“Hidup Di Tengah Krisis Ekonomi Dunia” masyarakat perbankan ... di tengah suasana yang kurang menguntungkan…

  • Published on
    13-Jun-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p> 1</p> <p>Hidup Di Tengah Krisis Ekonomi Dunia </p> <p>Pidato Gubernur Bank Indonesia </p> <p>pada Pertemuan Tahunan Perbankan 2009 </p> <p>30 Januari 2009 </p> <p>Yth. Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, </p> <p>Para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indon esia, </p> <p>Para Pemimpin Perbankan di Tanah Air, </p> <p>Hadirin sekalian yang berbahagia, </p> <p>Assalamualaikum wr.wb, </p> <p>Selamat malam dan salam sejahtera bagi kita semua, </p> <p>Pengantar </p> <p>1. Mengawali pidato malam ini, saya ingin mengajak kita semua untuk bersama-</p> <p>sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah </p> <p>memberikan kesempatan pada kita untuk bertemu dalam suasana yang baik, </p> <p>dalam acara Pertemuan Tahunan Perbankan 2009. Bagi masyarakat perbankan </p> <p>acara ini sudah menjadi suatu tradisi yang kita gunakan sebagai momen refleksi </p> <p>dan wahana komunikasi diantara kita. </p> <p>2. Dalam kesempatan yang baik ini, kiranya belum terlalu terlambat apabila saya, </p> <p>atas nama seluruh anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia mengucapkan </p> <p>Selamat Tahun Baru 2009 kepada para hadirin sekalian. Harapan kita semoga di </p> <p> 2</p> <p>tahun 2009 yang penuh tantangan ini kita senantiasa dikaruniai kekuatan dan </p> <p>bimbingan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap langkah kita. </p> <p>Hadirin sekalian yang saya hormati, </p> <p>3. Tahun 2009 dapat dipastikan akan merupakan tahun yang penuh tantangan dan </p> <p>ujian. Kita saat ini sedang di puncak gelombang krisis ekonomi global terberat </p> <p>sejak Depresi 1929. Mendominasi pikiran para pengelola kebijakan ekonomi dan </p> <p>para pelaku ekonomi di semua negara adalah bagaimana kita bisa melewati </p> <p>masa sulit ini dengan selamat. Kita semua sekarang berada pada survival mode. </p> <p>4. Bagi kebanyakan dari kita di Indonesia, salvo yang menandai datangnya krisis </p> <p>keuangan global kita dengar pada bulan-bulan awal semester kedua 2007 </p> <p>sewaktu terungkap bahwa sejumlah bank dan lembaga keuangan di Amerika </p> <p>Serikat dan Inggris mengalami kesulitan keuangan. Sebabnya aset-asetnya </p> <p>yang terkait kredit perumahan terutama yang berkualitas sub-standard atau </p> <p>subprime mortgages, mulai macet. </p> <p>5. Ternyata peristiwa itu hanya pucuk dari sebuah gunung es. Selanjutnya terjadilah </p> <p>eskalasi yang cepat. Imbas krisis makin luas dan makin dalam. Apa yang </p> <p>berawal sebagai krisis kredit perumahan, dalam beberapa bulan berkembang </p> <p>menjadi krisis kredit berskala global. Dimana-mana persepsi risiko pelaku </p> <p>ekonomi meningkat tajam. Aliran kredit untuk kegiatan normal terganggu karena </p> <p>penyandang dana lebih suka menyimpan dananya dalam cash atau emas </p> <p>daripada memberikan pinjaman. Bank dan lembaga keuangan di berbagai </p> <p>negara mengalami distress berat dan sebagian, termasuk yang berskala global, </p> <p>bangkrut. </p> <p> 3</p> <p>6. Pemerintah di berbagai negara terpaksa melakukan bailout dan bank sentralnya </p> <p>memompakan likuiditas ke dalam perekonomian dalam jumlah yang belum </p> <p>pernah terjadi sebelumnya. Toh bank dan lembaga-lembaga keuangan tetap </p> <p>mengalami tekanan dan aliran kredit masih jauh dari normal. The financial sector </p> <p>is broken, kata Paul Volcker. </p> <p>7. Yang sangat dikhawatirkan para pengelola ekonomi dan ingin dihindari almost at </p> <p>all cost adalah terjadinya proses spiral ke bawah antara sektor keuangan dan </p> <p>sektor riil sektor keuangan yang tidak berfungsi mengakibatkan kemerosotan </p> <p>kegiatan sektor riil, yang kemudian makin memperburuk kinerja sektor keuangan </p> <p>dan kemudian makin menekan sektor riil, demikian seterusnya. </p> <p>8. Pemerintah dan bank sentral di berbagai negara