Habitat Burung Indonesia Terancam Punah

  • Published on
    03-Jan-2016

  • View
    191

  • Download
    12

Transcript

Jenis burung di Indonesia masuk dalam kategori Sangat TerancamPunah

Spesies burung Indonesia yang masuk dalam kategori Sangat Terancam PunahPenyebab kepunahan tersebut, selain perburuan dan perdagangan, penyebab utama terancam-punahnya berbagaijenis burungdi Indonesia adalah gangguan atau tekanan pada habitat. Kegiatan manusia merubah lingkungan alami(hutan)menjadi lahan pertanian, perkebunan, hingga pembangunan infrastruktur untuk kegiatan industri, merupakan serangkaian aktifitas yang menyebabkan berkurang bahkan hilangnya habitat burung.Sedikitnya 18 Spesies burung Indonesia yang masuk dalam kategori Sangat Terancam Punah1. Anis merah cobra2. Celepuk Siau (Otus siaoensis)sejenis Burung Hantu3. Cikalang Christmas (Fregata andrewsi)4. Dara Laut China (Sterna bernsteini)5. Elang Flores (Spizaetus floris)6. Gagak Banggai (Corvus unicolor)7. Ibis Karau (Pseudibis davisoni)8. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)9. Kacamata Sangihe (Zosterops nehrkorni)10. Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea)11. Kehicap Boano (Monarcha boanensis)12. Merpati Hutan Perak (Columba argentina)13. Perkici Buru (Charmosyna toxopei)14. Punai Timor (Treron psittaceus)15. Seriwang Sangihen (Eutrichomyias rowleyi)16. Sikatan Aceh (Cyornis ruckii)17. Trulek Jawa (Vanellus macropterus)18. Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis)

49 Daerah di Indonesia Berpotensi Jadi Persinggahan Burung Air PendatangDaerah Indonesia berpotensi untuk tempat persinggahan burung air. Sayangnya, lahan basah masih belum dimanfaatkan optimalBurung Bangau. Syahrolrizal/Fotokita.netSebanyak 49 daerah di Indonesia berpotensi sebagai lokasi persinggahan burung air pendatang (migrasi). Sayangnya, kehidupan burung tersebut masih terancam.Indonesia telah diidentifikasi mampu mendukung lebih dari 20.000 burung air atau 10.000 pasang burung laut. Semenanjung Sembilang dan Banyuasin di pesisir timur Sumatera merupakan salah satu contohnya. Setiap tahunnya, kawasan yang menjadi bagian dari jalur terbang (flyway) Asia Timur-Australasian ini menjadi lokasi persinggahan bagi burung-burung bermigrasi sebelum mereka melanjutkan perjalanan jauhnya.

Lahan basah merupakan habitat penting bagi keperluan hidup burung-burung air penetap maupun pengembara ungkap Dwi Mulyawati, Bird Conservation Officer Burung Indonesia.Ia mencontohkan, cangak (Ardea sp.), bangau (Ciconidae), atau pecuk (Phalacrocoracidae) merupakan jenis burung yang sangat menyukai kawasan mangrove sebagai tempat bersarang karena aman dari pemangsa. Bagi jenis-jenis pemakan ikan seperti kelompok kuntul(Egretta sp.) mangrove merupakan tempat bertengger yang kaya makanan. Sementara bagi burung air pengembara, terutamaCharadriidaedanScolopacidae, akar mangrove berguna sebagai tempat istirahat yang baik saat terjadi air pasang selama musim migrasinya.

Habitat lahan basah tidak hanya penting bagi burung-burung pendatang. Berbagai jenis burung penetap pun merasakan manfaat dari keberadaan kawasan ini, seperti mentok rimba (Cairina scutulata) dan bangau storm (Ciconia stormi). Tipe habitat hutan rawa air tawar dan gambut menjadi rumah mereka untuk mencari makan dan berbiak.Begitu juga dengan hutan rawa rumput yang disukai keluarga keluargaArdeidae, Anatidae, Rallidae, dan Jacanidae. Di daerah Tulang Bawang, Lampung, tercatat ribuan ekor blekok sawah (Ardeola speciosa), cangak merah (Ardea purpurea), kuntul besar (Casmerodius albus), dan kowak-malam abu (Nycticorax nycticorax) berkoloni sarang pada rimbunan rumput gelagah.

