Disusun Oleh

  • Published on
    24-Sep-2015

  • View
    257

  • Download
    42

Embed Size (px)

DESCRIPTION

punya orang

Transcript

<p>Disusun oleh:Yoga Hepta Gumilar 1002055</p> <p>BAB IPENDAHULUANA. Latar belakangDewasa ini kemajuan teknologi sangat pesat ini juga berpengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu perpetaan adalah salah satu ilmu yang sangat besar di pengaruhi oleh kemajuan teknologi tersebut di tandai dengan proses perekaman jarak jauh yang perekamannya melalui satelit. Peta yang dihasilkan oleh perekaman jarak jauh ini dikenal dengan nama citra pengindraan jauh. Namun pada dasarnya citra satelit dengan peta mempunyai perbedaan yang mencolok dan tidak bisa dikatakan sama.Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini membawa dampak positif bagi manusia, karena dengan pengindraan jarak jauh tersebut manusia dapat melakukan penelitian tanpa terjun langsung kelapangan melainkan hanya melihat pada citra tersebut. Geografi adalah salah satu ilmu yang bisa dikatakan terbantu dengan adanya pengindraan jarak jauh tersebut karena objek atau fenomena yang ada di permukaan bumi dapat diperoleh data dan informasinya dengan citra pengindraan jarak jauh tersebut. Dengan menggunakan data pengindraan jarak jauh tersebut, secara langsung kita dalam mengkaji objek permukaan bumi yang tergambar pada citra tersebut secara langsung menunjukan pendekatan kewilayahan, kelingkungan dalam konteks keruangan. Hal ini didasarkan bahwa sifat dan karakteristik objek di permukaan bumi terjadi relasi , interaksi dan interpedensi antara suatu factor dengan factor lainnya dalam suatu ruang maupun factor-faktor antar ruang.Pengindraan jauh bertujuan untuk mengambil data dan informasi dari citra foto maupun non foto dari berbagai objek yang ada di permukaan bumi . citra pengindraan jarak jauh ini antara lain berupa foto udara, citra landsat, citra SPOT, citra quickbird dan citra IKONOS.Citra penginderaan jauh merupakan gambar kenampakan yang tidak tergeneralisasi. Misalnya pada skala 1: 50.000, jalan dengan lebar 10 m digambarkan dengan ukuran 0,2 mm. Sekalipun ukurannya sangat kecil, kenampakan jalan tersebut masih terlihat pada citra penginderaan jauh. Pada peta skala 1: 50.000, kenampakan jalan dengan lebar 10 m seharusnya berukuran 0,2 mm. Apabila jalan tersebut merupakan kenampakkan yang penting maka kenampakkan jalan akan tetap ditonjolkan. Misalkan digambarkan dengan ukuran 1mm.Citra penginderaan jauh mengandung ketidaktelitian dalam hal ukuran planimetriknya, terutama foto udara yang mempunyai proyeksi sentral. Walaupun hal ini tidak mengganggu interorentasi, namun dalam memplotkan hasil interpretasi pada peta akan mengalami kesulitan. Hal ini karena skala di berbagai bagian tidak sama.Teknik-teknik memindahkan hasil interpretasi ke dalam peta memerlukan yang mahal seperti camera, stereo, Analog, optical photograph, rectifier, zoom transfercope dan plotter analytical.Dalam menganalisis atau mengedintifikasi suatu citra, pengenalan objek dan unsur-unsur interpretasi sangatlah penting karena jika kita tidak menguasai unsur-unsur interpretasi tersebut kita tidak mungkin bisa dalam memperoleh data dengan cara interpretai tersebut. Ini juga berlaku untuk menentukan karakteristik-karakteristik suatu objek di dalam citra tersebut.Citra pengindraan jarak jauh dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang dan kepentingan, salah satunya adalah untuk mengidentifikasi marine. Melalui citra pengindraan jauh ini kita dapat mengetahui bentukan-bentukan apa saja yang terdapat di wilayah marine. Salah satunya adalah mengidentifikasi bentukan delta yang di akibatkan oleh sedimentasi sungai yang arus airnya melambat. Delta ini ada beberapa jenis dan bisa dilihat di citra pengindraan jauh.