Endometriosis Update

  • Published on
    16-Sep-2015

  • View
    10

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

dsaf

Transcript

<p>BAB I</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>Latar Belakang</p> <p>Endometriosis merupakan suatu gangguan ginekologi yang ditandai dengan adanya jaringan endometrium di luar kavum uteri yang dapat memicu terjadinya reaksi inflamasi.kondisi medis pada wanita yang ditandai dengan tumbuhnya sel endometrium di luar cavum uteri.. Normalnya, sel endometrium rahim akan menebal selama siklus menstruasi berlangsung agar nantinya siap menerima hasil antara sel telur dan sperma. Bila sel telur tidak mengalami pembuahan, maka sel endometrium yang menebal akan meluruh dan keluar sebagai darah menstruasi.1Pada endometriosis, sel endometrium yang semula berada dalam rahim berpindah dan tumbuh di luar kandung rahim. Sel dapat tumbuh dan berpindah ke ovarium, tuba falopii, belakang rahim, ligamentum uterus bahkan dapat sampai ke usus dan vesika urinaria. Pada saat menstruasi berlangsung, sel-sel endometrium yang berpindah ini akan mengelupas dan menimbulkan perasaan nyeri di sekitar panggul.2Pengaruh dari endometriosis akan menyebabkan perubahan pada lingkungan fisiologis dalam pelvis. Dengan adanya jaringan endometrium di dalam pelvis, akan mempengaruhi respon sel imunologi pada daerah sekitar alat genitalia. Perubahan respon imunologi akan mempengaruhi nidasi intrauterin dan perkembangan awal dari fetus. Tubuh akan merespon dengan terjadi penolakan hasil konsepsi tersebut. Dengan hasil akhir, sering nidasi tidak berhasil dan terjadi penghambatan pertumbuhan fetus intrauterin dan bisa terjadi nidasi diluar intrauterin sehingga timbul kehamilan ektopik.3Pelvis endometriosis akan meningkatkan aktivitas makrofag baik pada pelvis untuk mengfagosit debris dan jaringan endometriosis. Aktivitas makrofag juga terjadi intrauterin dan tuba menyebabkan peningkatan aktivitas fagositosis sperma. Perdarahan yang timbul dari lesi endometriosis akan menyebabkan pertumbuhan jaringan didalam pelvis dan terjadi perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Hasil akhirnya akan menyebabkan perubahan motilitas tuba, dispareunea dan infertilitas. Prevalensi terjadinya nyeri atau infertilitas terkait endometriosis mencapai 35%-50 %.1,2Umumnya, penyakit endometriosis muncul pada usia reproduktif. Angka kejadian endometriosis mencapai 5-10% pada wanita umumnya dan lebih dari 50% terjadi pada wanita perimenopause. Prevalensi endometriosis banyak ditemukan pada wanita Jepang dan Asia namun prevalensi ini lebih rendah pada wanita Afrika dibandingkan dengaan wanita Kaukasia , hal ini diduga karena perbedaan genetik dan pengaruh resiko lingkungan.1.Insidensi endometriosis sulit untuk diukur, sebagian besar wanita dengan penyakit ini sering tidak bergejala. Metode utama diagnosis adalah laparaskopi, dengan atau tanpa biopsi untuk diagnosis histologist.4 Gejala endometriosis sangat tergantung pada letak sel endometrium. Keluhan yang paling menonjol adalah adanya nyeri pada panggul, sehingga hampir 71-87% kasus di diagnosis akibat keluhan nyeri kronis hebat pada saat haid, dan hanya 38% yang muncul akibat keluhan infertil. Tetapi ada juga yang melaporkan pernah teriadi pada masa menopause dan bahkan ada yang melaporkan terjadi pada 40% pasien histerektomi. Selain itu juga 10% endometriosis ini dapat muncul pada mereka yang mempunyai riwayat endometriosis di keluarganya.5Selain mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental, endometriosis juga dapat mengurangi produktifitas kerja seorang wanita . Dari penelitian didapatkan bahwa wanita dengan endometriosis lebih banyak absen saat bekerja dibandingkan dengan wanita yang memiliki gejala namun tanpa endometriosis.4 Melihat kenyataan tersebut, penanganan endometriosis sebagai satu kesatuan merupakan hal penting dalam kehidupan seorang wanita.Pada masa sekarang sebagian besar cara penatalaksanaan disusun berdasarkan bukti bukti yang dihimpun dari berbagai penelitian dan pendapat pakar. Selalu ada perbedaan kasus demi kasus secara biologis dan sosioekonomis. Selain itu keadaan tersebut harus merujuk kepada kebutuhan individual, sumberdaya dan keterbatasan pada lembaga penyedia sarana, jenis praktek serta keragaman populasi lokal. 