Dwi menjelaskan kendati Indonesia tergolong surganya burung air, akan tetapi hidup mereka menghadapi ancaman. Lahan basah alami Indonesia terus menyusut akibat alih fungsi menjadi lahan pertanian, permukiman, atau tambak."Lahan basah dianggap kurang produktif dan kurang bermanfaat. Padahal, lahan basah memiliki fungsi ekologis yang menjaga keseimbangan ekosistem daratan maupun perairan, baik itu habitat ataupun kehidupan tumbuhan dan satwanya," kata Dwi.

Pengelolaan lahan basah sesuai dinamika kebutuhan di tingkat lokal dan nasional penting dilakukan guna mencegah menyusutnya kawasan lahan basah. Pasalnya, lahan basah tidak hanya berguna bagi perlindungan dan pelestarian burung air beserta flora-fauna saja. Tetapi juga bermanfaat bagi manusia sebagai sumber produk makanan, bahan baku industri, dan obat.(Olivia Lewi Pramesti)Kacamata sangiheKacamata Sangihe(Zosterops nehrkorni) adalah spesies burung dari keluargaBurung kacamata. Kacamata Sangihe merupakan hewanendemikKepulauan Sangihe,Indonesia. merupakan salah satu dari sekitar 22 jenis burung kacamata (pleci) yang terdapat di Indonesia.. Burung endemik pulau Sangihe ini tergolong jenis burung langka di Indonesia. Keberadaan burung kacamata sangihe terancam punah yang olehIUCNRedlist dan birdlife dimasukkan dalam status konservasikritis(Critically Endangered). Status keterancaman tertinggi lantaran diperkirakan burung endemik Sangihe ini jumlahnya kurang dari 50 ekor burung dewasa.Kacamata Sangihe memilikihabitatdi kawasanHutan pegunungandengan iklim subtropik atau tropis lembap. Hewan ini termasuk hewan yang terancam, karena kehilangan habitat.Dulunya burung ini dianggap sebagai bagian dari spesiesZosterops atrifrons(Kacamata dahi-hitam). Namun kemudian spesies kacamata dahi-hitam ini dibedakan menjadi tiga spesies yakniZosterops atrifrons,Zosterops stalkeri(Kacamata seram), danZosterops nehrkorni(Kacamata sangihe).

HabitatHabitat burung kacamata sangihe adalah hutan primer pada daerah perbukitan dengan ketinggian antara 700-1000 meter dpl.Persebaran burung pleci ini terbatas dan merupakan burung endemik yang hanya bisa dijumpai di pulauSangihe,Sulawesi Utara. Bahkan di pulau Sangihe ini, burung kacamata sangihe ( Zosterops nehrkorni) hanya dapat dijumpai di kawasanGunung Sahendarumandan Sahengbalira dengan luas habitat hanya sekitar 8 km2.

PRESS RILIS BURUNG INDONESIA - Habitat Terusik, Populasi Burung TerancamBOGOR, BURUNG INDONESIA Hutan merupakanhabitat penting bagi kehidupan burung. Saat ini, lima puluh persen jenis burung di dunia terancam punah karena habitatnya terusik kegiatan manusia. Begitu pun dengan kondisi Indonesia. Dari seluruh jenis burung yang terancam punah, lebih dari setengahnya tinggal di hutan sebagai habitat utamanya.

Sebagai salah satu negara Mega Bird Diversity, Indonesia memiliki keanekaragaman jenis burung yang luar biasa. Dari 10.000 jenis burung di dunia, 1.594 jenis terdapat di Indonesia. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai pemilik burung urutan ke-5 terbanyak di dunia.

Namun begitu, keragaman burung di Indonesia juga menghadapi ancaman. Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) mencatat, 122 jenis terancam punah dan masuk daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature). Rinciannya adalah 18 jenis berstatus kritis, 31 jenis genting, sementara 73 jenis tergolong rentan. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebaga negara yang burungnya paling banyak terancam punah.

Selain perburuan dan perdagangan, penyebab utama terancam-punahnya berbagai jenis burung di Indonesia adalah gangguan atau tekanan pada habitat. Kegiatan manusia merubah lingkungan alami (hutan) menjadi lahan pertanian, perkebunan, hingga pembangunan infrastruktur untuk kegiatan industri, merupakan serangkaian aktifitas yang menyebabkan berkurang bahkan hilangnya habitat burung.

Jenis-jenis merpati hutan (Columba sp.), uncal (Macropygia sp.), delimukan (Chalcopaps sp. dan Gallicolumba sp), pergam (Ducula sp.), dan walik (Ptilinopus sp.) merupakan keluarga merpati yang memiliki ketergantungan sangat tinggi dengan habitat hutan. Tak mengherankan jika dari 122 jenis yang terancam punah, 12 jenis di antaranya juga merupakan suku Collumbidae.

