Download File

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ahvxhZBbbbbja

Transcript

USUL THESIS

PENERAPAN SENTRALISASI OBATDI KLINIK MUHAMMADIYAH I PURWOKERTO

Oleh:Apsopela SandiveraP2CC13021

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAANPROGRAM PENDIDIKAN PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN KONSENTRASI MANAJEMEN RUMAH SAKITUNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANPURWOKERTO2014

LEMBAR PENGESAHANPENERAPAN SENTRALISASI OBATDI KLINIK MUHAMMADIYAH I PURWOKERTO

Oleh :

Apsopela SandiveraP2CC13021

Usul penelitian ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu prasyarat untuk memperoleh gelar Magister Manajemen pada Program Pascasarjana Universitas Jenderal soedirman Purwokerto.

Purwokerto, Juli 2014

Mengetahui,Pembimbing

Dr Margani Pinastika S.E, M.Si

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan YME, penulis dapat menyelesaikan usul penelitian yang berjudul penerapan sentralisasi Obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto ini. Terimakasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada Dr Margani Pinastika S.E, M.Si selaku pembimbing penulis sehingga usul penelitian ini dapat selesai dan tersusun paripurna. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan untuk segenap konsulen pada Program Pascasarja UNSOED yang telah memberikan dukungan moriil dan keilmuan sehingga penulis dapat menyelesaikan usul penelitian ini. Penulis mengharapkan agar usul penelitian ini dapat bermanfaat bagi para dokter, dokter muda, ataupun para medis lain atau mahasiswa kedokteran.Purwokerto, Juli 2014

Penulis

DAFTAR ISI

DAFTAR TABELv

I. PENDAHULUAN 1A. Latar Belakang 1B. Perumusan Masalah3C. Tujuan 3D. Manfaat 3

II. TINJAUAN PUSTAKA 4A. Sentralisasi Obat 4B. Peran sentralisasi Obat8C. Kerangka Teori 10D. Kerangka Konsep 11

III. METODE PENELITIAN12A. Rancangan Penelitian 12B. Populasi dan Sampel 12C. Variabel Penelitian15D. Definisi Operasional Penelitian 15E. Pengumpulan Data15F. Tata Urutan Kerja15G. Analisis data18H. Validitas Data18I. Waktu dan Tempat Penelitian 19J. Jadwal Penelitian 20

DAFTAR PUSTAKA 21

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Jadwal Penelitian 20

iii

I. PENDAHULUAN

A. Latar BelakangDewasa ini harga obat/alat kesehatan cukup tinggi/mahal dan diluar jangkauan masyakat, utamanya bagi klien dirumah sakit yang mayoritas menggunakan berbagai merek obat paten bagi setiap pasien (Laode, 2008). Penggunaan berbagai jenis dan merek obat dengan harga yang cukup tinggi tersebut tentu saja tidak hanya berpengaruh secara ekonomi semata; namun lebih dari itu; resiko penyimpangan penggunaan obat diluar hal semestinya juga mampu menimbulkan kerugian bagi klien itu sendiri. Resiko resistensi tubuh terhadap obat dan resiko resistensi kuman penyakit dapat terjadi manakala konsumsi obat oleh penderita tidaklah terkontrol dengan baik (Idham, 2005).Di sebagian besar negara, manajemen obat masih dilakukan secara tradisonal (Puspita, 2005). Artinya, tersedia lemari obat di bangsal yang selalu diisi oleh petugas farmasi sesuai permintaan perawat yang bekerja di bangsal itu. Hal ini menyebabkan tingginya angka pemberian obat (10-25%), desentralisasi suplai, buruknya kontrol inventori, manajemen obat tidak di tangan petugas farmasi yang kualisifikasinya lebih baik, pengawasan pemberian obat tidak efektif, dan tidak ada penanganan ahli farmasi klinik. Dengan cara tradisional ini, maka stok bisa mencapai 50 sampai 90 hari, yaitu 50% di gudang farmasi sentral dan 50% di bangsal bangsal (Muninjaya, 1999).Kontroling terhadap penggunaan dan konsumsi obat; sebagai salah satu peran perawat; perlu dilakukan suatu pola/alur yang sistematis sehingga penggunaan obat benar-benar dapat dikontrol oleh perawat sehingga resiko-resiko kerugian baik secara materiil maupun non materiil dapat dieliminir (Darlina, 2011). Upaya sistematik meliputi uraian terinci tentang pengelolaan obat secara ketat oleh perawat diperlukan sebagai bentuk tanggung jawab perawat dalam menyelenggarakan kegiatan keperawatan (Dinkes Kendari, 2002; Budi, 2008)Namun dalam kenyataannya dirumah sakit; tidak jarang ditemukan adanya jumlah tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan; sehingga beberapa tugas dan peran perawat harus diserahkan pada keluarga atau klien itu sendiri (Cangara, 2004; Sabarguna, 2004). termasuk didalamnya adalah penggunaan obat. Untuk itu perlu diupayakan langkah peningkatan mutu pelayanan dengan sentraliasi obat dan pengontrolan keluarga dalam menciptakan suatu bentuk pendelegasian peran dari perawat kepada keluarga; khususnya dalam pengelolaan obat sehingga resiko-resiko penyimpangan dapat diminimalkan (Tjiptono, 2000; Mutik, 2005).Di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto, belum ada data atau publikasi tentang manajemen sentralisasi obat. Maka dari itu, perlu memahami bagaimana manajemen sentralisasi obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto sehingga dapat menjadi bahan evaluasi klinik dan acuan manajemen sentralisasi obat untuk diterapkan pada praktek klinik lainnya.

