ILLAH KERIBAWIAN EMAS DAN PERAK SERTA KAITANNYA DENGAN UANG KERTAS

  • Published on
    27-Mar-2016

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kajian Fiqh Syafi'i tentang Keribawian Uang Kertas

Transcript

  • 'ILLAH KERIBAWIAN EMAS DAN PERAK SERTA KAITANNYA DENGAN UANG KERTAS

    (Kajian Fiqh Madzhab Syafi'i)

    : !" #" $ % &'( : )*+, - ./0 ./0- )*+, - 12$ 324 - 15!6 75!" - 18,9: ;,9 - - ?@A ?@A - B=, C=,

    12$ 324 DE FG #>,HI J$E !@$K L(MN O0/ +>P FQK O#6

    Kajian ini dimulai dengan mengacu kepada teks al Imam Asy Syafi'i (150-204 H) berkaitan dengan 'illah keribawian emas dan perak sebagai pengantar pembahasan:

    ) ( UI 8V D4 W! ./0 . Y@Z UI :[$ \]4 ^ ^O?_ `) YN` a/cd(

    "Emas dan perak adalah dua materi atau dua hal yang berbeda dibandingkan materi apapun karena keduanya merupakan atsmaan segala sesuatu."

    Secara nash, al imam Asy Syafi'i menyatakan bahwa 'illah yang membuat emas dan perak dikelompokkan oleh hadis Ubadah di atas sebagai barang ribawi adalah kapasitasnya sebagai atsmaan. 1

    Fakta ini diperkuat oleh nash beliau sendiri saat mengemukakan pemikirannya tentang akad salam emas atau perak dan membandingkan keduanya dengan fals atau barang lain.2 Beliau mengatakan:

    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 1 ._= :e4 f8E - g)@," h DE 3$ - i$:, )] K ij, O0P,k4 : l#" :9 m:n ![K 15I 3! 8 .

    )$>4!V )$[]+ )!"!op Dalam bahasa lain, tsaman dapat diterjemahkan dengan price, harga, pengganti, kompensasi atas barang yang dijual.

    2 Fals atau Fulus adalah segala tsaman yang tidak terbuat dari emas dan perak.

    )*+, ./0 2 D@:, =j" 3:n \ O0q>4 f8E r;Z(^ KM l\!K ) Dh sG tm] )!m"!o )mu =>6v w+

  • 'ILLAH KERIBAWIAN EMAS DAN PERAK SERTA KAITANNYA DENGAN UANG KERTAS

    Kajian Fiqh Madzhab Syafi'i - Muhammad Faishol Zainuddin, 24 Juni 2009, www.alpontren.com

    | 2 |

    ) @KA ( ^ )*mK | ./F ^ )*K | )*K ^ ./F | ./F #64 Dh {! ^ I \!K \ :[K;P UI 8E | :[ 2 8E #64 Dh {! ./F | )*K

    Dh {!m m im$y F ?_ =A h !Ek 8$V D{! 242 (4 =>A) @KA ( Dh }~h G ^ mxk )*m+ ./0 | K; \!+ | #64

    | DQmK )+6o 5$I; xph ?xx2 #/2 D!Vv :E 5$I; :9 w$ xh $K E{ E{ \!+ | w$ E} #/2 ?xx2

    !" # ) YN,a / ( Al imam Asy Syafi'i mengatakan "Tidak boleh memesan emas dibayar dengan emas; perak dibayar dengan perak; perak dibayar dengan emas; emas dibayar dengan perak

    Sementara diperbolehkan memesan apapun selain emas dan perak (seperti tembaga, fuluus, kuningan, timah, besi, komoditi yang ditimbang, komoditi yang ditakar, makanan atau minuman atau seluruh barang yang diijinkan untuk dibeli) dibayar dengan salah satunya (emas atau perak)."

    "(Asy Syafi'i berkata): Aku mengijinkan transaksi salam pada fuluus, tidak pada emas dan perak karena

    tidak ada kewajiban zakat pada fuluus dan fuluus bukan merupakan atsmaan sebagaimana emas dan perak yang dapat menjadi

    atsmaan (pengganti/'iwadh/badal/bayaran) untuk barang-barang yang dipesan. Dinar (emas) dan dirham (perak) mempunyai kaitan dengan kewajiban zakat. Sementara tidak ada kewajiban zakat berkaitan dengan fuluus. Aku menilai suatu bijih (at tibr)3 berdasarkan ashl-nya.4 Secara ashl tembaga (materi pembuatan fuluus, penj), memang tidak ada kaitannya dengan riba sama sekali."5

    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 3 g) =B> : fE ./0 .

    B=MN : =B> :>+, )*K l./F :[K - $( FQK - _4 ,Dh 8 )*+, ./0 . C=/!, : =B> : 1=* =$_ ./0 DE . ]4 ^ - l$ ![K ?xx = FQK :0 ^G l=v !]4 #[*@ - ./

    3*4h )*+, . 8$ : )*+, ./0 =$_ & =B> z,Z4 . (= 242e, \eCE .