melakukan hampir apa saja </p> <p>yang mungkin dilakukan, termasuk langkah-langkah yang sangat tidak </p> <p>konvensional untuk menyelamatkan keadaan. Untuk menghentikan proses spiral </p> <p>ke bawah itu, seperti yang saya sebutkan tadi, otoritas moneter terutama di </p> <p>negara-negara maju mengguyurkan likuiditas secara besar-besaran dan hampir </p> <p>semua Pemerintah di dunia saat ini meluncurkan paket-paket stimulus fiskal. </p> <p>9. Untuk menyelamatkan di sektor keuangannya, pemerintah berbagai negara </p> <p>mengambil langkah-langkah intervensi, termasuk menerapkan blanket guarantee </p> <p>bagi simpanan di bank, menjamin atau mengambilalih aset-aset bermasalah, </p> <p>menginjeksi modal kepada lembaga-lembaga keuangannya atau bahkan </p> <p>mengambilalih lembaga-lembaga itu. </p> <p>10. Apabila saya menggambarkan situasi ekonomi dunia yang suram, tidaklah berarti </p> <p>saya mengajak Saudara-saudara untuk pesimis, apalagi pesimis mengenai </p> <p>perekonomian kita sendiri. Secara obyektif situasi dan prospek ekonomi global </p> <p> 4</p> <p>memang suram. Kita perlu melihat permasalahan yang kita hadapi secara </p> <p>obyektif dan seperti apa adanya agar kita dapat mengambil langkah-langkah </p> <p>yang benar-benar menjawab masalah. Saya justru ingin mengajak Saudara-</p> <p>saudara untuk yakin bahwa dengan tekad bersama dan langkah-langkah terukur, </p> <p>kita bisa melewati masa sulit ini. Kita harus percaya diri dan optimis bahwa kita </p> <p>mampu dan kita akan keluar dari krisis ini dengan selamat dan bahkan Insya </p> <p>Allah nantinya muncul lebih kuat. </p> <p>11. Pada tingkat global, saya melihat secercah titik terang. Di episentrum krisis, </p> <p>Amerika Serikat, ada harapan baru dengan adanya pemerintahan baru dengan </p> <p>tim ekonomi yang baru, yang berjanji untuk segera mengambil forceful actions </p> <p>untuk mengatasi krisis. Kemauan antar negara-negara besar untuk berkoordinasi </p> <p>dalam kebijakan juga semakin menguat. Saya juga melihat bahwa paling tidak </p> <p>sebagian dari langkah-langkah yang telah diambil sebelumnya mulai </p> <p>menunjukkan hasilnya, meskipun masih minim dilihat dari skala krisis yang </p> <p>berkembang. </p> <p>12. Sementara itu, di tengah suasana yang kurang menguntungkan ini, Indonesia </p> <p>tidaklah pada posisi terburuk di antara negara-negara lain. Secara umum, postur </p> <p>makro kita, termasuk tingkat pertumbuhan ekonomi tidak terlalu jelek. Industri </p> <p>perbankan kita juga cukup mantap. </p> <p>13. Indonesia termasuk beruntung karena exposure perbankan dan lembaga </p> <p>keuangan kita terhadap subprime mortgages minimal. Namun dalam </p> <p>perkembangan selanjutnya, kita tidak sepenuhnya bisa terhindar dari imbas krisis. </p> <p>Sewaktu keketatan kredit global mencapai puncaknya setelah bangkrutnya </p> <p>Lehman Brothers dan sewaktu psikologi pasar di dalam negeri goncang, pada </p> <p> 5</p> <p>bulan November 2008 Pemerintah terpaksa mengambilalih Bank Century demi </p> <p>mengamankan stabilitas perbankan nasional. Demikian pula, perbankan </p> <p>Indonesia tidak terhindar dari masalah produk derivatif, meskipun skalanya lebih </p> <p>kecil dibanding sejumlah negara berkembang lain apalagi dibanding dengan </p> <p>negara-negara maju. </p> <p>14. Sementara orang mengatakan bahwa ketertinggalan kita dalam </p> <p>mengintegrasikan sektor keuangan kita dengan jaringan keuangan global adalah </p> <p>blessing in disguise karena telah menyelamatkan kita dari dampak krisis yang </p> <p>lebih serius. Saya cenderung setuju dengan pandangan ini. Menurut hemat saya </p> <p>hal ini merupakan pelajaran bagi kita agar tidak terlalu bersemangat untuk maju </p> <p>atau ingin dianggap maju sebelum kita mengerti benar risiko-risiko yang bisa </p> <p>ditimbulkan dan sebelum kita siap dengan rambu-rambu yang perlu diletakkan </p> <p>untuk mengelolanya. Kita akan kembali membahas pelajaran dari krisis nanti. </p> <p>15. Salah satu masalah yang kita hadapi saat ini adalah menciutnya akses