Hazard Assessement Sementara

  • Published on
    12-Oct-2015

  • View
    9

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

1. Deskripsi DAS Garang

DAS Garang secara administratif berada pada 3 (tiga) wilayah yaitu di Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal dan Kota Semarang. Secara astronomis, DAS Garang membentang dari 110 18' 28" BT sampai 110 25' 59" BT dan antara 6 56' 46'' LS sampai dengan 7 11' 47'' LS dengan luas keseluruhan DAS Garang adalah 21.277,36 hektar. Dari gambar di atas nampak bahwa Kota Semarang memiliki luas wilayah paling besar yaitu sebesar 53,82% dari luas DAS Garang, sedangkan Kabupaten Semarang sebesar 33,38% dan Kabupaten Kendal sebesar 12,79%. Batas DAS Garang adalah sebagai berikut: Utara : Laut Jawa,

Timur : Kabupaten Demak,

Selatan : Kabupaten Semarang

Barat : Kabupaten Kendal

Gambar 1. Peta Wilayah Administrasi DAS GarangDAS Garang dibagi menjadi empat (4) sub DAS yaitu DAS Garang Hulu, DAS Kreo, DAS Kripik dan DAS Garang Hilir atau Banjir Kanal Barat. Aliran sungai berasal dari Sungai Kreo, Sungai Kripik dan Sungai Garang Hulu yang menyatu menjadi Sungai Garang pada bagian hilir DAS, sehingga bentuknya menyerupai botol dimana pada hulu

DAS menggelembung dan menyempit pada bagian hilirnya.

2. Kondisi Iklim DAS

Iklim merupakan keadaan atmosfer yang terjadi di suatu wilayah selama kurun waktu yang panjang. Untuk menentukan tipe iklim dapat digunakan klasifikasi Schmidt-Ferguson yang didasarkan pada penentuan bulan kering (BK) dan bulan basah (BB). Bulan kering (BK) merupakan bulan dengan curah hujan < 60 mm sedangkan bulan basah (BB) merupakan bulan dengan curah hujan > 100 mm. Penggolongan iklim didasarkan pada nilai Q yang merupakan rasio rerata bulan kering dan bulan basah. Klasifikasi iklim Schmidt Ferguson dikelompokkan menjadi 8 tipe iklim yaitu tipe iklim A H yang dapat dilihat pada Tabel 2.Tabel 2. Klasifikasi iklim menurut SchmidtFergusonNoTipe IklimQKondisi

1. A0 Q 0,143 Sangat basah

2. B0,143 Q 0,333Basah

3. C0,333 Q 0,600Agak basah

4. D0,600 Q 1,000Sedang

5. E1,000 Q 1,670Agak kering

6. F1,670 Q 3,000Kering

7. G3,000 Q 7,000Sangat kering

8. H 7,000Luar biasa kering

Untuk menentukan bulan basah dan kering yang digunakan dalam penentuan nilai Q dibutuhkan data curah hujan. Berdasarkan data curah hujan DAS Garang dapat diketahui rerata bulan kering sebesar 2,64 dan bulan basah sebesar 7,70. Berdasarkan rasio rerata bulan kering dan bulan basah diperoleh nilai Q sebesar 0,34. Nilai tersebut menunjukkan bahwa DAS Garang tergolong tipe iklim C (agak basah). 3. Karakteristik Topografi

DAS Garang memiliki kemiringan lereng yang bervariasi dari datar, bergelombang, berbukit sampai bergunung. Wilayah datar berada di bagian hilir DAS, daerah bergunung berada di bagian hulu DAS sedangkan daerah bergelombang dan berbukit berada diantara hulu dan hilir. Tempat tertinggi berada di Gunung Ungaran dengan ketinggian 1.900 m di atas permukaan air laut, sedangkan tempat terendah berada di muara Sungai Garang di Kecamatan Semarang Barat. Kemiringan lereng lahan di DAS Garang tersajii pada tabel 3.Tabel 3. kelas kemiringan lerengNoKemiringan LerengLuaspersen

