Ekonomi Moneter

  • View
    329

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Analisis Variabel Makro Ekonomi dan Dampak Kebijakan Moneter terhadap Inflasi di Indonesia

Transcript

  • ANALISIS VARIABEL MAKRO EKONOMI DAN DAMPAK KEBIJAKAN MONETER TERHADAP INFLASI DI INDONESIA

    Tahun 1994.1-2011.4

    Mohammad Hanif

    Desember 2012

    ABSTRAKS

    Paper ini bertujuan untuk melakukan identifikasi variabel makro ekonomi dan dampak kebijakan moneter terhadap inflasi di indonesia. Setidaknya, ada ada tiga hal penting yang ingin dikaji dalam penelitian ini, yaitu (1) Variabel makro ekonomi apa saja yang mempengaruhi inflasi di Indonesia, (2) Variabel makro ekonomi mana yang berpotensi menjadi best leading indicator inflasi, dan (3) Apakah adanya perubahan kebijakan moneter memiliki dampak yang signifikan dalam mengendalikan inflasi di Indonesia.

    Data yang digunakan adalah data sekunder dalam kurun waktu 1994.1 2011.4, yang bersumber dari Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) Bank Indonesia, International Monetary Funds (IMF), Bank for International Settlements (BIS), dan Biro Pusat Statistik (BPS). Penelitian ini menggunakan Error Correction Model (ECM), properti Impulse Response, dan Variance Decomposition untuk melihat dinamika variabel dalam jangka pendek dan pengaruhnya terhadap perilaku keseimbangan jangka panjang.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel GDP, M0, M1, M2, Suku bunga luar negeri (Fed), dan perubahan kebijakan moneter berpengaruh signifikan terhadap inflasi di Indonesia. Variabel GDP dan Base Money (M0) dapat menjadi leading indicator terbaik jangka panjang, sedangkan Inflasi masa lalu dan suku bunga SBI dapat menjadi leading indicator terbaik jangka pendek. Perubahan operational target ke interest rate targeting ternyata memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pengendalian inflasi di Indonesia.

    Keywords : Inflasi, Kebijakan Moneter, Leading Indicator, Error Correction Model (ECM),

    Impulse Response, Variance Decomposition

  • PAPER EKONOMI MONETER & PERBANKAN 1

    MOHAMMAD HANIF |19 Desember 2012

    I. PENDAHULUAN

    Sebelum krisis ekonomi 1997, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara industri maju (Newly Industrialized Economy) atau sering disebut sebagai Macan Asia, sejajar dengan Singapura, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, dan Hongkong. Pada saat itu stabilitas ekonomi makro Indonesia semakin terjaga dengan baik dan ekonomi tumbuh tinggi. Inflasi Indonesia saat itu dapat dikendalikan dengan baik. Hal ini terbukti dengan adanya penurunan inflasi dari rata-rata pada level dua digit (1972-1984) menjadi level satu digit (1984-1996). Sayangnya, krisis yang terjadi membuat laju inflasi kembali melejit dari 6.36% pada tahun 1996 meningkat tajam menjadi 78.39% pada tahun 1998 (Gambar 1). Bahkan Indonesia saat itu, diantara negara-negara di kawasan Asia Timur, merupakan negara yang mengalami peningkatan inflasi yang paling tajam. Kondisi ini terutama disebabkan oleh depresiasi nilai tukar.

    Gambar 1 Inflasi Indonesia (1972-2011)

    Krisis ekonomi yang terjadi, paling tidak dalam konteks ini, telah memberikan pelajaran yang berharga akan pentingnya penciptaan kestabilan moneter (kestabilan nilai rupiah) sebagai prasyarat bagi kelangsungan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Kesadaran ini kemudian melahirkan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang mengamanatkan suatu perubahan yang sangat mendasar dalam hal pengelolaan moneter. Undang-Undang tersebut memiliki muatan substansi yang berbeda dalam hal penanganan kebijakan moneter di Indonesia dibandingkan dengan undang-undang sebelumnya. Perbedaan tersebut salah satunya adalah pada sasaran akhir kebijakan moneter yang lebih diarahkan untuk menjaga inflasi (Inflation Targeting Framework). Pemilihan inflasi sebagai sasaran akhir ini sejalan pula dengan kecenderungan perkembangan terakhir bank-bank sentral di dunia, di mana banyak bank sentral yang telah beralih lebih memfokuskan diri pada upaya pengendalian inflasi. Sebut saja misalnya, New Zealand (1991), Israel (1991), Kanada (1991), United

    -

    10.00

    20.00

    30.00

    40.00

    50.00

    60.00

    70.00

    80.00

    72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11

    INFLASI INDONESIA

  • PAPER EKONOMI MONETER & PERBANKAN 2

    MOHAMMAD HANIF |19 Desember 2012

    Kingdom (1992), Swedia (1993), Finlandia (1993), Australia (1993), Spanyol (1994), dan beberapa negara berkembang seperti Republik Czech, Polandia, Hungaria. Negera-negara ini telah berhasil menekan inflasi tanpa meningkatkan volatilitas outputnya.

