Efek Pemanasan Global Terhadap Terumbu Karang

  • Published on
    23-Jun-2015

  • View
    1.272

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

<p>Efek Pemanasan Global Terhadap Terumbu KarangPenulis: Rahmad Firdaus (Sarjana lImu Kelautan UNDIP)</p> <p>edisi: 16/May/2008 wib Masyarakat di dunia saat ini membicarakan tentang pemanasan global (global warming) tidak terkecuali di Indonesia.</p> <p>banjarmasinpos.com ___________</p> <p>Isu pemanasan global ini juga menjadi perhatian seluruh masyarakat dunia dan menjadi bahasan dan agenda penting dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan beberapa waktu yang lalu bertempat di Bali, Indonesia, seluruh negara yang tergabung dalam PBB mengadakan Konvensi Perubahan Iklim yaitu Kerangka Kerja untuk Konvensi Perubahan Iklim Perserikatan BangsaBangsa, United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Pemanasan global ini diakibatkan adanya perubahan iklim permukaan bumi yang naik dari tahun ke tahun sehingga membuat suhu di bumi menjadi panas. Banyak efek-efek yang terjadi akibat pemanasan global ini. Salah satunya adalah naiknya suhu permukaaan air laut, yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan biota-biota yang ada di dalamnya, tidak terkecuali terumbu karang (coral reef). Akibat dari naiknya suhu permukaan air laut ini terhadap karang adalah terjadinya pemutihan atau lebih dikenal dengan pemutihan karang (coral bleaching). Dunia saat ini berada dalam ancaman perubahan suhu permukaan laut sebagai akibat dari pemanasan global. Perubahan iklim global juga merupakan ancaman yang besar pengaruhnya terhadap terumbu karang di Asia Tenggara. Peningkatan suhu permukaan laut telah mengakibatkan lebih seringnya terjadi pemutihan karang dengan tingkat kerusakan lebih besar. Peristiwa El Nino Southern Oscillation (ENSO) 1997-1998 telah memicu pemutihan karang terluas yang pernah tercatat di seluruh dunia. Diperkirakan 18 persen terumbu karang di kawasan Asia Tenggara telah rusak atau hancur. Pada tahun 1997, Indonesia termasuk salah satu diantara negara yang terkena dampak perubahan</p> <p>suhu permukaan laut akibat peristiwa El Nino berupa terjadinya mass bleaching (pemutihan massal) pada terumbu karang, peristiwa El Nino tersebut telah menimbulkan pemutihan karang secara luas di Indonesia, terutama di wilayah barat Indonesia. Pemutihan karang terjadi di bagian timur Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Di Kepulauan Seribu (perairan bagian utara Jakarta), sekitar 90-95 persen terumbu karang hingga kedalaman 25 m mengalami kematian. Dua tahun kemudian, tahun 2000, terumbu karang di Kepulauan Seribu mengalami pemulihan yang berarti, dengan 20-30 persen tutupan karang hidup pemutihan karang adalah pemutihan (warna menjadi pudar atau berwarna putih salju) terumbu karang karena keluarnya zooxanthellae dan polip karang yang disebabkan faktor-faktor yang menimbulkan stres pada karang, termasuk perubahan suhu air laut, sinar matahari yang melebihi batas, rendahnya kadar garam dan kadar oksigen, kurangnya cahaya, tingginya tingkat kekeruhan dan sedimentasi, penyakit atau tingginya bahan kimia beracun. Zooxanthellae adalah alga bersel tunggal yang bersimbiosis dengan karang, berperan memberikan energi dan nutrien bagi inang karang dengan memberikan hingga 95 persen hasil produksi fotosintesisnya dengan memanfaatkan cahaya matahari. Sehingga apabila alga tersebut keluar dari karang maka karang tersebut akan kehilangan energi dan nutrien yang sangat berguna untuk kehidupan karang. Mayoritas pemutihan karang secara besar-besaran dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini berhubungan dengan peningkatan suhu pennukaan laut (SPL). Dampak gabungan dari tinggi SPL dan tingginya tingkat sinar matahari (pada gelombang panjang ultraviolet) dapat mempercepat proses pemutihan dengan mengalahkan mekanisrne alami karang untuk melindungi dirinya sendiri dari sinar matahari yang berlebihan. Peristiwa pemutihan dalam skala besar dipengaruhi oleh naik-turunnya SPL, dimana pemutihan dalam skala kecil seringkali disebabkan karena tekanan langsung dari manusia (contohnya polusi) yang berpengaruh pada karang dalam skala kecil yang terlokalisir. Pada saat pemanasan dan dampak langsung manusia terjadi bersamaan, satu sama lain dapat saling mengganggu. Apabila suhu rata-rata terus menerus naik karena perubahan iklim dunia, karang hampir dapat dipastikan menjadi subjek pemutihan yang lebih sering dan ekstrim nantinya. Oleh karena itu, perubahan iklim saat ini dapat menjadi ancaman terbesar satu-satunya untuk terumbu karang di seluruh dunia. Pemutihan karang dapat berakhir dengan kematian suatu koloni, yang menyebabkan perubahan terhadap struktur dan fungsi ekosistem, dan