B. Perumusan MasalahBagaimana penerapan sentralisasi obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto?

C. Tujuan Penelitian1. Tujuan UmumMengetahui dan menggambarkan penerapan sentralisasi obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto2. Tujuan Khususa. Mengetahui manajemen sentralisasi obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto.b. Menggambarkan penerapan sentralisasi obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto.c. Menggambarkan peran perawat sebagai bentuk desentralisasi dokter dalam manajemen sentralisasi obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto.

D. Manfaat Penelitian1. Manfaat Teoritisa. Mengevaluasi secara ilmiah penerapan sentralisasi obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto.b. Memberikan informasi ilmiah tentang manajemen sentralisasi obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto.2. Manfaat Praktisa. Institusi KesehatanMemberikan informasi tentang penerapan sentralisasi obat, sehingga dapat menjadi landasan peningkatan upaya manajemen klinik kesehatan khususnya sentralisasi obat.b. MasyarakatMemberikan informasi tentang penerapan sentralisasi obat di Klinik Muhammadiyah I Purwokerto.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sentralisasi Obat1. DefinisiSentralisasi obat adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan diberikan kepada pasien diserahkan pengelolaan sepenuhnya oleh perawat (Nursalam,2002). 2. Desentralisasi pengelolaan obatHal-hal berikut ini adalah beberapa alasan paling sering mengapa obat perlu disentralisasi (Nursalam, 2007):a. Memberikan bermacam-macam obat untuk satu pasienb. Menggunakan obat yang mahal dan bermerek, padahal obat standar yang lebih murah dengan mutu terjamin memiliki efektifitas dan keamanan yang samac. Meresepkan obat sebelum diagnosis pasti dibuat hanya untuk mencoba.d. Menggunakan dosis yang lebih besar daripada yang diperlukane. Memberikan obat kepada pasien yang tidak mempercayainya, dan banyak yang membuang atau lupa untuk minumf. Memesan obat lebih dari pada yang di butuhkan, sehingga banyak tersisa sesudah batas kadalwarsag. Tidak menyediakan lemari es, sehingga vaksin dan obat menjadi tidak efektifh. Meletaktan obat di tempat yang lembab, terkenak cahaya atau panasi. Mengeluarkan obat(dari tempat penyimpanan) terlalu banyak pada suatu waktu sehingga dipakai berlebihan atau dicuri(Muninjaya,1999).3. Teknik sentralisasi Sentralisasi obat mencakup proses dimana obat dikeluarkan dibagikan hingga diterima oleh pasien. Sentralisasi obat juga mencakup bagaimana mekanisme menambah atau mengganti obat yang diresepkan pada pasien sebelumnya (PT. (Persero) Askes Indonesia, 2002)a. Pengeluaran Pengeluaran obat sepenuhnya dilakukan oleh perawat. Penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan yang secara operasional dapat didelegasikan kepada staff yang ditunjuk, dimana keluaga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan obat (Nursalam, 2007).b. Penerimaan obat.Penerimaan Obat adalah obat yang diresepkan diperoleh oleh pasien. Obat yang telah diresepkan di tunjukkan kepada perawat dan obat yang telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada perawat dengan menerima lembar terima obat. Perawat kemudian menuliskan nama pasien, register, jenis obat, jumlah dan sediaan dalam kartu control, dan diketahui oleh keluarga atau pasien dalam buku masuk obat (Nursalam, 2007).Keluarga atau pasien selanjutnya mendapatkan penjelasan kapan atau bilamana obat tersebut akan habis. Serta penjelasan tentang 5T. Pasien atau keluarga selanjutnya mendapatkan salinan obat yang harus diminum beserta kartu sediaan obat. Obat yang telah diserahkan selanjutnya disampaikan oleh perawat dalam kotak obat (Nursalam, 2002).c. Pembagian obatObat yang telah diterima untuk selanjutnya disalin dalam buku daftar pemberian obat. Obat yang telah disimpan untuk selanjutnya diberikan oleh perawat dengan memerhatikan alur yang tercantum dalam buku daftar penerimaan obat: dengan terlebih dahulu dicocokan dengan terapi yang diinstruksikan dokter dan kartu obat yang ada pada pasien. Pada saaat pemberian obat, perawat menjelaskan macam obat, kegunaan obat, jumlah obat, dan efek samping. Usahakan tempat atau wadah obat kembali ke perawat setelah obat dikonsumsi. Pantau efek samping pada pasien. Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap pagi oleh kepala ruang atau petugas yang ditujukan dan didokumentasikan dalam buku masuk obat. Obat-obatan yang hampir habis akan diinformasikan kepada keluarga dan kemudian dimintakan resep kepada dokter penganggung jawab pasien (Nursalam, 2002). d. Penambahan obat baruBilamana terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau perubahan alur pemberian obat, maka informasi ini aakan dimasukkan dalam buku masuk obat dan sekaligus dilakukan perubahan dalam kartu sediaan obat.Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin, maka dokumentasi hanya dilakukan pada buku masuk obat dan selanjutnya diinformasikan kepada keluarga dengan kartu khusus obat (Nursalam, 2002).e. Obat khususObat dikategorikan khusus apabila sediaan memiliki harga yang cukup mahal, menggunakan alur pemberian yang cukup