I. Analisis Break-Even - Maju Bersama -- 19B I. Analisis Break-Even Analisis break-even merupakan salah…

  • Published on
    30-Jul-2018

  • View
    214

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li><p> 1 </p><p>I. Analisis Break-Even </p><p>Analisis break-even merupakan salah satu teknik analisis ekonomi yang berguna dalam menghubungkan biaya variabel total (TVC) dan biaya tetap total (TFC) terhadap output produksi atau ukuran-ukuran lain dalam aktivitas industri. Beberapa contoh penerapan analisis break-even dalam industri, akan dikemukakan berikut ini. </p><p>Contoh penerapan (1) : </p><p>Jika manajer dihadapkan pada pilihan untuk membeli atau membuat sendiri komponen digunakan dalam proses pembuatan produk manufaktur. Jika pilihan membeli yang diambil, perusahaan dapat membeli komponen itu dengan harga Rp. 8.000 per unit. Sebaliknya apabila pilihan membuat sendiri yang diambil, diperkirakan perusahaan harus mengeluarkan biaya tetap sekitar Rp. 12.000.000 per tahun, serta biaya variabel sebesar Rp. 4.000 per unit komponen yang dibuat itu. Jika kebutuhan perusahaan atas komponen itu sebanyak 4.000 unit per tahun, alternatif pilihan apa yang terbaik? </p><p>Kasus di atas dapat diselesaikan menggunakan analisis break-even. </p><p>Berdasarkan informasi di atas, kita dapat merumuskan model fungsi biaya total untuk alternatif membuat sendiri (TCM) per tahun dengan mengikuti persamaan linear berikut: </p><p>TCM = 12.000.000 + 4.000 K </p><p>Di mana : TCM adalah biaya total per tahun untuk alternatif membuat komponen, sedangkan K adalah komponen yang dibuat. </p><p>Model fungsi biaya total untuk alternatif membeli (TCB) per tahun mengikuti persamaan linear berikut: </p><p>TCB = 8.000 K </p><p>Di mana: TCB adalah biaya total per tahun untuk alternatif membeli komponen, sedangkan K adalah unit komponen yang dibeli. </p></li><li><p> 2 </p><p>Titik break-even tercapai apabila TCM = TCB, sehingga: </p><p>12.000.000 + 4.000 K = 8.000 K </p><p> 4.000 K = 12.000.000 = 3.000 </p><p>Tampak dari analisis break-even bahwa apabila K = 3.000, kedua alternatif pilihan membuat sendiri atau membeli komponen akan mengeluarkan biaya total per tahun yang sama, yaitu sebesar: </p><p>TCM = 12.000.000 + 4.000 K = 12.000.000 + 4.000(3.000) </p><p> = Rp. 24.000.000 </p><p>TCB = 8.000 K = 8.000(3.000) = Rp. 24.000.000 </p><p>Tampak bahwa alternatif membuat sendiri komponen akan lebih murah apabila kebutuhan industri telah lebih besar daripada titik break-even (3.000 unit per tahun); sebaliknya apabila kebutuhan industri lebih kecil daripada titik break-even (3.000 unit per tahun), alternatif membeli komponen itu dari pemasok akan lebih murah. </p><p>Karena kebutuhan industri adalah sebesar 4.000 unit per tahun, alternatif membuat sendiri komponen itulah yang dipilih, karena memberikan biaya total per tahun yang lebih murah. Perhitungan biaya total per tahun dari kedua alternatif membuat sendiri atau pembeli komponen, pada tingkat kebutuhan 4.000 unit per tahun, adalah sebagai berikut: </p><p>TCM = 12.000.000 + 4.000 K = 12.000.000 + 4.000(4.000) </p><p> = Rp. 28.000.000 </p><p>TCB = 8.000 K = 8.000(4.000) = Rp. 32.000.000 </p><p>Tampak bahwa alternatif membuat