Gangguan Tingkah Laku

  • Published on
    11-Dec-2014

  • View
    119

  • Download
    10

Embed Size (px)

Transcript

GANGGUAN TINGKAH LAKUARIF FAJAR MAULANA 08310031

BAB I PENDAHULUAN Setiap orang dalam sebuah masyarakat diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan standar perilaku tertentu. Norma-norma perubahan perilaku pada saat anak-anak tumbuh dan berkembang melalui berbagai tahap kehidupan mereka. Perilaku-perilaku tertentu, seperti mengkomunikasikan rasa lapar melalui tangisan, mungkin cocok untuk usia tertentu misalnya bayi tetapi tidak untuk semua (misalnya, masa remaja). Sebuah masyarakat memberikan norma-norma tingkah laku untuk berbagai tahap perkembangan dan untuk lingkunganlingkungan yang spesifik. Misalnya, anak-anak diharapkan secara umum tenang, tertib, kooperatif, dan penuh perhatian saat belajar di sekolah. Anak-anak diharapkan untuk mencintai, membantu dan taat kepada orangtua mereka di rumah.

Anak-anak yang perilakunya tidak konsisten dengan harapan masyarakat cenderung dianggap mengalami masalah. Beberapa masalah perilaku ditunjukkan secara jelas dalam perilaku- perilaku yang mencolok, sementara yang lain pada dasarnya perilaku emosional atau psikologis. Salah satu contoh gangguan emosi dan perilaku yang menonjol dan terjadi baru-baru ini dilingkungan masyarakat adalah terdapatnya beberapa kelompok-kelompok remaja usia sekolah yang tak bertanggung jawab seperti geng motor dan geng nero yang melakukan beberapa tindakan kriminal seperti perusakan, kekerasan dan pelecehan. Dengan demikian, istilah gangguan perilaku dan gangguan emosi, muncul untuk digunakan bergantian untuk kalangan cacat ataupun seringkali digabungkan dalam satu istilah yaitu gangguan emosi dan perilaku (EBD; emotional behavioral disorders).1

BAB II TINJAUAN PUSTAKATINGKAH LAKU NORMAL Perilaku manusia dapat diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipil dapat dibedakan dengan manusia lainnya. Sedangkan perilaku itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk respon dengan stimulus yang timbul dan manusia merupakan gabungan dari jiwa dan raga yang memiliki sifat-sifat tertentu dan unik.2

Harber dan Runyon, menyebutkan sejumlah ciri individu yang bisa dikelompokan sebagai normal adalah sebagai berikut ;4 Sikap terhadap diri sendiri. Persepsi terhadap realita Integrasi Kompetensi Otonomi Pertumbuhan dan aktualisasi diri Relasi interpersonal Tujuan Hidup

Menurut Sigmund Freud, kepribadian terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai id, ego dan superego yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks. 5 Id Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan atau ketegangan.

Ego

Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai.

Superego

superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis

Id, ego, super ego

GANGGUAN TINGKAH LAKUDEFINISI Tingkah laku seseorang dapat dikatakan menyimpang atau mengalami gangguan jika :6 1. menyimpang dari perilaku yang oleh orang dewasa dianggap normal menurut usia dan jenis kelaminnya. 2. penyimpangan terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi 3. penyimpangan berlangsung dalam waktu yang relatif lama

ETIOLOGI Teori Behavioral Teori Psikodinamik Teori Sosiologi Teori Ekologi Semua teori perilaku ini mengacu pada satu kesimpulan yang akhirnya mengutarakan bahwa perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh factor lingkungan dan factor dirinya sendiri. Teori behavioral, ekologis dan sosiologis membenarkan bahwa suatu perilaku itu sangat terbentuk bila dipengaruhi oleh faktor dari luar dirinya sendiri (lingkungan) sedangkan teori psikodinamik membenarkan bahwa suatu perilaku itu sangat terbentuk bila dipengaruhi oleh factor dari dalam dirinya sendiri.

PENYEBAB LAINFAKTOR BIOLOGIS

FAKTOR MASYARAKAT FAKTOR PERKEMBANGAN GANGGUAN EMOSI DAN TINGKAH LAKU

FAKTOR SEKOLAH

FAKTOR LINGKUNGAN KELUARGA

DAMPAK GANGGUAN PRILAKU TERHADAP PERKEMBANGAN Dampak Terhadap Perkembangan Kognitif Dampak Terhadap Perkembangan Emosi Dampak Terhadap Perkembangan Motorik Dampak Terhadap Perkembangan Sosial Dampak Terhadap Perkembangan Kepribadian

PEDOMAN DIAGNOSA F91 GANGGUAN TINGKAH LAKU Gangguan tingkah laku berciri khas dengan adanya suatu pola tingkah laku dissosial, agresif atau menentang, yang berulang dan menetap. Penilaian tentang adanya gangguan tingkah laku perlu memperhitungkan tingkat perkembangan anak. Temper tantrums, merupakan gejala normal pada perkembangan anak berusia 3 tahun, dan adanya gejala ini bukan merupakan dasar bagi diagnosa ini. Begitu pula, pelanggaran terhadap hak orang lain (seperti pada tindakan pidana dengan kekerasan) tidak termasuk kemampuan anak berusia 7 tahun dan dengan demikian bukan merupakan kriteria diagnostik, bagi anak kelompok usia tersebut.

