II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelapa Sawit - ?· 2.1 Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis…

  • View
    228

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tumbuhan

tropis golongan palma yang termasuk tanaman tahunan. Tanaman ini adalah

tanaman berkeping satu yang masuk dalam genus Elais, family Palmae, kelas

divisio Monocotyledonae, subdivisio Angiospermae dengan divisio

Spermatophyta. Nama Elaeis berasal dari kata Elaion yang berarti minyak dalam

bahasa Yunani, guineensis berasal dari kata Guinea yang berarti Afrika. Jacq

berasal dari nama botanis Amerika yang menemukannya, yaitu Jacquine.

Tanaman ini tumbuh pada iklim tropis dengan curah hujan 2000 mm/tahun dan

suhu 22-32C (Hartley 1997). Kelapa sawit berasal dari Afrika Barat dan di

Indonesia tanaman ini pertama kali ditanam di Kebun Raya Bogor oleh orang

Belanda pada tahun 1848 (Sambanthamurthi et al. 2000).

Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah beriklim tropis

dengan curah hujan 2000 mm/tahun dan kisaran suhu 22-33oC (Basiron 2005).

Tanaman kelapa sawit baru dapat berproduksi setelah berumur sekitar 30 bulan.

Buah yang dihasilkan disebut Tandan Buah Segar (TBS) atau Fresh Fruit Bunch

(FFB). Produktivitas tanaman kelapa sawit meningkat ketika berumur 3-14 tahun

dan akan menurun kembali setelah berumur 15-25 tahun. Setiap pohon kelapa

sawit dapat menghasilkan 10-15 TBS per tahun dengan berat 30-40 kg per tandan

tergantung umur tanaman. Dalam satu tandan, terdapat 1000-3000 brondolan

dengan berat satu brondolan berkisar 10-20 g (Pahan 2007). Secara botani, buah

kelapa sawit terdiri dari pericarp, mesocarp, kernel (inti sawit), dan endocarp

(tempurung). Berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buahnya, kelapa sawit

terbagi menjadi empat varietas yaitu pisifera, dura, tenera, dan macrocarya.

Pisifera memiliki tebal tempurung kurang dari 2 mm, tenera memiliki ketebalan

tempurung 2-3 mm, dura memiliki tebal tempurung 3-5 mm, dan macrocarya

memiliki tebal tempurung lebih dari 5 mm (Pahan 2007). Buah sawit mempunyai

warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan.

Saat ini varietas dura merupakan varietas yang paling banyak digunakan dalam

8

kegiatan pemuliaan kelapa sawit. Penampang melintang dari buah kelapa sawit

dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini:

http://hasilperkebunan.blogspot.com/

Gambar 1 Penampang melintang buah kelapa sawit

Produksi minyak sawit mentah (MSMn)/Crude Palm Oil (CPO) Indonesia

dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2008, produksi CPO

Indonesia 19,2 juta ton dengan luas areal perkebunan sawit mencapai 7,1 juta

hektar. Pada tahun 2009 produksi CPO Indonesia meningkat menjadi 20,5 juta

ton. Pada tahun 2010 produksi CPO menjadi 21,2 juta ton, meningkat 14,23% dari

tahun sebelumnya. Tahun 2012 diprediksi Indonesia memproduksi lebih dari 23

juta ton (Ditjenbun 2011). Produksi minyak sawit di Indonesia sebagian besar

didukung oleh perkebunan kelapa sawit rakyat. Sekitar 37% dari seluruh areal

kelapa sawit di Indonesia adalah perkebunan rakyat, sedangkan sisanya

diusahakan oleh pemerintah dan swasta (Ditjenbun 2011).

2.2 Minyak Sawit Mentah (MSMn)/Crude Palm Oil (CPO)

Minyak kelapa sawit adalah minyak yang diperoleh dari proses ekstraksi

daging buah kelapa sawit (mesokarp) tanaman Elais guineensis Jacq. Kelapa sawit

menghasilkan dua jenis minyak yang berlainan sifatnya, yaitu crude palm oil atau

CPO dan palm kernel oil atau PKO. CPO adalah minyak yang berasal dari serabut

(mesokarp) kelapa sawit, sedangkan PKO adalah minyak yang berasal dari inti

(kernel) kelapa sawit. Perbedaan kedua jenis minyak ini terletak pada kandungan

asam lemaknya. Minyak inti sawit mengandung asam kaproat dan asam kaprilat

yang tidak terdapat dalam minyak sawit mentah dan perbedaan lainnya adalah

Kernel (inti sawit)

Tempurung (endokarp)

Mesokarp

Perikarp

9

adanya pigmen karotenoid yang berwarna kuning merah pada minyak sawit yang

tidak terdapat pada minyak inti sawit (Naibaho 1998).