Meningkatnya tekanan terhadap hidupan liar dan ekosistem alami ini disebabkan bertambahnya jumlah penduduk serta kebijakan ekonomi dan pembangunan. Timbulnya tekanan terhadap habitat alami juga erat kaitannya dengan kemiskinan, pemanfaatan sumberdaya dan lahan hutan, serta pengembangan pertanian. Faktor-faktor ini yang mendorong terjadinya kerusakan habitat, meningkatnya polusi, dan pemanfaatatan sumberdaya alam secara berlebihan.

Prioritas konservasi perlu dilakukan untuk mencegah semakin tingginya tekanan terhadap habitat. Pendekatan melalui pengelolaan kawasan konservasi oleh masyarakat dan kesepakatan pelestarian dengan pemilik lahan bisa dilakukan. Pendekatan ini memberikan kesempatan yang lebih fleksibel bagi pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Di sisi lain, pendekatan alternatif dapat memberikan kontribusi besar terhadap pengurangan angka kemiskinan di sekitar kawasan, yang sangat bergantung kepada sumber daya alam yang tersedia.

Sedangkan penguatan kapasitas masyarakat dapat dilakukan melalui pembentukan Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan, yang merupakan gabungan dari beberapa desa di sekitar kawasan konservasi. Kelompok masyarakat bersama pemerintah dapat bersama-sama menyusun strategi pengelolaan berdasarkan kesepakatan antara para pemangku kepentingan. Berbekal penguatan kapasitas masyarakat, diharapkan kawasan prioritas dapat dikelola secara partisipatif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat sekitar kawasan.

Alternatif pengelolaan lain dapat dilakukan dalam bentuk konsesi untuk restorasi ekosistem yang bertujuan mengembalikan kondisi biotik dan abiotik sehingga tercapai keseimbangan hayati. Melalui restorasi ekosistem, hutan yang sebagian telah rusak dapat diselamatkan dan dikembalikan sebagaimana kondisi aslinya. Restorasi ekosistem tidak hanya meningkatkan produktifitas hutan dan pelestarian keragaman hayati, tetapi juga peningkatan nilai ekonomi sumber daya hutan untuk kesejahteraan masyarakat. ***

Keterangan lebih lanjut, hubungi :Ria SaryanthiConservation Programme ManagerBurung IndonesiaJl. Dadali No. 32, Tanah Sareal, BogorTelepon : (0251) 8357 222Fax : (0251) 8357 961Email : rsyanthi@burung.org

Catatan Untuk Redaktur:

* News Release ini diterbitkan Burung Indonesia untuk memperingati Hari Sejuta Pohon yang diperingati pada 10 Januari setiap tahun.* Habitat merupakan tempat satwa hidup atau tempat organisme ditemukan. Kawasan yang terdiri dari berbagai komponen baik fisik, biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup dan berkembangnya satwa liar. Komponen terpenting dalam habitat adalah makanan, air, dan perlindungan tempat berkembang biak. Faktor lainnya seperti temperatur dan kelembaban iklim (makro dan mikro) dan tanah (daur formasi, profil, iklim, kimia, humus).* Burung Indonesia adalah organisasi nirlaba dengan nama lengkap Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia yang menjalin kemitraan dengan Bird Life International, Inggris. Burung Indonesia mengarahkan fokus pekerjaan kepada pelestarian jenis-jenis burung yang terancam punah, termasuk berbagai jenis paruh bengkok yang banyak ditangkap dan diperdagangkan secara tidak sah. Dalam melaksanakan upaya pelestariannya, Burung Indonesia memfokuskan diri di kawasan Wallacea, kawasan transisi yang terletak di antara Sunda Besar di sebelah barat dan Papua di sebelah timur.* Kawasan Wallacea terdiri dari Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Burung Indonesia juga lebih menitik beratkan perhatiannya pada upaya konservasi di pulau-pulau kecil yang rentan di kawasan Wallacea tersebut. Kecuali Jambi di Sumatera, semua project site Burung Indonesia berada di kawasan Wallacea. Saat ini Burung Indonesia bekerja di Gorontalo, Kepulauan Sangihe dan Talaud, Flores, Sumba, Tanimbar, Buru dan Halmahera.

