Ganti Hati dahlan iskan

  • Published on
    18-Aug-2015

  • View
    32

  • Download
    4

Embed Size (px)

Transcript

<ol><li> 1. 1 by Moezhanks Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id Ganti Hati 01 - Harus Turun Mesin, karena Organ-Organ Saya Rusak Parah 26 Agusutus 2007 Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tanda- tanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004. Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2. Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi gemuk. Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak sedang gemuk, tapi bengkak! Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar. Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh albumin dan dikirim ke kandung kemih. Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal 55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata. Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120. Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan. Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong. Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300. Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca. </li><li> 2. 2 by Moezhanks Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya sekitar 1.000 kata di setiap seri. Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan): *** Di umur 55 tahun ternyata saya harus turun mesin. Begitu parahnya kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver. Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu. Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit. Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat. Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi. Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya), tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300, hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak kuat lagi akibat terus membesar. Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan balon-balon darah yang siap pecah. Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya. Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru. Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase. Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa saya bisa tegas membuat keputusan yang </li><li> 3. 3 by Moezhanks begitu membahayakan hidup saya. Saya jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa Berubah. Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuh saya. Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi, tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat Semarang. Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama: muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan liver. Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun, yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana. (bersambung) Ganti Hati 02 - Tiga Jam Jelang Operasi Masih Ditawari Take Over Koran 27 Agustus 2007 Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai istilah mudah-mudahan tidak gagal lagi karena memang sudah beberapa kali saya diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak cocok untuk mengganti liver saya. Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di paha. </li><li> 4. 4 by Moezhanks Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada lebat dan cepat tumbuh kembali. Misalnya, seperti yang banyak dimiliki pasien dari negara-negara Arab. Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh, sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. Tapi, bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan tugasnya sudah selesai. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam itu. Meski itulah malam menghadapi operasi besar, saya tidak punya kekhawatiran apa-apa. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. Tidak punya perasaan galau sedikit pun, meski saya akan menjalani penggantian organ terbesar dalam tubuh seorang manusia. Sore sebelum tidur, saya potong rambut. Pendek sekali, nyaris gundul. Saya ingin agar setelah operasi kelak, kalau mau cuci rambut lebih gampang. Bangun pagi 6 Agustus 2007, saya bertanya kepada perawat kira-kira operasinya jam berapa. Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi. Perawat belum bisa menjawab. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak gampang dibuat. Karena itu, saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya. Saya tidak ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi setelah operasi. Tentu ini kurang masuk akal, karena dalam proses operasi ada prosedur sterilisasi di badan saya. Yakni, seluruh badan saya akan diolesi cairan antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu. Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun. Perut harus kosong sejak malamnya. Namun, sekitar pukul 09.00 perut saya masih harus dibesihkan dari kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui pantat. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut seperti mau keluar. Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. Di toilet saya lihat tak ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi. Maka saat itu dianggap perut saya sudah bersih. Beberapa sahabat penting saya di Tiongkok datang. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya sebagai adik kelima, dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga. Kakak pertama adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini. Pukul 09.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. Bapak harus masuk ruang operasi pukul 14.00, kata seorang perawat. Alhamdulillah, kata saya dalam hati. Kalau tidak, bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan minta ditempelkan lagi? Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor, kakak saya yang di Samarinda, adik saya yang di Madiun, dan beberapa pemegang saham. Saya akan operasi jam 14.00 nanti, tulis saya di sms. Kepada kakak saya yang di Samarinda, saya bicara langsung melalui telepon. Saya harus hati-hati menjelaskannya. Itu kakak saya yang amat baik hatinya. Dia pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan hidup saya selama lebih dari lima tahun. Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim, ikut paman saya. Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya penghasilan tetap. Apalagi, masih ada satu adik lagi yang masih kecil. Di Kaltim dia harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya sendiri. Mbakyu, nanti sore saya harus operasi, kata saya. Operasi apa? tanyanya. Saya tidak berani menjelaskan apa adanya, khawatir mengganggu pikirannya. </li><li> 5. 5 by Moezhanks Saya akan operasi, agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda, kata saya. Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah muntah darah. Padahal, dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga. Orangnya pintar dan karirnya bagus. Saat mahasiswa, dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wanita Jatim. Ya, saya doakan semoga berhasil, katanya datar. Dia tidak saya beri tahu betapa berisikonya penggantian liver ini. Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar, sampai ke anak perusahaan. Mulai Aceh sampai Jayapura. Juga beredar di antara teman-teman. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya. Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya. Bahkan, SMS dari Bambang Sujiyono, seniman Surabaya itu, sangat dramatik. Dia kaget saya kok tiba-tiba memberitahunya akan operasi besar. Dia menangis dalam SMS-nya. Allah, tulisnya, Selamatkan nyawa rekan saya ini. Kalau perlu, tukar dengan kematian saya. Bambang memang orang yang sangat humanis. Dia sendiri dalam keadaan sakit jantung. Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon. Mas Bambang, di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian jantung, tulis saya. Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain, tambah saya. Lalu dia tidak emosional lagi. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding liver. Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa. Liver paling sulit, jawab saya. Sekitar pukul 10.30 saya terima sms dari Jakarta. Seorang teman lama menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. Dia bilang, tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. Saya balas sms itu, agar dia menunggu keputusan saya beberapa minggu lagi. Setengah jam kemudian, teman lama yang lain, juga kirim sms. Isinya: apakah saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya jawab: saya perlu informasi lebih lengkap, dan dia saya minta kirim email. Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan waktu 12 jam dan entah apa hasilnya, seorang direksi saya di Jakarta menanyakan lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani. Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi, saya masih sempat membalas sms itu: tidak perlu saya...</li></ol>