FUNGSI PENDENGARAN

  • View
    53

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

telinga sebagai organ pendengaran dan organ keseimbangan

Transcript

I. PENDAHULUAN

A. Judul Praktikum

Pendengaran, Penghidu, dan KeseimbanganB. Waktu Pelaksanaan PraktikumHari, tanggal: Selasa, 07 April 2014

Waktu

: 13.00 s/d 15.00

C. Tujuan praktikum Setelah praktikum ini praktikan diharapkan paham mengenai fungsi pendengaran

Setelah praktikum ini praktikan diharapkan paham mengenai fungsi keseimbangan

Setelah praktikum ini praktikan diharapkan paham mengenai pemeriksaan fungsi pendengaran

D. Dasar teori

1. Gelombang suara dan fisiologi pendengaran

a. Gelombang suara

Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi karena kompresi (pemampatan) molekul-molekul udara yang berselang-seling dengan daerah-daerah bertekanan rendah karena penjarangan (rarefaction) molekul tersebut. Setiap alat yang mampu menghasilkan pola gangguan molekul udara tersebut adalah sumber suara. Suatu contoh sederhana adalah garpu tala (Sherwood, 2012).

Suara ditandai oleh (Sherwood, 2012):

1) Nada (tone)

Nada suatu suara (misalnya nada C atau G) ditentukan oleh frekuensi getaran. Semakin besar frekuensi getaran, semakin tinggi nada. Gelombang suara yang dapat dideteksi oleh telinga manusia adalah mulai dari frekuensi dari 20 sampai 20.000 siklus per detik, tetapi paling peka untuk frekuensi antara 1000 dan 4000 siklus per detik.

2) Intensitas (kekuatan)

Intensitas suara bergantung pada amplitude gelombang suara atau perbedaan tekanan antara daerah pemadatan bertekanan tinggi dan daerah peregangan bertekanan rendah. Dalam rentang pendengaran, semakin besar amplitudo, semakin keras suara. Telinga manusia dapat mendengar intensitas suara dengan kisaran yang lebar, dari bisikan paling lemah hingga bunyi pesawat lepas landas yang memekakkan telinga. Kekuatan suara diukur dalam decibel (dB), yaitu ukuran logaritmik intensitas dibandingkan dengan suara paling lemah yang masih terdengar. Karena hubungannya yang logaritmik, maka setiap 10 dB menunjukkan peningkatan 10 kali lipat kekuatan suara.

3) Warna suara (kualitas)

Warna suara, atau kualitas suara bergantung pada overtone, yaitu frekuensi tambahan yang mengenai nada dasar. Nada tambahan memiliki peran menimbulkan perbedaan karakteristik suara orang. Warna suara memungkinkan pendengar membedakan sumber gelombang suara, karena setiap sumber suara menghasilkan pola nada tambahan yang berbeda-beda.

Gambar 1.1 Sifat gelombang suara (Sherwood, 2012).b. Fisiologi PendengaranProses pendengaran terjadi mengikuti alur yang dimulai dari adanya gelombang suara yang mencapai membran tympani. Gelombang suara yang memiliki tekanan tinggi dan rendah berselang seling menyebabkan gendang telinga yang sangat peka tersebut menekuk keluar masuk seirama dengan frekuensi gelombang suara. Saat membran timpani bergetar rantai tulang-tulang tersebut juga bergerak dengan frekuensi sama sebagai respon terhadap gelombang suara, memindahkan frekuensi gerakan tersebut dari membrana timpani ke jendela oval. Tulang stapes yang bergetar masuk keluar dari tingkat oval menimbulkan getaran pada perilimfe di skala vestibuli. Oleh karena luas permukaan membran tympani 22 kali lebih besar dari luas tingkap oval, maka terjadi penguatan tekanan gelombang suara15-22 kali pada tingkap oval. Selain itu, efek dari pengungkit tulang-tulang pendengaran juga turut berkontribusi dalam peningkatan tekanan gelombang suara (Guyton, 2007; Sherwood, 2012).