2.2.1 Proses Pengolahan

Proses pengolahan buah kelapa sawit menjadi minyak sawit mentah

(MSMn) melalui beberapa tahapan sebagai berikut (Naibaho 1998):

a. Penerimaan buah Tandan buah segar (TBS) hasil pemanenan harus segera diolah lebih

lanjut. Pada buah yang tidak segera diolah, maka kandungan asam lemak

bebasnya semakin meningkat. Untuk menghindari hal tersebut, maksimal 8 jam

setelah panen, TBS harus segera diolah. Untuk mendapat MSMn dengan kualitas

yang baik maka harus dilakukan sortasi tandan buah segar dengan memperhatikan

tingkat kerusakan buah yang minimal dan tingkat kematangan yang optimal.

b. Sterilisasi dan Perontokan Tandan buah yang telah disortir kemudian direbus dalam suatu tempat

perebusan (sterilizer) atau dalam ketel rebus pada suhu 143C dengan tekanan 3

kg/cm2 selama 60 menit. Akhir perebusan ditandai dengan beberapa gejala, antara

lain bau buah yang gurih, empuk, dan buah mudah rontok. Buah yang sudah

direbus kemudian dimasukkan ke dalam alat perontok.

Proses sterilisasi mempunyai tujuan antara lain:

(a) Menghentikan aktivitas enzim lipase. Terhentinya proses enzim lipase akan

mengurangi kerusakan bahan, antara lain akibat penguraian minyak menjadi

asam lemak bebas.

(b) Menggumpalkan protein dalam buah sawit, penggumpulan protein bertujuan

agar protein tidak ikut terekstrak pada waktu pengepresan minyak (ektraksi).

(c) Memudahkan pelepasan buah dari tandan dan inti dari cangkang.

(d) Memperlunak daging buah sehingga mempermudah proses ekstraksi.

c. Pelumatan Tahap pelumatan ini bertujuan untuk melumatkan biji sawit sehingga

daging buah mudah terlepas dari biji serta memudahkan pengeluaran minyak pada

tahap pengepresan. Kondisi optimum pada tahap ini yaitu pada suhu 95-100C

10

selama 20 menit. Tahapan pelumatan ini dilakukan pada silinder vertikal yang

dilengkapi dengan empat pisau pengaduk dan satu set pisau pelempar yang

berputar berlawanan arah.

d. Ekstraksi Ekstraksi minyak dilakukan menggunakan screw press yang terintegrasi

langsung dengan alat pelumat (digester). Pada tahap ini dihasilkan dua produk

yaitu: (1) campuran antara minyak, air, dan benda padat lainnya; (2) Padatan

berupa serat mesokarp buah sawit dan biji sawit hasil pemisahan dari buah.

e. Pemurnian minyak Proses ini bertujuan untuk memperoleh minyak sebanyak-banyaknya dan

menghasilkan MSMn dengan kadar asam lemak bebas, kadar air, dan kadar

kotoran yang sesuai dengan standar. Minyak mentah yang berasal dari hasil

ekstraksi memiliki komposisi rata-rata 66% minyak, 24% air, dan 10% padatan

bukan minyak (nonoily solids). Karena tingginya proporsi padatan yang masih

terdapat pada minyak maka harus dilakukan penambahan air panas agar padatan

tersebut larut dengan air. Kemudian minyak disaring untuk memisahkan padatan

tersebut. Selanjutnya minyak mentah dimasukkan ke dalam tangki yang berfungsi

sebagai tempat penampungan minyak sawit mentah sementara sebelum

mengalami proses pemurnian yang lebih lanjut.

Minyak berada pada lapisan atas dipompakan menuju continuous settling

tank (CST) sedangkan kotoran yang masih mengandung sekitar 10% minyak

dialirkan ke parit untuk dikumpulkan kembali ke dalam main settling tank. Di

dalam CST minyak dipisahkan dari kotoran dengan cara pengendapan. Fraksi

berat akan bergerak ke bawah tank sedangkan fraksi ringan akan bergerak menuju

ke atas. Suhu berpengaruh terhadap viskositas minyak. Semakin tinggi suhu

minyak semakin kecil viskositasnya. Untuk mempermudah pemisahan minyak

dari kotoran dan air maka viskositas minyak diperkecil, salah satu caranya dengan

pemanasan. Berdasarkan viskositas maka suhu yang paling tepat digunakan suhu

lebih besar dari 90C.

11

f. Pengering vakum Pada pengering vakum, air dikeluarkan dengan sistem pengkabutan

minyak di dalam ruang vakum sampai air tersisa 0.1%. Suhu minyak yang masuk

antara 90 95C dengan tekanan vakum 30 bar. Minyak terhisap ke dalam tabung

vakum melalui nozzle sampai seperti kabut. Uap air terhisap oleh ejector dan

masuk ke dalam kondensor secara bertahap dan akhirnya ditampung.

g. Penyimpanan minyak sawit mentah (MSMn) Minyak hasil produksi yang akan dipasarkan ditampung dalam tangki

timbun. Bagian dalam tangki timbun umumnya dilapisi dengan bahan yang

terbuat dari epoksi untuk mencegah kontaminasi logam besi yang berasal dari

bahan tangki timbun. Suhu tangki timbun dikontrol pada suhu antara 32-40C.

Suhu ini cukup untuk meminimalkan kerusakan akibat pemanasan dan mampu

mencegah minyak memadat.

2.2.2 Karakter Fisiko-Kimia

MSMn tersusun atas 50% asam lemak jenuh dan 50% asam lemak tidak

jenuh. Keseimbangan antara asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh

menyebabkan MSMn lebih stabil terhadap oksidasi dibanding minyak nabati

lainnya dan MSMn berwujud semisolid pada suhu ruang (Basiron 2005). Menurut

Rohani et al. (2006), komponen utama dalam MSMn adalah triacylglicerol

(TAG) yaitu sebesar 95%. TAG merupakan kombinasi