</p> <p>B. TujuanTujuan yang ingin diperoleh dari praktikum ini adalahUntuk mengetahui bentukan-bentukan marine yang ada di desa jayagiri kecamatan sindangbarang, cianjur selatan. Jawa barat</p> <p>C. Manfaat Manfaat yang dapat diperoleh dari laporan praktikum ini diantaranya :1. Dapat memperkaya pengetahuan tentang pengindraan jauh2. Dapat mengetahui tindak lanjut pemerintah atau aparat yang berwenang tentang masalah dan pemanfaatan di daerah marin khususnya merine di wilayah sindangbarang.3. Untuk menambah wawasan</p> <p>BAB IITINJAUAN PUSTAKA</p> <p>A. Marine Geomorfologi asal marin merupakan bentuk lahan yang terdapat di sepanjang pantai. Proses perkembangan daerah pantai itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kedalaman laut. Semakin dangkal laut maka akan semakin mempermudah terjadinya bentang alam daerah pantai, dan semakin dalam laut maka akan memperlambat proses terjadinya bentang alam di daerah pantai. Selain dipengaruhi oleh kedalaman laut, perkembangan bentang lahan daerah pantai juga dipengaruhi oleh:1. Struktur dan tekstur batuan2. Keadaan bentang alam daerayh pantai3. Proses geomorfologi yang disebabakan oleh angin, air, gelombang, es dan arus laut4. Prosesd geologi yang berasal dari dalam bumiadapun macam-macam bentukan marine, yaitu :1) Delta Delta terbentuk pada muara sungai yang memasuk tubuh air tenang (danau dan lautan). Kecepatan air sungai berkurang dengan cepat dan pengendapan sedimen terjadi.2) Dataran Abrasi merupakan suatu dataran hasil erosi gelombang laut yang menghancurkan dinding pantai.3) Split merupakan endapan pantai dengan suatu bagian tergabung dengan daratan dan bagian lainnya menjorok ke laut.4) Tombolo merupakan suatu endapan tipis yang menghubungkan suatu pulau dengan daratan utama.5) Bars bars hamper sama dengan split, tapi bars menghubungkan headland satu dengan yang lainnya yang bisa terbentuk di muara sungai.6) Gisik (beach) merupakan bentang lahan yang masih dipengaruhi pasang terendah dan pasang tertinggi air laut, yang merupakan akumulasi pasir pantai.7) Beting Gisik (beach ridge) merupakan perkembangan dari gisik yang biasanya telah banyak dimanfaatkan untuk lahan-lahan permukiman atau pertanian yang tidak dipengaruhi lagi oleh aktivitas pasang surut, tetapi proses pembentukannya merupakan kerjasama antara aktifitas marin dan fluvial, biasanya tersusun oleh endapan pasir dan lempung.8) Rataan pasang surut(tidal flat) merupakan suatu dataran pantai yang masih dipengaruhi oleh aktivitas pasang surut air laut , dengan material penyusun umumnya lempung pasiran (pantai berlempung).9) Rataan lumpur( mud flat) tidal flat yang apabila tidak ada vegetasi apapun yang tumbuh10) Rawa payau(saltmars) tidal flat yang apabiloa ada vegetasi yang tumbuh diatasnya seperti mangrove.11) Rataan terumbu (coral flat) merupakan suatu daratan yang terbentuk akibat pendangkalan pantai dan sedimentasi yang besar diatas suatu formasi batuan yang tersusun oleh terumbu karang.12) Swale merupakan bentukan morfologi berupa ledokan yang terdapat diantara dua beting gisik atau diantara dua gumbuk pasir.13) Lagoon merupakan morfologi ledokan yang berada diantara dua beting gisik (swale) yang berisi air asin atau bagian perairan laut yang menggenang dan terpisah dengan tubuh perairan laut utama akibat adanya bar di depan muara sungai.14) Dataran alluvial pantai (coastal alluvial plain) merupakan bentang lahan daratan sebagai akibat perkembangan pantai yang telah lanjut dan bergeser kearah darat, yang telah tertutup oleh material-material hasil sedimentasi proses fluvio-marine, tersusun oleh material alluvium (pasir berlempung) yang relative subur, dan banyak dipergunakan untuk kawasan pertanian irigasi dan pemukiman.