korporasi </p> <p>dan perbankan kita terhadap sumber pembiayaan luar negeri. Eksodus dana </p> <p>dari negara-negara berkembang termasuk dari Indonesia saat ini sudah mereda. </p> <p>Namun tanda-tanda pembalikan arus kembali masuk belum terlihat, kecuali </p> <p>dalam skala kecil. Untuk kembali ke volume arus dana yang normal barangkali </p> <p>kita masih harus menunggu. Namun seperti yang saya sebutkan tadi, ada </p> <p>landasan untuk optimis. </p> <p>16. Kita melihat bagaimana negara-negara maju all out mengambil segala langkah </p> <p>untuk menormalkan kembali suplai dan aliran kredit di negara mereka masing-</p> <p>masing untuk menghentikan kemerosotan kegiatan ekonomi yang makin </p> <p>memburuk. Apabila aliran kredit di negara-negara tersebut kembali normal, aliran </p> <p> 6</p> <p>dana ke negara-negara berkembang, dengan tenggat waktu, akan berangsur-</p> <p>angsur kembali normal pula. Indonesia perlu memposisikan diri mulai dari </p> <p>sekarang diantara negara-negara berkembang lain agar kita menjadi negara </p> <p>pertama yang dapat mengambil manfaat dari kebangkitan keuangan global. </p> <p>Menurut pandangan saya kuncinya adalah bagaimana memposisikan agar </p> <p>Indonesia dipandang sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk berbisnis </p> <p>dan berinvestasi. Kita harus meyakinkan para investor bahwa ekonomi makro </p> <p>kita kelola dengan baik dan sustainable dan bahwa sektor keuangan kita, </p> <p>terutama perbankan kita, tetap solid. Ini pekerjaan bersama kita. </p> <p>17. Permasalahan lainnya adalah pasar uang antarbank dalam negeri yang belum </p> <p>berjalan normal dilihat dari volume transaksi harian dan terutama dari segi akses </p> <p>bank-bank menengah dan kecil terhadap sumber dana ini. Untuk kita ketahui, </p> <p>masalah pasar uang antarbank ini dialami oleh banyak negara dan masing-</p> <p>masing negara merespons berbeda terhadapnya. Secara umum respons </p> <p>tersebut berupa salah satu atau kombinasi dari 3 langkah: pemberian jaminan </p> <p>oleh negara, program asuransi dengan dukungan negara dan perluasan fasilitas </p> <p>likuiditas bank sentral bagi perbankan. Indonesia sampai saat ini memilih untuk </p> <p>mengandalkan pada opsi ketiga yaitu perluasan fasilitas likuiditas bagi perbankan. </p> <p>18. Beberapa bulan terakhir ini Bank Indonesia telah mengambil sejumlah langkah </p> <p>ke arah itu. Namun kita harus akui bahwa langkah-langkah itu belum </p> <p>memecahkan seluruh masalah, terutama masalah akses bank-bank menengah </p> <p>dan kecil yang tidak memiliki secondary reserves yang cukup. Perluasan fasilitas </p> <p>bank sentral, seperti FPJP, bukan substitute sempurna bagi pasar antarbank </p> <p>yang berjalan baik. Bank Indonesia mengharapkan perbankan nasional secara </p> <p> 7</p> <p>bersama mengambil inisiatif dan peran yang lebih aktif untuk ikut mengaktifkan </p> <p>kembali pasar antarbank di dalam negeri. Kami di Bank Indonesia selalu terbuka </p> <p>untuk membicarakan dengan perbankan mengenai hal ini. </p> <p>19. Sementara itu dalam dua kuartal terakhir ini kita melihat bagaimana di semua </p> <p>negara, Indonesia tak terkecuali, krisis keuangan global mulai menggerus </p> <p>kegiatan ekonomi pada umumnya. Tahap ini adalah tahap yang berbahaya. </p> <p>Harus diambil langkah-langkah yang forceful dan efektif untuk </p> <p>menghentikannya. Pengalaman negara-negara di masa lalu menunjukkan </p> <p>bahwa krisis keuangan struktural seperti yang terjadi sekarang ini akan </p> <p>mempunyai dampak panjang terhadap sektor riil. Pertumbuhan ekonomi yang </p> <p>lemah akan berlanjut untuk beberapa waktu meskipun kondisi likuiditas nantinya </p> <p>sudah kembali normal. Di sini menurut pandangan saya kita perlu mempunyai </p> <p>strategi dengan sasaran yang jelas. Ada 3 (tiga) sasaran yang harus dicapai </p> <p>secara terkoordinir, yaitu: (a) melewati masa keketatan kredit global dengan </p> <p>selamat, (b) menjaga agar kegiatan ekonomi nasional tidak terlalu merosot dalam </p> <p>jangka pendek dan (c) mempersiapkan kondisi agar setelah itu perekonomian </p> <p>Indonesia kembali pada jalur pertumbuhan ekonominya yang sustainable. </p> <p>20. Stimulus fiskal merupakan langkah kunci untuk menangkal kemerosotan kegiatan </p> <p>ekonomi dalam jangka pendek. Rencana stimulus fiskal Pemerintah untuk 2009 </p> <p>dan percepatan pelaksanaan APBN 2009 sangat diperlukan dan harus berhasil. </p> <p>Namun kita juga diingatkan oleh Ben Bernanke bahwa untuk melepaskan diri dari </p> <p>belenggu krisis, stimulus fiskal harus dibarengi dengan perbaikan dan penguatan </p> <p>sektor keuangan. Stimulus fiskal pada hakekatnya berfungsi sebagai </p> <p>pemancing pump priming. Ia tidak akan menghasilkan kebangkitan ekonomi yang </p> <p> 8</p> <p>sustainable apabila tidak dibarengi dengan kebangkitan kembali kegiatan sektor </p> <p>swasta atau dunia usaha. Dan kebangkitan kembali sektor swasta hanya akan </p> <p>terjadi apabila didukung oleh sektor keuangan yang berfungsi kembali secara </p> <p>penuh. </p> <p>21. Oleh karena itu, langkah-langkah pembenahan dan penguatan sektor keuangan </p> <p>harus dilakukan seiring dengan stimulus fiskal. Di negara kita, perbankan masih </p> <p>merupakan sumber pembiayaan andalan bagi kegiatan dunia usaha, dan oleh </p> <p>karenanya pembenahan dan penguatannya merupakan prioritas dan harus terus </p> <p>menerus kita lakukan. Dalam batas-batas kewenangan dan kapasitasnya Bank </p> <p>Indonesia akan melakukan segala langkah yang diperlukan untuk mencapai </p> <p>tujuan ini. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, saya ingin menambahkan </p> <p>satu elemen pada resep Bernanke, yaitu bahwa kita juga perlu melaksanakan </p> <p>reformasi struktural untuk mengurangi hambatan-hambatan kegiatan usaha. </p> <p>Lessons Learned </p> <p>Hadirin sekalian yang saya hormati, </p> <p>22. Pengalaman adalah guru terbaik dakam kehidupan. Krisis global yang sedang </p> <p>kita hadapi memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam </p> <p>melangkah ke depan. Perkenankan saya menggarisbawahi beberapa saja. </p> <p>23. Salah satu pelajaran yang paling mendasar dari krisis ini adalah pentingnya bagi </p> <p>kita untuk kembali ke khittah, back to basics. Marilah kita lihat mengapa </p> <p>demikian. Krisis yang kita hadapi sekarang ini dapat dilihat sebagai konsekuensi </p> <p>dari perkembangan sektor keuangan yang lepas dari akarnya yaitu kegiatan </p> <p> 9</p> <p>ekonomi riil. Perkembangan yang luar biasa dari sektor keuangan di banyak </p> <p>negara selama lebih dari satu dasawarsa terakhir bersumber dari perkembangan </p> <p>inovasi produk keuangan dan inovasi kelembagaan keuangan yang juga luar </p> <p>biasa. Merebaknya inovasi ini dipermudah oleh revolusi dalam teknologi </p> <p>informasi dan liberalisasi keuangan global. </p> <p>24. Sektor keuangan di banyak negara menarik banyak orang, termasuk the best </p> <p>and the brightest, karena merupakan jalur cepat untuk menjadi kaya. Mereka </p> <p>yang gesit, inovatif dan berani mengambil risiko, mendapatkan imbalan yang </p> <p>sepadan. Produk keuangan yang makin bervariasi, makin canggih dan makin </p> <p>kompleks mempunyai dampak sampingan yang fatal, yaitu makin sulit untuk </p> <p>dinilai risikonya. Instrumen keuangan makin terlepas dari underlying transactions </p> <p>yang seharusnya melandasinya. Kegiatan yang lepas dari underlying </p> <p>transactions-nya kemudian berkembang menjadi gelembung atau bubbles. </p> <p>Karena dinamika internnya sendiri, gelembung makin membesar, dan akhirnya </p> <p>pecah. Dan krisis terjadi. Singkatnya krisis pada hakekatnya adalah konsekuensi </p> <p>dari kegagalan mengelola risiko, pada tingkat mikro maupun tingkat makro. </p> <p>25. Ajakan untuk kembali ke khittah atau back to basics berlaku bagi semua lembaga </p> <p>keuangan, khususnya perbankan. Fungsi utama perbankan adalah memfasilitasi </p> <p>dan membiayai kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penyediaan barang dan </p> <p>jasa bagi masyarakat, yaitu ke...</p>