HIV AIDS (B20)

  • View
    8

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

deskripsi etiologi patofis dll B20

Transcript

Diskusi kasus

HIV AIDS

oleh :

Elita Rahmi

G99131004

KEPANITERAAN KLINIK UPF / LABORATORIUM FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI

SURAKARTA

2015BAB I

PENDAHULUANAIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human immunodeficiency virus) yang termasuk family retroviridae. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.1,2,3HIV/AIDS adalah penyakit yang relatif baru ditemukan. Infeksi lainnya seperti malaria, wabah, kusta, tuberkulosis, campak, dan kolera telah mempengaruhi mayoritas umat manusia selama berabad-abad. HIV muncul di akhir abad ke-20. Ini dikenal sebagai dekade "diam" karena kemungkinan besar HIV pertama muncul sekitar tahun 1960-an tetapi tidak diketahui atau tidak dilaporkan. Penyebaran dimulai pada tahun 1970-an ketika komunitas medis mulai menyadari hal ini. HIV diperkirakan berasal di Afrika, dimana manusia memburu simpanse. Virus yang mempengaruhi kera sangat mirip dengan HIV dan disebut SIVcpz (simian immunodeficiency virus). Virus ini menyebar ke manusia setelah kontak dengan darah terinfeksi simpanse selama berburu simpanse. Selama bertahun-tahun manusia yang terinfeksi HIV hanya terbatas pada daerah terpencil dari Afrika. Dengan peningkatan kontak antar manusia, virus mulai menyebar di seluruh dunia. Pada tahun 2000, 34, 3 juta kasus HIV di seluruh dunia, dengan jumlah terbesar di Afrika Selatan, diperkirakan. Uji vaksin HIV dimulai di Oxford pada 2000. Pada tahun 2003 di Swaziland dan Botswana di Afrika Selatan, hampir 40% dari orang dewasa vaksin HIV + AIDS gagal. Enfuviride obat baru yang disebut fusion inhibitor telah disetujui di Amerika Serikat. Pada tahun 2005, perusahaan obat dan pembuat sepakat untuk membuat tersedia obat anti-virus generik yang lebih murah. Di Indonesia, kasus pertama AIDS dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan tahun 1987, yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali.1,4Dalam tubuh ODHA ( Orang Dengan HIV/AIDS) , partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, maka seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50% berkembang menjadi pasien AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampIr semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal. Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis, sesuai dengan perusakan system kekebalan tubuh yang juga bertahap. 1BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. EPIDEMIOLOGI

Pusat perhatian HIV akan didasarkan pada data dari Amerika karena statistik yang berasal dari Amerika Serikat merupakan yang paling mutakhir dan terlengkap. Namun demikian, kecendrungan di negara berkembang kadang- kadang berbeda secara bermakna, dan kecendrungan ini akan disorot secara khusus jika diperlukan. Penularan HIV/AIDS terjadi akibat infeksi melalui cairan tubuh yang mengandung virus HIV, yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkotika, transfusi komponen darah, dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dilahirkannya. Oleh karena itu, kelompok yang beresiko tinggi terhadap HIV/AIDS adalah pengguna narkotika, pekerja seks komersil dan pelanggannya.1,5Di tahun 1991 ketiga obat untuk memperlambat perkembangan AIDS, dideoxycytidine (ddC) dikembangkan. Pada tahun 1994, tercatat bahwa AZT bisa mengurangi risiko penularan virus HIV positif ibu untuk bayi. Pada tahun 1995,dari total orang yang terkan AIDS, diperkirakan 18 juta HIV orang dewasa dan 1,5 juta HIV anak-anak dilaporkan. AIDS menjadi penyebab utama kematian di kelompok usia 25-44 di Amerika Serikat. Pada tahun 1995 jenis baru obat adalah disetujui disebut saquinivir, protease inhibitor enzim. Perkiraan kematian global dari AIDS adalah 9 juta. Pada tahun 1997 diperkirakan bahwa 40 juta orang dinyatakan HIV positif. AIDS dinyatakan 4 terbesar global penyebab kematian pada tahun 1999.4

Ada tiga cara utama penularan virus HIV, yaitu kontak seksual, inokulasi parenteral, dan perjalanan virus dari ibu yang terinfeksi terhadap bayi mereka yang baru lahir. Penularan seksual jelas merupakan cara infeksi yang paling utama di seluruh dunia, secara umum disebabkan oleh aktivitas heteroseksual. Virus berada di dalam semen secara ekstraseluler maupun di dalam sel inflamasi mononuclear, dan memasuki tubuh resipien melalui robekan atau lecet pada mukosa. Yang jelas, semua bentuk penularan seksual dibantu dan dipermudah oleh adanya penyakit menular seksual lainnya.1,2,3,5

Penularan parenteral HIV dikelompokkan dalam 3 kelompok, yaitu penyalahgunaan obat intravena, penderita hemophilia yang menerima konsentrat faktor VIII atau IX, dan resipien acak transfuse darah.Diantara penyalah guna obat intravena, penularan terjadi melalui penggunaan jarum, alat suntik, atau perlengkapan lain secara bersama yang tercemar oleh darah yang mengandung HIV.3