Gerakan stapes yang menyerupai piston terhadap jendela oval menyebabkan timbulnya gelombang tekanan di kompartemen atas. Karena cairan tidak dapat ditekan, tekanan dihamburkan melalui dua cara sewaktu stapes menyebabkan jendela oval menonjol kedalam yaitu, perubahan posisi jendela bundar dan defleksi membrana basilaris (Sherwood, 2012).Pada jalur pertama, gelombang tekanan mendorong perilimfe ke depan di kompartemen atas, kemudian mengelilingi helikoterma, dan ke kompartemen bawah, tempat gelombangtersebut menyebabkan jendela bundar menonjol ke luar untuk mengkompensasi peningkatan tekanan. Ketika stapes bergerak mundur dan menarik jendela oval ke luar, perilimfe mengalir ke arah yang berlawanan mengubah posisi jendela bundar ke arah dalam (Sherwood, 2012).Pada jalur kedua, gelombang tekanan frekuensi yang berkaitan dengan penerimaan suara mengambil jalan pintas. Gelombang tekanan di kompartemen atas dipindahkan melalui membrana vestibularis yang tipis, ke dalam duktus koklearis dan kemudian melalui mebrana basilaris ke kompartemen bawah, tempat gelombang tersebut menyebabkan jendela bundar menonjol bergantian (Sherwood, 2012).Membran basilaris yang terletak dekat telinga tengah lebih pendek dan kaku, akan bergetar bila ada getaran dengan nada rendah. Getaran yang bernada tinggi pada perilimfe skala vestibuli akan melintasi membrana vestibularis yang terletak dekat ke telinga tengah. Sebaliknya nada rendah akan menggetarkan bagian membrana basilaris di daerah apeks. Getaran ini kemudian akan turun ke perilimfe skala tympani, kemudian keluar melalui tingkap bulat ke telinga tengah untuk diredam. Karena organ corti menumpang pada membrana basilaris, sewaktu membrana basilaris bergetar, sel-sel rambut juga bergerak naik turun dan rambut-rambut tersebut akan membengkok ke depan dan belakang sewaktu membrana basilaris menggeser posisinya terhadap membrana tektorial (Sherwood, 2012).Perubahan bentuk mekanis rambut yang maju mundur ini menyebabkan saluran-saluran ion gerbang mekanis di sel-sel rambut terbuka dan tertutup secara bergantian. Hal ini menyebabkan perubahan potensial depolarisasi dan hiperpolarisasi yang bergantian. Sel-sel rambut berkomunikasi melalui sinaps kimiawi dengan ujung-ujung serat saraf aferen yang membentuk saraf auditorius (koklearis) (Sherwood, 2012).Depolarisasi sel-sel rambut menyebabkan peningkatan kecepatan pengeluaran zat perantara mereka yang menaikan potensial aksi di serat-serat aferen. Sebaliknya,kecepatan pembentukan potensial aksi berkurang ketika sel-sel rambut mengeluarkan sedikit zat perantara karena mengalami hiperpolarisasi saat membrana basilaris bergerak ke bawah. Perubahan potensial berjenjang di reseptor mengakibatkan perubahan kecepatan pembentukan potensial aksi yang merambat ke otak. Cara inilah yang digunakan agar gelombang suara diterjemahkan menjadi sinyal saraf yang dapat diterima oleh otak sebagai sensasi suara (Sherwood, 2012).

2. Gangguan pendengaran dan penyebabnya

a. Tuli Konduksi / Conduction Hearing Loss (CHL)Penyebab dari tuli konduksi, misalnya Penyakit telinga luar, terdiri dari Atresia liang telinga, Sumbatan oleh serumen, Otitis eksterna sirkumskripta Dan Osteoma liang telinga Sedangkan pada Penyakit telinga tengah, terdiri dari Sumbatan tuba eustachius, Otitis media, Otosklerosis, Timpanosklerosis, Hemotimpanum, Dislokasi tulang pendengaran (Mansjoer A, 2010).

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Maharjan dkk tahun 2009 di Teaching Hospital, Sinamangal, Nepal dengan penelitian yang berjudul Observation of hearing loss in patients with chronic suppurative otitis media tubotympanic type didapatkan hasil, bahwa terdapat hubungan yang signifikant antara otitis media supuratif dengan terjadinya tuli konduksi, ini terlihat dari hasil penelitian, bahwa sebanyak 119 telinga dari 100 pasien mengalami perforasi membran tympani, dengan 72 telinga yang mengalami perforasi MT yang luas yang terbagi pada 4 quadran menunjukkan tuli konduksi berat, 45 telinga mengalami tuli konduksi sedang, 22 telinga mengalami tuli konduksi sedang ringan, dan 2 telinga mengalami tuli konduksi ringan. Sedangkan pada pasien dengan perforai kecil pada 1 quadran menujukkan sedikit penurunan pendengaran (Mansjoer A, 2010).

Dari penelitian ini pula di dapatkan hasil bahwa perforasi dibagian posterior yang paling banyak menyebabkan tuli konduksi. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara luasnya perforasi MT dengan terjadinya tuli konduksi (Soepardi, 2010).

Tuli konduksi terjadi bila ada sesuatu bendungan yang menghalangi proses hantaran gelombang suara, bendungan ini bisa bermacam-macam seperti serumen, infeksi, kerusakan membran timpani maupun kerusakan tulang pendengaran (Soepardi, 2010).

Gejala yang utama adalah adanya penurunan pendengaran dimana Penurunan pendengaran tersebut dapat disertai dengan gejala-gejala lain sesuai dengan penyebab tuli konduksi itu sendiri seperti rasa gatal, nyeri, buntu, tinitus, othorea, dll (Soepardi, 2010).

Dari pemeriksaan didapatkan tanda-tanda adanya kelainan pada telinga luar dan tengah seperti serumen pada MAE, furunkel, atresia liang telinga,perforasi membran timpani dll (Antonelli, 2013).

Ada juga Tes Weber untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga kanan. Caranya adalah Penala digetarkan dan tangkai penala diletakkan di garis tengah kepala, apabila bunyi penala lebih terdengar keras pada salah satu telinga disebut lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan ke arah telinga mana bunyi terdengar lebih keras disebut tidak ada lateralisasi. Hasil tes Weber pada penderita tuli konduksi adalah lateralisasi ke telinga yang sakit (Mulyarjo, 2008).

Selain itu Tes Schwabach untuk membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Penala digetarkan, tangkai penala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai penala dipindah ke prosesus mastoideus pemeriksa (Mulyarjo, 2008).

Bila pemeriksa masih mendengar disebut schwabach memendek, bila pemeriksa tidak dapat mendengar, pemeriksaan diulang dengan meletakkan penala pada prosesus mastoideus pemeriksa dulu, bila pasien masih dapat mendengar bunyi disebut schwabach memanjang dan bila pasien dan pemeriksa sama-sama mendengarnya disebut schwabach sama. Hasil tes Schwabach pada penderita tuli konduksi adalah memanjang (Soepardi