IBUKU KECELAKAAN

  • Published on
    03-Oct-2015

  • View
    215

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Makalahartikel

Transcript

IBUKU KECELAKAAN

Pagi yang cerah, secerah hatiku hari ini. Matahari yang cerah menimpa pohon-pohon hingga kelihatan berwarna hijau mengkilat. Pagi-pagi sekali aku sudah bangkit dan beranjak dari tempat tidurku, kemudian aku mempersiapkan diriku untuk berangkat ke sekolah. Seperti pagi-pagi biasanya, ibu ku telah bersiap-siap untuk mengantarkan adikku kesekolahnya. Usai sarapan, aku dan kakak berpamitan kepada ibu dan ayah. Sesampainya di sekolah, aku bergegas masuk ke kelas dan meletakkan tas di atas bangku. Lalu, seperti hari-hari biasanya, aku bersama teman-teman duduk dan bercanda-canda di luar kelas sambil menunggu bel pertanda masuk berbunyi.Beberapa saat kemudian, bel pun berbunyi kami cepat-cepat bergegas masuk kelas, takut ibu guru marah ketika melihat kami masih diluar kelas. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu, sebelum jam pelajaran pertama dimulai, kami bakam dulu. Usai bakam, pelajaran pertama pun mulai yaitu biologi.Bunyi lonceng terdengar nyaring di telingaku. Jam pelajaran pertama pun menandakan telah berakhir. Pelajaran kedua yaitu bahasa inggris. Sebelum bu guru masuk, aku memeriksa handphoneku yang ada didalam tas. Aku ingin mengecek apakah ada pesan atau tidak. Namun ternyata ada, dengan rasa penasaran, aku membuka pesan itu. Ternyata pesan itu dari kakakku. Akun pun membaca pesan tersebut. Tak kusangka dan tak pernah ku duga, ternyata pesan dari kakakku berisi bahwa ibuku kecelakaan sewaktu mengantar adikku ke sekolah. Kejadiannya di cot tufah, ibu ditabrak seorang anak cowok yang sedang menuju kesekolahnya di Gandapura. Mengetahui akan hal itu, hatiku hancur bagaikan ditimpa runtuhnya tembok raksasa cina. Tanpa terasa, bulir bening dari kedua sudut mataku mengalir menyusuri pipiku. Teman-teman yang menyaksikan pemandangan ini menghampiriku seraya bertanya apa gerangan yang telah menimpaku, sambil menahan isak tangis aku menceritakan kepada teman-teman. Dengan penuh perhatian, mereka mencoba menghiburku. Beberapa saat kemudian, kakak dating menjemputku untuk bersama-sama kerumah sakit tempat ibu dirawat. Setelah berpamitan kepada guru piket, aku, kakakku dan kawannya bersama abangku menuju rumah sakit BMC di Bireuen. Sesampai disana, kami pun langsung masuk keruang perawatan ibu. Aku sedih melihat kondisi ibu, bahu sebelah kirinya patah. Wajahnya penuh luka-luka dan memar.Kuterus menatap wajah ibu yang sendu. Terbayang-bayang di dalam benakku, kesalahan-kesalahan yang pernah kuperbuat sebelumnya. Terlintas didalam pikiranku untuk memohon maaf kepadanya sebelum aku menyesal dan selagi aku masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk mengungkapkannya. Kini, ibu telah keluar dari rumah sakit dan keadaannya sudah berangsur-angsur membaik. Sekarang aku ingin selalu berbakti kepadanya. Menuruti semua kemauannya tanpa ada rasa kesal dalam hatiku hingga ajal menjemputnya dan aku benar-benar telah siap melepaskannya.

****** S E K I A N ******

Karya: Wattini