Hospitalisasi anak pra sekolah.pdf

  • View
    41

  • Download
    10

Embed Size (px)

Transcript

  • 7

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Hospitalisasi Anak Pra Sekolah 1. Pengertian

    Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan

    yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah (Supartini, 2004). Sedangkan Dirokx (2004) mengemukakan bahwa hospitalisasi adalah penempatan pasien di rumah sakit untuk penelitian, diagnosis dan pengobatan. Selain itu hospitalisasi juga diartikan sebagai pemasukan seorang penderita ke dalam rumah sakit atau masa selama di rumah sakit (Dorlands, 1996).

    Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hospitalisasi merupakan suatu proses karena alasan yang berencana atau darurat yang mengharuskan pasien untuk tinggal di rumah sakit baik untuk diagnosis, pengobatan dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah.

    Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3 sampai 6 tahun. Bagi anak usia pra sekolah, sakit adalah sesuatu yang menakutkan. Selain itu, perawatan di rumah sakit dapat menimbulkan cemas karena anak merasa kehilangan lingkungan yang dirasakanya aman, penuh kasih sayang dan menyenangkan. Anak juga harus meninggalkan lingkungan rumah yang dikenalnya, permainan, dan teman sepermainannya (Supartini, 2004).

    2. Penyebab Supartini (2004) menjelaskan bahwa penyebab hospitalisasi

    adalah karena pasien sakit dan harus menjalani terapi serta perawatan. 3. Reaksi Anak terhadap Hospitalisasi

    Suparto (2003) menjelaskan bahwa reaksi anak dan keluarganya terhadap sakit dan ke rumah sakit baik untuk rawat inap maupun rawat

  • 8

    jalan adalah dalam bentuk kecemasan, stres, dan perubahan perilaku. Perilaku anak untuk beradaptasi terhadap sakit dan dirawat di rumah sakit dengan cara : 1) Penolakan (Advoidance); perilaku dimana anak berusaha menghindar dari situasi yang membuat anak tertekan, anak berusaha menolak treatment yang diberikan seperti : disuntik, tidak mau dipasang infus, menolak minum obat, bersikap tidak kooperatif kepada petugas medis. 2) mengalihkan perhatian (Distraction); anak berusaha mengalihkan perhatian dari pikiran atau sumber yang membuatnya tertekan. Perilaku yang dilakukan anak misalnya meminta cerita saat dirumah sakit, menonton tv saat dipasang infus atau bermain mainan yang disukai. 3) berupaya aktif (active); anak berusaha mencari jalan keluar dengan melakukan sesuatu secara aktif. Perilaku yang sering dilakukan misalnya menanyakan kondisi kepada tenaga medis atau orang tuanya, bersikap kooperatif pada tenaga medis, minum obat secara teratur dan beristirahat sesuai dengan peraturan yang diberikan. 4) mencari dukungan (Support Seeking); anak mencari dukungan dari orang lain untuk melepaskan tekanan atas penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan meminta dukungan pada orang yang dekat dengannya, misalnya orang tua atau saudaranya. Biasanya anak minta di temani selama di rumah sakit, didampingi saat dilakukan treatment padanya, minta dielus saat merasa kesakitan (Wahyunin, 2001).

    Potter (2005) juga mengemukakan bahwa selama waktu sakit, anak usia prasekolah mungkin kembali ngompol, atau menghisap ibu jari dan menginginkan orang tua mereka untuk menyuapi, memakaikan pakaian dan memeluk mereka. Selain itu juga anak takut pada bagian tubuh yang disakiti dan nyeri.

    4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reaksi Anak Usia Prasekolah terhadap Hospitalisasi

    Reaksi anak terhadap sakit dan rawat inap di rumah sakit berbeda-beda pada masing-masing individu. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Perkembangan usia anak merupakan salah satu faktor

  • 9

    utama yang dapat mempengaruhi reaksi anak terhadap sakit dan proses perawatan. Reaksi anak terhadap sakit berbeda-beda sesuai tingkat perkembangan anak (Supartini, 2004). Menurut Sacharin (1996), semakin muda anak semakin sukar baginya untuk menyesuaikan diri dengan pengalaman dirawat di rumah sakit. Hal ini tidak berlaku sepenuhnya bagi bayi yang masih sangat muda, walaupun tetap dapat merasakan adanya pemisahan.