sendiri komponen hanya mengeluarkan biaya total per tahun sebesar Rp. 28 juta, sedangkan alternatif membeli komponen dari pemasok luar akan mengeluarkan biaya total per tahun yang lebih tinggi yaitu sebesar Rp. 32 juta. Dengan demikian manajer harus memutuskan untuk membuat sendiri komponen itu, karena layak berdasarkan pertimbangan ekonomi. </p></li><li><p> 3 </p><p>II. Analisis Investasi Proyek Industri Di bawah Kondisi Ketidakpastian. </p><p>Suatu proyek industri dikatakan berada dalam kondisi ketidakpastian (uncertainty condition) apabila manajer tidak dapat mendaftarkan semua kejadian yang mungkin dihadapkan di masa mendatang dan atau tidak dapat menetapkan probabilitas dari berbagai kejadian yang mungkin terjadi itu. </p><p>Untuk menjelaskan konsep ketidakpastian yang sering dihadapi oleh para manajer perusahaan, perhatikan kasus hipotesis berikut. Bayangka bahwa seorang manajer sedang menghadapi tiga pilihan investasi proyek industri, katakanlah proyek industri A1, A2, dan A3. Situasi yang dianggap tidak pasti adalah situasi perekonomian yang digolongkan ke dalam tiga kemungkinan yaitu: situasi perekonomian akan cerah (baik), situasi perekonomian akan normal (rata-rata), dan situasi perekonomian akan resesi (buruk). Karena manajer tidak dapat menetapkan probabilitas obyektif dari ketiga situasi yang mungkin akan terjadi, kita mengatakan bahwa pilihan investasi proyek industri berada dalam kondisi ketidakpastian. Selanjutnya bayangkan bahwa matriks hasil (payoff matrix) berupa perkiraan nilai sekarang dari aliran kas bersih (nilai sekarang keuntungan ekonomis) untuk tiga alternatif investasi proyek industri dalam tiga situasi perekonomian yang mungkin terjadi, adalah seperti ditunjukkan dalam Tabel sebagai berikut. Matriks hasil (payoff matrix) didefinisikan sebagai suatu tabel yang terdiri dari baris yang menunjukkan berbagai alternatif pilihan investasi dari kolom yang menunjukkan berbagai keadaan atau situasi yang mungkin akan terjadi. Setiap sel dalam matriks berisi hasil atau nilai yang berkaitan dengan alternatif pilihan investasi itu dalam keadaan atau situasi tertentu yang mungkin terjadi. </p></li><li><p> 4 </p><p>Tabel 1. Matrik Hasil Berupa Nilai Sekarang Aliran Kas Bersih (Keuntungan Ekonomis) untuk Tiga Pilihan Investasi dalam Tiga Situasi Perekonomian (dalam jutaan Rupiah) </p><p>Alternatif Investasi Proyek </p><p>Industri </p><p>Situasi Perekonomian </p><p>Resesi (Buruk) </p><p>Normal (Rata-rata) </p><p>Cerah (Baik) </p><p>A1 </p><p>A2 </p><p>A3 </p><p>-300 </p><p>50 </p><p>75 </p><p>-100 </p><p>200 </p><p>100 </p><p>500 </p><p>300 </p><p>200 </p><p>Angka-angka dalam Tabel 1. Menunjukkan keuntungan ekonomis yang di ukur dalam nilai sekarang (present value of money) dari tiga alternatif investasi proyek industri dalam tiga kemungkinan situasi perekonomian yang akan terjadi. Sebagai misal manajer memilih investasi proyek industri A; apabila situasi perekonomian yang terjadi adalah normal (rata-rata), ia akan menerima keuntungan ekonomis dalam nilai sekarang sebesar minus 100 juta rupiah, dengan kata lain akan mengalami kerugian ekonomis dalam nilai sekarang sebesar Rp. 100 juta. Demikian pula interpretasi terhadap nilai-nilai