1.Datar (0-8%)894341.48

2.Landai (9-15%)469021.76

3.Agak Curam (6-25%)298713.86

4.Curam (25-40%)228610.60

5.Sangat Curam (.40%)265212.30

Jumlah21558100

4. Curah Hujan

Hujan merupakan komponen utama daur air di alam atau wilayah. Hujan juga merupakan sumber air utama suatu wilayah. Curah hujan yang kecil akan mengakibatkan kesetimbangan air di suatu wilayah mengalami defisit yang cukup besar, terutama di wilayah tropis yang laju evaporasinya cukup besar. Variabel hujan (presipitasi) yakni curahan (tebal), lama (durasi) dan intensitas hujan merupakan variabel atau faktor penting dalam pengendalian air limpasan permukaan dan rekayasa konservasi tanah dan air. Intensitas hujan yang menghasilkan energi pukulan terhadap tanah, menentukan indeks erosivitas hujan. Disamping itu, tebal dan lama hujan juga mempengaruhi besarnya air limpasan (aliran) permukaan (surface runoff), berpengaruh terhadap erosi, banjir dan sedimentasi (Mawardi, 2012).

Curah hujan harian maksimum rata-rata merupakan salah satu parameter yang digunakan dalam penentuan potensi penyebab banjir. Curah hujan harian rata-rata DAS Garang memiliki kategori nilai agak tinggi hingga tinggi terhadap potensi penyebab banjir dengan kata lain curah hujan yang ada memiliki kerentanan agak tinggi terhadap terjadinya air penyebab banjir. Curah hujan harian maksimum rata-rata DAS Garang disajikan pada Tabel 5.5. Bentuk DAS

Perbedaan bentuk DAS berpengaruh terhadap kejadian banjir yang akan terjadi pada suatu DAS. Berikut karakteristik bentuk DAS dengan kemungkinan kejadian banjir yang akan terjadi:

1. Daerah aliran sungai berbentuk bulu burungJalur daerah di kiri kanan sungai utama dimana anak-anak sungai mengalir ke sungai utama disebut daerah aliran sungai bulu burung. Daerah pengaliran sedemikian mempunyai debit banjir yang kecil, oleh karena waktu tiba banjir dari anak-anak sungai itu berbeda-beda. Sebaliknya banjirnya berlangsung agak lama.2. Daerah aliran sungai radialDaerah aliran sungai yang berbentuk kipas atau lingkaran dimana anak-anak sungainya mengkonsentrasi ke suatu titik secara radial disebut daerah aliran sungai radial. Daerah aliran sungai dengan corak demikian mempunyai banjir yang besar di dekat titik pertemuan anak-anak sungai.3. Daerah aliran sungai parallelBentuk ini mempunyai corak dimana dua jalur aliran sungai yang bersatu di daerah aliran sungai bagian hilir. Banjir terjadi di sebelah hilir titik pertemuan sungai-sungai. 4. Daerah aliran sungai yang kompleksMemiliki beberapa bentuk dari ketiga bentuk daerah aliran sungai di atas disebut daerah aliran sungai yang kompleks (Sosrodarsono, 1980).

6. Gradien Sungai

Gradien sungai merupakan perbandingan antara beda elevasi dengan panjang sungai utama. Gradien menunjukkan tingkat kecuraman sungai, semakin besar kecuraman, semakin tinggi kecepatan aliran airnya. Gradien sungai dapat diperkirakan dengan persamaan (Rahayu, 2009):

Su = (h85 h10)/ (0,75 Lb)

Keterangan : Su = gradien sungai h85= elevasi pada titik sejauh 85% dari outlet DAS h10= elevasi pada titik sejauh 10% dari outlet DAS Lb = panjang sungai utama

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai gradient DAS Garang sebesar 0,079 (m/m). Kecuraman sungai berbanding lurus dengan kecepatan aliran. Kecuraman sungai yang tinggi menyebabkan kecepatan aliran yang tinggi. Gradien sungai DAS Garang yang kecil menunjukkan bahwa kecepatan aliran juga kecil sehingga kerentanan potensi penyebab banjir berdasarkan parameter gradien sungai termasuk rendah.7. Kerapatan Aliran