mungkin dapat berdampak lebih jauh terhadap biota lain dalam ekosistem itu. Apabila pemutihan karang terjadi dalam skala besar di suatu ekosistern yang merupakan zona inti dari suatu kawasan konservasi laut, pemulihan akan sulit terjadi karena zona inti telah kehilangan fungsi ekologisnya. Kematian akibat pemutihan karang mengancam keanekaragaman hayati wilayah tersebut yang merupakan sumber plasma nutfah bagi wilayah sekitarnya. Terumbu karang saat ini menghadapi serangkaian ancaman kombinasi dari eksploitasi yang berlebihan, polusi dan khususnya perubahan iklim dunia. Kesemua ancaman tersebut saat ini meningkat jumlahnya, dan kegiatan-kegiatan manusia</p> <p>menyebabkan percepatan perubahan iklim dunia yang dapat membuat terumbu karang sulit beradaptasi. (*)</p> <p>Pemanasan Global dan Terumbu KarangJanuari 13, 2008 in konservasi karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di | tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS BERKUALITAS IJAZAH &amp; GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain MANAJEMEN AKUNTANSI ILMU KOMUNIKASI ILMU PEMERINTAHAN022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net</p> <p>08 Nopember 2007 a Oleh Marthen Welly/The Nature Conservancy</p> <p>Akhir-akhir ini pembicaraan mengenai pemanasan global (global warming) yang mengakibatkan perubahan iklim (climate change) kian ramai dibicarakan dan menjadi pusat perhatian dunia. Terlebih lagi, pada bulan Desember yang akan datang, perhelatan tingkat dunia mengenai perubahan iklim akan diadakan di Bali dibawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pertemuan akbar yang disebut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) akan dihadiri kurang lebih perwakilan pemerintahan 120 negara dan sekitar 10.000 peserta. Pada intinya agenda utama UNFCCC adalah mempersiapkan bumi kita ini agar dapat mengurangi pemanasan global dan mengatasi dampaknya. Beberapa isu utama yang akan dibahas adalah kerusakan hutan, perdagangan karbon, dan penerapan protokol Kyoto. Sejauh ini hutan dipercaya sebagai paru-paru dunia yang dapat mengikat emisi karbon yang dilepaskan ke udara oleh pabrik-pabrik industri, kendaraan bermotor, kebakaran hutan, asap rokok dan banyak lagi sumber-sumber emisi karbon lainnya, sehingga dapat mengurangi dampak pemanasan global.</p> <p>Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan cukup luas di dunia, sangat memainkan peran penting untuk bisa menjaga paru-paru dunia. Namun sesungguhnya Indonesia yang 2/3 wilayahnya adalah</p> <p>lautan, juga memiliki fungsi dan peran cukup besar dalam mengikat emisi karbon, bahkan dua kali lipat dari kapasitas hutan. Emisi karbon yang sampai ke laut, diserap oleh phytoplankton yang jumlahnya sangat banyak dilautan, dan kemudian ditenggelamkan ke dasar laut atau diubah menjadi sumber energi ketika phytoplankton tersebut dimakan oleh ikan dan biota laut lainnya. Namun, pemanasan global juga membawa ancaman terhadap terumbu karang Indonesia, yang merupakan jantung kawasan segitiga karang dunia (heart of global coral triangle). Pemanasan global telah meningkatkan suhu air laut sehingga terumbu karang menjadi stress dan mengalami pemucatan/pemutihan (bleaching). Jika terus berlangsung terumbu karang tersebut akan mengalami kematian. Di sisi lain coral triangle memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Lebih dari 120 juta orang hidupnya bergantung pada terumbu karang dan perikanan di kawasan tersebut. Coral triangle yang meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor leste, Papua New Guinea and Kepulauan Salomon ini, merupakan kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, khususnya terumbu karang. Melihat peran dan posisinya yang strategis, maka President Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan APEC di Sydney baru-baru ini, telah mengumumkan sekaligus mengajak negara-negara di dunia, khususnya di kawasan Asia Pacific untuk menjaga dan melindungi kawasan segitiga karang dunia yang dikenal dengan nama Coral Triangle. Indonesia bersama lima negara lainnya yaitu Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea and Kepulauan Salomon mengumumkan sebuah inisiatif perlindungan terumbu karang yang disebut Coral Triangle Initiative (CTI). Ke-enam negara yang tergabung dalam CTI disebut sebagai CT6. Inisiatif ini juga telah mendapatkan dukungan dan respon yang positif dari negaranegara maju seperti Amerika Serikat dan Australia. Coral triangle adalah sebuah kawasan di Asia-Pacific yang dalam 2 dekade belakangan ini menjadi pusat penelitian para ahli kelautan dunia. Pada tahun 2005, The Nature Conservancy Coral Triangle Center (TNC-CTC) sebuah lembaga konservasi internasional yang juga menjalankan programnya di Indonesia dan