</p> <p>B. Delta Delta adalah suatu bentuk yang menjorok keluar dari garis pantai (seperti huruf D), terbentuk saat sungai masuk ke laut, dengan banyaknya suplai sedimen yang dibawa air sungai lebih cepat dibanding proses pendistribusian oleh proses-proses di pantai. a. Proses yang Mempengaruhi Pembentukan Delta1. IklimIklim berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, dan biologi dalam semua komponen sistem sungai. Pada daerah tropis, penyediaan volume air permukaan besar. Pelapukan fisika dan kimia berpengaruh terhadap tingkat sedimentasi.2. Debit SungaiDebit sungai tergantung dari faktor iklim, mempengaruhi bentuk geometri delta. Delta dengan debit air dan sedimennnya tinggi dan konstan tiap tahunnya menghasilkan suatu tubuh pasir yang panjang dan lurus serta umumnya membentuk sudut yang besar terhadap garis pantai. Sebaliknya bila produk sedimen serta variasi debit air setiap tahunnya berbeda, maka terjadinya perombakan tubuh-tubuh pasir yang tadinya diendapkan oleh proses-proses laut dan cenderung membentuk tubuh delta yang sejajar dengan garis pantai.3. Produk SedimenDelta tidak akan terbentuk jika produk sedimennya terlalu kecil.4. Energi GelombangEnergi gelombang merupakan mekanisme penting dalam merubah dan mencetak sedimen delta yang berada di laut menjadi suatu bentuk tubuh pasir di daerah pantai.5. Proses Pasang SurutBeberapa delta mayor di dunia didominasi oleh aktivitas pasang yang kuat. Diantaranya adalah delta Gangga-Brahmanaputra di Bangladesh, dan delta Ord di Australia.</p> <p>6. Arus PantaiArus pantai mengorientasikan tubuh-tubuh pasir hingga membentuk sejajar atau hampir sejajar dengan arah aliran sungai.7. Kelerengan PaparanKelerengan paparan benua sangat berperan dalam menentukan pola perpindahan delta, yang terjadi dalam waktu yang cukup lama.8. Bentuk Cekungan Penerima dan Proses TektonikBentuk cekungan penerima merupakan pengontrol terhadap konfigurasi delta serta pola perubahannya. Daerah dengan tektonik yang aktif dengan akumulasi sedimen yang sedikit, sulit terbentuk delta . sebaliknya untuk daerah dengan tektonik pasif dan akumulasi sedimen yang banyak akan terbentuk delta yang baik.</p> <p>b. Syarat-syarat Terbentuknya Delta1. Arus sungai pada bagian muara mempunyai kecepatan yang minimum.2. Jumlah bahan yang dibawa sungai sebagai hasil erosi cukup banyak.3. Laut pada daerah muara sungai cukup tenang.4. Pantainya relatif landai.5. Bahan-bahan hasil sedimentasi tidak terganggu oleh aktivitas air laut.6. Tidak ada gangguan tektonik, kecuali penurunan dasar laut seimbang dengan pengendapan sungai</p> <p>c. Unsur-unsur Delta1. Sungai : sebagai sarana pengangkut material2. Distributary Channel3. Delta Plain : Bagian delta yang berada di daratan, umumnya merupakan rawa-rawa.4. Delta Front / Delta Slope : bagian delta yang berada di depan delta plain, dan merupakan laut dangkal.5. Pro delta : bagian terdepan dari delta yang menuju ke laut lepas.</p> <p>d. Klasifikasi Delta1. Menurut Fisher, (1969)Dasar klasifikasi : Proses fluvial dan influks sedimen. Proses laut (gelombang dan arus bawah permukaan).</p> <p>Dibagi menjadi 3 kelas, yaitu : Cuspate Delta. Lobate Delta. Elongate Delta / Bird Food Delta</p> <p>2. Menurut Galloway (1975) :Dasar : dominasi proses fluvial, gelombang dan pasang surut.Contoh Deltanya yaitu : Bird foot delta : jika pengaruh fluvial paling dominan. Cuspate delta : jika pengaruh gelombang paling dominan. Estuarine delta : jika pengaruh pasang surut paling dominan.</p> <p>C. Pengindraan jauha. Pengertian Dewasa ini perkembangan pengindraan jauh sangat pesat, perkembangan ini menyangkut wahana, atau alat/kendaraan pembawa sensor, jenis citra serta liputan dan ketersediaanya , alat dan analisis data serta penggunaan dan bidang penggunaannya.Untuk lebih jelasnya ada beberapa pengertian pengindraan jauh atau indraja dari para ahli, Pengindraan jauh berasal dari kara remote sensing memiliki pengertian bahwa pengindraan jauh merupakan suatu ilmu dan seni untuk memperoleh data dan informasi dari suatu objek dipermukaan bumi dengan menggunakan alat yang tidak berhubungan langsung dengan objek yang dikajinya (Lillesand dan Kiefer, 1979). Pengindraan jauh merupakan variasi teknik yang dikembangkan untuk memperoleh dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut berbentuk padiasi elektromagnetik yang dipantulkan dan dipancarkan dari permukaan bumi (lindgren, 1859). Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh, menemutunjukkan (mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan sensor pada posisi pengamatan daerah kajian (Avery, 1985). b. Sejarah Pengindraan JauhPerkembangan Pengindraan Jauh dibedakan menjadi dua tahap, yaitu sebelun tahun 1960 yang masinh menggunakan foto udara dan sesudah taun 1960 yang sudah menggunakan satelit. 1. Sebelum Tahun 1960Perkembangan kamera diperoleh oleh Aristoteles dengan ditemukannya teknologi Camera Obscura yang merupakan temuan suatu proyeksi bayangan melalui lubang kecil ke dalam ruang gelap. Percobaan ini dilanjutkan oleh beberapa ahli lagi yang kemudian mulai ditemukannya proses fotografi yang akhirnya berkembang menjadi teknik fotografi. Teknik fotografi terus berkembang setelah diproduksinya rol filem yang awalnya di buat untuk mempotret desa dan kota di Paris dengan menggunakan balon udara. Pada yahun 1903 di Jerman, kamera pertama yang diluncurkan melalui roket yang dimaksudkan untuk melakukan pemotretan udara dari ketinggian 800 m dan kamera tersebut kembali ke bumi dengan parasut. Foto udara pertama kali dibuat oleh Wilbur Wright pada tahun 1909. Selama periode Perang Dunia I, foto udara digunakan untuk berbagai keperluan antara lain untuk pelacakan dari udara yang dilakukan dengan pesawat kecil dilengkapi dengan kamera untuk mendapatkan informasi kawasan militer strategis, juga dalam hal peralatan interpretasi foto udara, kamera dan film. Sejak tahun 1920 di Amerika, pemanfaatan foto udara telah berkembang pesat yang mana banyak digunakan sebagai alat bantu dalam pengelolaan lahan, pertanian, kehutanan, dan pemetaan penggunaan tanah. Dimulai dari pemanfaatan foto hitam putih yang pada gilirannya memanfaatkan foto udara berwarna bahkan juga foto udara infra merah. Selama perang dunia ke II, pemanfaatan foto udara telah dikembangkan menjadi bagian integral aktifitas militer yang digunakan untuk pemantauan ketahanan militer dan aktifitas daerah di pasca perang. </p> <p>2. Sesudah Tahun 1960Perekaman bumi pertama dilakukan oleh satelit TIROS (Television and Infrared Observation Satellite) pada tahun 1960 yang merupakan satelit meteorology. Sejak saat ini peluncuran manusia ke angkasa luar dengan kapsul Mercury, Gemini dan Apollo dan lain-lain digunakan untuk pengambilan foto pemukaan bumi. Sensor multispektral fotografi S065 yang terpasang pada Apollo-9 (1968) telah memberikan ide pada konfigurasi spektral satelit ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite), yang akhirnya menjadi Landsat (Land Satellite). Satelit ini merupakan satelit untuk observasi sumber daya alam. Setiap program satelit mempunyai misi khusus mengindera dan mengamati permukaan bumi, sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan aplikasi yang menjadi tujuannya. Misi satelit PJ resolusi tinggi sebagian berorientasi untuk inventarisasi, pantauan, dan penggalian lahan atau daratan, sebagian untuk mendapatkan informasi kelautan dan lingkungan. Tabel 1 menunjukkan program satelit PJ operasional mulai dari tahun 1990 sampai menjelang tahun 2000, yang distribusi datanya bagi masyarakat di seluruh dunia. Data PJ tersebut dapat dipesan, dibeli, atau diminta melalui operator satelit atau stasiun bumi di negara atau kawasan setempat.</p> <p>c. Fisika Pengindraan JauhKarakter utama dari suatu image (citra) dalam penginderaan jauh adalah adanya rentang panjang gelombang (wavelength b...</p>