6 BAB II</p> <p>TINJAUAN PUSTAKADefinisi Endometriosis didefinisikan sebagai gangguan ginekologi jinak umum yang didefinisikan sebagai adanya jaringan kelenjar endometrium dan stroma diluar lokasi normal. Endometriosis paling sering ditemukan pada peritoneum panggul, tetapi dapat juga ditemukan di ovarium, septum rektovaginal, ureter, namun jarang ditemukan di vesika urinaria, pericardium, dan pleura. Endometriosis yang didapatkan didalam myometrium disebut dengan adenomyosis, atau endometriosis in situ. 42. Prevalensi </p> <p>Prevalensi endometriosis sebesar ~ 10-15% diantara wanita dengan nyeri pelvis atau infertilitas. Penyebab pasti endometriosis masih belum diketahui, meskipun banyak teori yang dikembangkan mengenai patofisiologi, tetapi tidak ada teori tunggal yang dapat menelaskan berbagai gambaran klinik endometriosis dan sepertinya bahwa etiologi dari keadaan ini adalah multi faktorial. Endometriosis merupakan penyakit yang paling sering terkena pada wanita, terhitung 6 sampai 10% wanita populasi umum terkena penyakit ini, pada wanita dengan nyeri, infertil atau keduanya frekuensinya sebesr 35-50%. Sektiar 25 sampai 50% wanita infertil mengalami endometriosis dan 30 sampai 50% wanita dengan endometriosis adalah infertil. Data terbaru menunjukkan bahwa insidensi endometriosis tidak mengalami peningkatan selama 30 tahun terakhi dan masih berkisar 2.37-2.49/1000 wanita/ tahun, yang sama dengan 6-8%. Insidensi endometriosis di Amerika serikat sebesar 6-10% dari total wanita usia reproduksi. Sedangkan di Indonesia sendiri, insidensi pasti dari endometriosis belum diketahui.5 Adapun faktor risiko terkena endometriosis adalah :5 Usia</p> <p>Endometriosis dapat terjadi pada wanita dalam setiap usia. Dilaporkan wanita berusia 10 tahun dan wanita berusia diatas 75 tahun berisiko terkena penyakit ini. Mencapai 40% sampai 60% wanita mengalami gejala endometriosis berusia kurang dari 25 tahun. </p> <p> Suku bangsa</p> <p>Kebanyakan wanita Asia muda. Penyakit ini dilaporkan memiliki angka kejadian yang sedikit pada wanita keturunan Afrika Amerika. </p> <p> Paparan yang tinggi terhadap menstruasi</p> <p>Wanita berisiko mengalami endometriosis cenderung memiliki paparan yang tinggi dengan menstruasi. Mereka yang berisiko tinggi memiliki siklus yang lebih pendek daripada normal, periode yang lebih berat dan periode menstruasi yang lebih lama. </p> <p> Tidak memiliki anak</p> <p>Tidak memiliki anak menyebabkan peningkatan risiko terkena endometriosis. Ada beberapa bukti yang menegaskan bahwa kehamilan dini dapat melindungi terhadap endometriosis dan karena serviks menjadi berdilatasi selama persalinan, keadaan ini akan menurunkan kejadian menstruasi. Di sisi lain, endometriosis itu sendiri dapat meningkatkan risiko infertil, sehingga endometriosis sendiri lebih pada penyebab tidak memiliki anak dan bukan karena tidak memiliki anak yang menyebabkan endometriosis. </p> <p> Riwayat keluargaBeberapa ahli melaporkan bahwa hampir 7% wanita terkena endometriosis memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. </p> <p> Abnormalitas uterine</p> <p>Wanita dapat juga berisiko tinggi terkena endometriosis jika mereka lahir dengan abnormalitas uterine yang menyumbat aliran pengeluaran darah saat menstruasi. Ada laporan yang melaporkan perkembangan endometriosis setelah seksio sesarea, termasuk perkembangan jaringan pada luka