Sumber :http://www.burung.org/detail_txt.php?op=news&id=497

Indonesia penting bagi burung airKamis, 15 Maret 2012 10:59 WIB | 1766 Views

Habitat Burung Sekawanan burung Dara laut sayap putih (Chlidonias leucopterus) bertengger di bambu media tanam bibit mangrove, di pantai timur Surabaya (Pamurbaya), Wonorejo Rungkut, Surabaya, Selasa (6/3).(FOTO ANTARA/Eric Ireng) ()Habitat lahan basah tidak hanya penting bagi burung-burung pendatang. Berbagai jenis burung penetap pun merasakan manfaat dari keberadaan kawasan ini, seperti mentok rimba (Cairina scutulata) dan bangau storm (Ciconia stormi).Bogor (ANTARA News) - Sebanyak 49 daerah di Indonesia berpotensi sebagai lokasi penting persinggahan burung air pendatang karena mampu mendukung lebih dari 20.000 burung air atau 10.000 pasang burung laut.

"Indonesia merupakan salah satu negara penting bagi burung air," kata Dwi Mulyawati petugas konservasi burung Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) dalam surat elektroniknya kepada ANTARA News, Kamis.

Dwi mejelaskan, salah satu daerah penting tersebut yakni Semenanjung Sembilang dan Banyuasin di pesisir timur Sumatera, yang merupakan salah satu kawasan kunci bagi lebih dari ratusan ribu ekor burung air pendatang.

Dijelaskannya, setiap tahun kawasan yang menjadi bagian dari jalur terbang (flyway) Asia Timur-Australasian ini menjadi lokasi persinggahan bagi burung-burung bermigrasi sebelum mereka melanjutkan perjalanan jauhnya.

"Lahan basah merupakan habitat penting bagi keperluan hidup burung-burung air penetap maupun pengembara," ujarnya.

Cangak (Ardea sp.), bangau (Ciconidae), atau pecuk (Phalacrocoracidae) merupakan jenis burung yang sangat menyukai kawasan hutan bakau sebagai tempat bersarangnya karena aman dari pemangsa.

Bagi jenis-jenis pemakan ikan seperti kelompok kuntul (Egretta sp.) hutan bakau merupakan tempat bertengger yang kaya makanan.

Sementara bagi burung air pengembara, terutamaCharadriidaedanScolopacidae, akar pohon bakau berguna sebagai tempat istirahat yang baik saat terjadi air pasang selama musim migrasinya.

"Habitat lahan basah tidak hanya penting bagi burung-burung pendatang. Berbagai jenis burung penetap pun merasakan manfaat dari keberadaan kawasan ini, seperti mentok rimba (Cairina scutulata) dan bangau storm (Ciconia stormi)," ungkap Dwi.

Tipe habitat hutan rawa air tawar dan gambut menjadi rumah mereka untuk mencari makan dan berkembang biak. Begitu juga dengan hutan rawa rumput yang disukai keluarga keluargaArdeidae, Anatidae, Rallidae, danJacanidae.

Sementara itu, di daerah Tulang Bawang, Lampung, tercatat ribuan ekor blekok sawah (Ardeola speciosa), cangak merah (Ardea purpurea), kuntul besar (Casmerodius albus), dan kowak-malam abu (Nycticorax nycticorax) berkoloni sarang pada rimbunan rumput gelagah.

Menurut Dwi, kendati Indonesia tergolong surganya burung air, akan tetapi hidup mereka menghadapi ancaman. Lahan basah alami Indonesia terus menyusut akibat alih fungsi menjadi lahan pertanian, permukiman, atau tambak.

"Lahan basah dianggap kurang produktif dan kurang bermanfaat. Padahal, lahan basah memiliki fungsi ekologis yang menjaga keseimbangan ekosistem daratan maupun perairan, baik itu habitat ataupun kehidupan tumbuhan dan satwanya," kata Dwi.

Dwi mengatakan, pengelolaan lahan basah sesuai dinamika kebutuhan di tingkat lokal dan nasional penting dilakukan guna mencegah menyusutnya kawasan lahan basah yang sangat bermanfaat secara global.

"Lahan basah tidak hanya berguna bagi perlindungan dan pelestarian burung air beserta flora-fauna saja. Tetapi juga, bermanfaat bagi manusia sebagai sumber produk makanan, bahan baku industri, dan obat," ujarnya.

Dwi menambahkan, kelompok burung air merupakan kelompok jenis-jenis burung yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di berbagai tipe habitat lahan basah, umumnya pemakan hewan invertebrata yang akan selalu mencari makan di tempat yang sama di mana ada pakan melimpah.

Lahan basah merupakan tempat aktivitas hidupnya, mulai dari mencari makan hingga berkembang biak dilakukan di lahan basah.

"Di Indonesia terdapat sekitar 184 jenis burung air yang berasal dari 20 suku," katanya.

(KR-LR)

Editor: Ella SyafputriCOPYRIGHT 2012