negara-negara pacific, mengadakan sebuah workshop internasional di Bali yang dihadiri para pakar kelautan dunia, dengan tujuan untuk menetapkan batas cakupan wilayah coral triangle. Pada akhir workshop, para pakar kelautan berhasil memetakan coral triangle yang mencakup 6 negara dengan luas total terumbu karang 75.000 km2. Indonesia sendiri memiliki luas terumbu karang sekitar 51.000 km2 yang menyumbang lebih dari 21% luas terumbu karang dunia. Departemen Kelautan dan Perikanan, TNC-CTC, WWF Indonesia, dan Departemen Kehutanan secara bersama-sama menggagas CTI. Dan saat ini CTI telah menjadi salah satu agenda utama Indonesia bersama 5 negara lainnya. CTI akan lebih disuarakan dan disosialisasikan selama pertemuan UNFCCC sehingga mendapatkan dukungan yang lebih besar dari masyarakat internasional. Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut, terutama terumbu karang melalui CTI sangat erat kaitannya dengan ketahanan pangan dan upaya mengurangi kemiskinan. Mengingat fungsi penting terumbu karang adalah sebagai tempat berkembang-biak, mencari makan dan berlindung bagi ikan dan biota laut lainnya, jika terumbu karang terjaga baik, maka sumber perikanan juga akan terus memberikan pasokan makanan bagi manusia, termasuk sumber protein. Ditambah lagi</p> <p>fungsi terumbu karang juga adalah sebagai pelindung alami pantai dari gempuran ombak dan aset pariwisata bahari. Suatu langkah yang tepat dan strategis jika Indonesia berinisiatif untuk menyuarakan sekaligus memimpin CTI, mengingat Indonesia merupakan negara dengan luas terumbu karang terluas dan keanekaragaman terumbu karang tertinggi di dunia. Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia sekitar 81.000 km yang melingkupi lebih dari 17.500 pulau. Berdasarkan penelitian TNC-CTC dan para mitranya pada tahun 2002, kepulauan Raja Ampat di Papua Barat, Indonesia memiliki 537 jenis karang yang merupakan jumlah tertinggi di dunia, dan merupakan 75% jenis karang dunia yang pernah ditemukan. Jika Indonesia tidak menyuarakan dan mengambil inisiatif untuk perlindungan terumbu karang di coral triangle, maka negaranegara lain seperti Philipina atau Malaysia yang akan menyuarakan sekaligus memimpin CTI. Dengan memimpin CTI, Indonesia mendapatkan peran dan posisi penting dalam upaya perlindungan terumbu karang dunia. Sekaligus melindungi aset bangsa yang tak ternilai harganya. Pembentukan jejaring Kawasan Perlindungan Laut (KPL) yang tangguh dan dikelola secara efektif merupakan bentuk nyata dari impelementasi CTI. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk melindungi paling tidak 10 juta hektar laut di perairan Indonesia pada tahun 2010. Saat ini paling tidak 5 juta hektar telah dibentuk KPL di Indonesia yang meliputi Kepulauan Raja Ampat, TN Teluk Cendrawasih, Kepulauan Wakatobi, Kepulauan Derawan, TN Komodo, TN Bunaken, TN Karimunjawa, TN Kepulauan Seribu, dan TN Takabonerate.@</p> <p>Pemanasan GlobalPublished On Tuesday, October 02, 2007</p> <p>Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global termasuk Indonesia yang terjadi pada kisaran 1,540 Celcius pada akhir abad 21. Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb). Dalam makalah ini, fokus diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan global, yakni : kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir.Dampak Kenaikan Permukaan Air Laut dan Banjir terhadap Kondisi Lingkungan Bio-geofisik dan Sosial-Ekonomi Masyarakat.</p> <p>Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut : (a) meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, (b) perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove, (c) meluasnya intrusi air laut, (d) ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir, dan (e) berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil. Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh terjadinya pola hujan yang acak dan musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi (kejadian ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat terjadinya efek backwater dari wilayah pesisir ke darat. Frekuensi dan intensitas banjir diprediksikan terjadi 9 kali lebih besar pada dekade mendatang dimana 80% peningkatan banjir tersebut terjadi di Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Indonesia) dengan luas genangan banjir mencapai 2 juta mil persegi. Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan memberikan efek akumulatif apabila kenaikan muka air laut serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan.y</p> <p>Kenaikan muka air laut selain mengakibatkan perubahan arus laut pada wilayah pesisir juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove, yang pada saat ini saja kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi 3...</p>