bekas operasi dan di dalam saluran kemih. Penyakit lain yang dapat menyebabkan endometriosisBerbagai penyakit dapat terjadi pada wanita dengan endometriosis. Pada beberapa kasus, adapun penyakit ini adalah : Kanker, khususnya onse dini kanker payudara dan kanker ovarium, limfoma hodgkin dan melanoma. </p> <p> Penyakit autoimun, seperti sistemik lupus eritematosus, rheumatoid arthritis dan sklerosis multipel. </p> <p> Hipotiroidisme</p> <p> Fibromialgia dan sindrom kelelahan kronik</p> <p> Diabetes</p> <p> Alergi dan asma</p> <p> Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan endometriosisBeberapa penelitian melaporkan angka insidnesi lebih tinggi karena beberapa faktor tertentu pada wanita dengan endometriosis. Adapun faktor-faktor tersebut adalah :</p> <p> Wanita dengan endometriosis cenderung memiliki badan lebih tinggi dan lebih kurus</p> <p> Wanita dengan rambut merah memiliki perkembangan endometriosis, para ahli menduga bahwa gen yang menentukan rambut merah mungkin berlokasi dekat dnegan gen yang menyebabkan kerentanan terhadap endometriosis. </p> <p> Alkohol dan cafein telah dilaporkan meningkatkan risiko. </p> <p>Etiologi EndometriosisHingga saat ini belum ada teori yang mampu menjelaskan proses terjadinya endometriosis secara pasti. Secara garis besar terdapat dua kelompok teori yang berusaha menjelaskan yaitu teori yang menyatakan endometriosis berasal dari uterus dan teori yang menyatakan bahwa endometriosis berasal dari jaringan diluar uterus. Beberapa ahli mencoba menerangkan kejadian endometriosis dengan macam-macam teori, yakni teori implantasi dan regurgitasi menstruasi , metaplasia Selom, Mulerianosis, Sel Punca, Metastasis Jinak, Diseminasi Iatrogenik hormonal; serta perubahan imunologik. 1Teori yang paling popular adalah bahwa endometriosis berasal dari aliran darah balik menstruasi. Pada tahun 1920 Sampson menyatakan bahwa sel endometriosis masuk kedalam peritoneum melalui saluran tuba selama menstruasi kemudian berimplantasi di pelvis. Sel endometriosis ini mampu melekat pada peritoneum pelvis dan berkembang dalam pengaruh hormone.6 . Adapun teori metaplasia menjelaskan terjadinya metaplasia pada sel-sel coelom yang berubah menjadi endometrium. Menurut teori ini, perubahan itu terjadi akibat iritasi dan infeksi atau hormonal pada epitel coelom. Secara endokrinologis hal ini dibenarkan,karena epitel germinativum dari ovarium, endometrium, dan peritoneum berasal dari epitel coelom yang sama. Teori mullerianosis atau Embryonic Mullerian Rest menyatakan bahwa residu sel dari embryologic mullerian duct mampu bermigrasi dan berkembang menjadi lesi endometrial dibawah pengaruh hormone estrogen saat pubertas juga mendukung mekanisme terjadinya endometriosis. Teori sel Punca/ sel Progenitor mendukung bahwa sel endometriosis berasal dari jaringan diluar endometrium, dimana sel punca berasal dari sumsum tulang belakang dapat berdiferensiasi menjadi jaringan endometriosis. Teori metastasis jinak menyatakan bahwa implan endometrial ektopik merupakan hasil dari penyebaran sel endometrial secara hematogen dan limfogen. Teori Diseminasi Iatrogenik menyatakan bahwa lesi endometriosis dapat berimplantasi selama prosedur operasi dilakukan. Hal ini didukung dengan ditemukannya lesi endometriosis pada dinding abdomen wanita setelah menjalani operasi cesar.1 Terdapat pula teori hormonal yang bermula dari kenyataan bahwa kehamilan dapat menyembuhkan endometriosis. Rendahnya kadar FSH, LH, dan E2 dapat menghilangkan endometriosis. Pemberian steroid seks dapat menekan sekresi FSH, LH, dan E2. Pendapat yang sudah lama dianut ini mengemukakan bahwa pertumbuhan endometriosis sangat tergantung dari kadar estrogen dalam tubuh. Namun sayang, akhirnya pendapat mulai diragukan. Menurut Kim dan kawan-kawan kadar E2 cukup tinggi pada kasus-kasus endometriosis. Olive