lainnya dikaitkan dengan alternatif pilihan investasi proyek industri dalam situasi perekonomian tertentu yang akan terjadi. </p><p>Berdasarkan kasus hipotesis di atas, kita dapat mengembangkan berbagai kriteria evaluasi proyek industri yang berada dalam situasi ketidak pastian. Pembahasan berikut akan mengemukakan berbagai kriteria yang umum dipergunakan dalam analisis investasi proyek industri yang berada dalam situasi ketidakpastian. </p><p>III. Kriteria Maksimin (The Maximin Criterion) </p><p>Para manajer yang pesimis akan situasi perekonomian atau situasi bisnis pada umumnya menggunakan kriteria maksimin. Kriteria maksimin mengidentifikasi hasil yang paling jelek atau minimum untuk setiap alternatif pilihan investasi proyek industri dan kemudian membuat keputusan berdasarkan nilai maksimum dari hasil minimum itu (maksimin). Melalui kriteria maksimin, keputusan yang diambil adalah memilih proyek investasi yang memberikan hasil maksimum di antara nilai-nilai minimum yang ada. Kriteria maksimin memilih tindakan yang </p></li><li><p> 5 </p><p>berhubungan dengan maksAi minj Pij; di mana (Pij) </p><p>merupakan hasil (payoff) dari pilihan alternatif Ai dalam situasi atau keadaan j (i = 1, 2, 3, , n; j = 1, 2, 3, , m). </p><p>Dari tabel 1 dapat ditentukan nilai-nilai minimum dari setiap alternatif investasi proyek industri dalam ketidak situasi perekonomian, seperti ditunjukkan dalam Tabel. </p><p>Tabel 2. Keputusan Investasi Proyek Industri Berdasarkan Kriteria Maksimin. </p><p>Alternatif Investasi Proyek Industri </p><p>Nilai Minimum Hasil minjPij </p><p>A1 </p><p>A2 </p><p>A3 </p><p>-300 </p><p>50 </p><p>75 nilai maksimin </p><p>Tampak dari Tabel 2, bahwa berdasarkan kriteria maksimin, manajer harus memilih investasi proyek industri A3, karena memberikan hasil maksimum dari berbagai nilai minimum dalam situasi perekonomian resesi (buruk). Tampak bahwa kriteria maksimin cocok untuk manajer yang bersikap pesimis terhadap situasi bisnis atau perekonomian. </p><p>IV. Kriteria Maksimaks (The Maximax Criterion) </p><p>Para Manajer yang optimis akan situasi perekonomian atau situasi bisnis pada umumnya menggunakan kriteria maksimaks. Kriteria masimaks mengidentifikasi hasil yang paling baik atau maksimum untuk setiap alternatif pilihan investasi proyek industri dan kemudian membuat keputusan berdasarkan nilai maksimum dari hasil maksimum itu (maksimaks). Melalui kriteria maksimaks, keputusan yang diambil adalah memilih proyek investasi yang memberikan hasil maksimum di antara nilai-nilai maksimum yang ada. Kriteria maksimaks memilih tindakan yang berhubungan dengan maksAi minj Pij; </p><p>merupakan hasil (payoff) dari pilihan alternatif Ai dalam situasi atau keadaaan j (i = 1, 2, 3, , n; j = 1, 2, 3, , m). </p><p>Dari Tabel 3 dapat ditentukan nilai-nilai maksimum dari setiap alternatif investasi proyek industri dalam ketiga situasi perekonomian, seperti ditunjukkan dalam Tabel 3. </p></li><li><p> 6 </p><p>Tabel 3. Keputusan Investasi Proyek Berdasarkan Kriteria Maksimaks </p><p>Alternatif Investasi Proyek Industri </p><p>Nilai Minimum Hasil minjPij </p><p>A1 </p><p>A2 </p><p>A3 </p><p>500 &gt; nilai maksimaks </p><p>300 </p><p>200 </p><p>Tampak dari Tabel 