    Selain itu, pengalaman anak sebelumnya terhadap proses sakit dan dirawat juga sangat berpengaruh. Apabila anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dirawat di rumah sakit sebelumnya akan menyebabkan anak takut dan trauma. Sebaliknya apabila anak dirawat di rumah sakit mendapatkan perawatan yang baik dan menyenangkan anak akan lebih kooperatif pada perawat dan dokter (Supartini, 2004). Sistem pendukung (support system) yang tersedia akan membantu anak beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit dimana ia dirawat. Anak akan mencari dukungan yang ada dari orang lain untuk melepaskan tekanan akibat penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan minta dukungan kepada orang terdekat dengannya misalnya orang tua atau saudaranya. Perilaku ini biasanya ditandai dengan permintaan anak untuk ditunggui selama dirawat di rumah sakit, didampingi saat dilakukan treatment padanya, minta dipeluk saat merasa takut dan cemas bahkan saat merasa kesakitan.

    Sistem pendukung yang mempengaruhi reaksi anak selama masa perawatan termasuk di dalamnya adalah keluarga dan pola asuh yang didapat anak dalam di dalam keluarganya. Keluarga yang kurang mendapat informasi tentang kondisi kesehatan anak saat dirawat di rumah sakit menjadi terlalu khawatir atau stres akan menyebabkan anak menjadi semakin stres dan takut. Selain itu, pola asuh keluarga yang terlalu protektif dan selalu memanjakan anak juga dapat mempengaruhi reaksi takut dan cemas anak dirawat di rumah sakit. Berbeda dengan keluarga

  • 10

    yang suka memandirikan anak untuk aktivitas sehari-hari anak akan lebih kooperatif bila dirumah sakit.

    Selain itu, keterampilan koping dalam menangani stress sangat penting bagi proses adaptasi anak selama masa perawatan. Apabila mekanisme koping anak baik dalam menerima kondisinya yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit, anak akan lebih kooperatif selama menjalani perawatan di rumah sakit.

    B. Kecemasan

    1. Pengertian Kecemasan menurut freud dalam Semiun 2006 adalah suatu

    keadaan perasaan afektif yang tidak menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang. Sedangkan menurut Stuart, 2001 dalam morningcamp.com kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal. Kaplan & Sadock (1997) mengemukakan bahwa kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan dan memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman. Cemas juga diartikan sebagai perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang tidak jelas dan gelisah disertai respon otonom (Sumber terkadang tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi bahaya (Nanda, 2005).

    2. Manifestasi Klinik Menurut Carpenito (2001), dalam www.mitrariset.com ada beberapa tanda dan gejala cemas antara lain :

    a. Fisiologis

    Peningkatan frekuensi nadi, peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi nafas, diaforesis, suara bergetar/perubahan tinggi nada, gemetar, palpitasi, mual/muntah, sering berkemih,

  • 11

    diare, ketakutan insomnia, kelelahan dan kelemahan, kemarahan/pucat pada wajah, mulut kering, sakit badan dan nyeri, Gelisah, pingsan/pusing, rasa panas dan dingin.

    b. Emosional Individu merasakan : Ketakutan, tidak berdaya, gugup, kehilangan percaya diri, kehilangan kontrol, tegang, tidak dapat rileks, antisipasi ketegangan individu memperlihatkan: Peka rangsang/tidak sabar, marah meledak, menangis, cenderung, menyalahkan orang lain, reaksi terkejut, mengkritik diri sendiri/orang lain, menarik diri, dan kurang inisiatif mengutuk diri sendiri.

    c. Kognitif

    Tidak mampu berkonsentrasi, kurangnya orientasi lingkungan, pelupa, termenung, orientasi pada masa lalu dari pada saat ini dan akan datang, memblok pikiran, dan perhatian yang berlebihan.

    3. Faktor Predisposisi dan Presipitasi Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal dari ansietas:

    a. Dalam pandangan psikoanalitis, ansietas adalah konflik emosional yang terjadi dalam dua elemen kepribadian : ide dan super ego.

    b. Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal.

    c. Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

    d. Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas biasanya terjadi dalam keluarga.

    e. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus berperan penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan ansietas, seperti : benzodiazepin, obat-obat yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam aminobutirat

  • 12

    (GABA). Kesehatan umum individu dan riwayat ansietas keluarga juga memiliki efek sebagai predisposisi ansietas.

    Stressor Pencetus dapat berasal dari sumber internal dan eksternal, yang dapat dikelompokkan dalam dua kategori:

    a. Ancaman terhadap integritas fisik, meliputi diasabilitas fisiologis yang akan terjadi atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.

    b. Ancaman terhadap sistem diri dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi pada individu (Stuart, 1998)

    4. Tingkat Kecemasan Beberapa tingkat kecemasan (Carpenito, 1999) :

    a. Cemas Ringan

    Ansietas atau cemas ringan diperlukan untuk seseorang dapat berfungsi berespon secara efektif terhadap lingkungan dan kejadian. Seseorang dengan cemas ringan dapat dijumpai hal-hal sebagai berikut:

    1) Persepsi dan perhatian meningkat. 2) Mampu me