pada tahun 1990 pun menemukan kadar E2 serum pada setiap kelompok derajat endometriosis dalam batas normal. Keadaan ini juga tidak bergantung pada beratnya derajat endometriosis. Hal ini makin membuat bingung mengenai penyebab sebenarnya endometriosis.7,8,9Teori endometriosis dapat dikaitkan dengan aktivitas imun. Teori imunologis menerangkan bahwa secara embriologis, sel epitel yang membungkus peritoneum parietal dan permukaan ovarium memiliki asal yang sama, oleh karena itu sel-sel endometriosis akan sejenis dengan mesotel. Telah diketahui bahwa CA-125 merupakan suatu antigen permukaan sel yang semula diduga khas untuk ovarium. Karena endometriosis merupakan proses proliferasi sel yang bersifat destruktif, maka lesi jinak yang ganas ini tentu akan meningkatkan kadar CA-125. Jadi antigen ini dipakai sebagai penanda kimiawi.1,6Banyak yang berpendapat bahwa endometriosis adalah suatu penyakit autoimun karena memiliki kriteria yang cenderung bersifat familial, menimbulkan gejala klinik yang melibatkan multiorgan, dan menunjukkan aktivitas sel B poliklonal. Di samping itu telah dikemukakan pula bahwa Danazol yang semula dipakai untuk pengobatan endometriosis karena diduga bekerja secara hormonal, telah dipakai untuk mengobati penyakit autoimun juga. Jadi, keberhasilan pengobatan Danazol diduga karena efek imunologisnya, tidak hanya hormonal. Danazol menurunkan tempat ikatan IgG (reseptor Fc) pada monosit, sehingga mempengaruhi aktivitas fagositik. Beberapa penelitian menemukan peningkatan IgM, IgG, serta Ig A dalam serum penderita endometriosis.10Stadium Endometriosis</p> <p>Ada 4 stadium endometriosis. Stadium I merupakan penyakit minimal dengan adhesi superfisial dan pada selaput. Stadium II terdiri dari penyakit ringan dengan endometriosis superfisial dan dalam. Stadium III merupakan penyakit sedang dengan endometriosis dalam dan adhesi dalam dan stadium IV merupakan penyakit berat dengan endometriosis dalam dan adhesi padat. Endometriosis sedang dan berat dikarakteristikkan oleh kista berwarna cokelat dan adhesi berat. stadium endometriosis tidak menggambarkan derajat nyeri, risiko infertil atau gejala. Sebagai contoh, untuk wanita dengan stadium I dapat mengalami nyeri hebat sedangkan pada wanita dengan stadium IV dapat asimptomatik. Selain itu, wanita yang menerima terapi pada stadium satu dan dua penyakit memiliki kesempatan besar untuk dapat menjadi hamil setelah terapi. 8</p> <p>Stadium endometriosisGejala klinisEndometriosis bisa timbul di berbagai tempat dan mempengaruhi gejala yang ditimbulkan. Tempat yang paling sering ditemukan adalah di belakang rahim, pada jaringan antara rektum dan vagina dan permukaan rektum. Kadang-kadang ditemukan juga di tuba, ovarium, otot-otot pengikat rahim, kandung kencing dan dinding samping panggul.6Mengikuti siklus menstruasi, setiap bulan jaringan di luar rahim ini mengalami penebalan dan perdarahan. Perdarahan ini tidak mempunyai saluran keluar seperti darah menstruasi, tapi terkumpul daiam rongga panggul dan menimbulkan nyeri. Jaringan endometriosis dalam ovarium menyebabkan terbentuknya kista coklat. Akibat peradangan jaringan secara kronis, terbentuk jaringan parut dan perlengketan organ-organ reproduksi. Sel telur sandiri terjerat dalam jaringan parut yang tebal sehingga tidak dapat dilepaskan. Sepertiga penderita endometriosis tidak mempunyai gejala apapun selain infertilitas.11Gejala dari endometriosis ini bervariasi dan tidak bisa diprediksi. Nyeri haid (dismenorea), nyeri pinggang yang kronis, nyeri pada saat berhubungan (dispareunea). Banyak spekulasi dari berbagai peneliti mengenai nyeri yang timbul. Pada dasarnya, nyeri pada endometriosis muncul sebagai akibat materi peradangan yang dihasilkan oleh endometriosis yang aktif. Sel endometrium yang berpindah tadi akan terkelupas dan terlokalisasi di suatu t...</p>