    Mulai Juli 2005, Bank Indonesia telah mengimplementasikan kerangka kerja kebijakan moneter yang baru konsisten dengan Inflation Targeting Framework (ITF), yang mencakup empat elemen mendasar yaitu penggunaan suku bunga BI Rate sebagai sasaran operasional, proses perumusan kebijakan moneter yang antisipatif, strategi komunikasi yang lebih transparan, dan penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah. Langkah-langkah dimaksud ditujukan untuk meningkatkan efektifitas dan tata kelola (good governance) kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir kestabilan harga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

    Inflasi pada dasarnya merupakan fenomena ekonomi yang selalu menarik untuk dikaji terutama berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap agregat makro ekonomi. Pertama, inflasi domestik yang tinggi menyebabkan tingkat balas jasa riil terhadap aset finansial domestik menjadi rendah, sehingga dapat mengganggu mobilisasi dana domestik dan bahkan dapat mengurangi tabungan domestik yang menjadi sumber dana investasi. Kedua, inflasi dapat menyebabkan daya saing barang ekspor berkurang dan dapat menimbulkan defisit dalam transaksi berjalan dan sekaligus dapat meningkatkan utang luar negeri. Ketiga, inflasi dapat memperburuk distribusi pendapatan dengan terjadinya transfer sumber daya dari konsumen dan golongan berpenghasilan tetap kepada produsen. Keempat, inflasi yang tinggi dapat mendorong terjadinya pelarian modal ke luar negeri. Kelima, inflasi yang tinggi akan dapat menyebabkan kenaikan tingkat bunga nominal yang dapat mengganggu tingkat investasi yang dibutuhkan untuk memacu tingkat pertumbuhan ekonomi (Susanti et al., 1995).

    Mengingat dampak yang begitu luas dalam perekonomian Indonesia, penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai variabel makro ekonomi dan dampak kebijakan moneter terhadap inflasi di indonesia. Setidaknya, ada ada tiga hal penting yang ingin dikaji dalam penelitian ini, yaitu (1) Variabel makro ekonomi apa saja yang mempengaruhi inflasi di Indonesia, (2) Variabel makro ekonomi mana yang berpotensi menjadi best leading indicator inflasi, dan (3) Apakah adanya perubahan kebijakan moneter memiliki dampak yang signifikan dalam mengendalikan inflasi di Indonesia.

  • PAPER EKONOMI MONETER & PERBANKAN 3

    MOHAMMAD HANIF |19 Desember 2012

    II. STUDI LITERATUR

    Tinjauan Teori

    Menurut Bofinger (2001), pada umumnya fungsi permintaan uang secara empiris dibangun berdasarkan struktur sederhana yang menggabungkan temuan dari berbagai teori dasar permintaan uang, dengan formulasi dasar berikut ini :

    ... (1)

    Berdasarkan formulasi diatas, permintaan uang tergantung pada : - Real money demand, yang merupakan pembagian antara nominal money stock terhadap

    index price

    .

    - Variabel suku bunga, yang memasukkan faktor inflasi. - Real GDP.

    Dalam bentuk linear fungsi diatas dapat ditulis :

    , dimana merupakan elastisitas income dan suku bunga terhadap permintaan uang. Umumnya, komponen suku bunga biasanya digunakan semi-elastisitas (tanpa bentuk logaritma).

    Siregar dan Rajaguru (2002), berdasarkan penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pada sistem ekonomi terbuka dan keuangan yang liberal, seperti pada banyak negara-negara di Asia Timur termasuk Indonesia, pengaruh faktor eksternal menjadi signifikan. Selanjutnya, faktor eksternal ini kemudian diadopsi untuk memodifikasi permintaan uang pada pers (1) :

    .... (2)

    dimana : - adalah depresiasi nilai tukar - dan adalah suku bunga domestik dan luar negeri

    Dengan menurunkan fungsi diatas menjadi bentuk linear, diperoleh :

    , dimana

    Dalam keseimbangan pasar uang terjadi , dimana (c adalah money multiplier), sehingga real money demand (m) dapat diturunkan sebagai :

    ... (3)

    didefinisikan sebagai jumlah uang beredar ( )

  • PAPER EKONOMI MONETER & PERBANKAN 4

    MOHAMMAD HANIF |19 Desember 2012

    Dengan memodifikasi pers(3) ke pers (2) dan menurunkan fungsi dalam bentuk linear akan diperoleh :

    ... (4)

    Dari persamaan diatas, kita memperoleh variabel yaitu P, M0, M1, M2, Y, r, rf, dan ed. Dimana P adalah index harga (tingkat inflasi), Mo adalah base money, M1 dan M2 adalah jumlah uang beredar, Y adalah output (GDP), r adalah suku bunga domestik, rf adalah suku bunga luar negeri, dan ed adalah depresiasi nilai tukar. Jadi, tingkat inflasi dipengaruhi oleh berbagai variable diatas.

    Dengan melakukan first order condition pada pers (4) diatas, diperoleh :

    , berdasarkan pers (2) diperoleh artinya meningkatnya output (income) akan

    meningkatkan permintaan uang. Jika supply uang tidak berubah, maka peningkatan permintaan uang akan menurunkan tingkat inflasi. Oleh karenanya, peningkatan output akan menurunkan inflasi.

    , berdasarkan pers (2) diperoleh artinya meningkatnya suku bunga dalam

    negeri akan meningkatkan biaya peluang memegang uang (opportunity cost of holding money) sehingga permintaan uang akan menur