Contoh-contoh perilaku yang menjadi dasar diagnosis mencakup halhal berikut: Perkelahian atau menggertak pada tingkat berlebihan Kejam terhadap hewan atau sesama manusia Perusakan yang hebat atas barang milik orang lain membakar dan pencurian pendustaan berulang-ulang membolos dari sekolah lari dari rumah sangat sering meluapkan temper tantrum yang hebat dan tidak biasa prilaku provokatif yang menyimpang sikap menentang yang berat dan menetap. Masing-masing dari kategori ini, apabila ditemukan, adalah cukup untuk menjadi alasan bagi diagnosis ini, namun demikian perbuatan dissosial yang terisolasi bukan merupakan alasan yang kuat. Diagnosis ini tidak dianjurkan kecuali bila tingkah laku seperti yang diuraikan di atas berlanjut selama 6 bulan atau lebih.

Klasifikasi Gangguan Tingkah Laku

F91.0 Gangguan Tingkah Laku yang Berbatas pada Lingkungan KeluargaPedoman diagnostik

Memenuhi criteria F91 secara menyeluruh Tidak ada gangguan tingkah laku yang signifikan di luar lingkungan keluarga dan juga hubungan social anak di luar lingkungan keluarga masih berada dalam batas-batas normal

Rusaknya hubungan dengan kelompok sebaya terutama dibuktikan oleh keterkucilan dari dan atau penolakan oleh, atau kurang disenanginya oleh anak-anak sebayanya, dan karena ia tidak mempunyai sahabat karib atau hubungan empatik, hubungan timbal balik yang langgeng dengan anak dalam kelompok usianya. Hubungan dengan orang dewasa pun ditandai oelh perselisihan, rasa permusuhan dan dendam. Hubungan baik dengan orang dewasa dapat terjalin (sekali pun biasanya kurang bersifat akrab dan percaya) dan seadaninya ada menyisihkan kemungkinan hubungan ini.

Tindakan kejahatan lazim (namun tidak mutlak) dilakukan sendirian. Perilaku yang khas terdiri dari : Tingkah laku menggertak Sangat sering berkelahi Pemerasan atau tindakan kekerasan (pada anak yang lebih besar) Sikap membangkang secara berlebihan Perbuatan kasar Sikap tidak mau bekerjasama Melawan otoritas Mengadat berlebihan dan amarah yang tak terkendali Sengaja membakar dan merusak barang orang lain Perlakuan kejam terhadap hewan dan terhadap sesama anak. Namun ada pula anak yang terisolasi juga terlibat dalam tindak kejahatan berkelompok. Maka jenis kejahatan yang dilakukan tidaklah penting dalam menegakkan diagnosis, yang lebih penting adalah soal kualitas hubungan personalnya.

F91.2 Gangguan Berkelompok

Tingkah

Laku

Pedoman diagnostik Kategori ini berlaku terhadap gangguan tingkah laku yang ditandai oleh perilaku dissosial atau agresif berkelanjutan (memenuhi kriteria untuk F91 dan tidak hanya terbatas pada perilaku menentang, membangkang, merusak) terjadi pada anak yang pada umumnya cukup terintegritas didalam kelompok sebayanya. Kunci perbedaan terpenting ialah terdapat terdapatnya ikatan persahabatan langgeng dengan anak yang seusia. Sering kali, namun tidak selalu, kelompok sebaya itu terdiri atas anak-anak yang juga teribat dalam kegiatan kejahatan atau dissosial (tingkah laku anak yang tidak dibenarkan masyarakat justru dibenarkan oleh kelompok seabayanya itu diatur oleh subkultur yang menyambutnya dengan baik).

Namun hal ini bukan merupakan syarat mutlak untuk diagnosisnya, bisa saja anak itu menjadi warga kelompok sebaya yang tidak terlibat dengan tindak kejahatan sementara prilaku dissosial dilakukannya di luar lingkungan kelompok itu. Bila prilaku dissosial itu pada khususnya, merupakan penggertakan terhadap anak lain, boleh jadi hubungan dengan korbannya atau beberapa anak lain terganggu. Perlu ditegaskan lagi, bahwa hal ini tidak membatalkan diagnosisnya, asal saja anak itu memang termasuk dalam kelompok sebaya dan ia merupakan anggota yang setia dan mengadakan ikatan persahabatan yang langgeng.

F91.3 Gangguan Sikap Menentang (Membangkang) Pedoman diagnostik Ciri khas dari jenis gangguan tingkah laku ini ialah berawal pada anak berusia 9 atau 10 tahun. Ditandai oleh adanya perilaku menentang, ketidak patuhan (disobedient), perilaku provokatif dan tidak adanya tindakan dissosial dan agresif yang lebih berat yang melangar hukum ataupun melanggar hak asasi or