3, bahwa berdasarkan kriteria maksimaks, manajer harus memilih investasi proyek industri A1, karena memberikan hasil maksimum dari berbagai nilai maksimum dalam situasi perekonomian yang cerah (baik). Tampak bahwa kriteria maksimaks cocok untuk manajer yang bersikap optimis terhadap situasi bisnis atau perekonomian. </p><p>V. Kriteria Hurwicz (The Hurwicz Criterion) </p><p>Jika kriteria maksimin menunjukkan bahwa manajer terlalu pesimis dengan menganggap situasi perekonomian pasti akan resesi (buruk), sedangkan kriteria maksimaks menunjukkan bahwa manajer terlalu optimis dengan menganggap situasi perekonomian pasti akan cerah (baik), maka kriteria Hurwicz berada di antara kedua titik ekstrem itu. Kriteria Hurwicz merupakan suatu indeks relatif yang mewakili kriteria yang bersifat optimis dan pesimis. Suatu sikap netral di antara optimis dan pesimis dicerminkan melalui kriteria Hurwicz yang mengijinkan manajer untuk memilih suatu indeks , sehingga </p><p>0</p></li><li><p> 7 </p><p>maksAi (maksj Pij + (1 - )(minj Pij </p><p>di mana (Pij) merupakan hasil (payoff) dari pilihan alternatif Ai dalam situasi atau keadaan j (i = 1, 2, 3, , n; j = 1, 2, 3, , </p><p>m). </p><p>Nilai dapat ditentukan dengan cara berikut. Misalnya kita </p><p>mengambil kasus investasi proyek industri dalam Tabel. Dari Tabel itu tampak bahwa hasil yang paling maksimum yang mungkin diperoleh Rp. 500 juta sedangkan hasil yang paling rendah yang mungkin diperoleh adalah minus Rp. 300 juta (rugi Rp. 300 juta). Misalkan sekarang kita menganggap situasi ini sebagai pilihan yang tidak pasti; artinya dalam menginvestasikan modal pada proyek-proyek industri yang ada, manajer mungkin akan memperoleh keuntungan ekonomis sebesar Rp. 500 juta atau menderita kerugian ekonomis sebesar Rp. 300 juta. Sekarang kita menanyakan kepada manajer itu, berapa nilai uang yang membuat dia tidak dapat memilih antara pilihan investasi proyek industri yang tidak pasti dan suatu nilai uang yang bersifat pasti. Jadi di sini kita melakukan gambling dengan menganggap bahwa pilihan investasi proyek-proyek industri yang tidak pasti yang akan menghasilkan keuntungan ekonomis Rp. 500 juta atau menghasilkan kerugian ekonomis Rp. 300 juta sebagai pilihan yang bersifat gambling. Dalam kondisi semacam itu, lalu ditanyakan nilai uang tertentu yang diajukan manajer dan bersifat pasti sehingga membuat manajer itu berada dalam situasi tidak berbeda (indifferent). Misalkan manajer mengajukan nilai uang sebesar Rp. 250 juta sebagai alternatif yang bersifat pasti sehingga membuat dia bimbang atau berada dalam keadaan indiferen (tidak berbeda) dalam menentukan pilihan yang pasti dan tidak pasti itu. Jika manajer menyatakan bahwa bagi dia akan sama baiknya apabila melakukan investasi proyek-proyek industri yang bersifat tidak pasti dengan kemungkinan memperoleh keuntungan Rp. 500 juta atau kerugian Rp. 300 juta, atau memperoleh uang sebesar Rp. 250 juta yang bersifat pasti, maka kita dapat menentukan sikap manajer itu melalui menghitung nilai , sebagi berikut: </p><p>Rp.500.000.000()+(-Rp.300.000.000)(1-)=Rp. 250.000.000 </p><p>300.000.000 + 500.000.000 = 250.000.000 + 300.000.000 </p><p>800.000.000 = 550.000.000 = 0,6875 </p></li><li><p> 8 </p><p>Dengan mengetahui bahwa manajer memiliki nilai = 0,6875, </p><p>kita dapat melakukan perhitungan dengan menggunakan kriteria Hurwicz, seperti ditunjukkan dalam Tabel 3 yang menggunakan hasil-hasil dalam Tabel 1. </p><p>Tabel 4. Keputusan Investasi Proyek Industri Berdasarkan Kriteria Hurwicz. </p><p>Alternatif Investasi Proyek Industri </p><p> (maksj Pij + (1-)(minj Pij </p><p>A1 </p><p>A2 </p><p>A3 </p><p>(0,6875)(500) + (1 0,6875)(-300) = 250 </p><p> (0,6875)(300) + (1 0,6875)(50) = 222 </p><p>(0,6875)(200) + (1 0,6875)(75) = 161 </p><p>Tampak dari Tabel 4 bahwa berdasarkan kriteria Hurwicz, manajer harus memilih investasi proyek industri A1, karena memberikan hasil maksimum dari berbagai nilai perhitungan yang ada. Tampak bahwa sikap manajer ini mengarah kepada sikap optimis karena memiliki nilai = 0,6875 yang lebih dekat </p><p>dengan angka satu daripaa angka nol. </p><p>VI. Kriteria Laplace (The Laplace Criterion) </p><p>Prinsip Laplace didasarkan pada asumsi bahwa keadaan di alam ini tidak berbeda, sehingga memiliki peluang yang sama untuk terjadi. Dengan demikian setiap kejadian memiliki peluang terjadi sebesar 1/n, di mana n adalah banyaknya kejadian yang mungkin terjadi di mana yang akan datang. Menurut prinsip Laplace, situasi perekonomian yang terdiri dari tiga kejadian yang mungkin yaitu: perekonomian cerah, perekonomian normal, dan perekonomian resesi akan memiliki peluang yang sama untuk terjadi, yaitu sebesar 1/3. Dengan demikian berdasarkan kriteria Laplace dapat ditentukan nilai ekspektasi dari setiap alternatif pilihan investasi proyek indusri seperti ditunjukkan dalam Tabel 4. </p></li><li><p> 9 </p><p>Tabel 5. Keputusan Investasi Proyek Industri Berdasarkan Kriteria Laplace. </p><p>Alternatif Investasi </p><p>Proyek Industri Nilai Ekspektasi </p><p>A1 </p><p>A2 </p><p>A3 </p><p>(-300)(1/3) + (100)(1/3) + (500)(1/3) = 33,33 </p><p> (50)(1/3) + (200)(1/3) + (300)(1/3) = 183,33 </p><p>(75)(1/3) + (100)(1/3) + (200)(1/3) = 125,00 </p><p>Tampak dari Tabel 5 bahwa berdasarkan kriteria Laplace manajer harus memilih investasi industri A2 karena memiliki nilai ekspektasi tertinggi. Dengan demikian tampak bahwa kriteria Laplace merupakan nilai rata-rata hasil, sehingga pilihan diambil berdasarkan alternatif investasi proyek industri yang memberikan nilai ekspektasi keuntungan ekonomis terbesar. </p><p>VII. Kriteria Minimaks Penyesalan (The Minimax Regret Criterion). </p><p>Kriteria minimaks penyesalan berdasarkan pada prinsip untuk meminimumkan penyesalan atau suatu kesempatan yang hilang sebagai akibat diambilnya suatu keputusan tertentu berkaitan dengan investasi proyek industri. Untuk menjelaskan konsep penyesalan itu, perhatikan hasil yang ada dalam Tabel 2. Dari tabel itu diketahui bahwa pilihan terbaik dalam situasi perekonomian resesi adalah investasi proyek A3 karena memberikan nilai keuntungan ekonomis maksimum pada situasi perekonomian itu, yaitu : maks (-300, 50, 75) = 75 (merupakan hasil dari A3 dalam situasi perekonomian resesi/buruk). Dalam hal ini apabila manajer telah memilih investasi proyek industri A1, sedangkan situasi perekonomian yang terjadi kemudian adalah resesi, manajer...</p></li></ul>