuk akibat pergeseran culture yang

    mengarah pada ekonomi berbasis pada sektor manufacture yang menawarkan lebih banyak kesejahteraan

    dan daya beli. Peningkatan ini secara segnifikan merubah life style dalam masyarakat China kedalam dua

    buah kecendrungan yang membahayakan. Yang pertama adalah kecendrungan munculnya trend investasi

    secara massf yang dilakukan oleh masyarakat china di sektor property. Demand yang tinggi atas produk

    investasi inilah yang kemudian mendorong kenaikan harga secara massive atas nilai investasi,

    kecendrungan ini menjadi sangat berbahaya mengingat dalam konteks ini terdapat sebuah apresiasi nilai

    berlebih didalam market. Kecendrungan ini menimbulkan seseorang menjadi cendrung untuk lebih berani

    mengajukan pinjaman untuk melakukan pembelian pada sektor property. Trend ini berkembang secara

    massive didukung oleh pemberlakuan dual-track interest rate, yang memungkinkan masyarakat menjadi

    lebih mudah mendapatkan kredit. Kecendrungan yang kedua adalah kecendrungan perilaku konsumtif dan

    obsesif pada barang-barang kebutuhan yang bersifat tersier. Kedua kecendrungan ini mengakibatkan

    terjadinya inflasi, akibat demand yang tidak dapat dipenuhi oleh supply.

    Figur 1. Pertumbuhan Penjualan Barang Mewah di China Secara Year on Year (YoY)12

    Tahun 2009-2010 2010-2011

    Pertumbuhan YoY dalam % 27% 30%

    Pada sektor property, inilah yang mengakibatkan begitu banyaknya property yang tidak dihuni, dan menjadi

    sebuah kota kosong yang lazim disebut Ghost City. Fenomena overheating inilah yang kemudian

    mengakibatkan apa yang kita sebut sebagai malinvestasi. Dimana dalam konteks ini terjadi sebuah

    kesalahan mendalam apabila dilihat melalui teori business cycle dalam Keynesian economic, yaitu

    paradigma property tidak lagi berfungsi sebagai hunian yang mendukung sebuah peradaban yang disisi lain

    menjadi instrumen investasi, menjadi murni hanya sebagai alat investasi. Pergeseran paradigma ini dapat

    dilihat melalui rasio harga dan pertumbuhan harga terhadap income level pada titik ekstrim di berbagai kota

    china, serta rasio hutang.

    11 Galbraith, James.2009. The Generalized Minsky Moment. Austin: LBJ School of Public Affairs 12 ________________. 2013. Luxury market in China: Huge growth potential ahead.Hongkong: The Fung Business Intelligence Centre

  • Universitas Diponegoro | Program Studi Ilmu Hubungan Internasional 5

    Figure 2: Rasio harga rumah terhadap household income

    Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa rasio harga property terhadap annual income rumah tangga di kota

    kota china jauh lebih tinggi dibandingkan rasio dari kota-kota besar dunia lainnya, bahkan bisa mencapai

    300% lebih tinggi.13 Chart diatas secara general mengisyaratkan adanya sebuah kondisi dimana tingginya

    demand, perilaku speculative, serta informasi asimetris yang mendorong kenaikan harga property di china.

    Lalu apakah ini mengisyaratkan sebuah bahaya? Untuk mengetahui...