Penularan dari ibu ke bayi secara vertical merupakan penyebab utama AIDS pada anak- anak. Ada tiga rute yang terlibat, yaitu: 1,2,3,51. In utero, yaitu melalui penyebaran transplasental2. Intrapartum, yaitu selama persalinan

3. Ingesti, yaitu melalui air susu ibu yang tercemar oleh HIV

Dari ketiga jalur rute ini, rute transplasental dan intrapartum berperan pada sebagian besar kasus. 5II. ETIOLOGI

AIDS disebabkan oleh HIV, suatu retrovirus pada manusia yang termasuk dalam keluarga lentivirus. Dua bentuk HIV yang berbeda secara genetik, tetapi berbeda secara antigen, yaitu HIV-1 dan HIV-2, telah berhasil diisolasi dari penderita AIDS. HIV-1 merupakan tipe yang lebih sering dihubungkan dengan AIDS di Amerika Serikat, Eropa, dan Afrika Tengah, sedangkan HIV-2 menyebabkan penyakit yang serupa, terutama di Afrika Barat. 1,2,3,5Seperti sebagian besar retrovirus, virion HIV-1 berbentuk sferis dan mengandung inti berbentuk kerucut yang padat electron dan dikelilingi oleh selubung lipid yang berasal dari membrane sel pejamu. Inti virus tersebut mengandung kapsid utama protein p24, nukleokapsid protein p7/p9, dua salinan RNA genom, dan ketiga enzim virus protease, reverse transcriptase, dan integrase. P24 adalah antigen virus yang paling mudah dideteksi sehingga menjadi sasaran antibodi yang digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus HIV dalam pemeriksaan darah. Selubung virus itu sendiri tersusun atas dua glikoprein virus (gp 120 dan gp41) yang sangat penting untuk infeksi HIV pada sel. 1,2,3,5Berdasarkan analisis molecular, HIV-1 dapat dibagi menjadi dua kelompok yang lebih luas, yaitu disebut dengan M (major) dan O (outlier). Virus kelompok M, bentuk yang lebih umum di seluruh dunia, dibagi lebih lanjut ke dalam subtipe (juga disebut dengan clades), yang diberi nama dari A hingga J. Clade tersebut berbeda- beda dalam sebaran geografisnya, dengan B merupakan bentuk paling umum ditemukan di Eropa Barat serta Amerika Serikat dan E paling umum ditemukan di Thailand. Selain homolog molekularnya, clade ini menunjukkan perbedaan pula dalam cara penularannya. Oleh karena itu, clade E terutama tersebar melalui kontak heteroseksual (laki- laki- ke- perempuan), kemungkinan karena kemampuannya menginfeksi sel dendrite subepitel vagina. Sebaliknya, virus clade B tumbuh dengan buruk dalam sel dendrite dan mungkin paling baik jika ditularkan melalui pengenalan monosit dan limfosit yang terinfeksi. 1,2,3,5

Gambar 1 Struktur Virus HIV

Dikutip dari kepustakaan 6

III. PATOGENESIS

Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala tertentu. Sebagian memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi akut, 3-6 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam, diare, atau batuk. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berkembang selama 8-10 tahun. Tetapi ada sekelompok kecil orang yang perjalanan penyakitnya amat cepat, dapat hanya sekitar 2 tahun, dan adapula yang perjalanannya lambat (non-progressor). 1,2,3,5

Seiring dengan makin memburuknya kekebalan tubuh, ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) mulai menampakkan gejala-gejala akibat infeksi oportunistik seperti berat badan menurun, demam lama, rasa lemah, pembesaran kelenjar getah bening, diare, tuberculosis, infeksi jamur, herpes dll. 1,2,3,5

Dua sasaran utama infeksi HIV, yaitu sistem imun dan sistem saraf pusat. Mekanismenya adalah sebagai berikut:31. Patogenesis penyakit HIV secara imunologis.

Infeksi monosit dan makrofag sangat penting dalam patogenesis HIV. Makrofag adalah penjaga-gerbang infeksi HIV. Selain memberikan jalan masuk untuk penularan awal, monosit dan makrofag merupakan reservoir dan pabrik virus, yang hasil keluarannya tetap sangat terlindungi dari pertahanan pejamu. Makrofag juga menyediakan suatu kendaraan untuk pengangkutan HIV menuju berbagai tempat di tubuh, khususnya sistem saraf.3

Keadaan imunosupresi berat, yang terutama menyerang imunitas seluler, merupakan penanda AIDS. Hal ini terutama disebabkan oleh infeksi dan hilangnya sel T CD4+ serta gangguan pada fungsi kelangsungan hidup sel T- helper. Makrofag dan sel dendrite juga merupakan sasaran infeksi HIV. Molekul CD4+ merupakan suatu reseptor untuk HIV yang berafinitas tinggi. Hal ini menjelaskan mengenai tropisme (kecondongan) selektif virus terhadap sel T terutama makrofag dan sel dendrite. Namun, dengan berikatan pada CD4 tidak cukup untuk menimbulkan infeksi, selubung gp120 HIV juga harus berikatan pada molekul permukaan sel lainnya untuk memudahkan masuknya sel. Peranan ini dimainkan oleh dua molekul reseptor kemokin permukaan sel, CCR5 dan CXCR4. Selubung gp120 HIV (menempel secara nonkovalen pada transmembran gp41) mula- mula berikata