Kerapatan aliran sungai menggambarkan kapasitas penyimpanan air permukaan dalam cekungan-cekungan seperti danau, rawa dan badan sungai yang mengalir di suatu DAS. Kerapatan aliran sungai dapat dihitung dari rasio total panjang jaringan sungai terhadap luas DAS yang bersangkutan. Semakin tinggi tingkat kerapatan aliran sungai, berarti semakin banyak air yang dapat tertampung di badan-badan sungai. Kerapatan aliran sungai adalah suatu angka indeks yang menunjukkan banyaknya anak sungai di dalam suatu DAS. Indeks tersebut dapat diperoleh dengan persamaan (Rahayu dkk., 2009) :

Keterangan : Dd = indeks kerapatan aliran sungai (km/km2) L = jumlah panjang sungai termasuk panjang anak-anak sungai (km) A = luas DAS (km2)Berdasarkan hasil perhitungan diketahui indeks kerapatan aliran sungai Garang adalah 0,194 Km/Km2. Berdasarkan peta aliran sungai DAS Garang dapat diketahui bahwa DAS bagian hulu dan tengah memiliki percabangan sungai yang sangat rapat sedangkan DAS bagian hilir memiliki tingkat percabangan sungai yang jarang. Percabangan sungai yang sangat rapat tersebut merupakan kondisi yang sangat rentan terhadap banjir. Sebaliknya percabangan sungai yang jarang merupakan kondisi kerentanan terhadap banjir rendah.

Gambar 2. Peta aliran DAS Garang

8. Kondisi Geologi

Pada Kawasan DAS Kaligarang mempunyai 5 jenis formasi batuan yaitu Batuan Endapan Aluvial, Batuan Formasi Kerek, Batuan Formasi Kaliteng, Batuan Formasi Kaligetas dan Batuan Gunungapi Gajahmungkur. Kelima batuan ini mendominasi jenis batuan pada kawasan DAS Kaligarang, dengan dominasi letak yang berbeda- beda.

Batuan Endapan Aluvial

Struktur geologi ini mendominasi Kawasan DAS Kaligarang, yang sebagian besar terdapat di bagian utara Kawasan DAS Kaligarang. Batuan ini terdiri dari kerikil, pasir, lempung, lanau, sisa tumbuhan dan bongkahan batuan gunungapi, dan berumur holosen. Batuan Formasi Kerek Formasi batuan ini mendominasi di sebelah selatan Kawasan DAS Kaligarang (Kecamatan Bergas dan Kecamatan Ungaran). Batuan ini terdiri dari perselingan batu lempung, napal, batupasir tufan, konglomerat, breksi vulkanik dan batu gamping. Batuan ini termasuk dalam batuan tersier dan berumur miosen tengah. Batuan Formasi Kaliteng Kelompok batuan Formasi Kaliteng yang terdiri dari napal pejal, napal sisipan, batupasir tufaan dan batugamping. Batuan ini termasuk dalam batuan tersier dan berumur miosen akhir-pliosen dimana sebagian kecil terdapat di kawasan DAS Kaligarang. Batuan Formasi Kaligetas

Kelompok batuan Formasi Kaligetas di Kawasan DAS Kaligarang terdapat di sebagian kecil Kecamatan Semarang Barat bagian barat, dan memanjang di bagian selatan Kecamatan Gunungpati dan Banyumanik sampai Kecamatan Ungaran. Batuan ini terdiri dari breksi vulkanik, aliran lava, tuf, batupasir tufaan dan batulempung. Termasuk dalam batuan kuarter dan berumur plistosen bawah. Batuan Gunungapi Gajahmungkur

Kelompok batuan Gunungapi Gajahmungkur terdapat di sebagian besar di Kecamatan Ungaran dan memanjang sampai Kecamatan Gunungpati dan Banyumanik. Batuan ini terdiri dari andesit horenblenda augit dimana umumnya me