    3;Z( : - ,]K M h - :[= 8 )*+, ./0 l#" )$>4!V )$[]+ )!"!o`v

  • 'ILLAH KERIBAWIAN EMAS DAN PERAK SERTA KAITANNYA DENGAN UANG KERTAS

    Kajian Fiqh Madzhab Syafi'i - Muhammad Faishol Zainuddin, 24 Juni 2009, www.alpontren.com

    | 3 |

    Pernyataan di atas mempertegas keyakinan bahwa al imam Asy Syafi'i mempunyai pendirian: 1. Al fuluus tidak sama dengan emas dan perak karena yang pertama disebut bukan atsmaan,

    sedangkan yang disebut kedua (emas dan perak) adalah atsmaan. 2. Parameter tsamaniyyah menurut beliau- dilihat dari sudut al ashl pada subtansi bijihnya.

    Berdasarkan ini, bijih al fuluus "tidak dipergunakan" untuk atsmaan. Demikian juga dengan bijih besi, bijih alumunium, bijih timah. Semua yang disebut barusan -dipandang dari sudut al ashl-nya tidak tercipta untuk dijadikan sebagai tsaman. Untuk itu bijih-bijih atau unsur-unsur tersebut tidak ada kaitannya dengan riba. Berbeda dengan bijih emas dan bijih perak yang memang terbentuk/tercipta sebagai atsmaan, sehingga hukum riba berlaku pada kedua unsur ini.

    3. Beliau melarang akad pemesanan emas dibayar dengan emas karena jika itu dilakukan akan terjadi riba yang dilarang oleh hadis, yaitu pertukaran emas dengan emas secara tidak tunai atau tertunda. Dalam waktu yang sama, beliau mengijinkan transaksi pemesanan fulus dengan dibayar fuluus. Ijin ini diberikan karena beliau tidak menilai fuluus sebagai tsaman, tetapi sebagai 'ard atau sil'ah dimana pertukaran keduanya tidak masuk dalam larangan hadis riba. Perlu dicermati bahwa beliau tidak menampik kemungkinan atau realita fuluus sebagai

    tsaman. Beliau menyadari fakta itu. Hanya saja fuluus dalam kondisi ini -dalam istilah beliau- adalah tsaman bi syarth (tsaman dalam kondisi tertentu atau tsaman atas kesepakatan). Istilah ini dikemukakannya sebagai pembanding istilah tsaman bil ashl. Dan seperti yang sudah dapat diduga, beliau menafikan fuluus -dalam kapasitasnya sebagai tsaman bi syarth- sebagai barang ribawi. Beliau tetap berpendirian bahwa hanya tsamaniyyah bil ashl-lah yang layak menjadi standar penentuan keribawian barang yang berkaitan. Bukti bahwa beliau tidak menolak fakta fuluus sebagai tsaman diungkap dalam perdebatan (dengan lawan pemikirannya) yang ditulisnya berikut ini:

    !v 2]K 8j DQK {!~ D2 | { ?xx2 #/2 ,8$ : *@ | D [ 1@ 1=Am v )Z 0E! " { { 6 {!~ v ^ #/2 ?xx2 {! \!+ , )Z DQK 1:9 6$ " o >[ , + 0E 8$\! >" ! [ 8~ 18m~= )m:$

    1#/ 8h h 4 Ve /0 ^G $ # E DE !K \!+ ^ )*+ .=/ m[ mG E=/ x 0 [ 4 Dh &,V=O 6 # lp ^ )Z | N 0 { DQK :$ p

    p D!Vv G 8j=A 1\!+ 0VK 1=A ^G p D!Vv ^ ` ) YN,a / (

    4 Dalam perkembangan selanjutnya, para penganut madzhab Syafi'i menafsirkan kata al ashl di sini sebagai al ghaalib. Meskipun terbuka kemungkinan diterjemahkan dengan "pada prinsipnya" atau bisa juga dipahami "ashlul khilqah".

    5 Maksudnya: berbeda dengan emas dan perak yang pada asalnya memang sudah terkait dengan permasalahan riba karena statusnya sebagai atsmaan.

  • 'ILLAH KERIBAWIAN EMAS DAN PERAK SERTA KAITANNYA DENGAN UANG KERTAS

    Kajian Fiqh Madzhab Syafi'i - Muhammad Faishol Zainuddin, 24 Juni 2009, www.alpontren.com

    | 4 |

    "(Sebelumnya beliau telah mengungkapkan bahwa akad salam fuluus dibayar fuluus diijinkan. Lalu beliau memulai mempertahankan pendapatnya dari lawannya. Peny)

    Jika ada orang berkata: Di beberapa wilayah, fuluus berlaku sebagai tsaman sebagaimana layaknya dinar dan dirham. (Dengan demikian maka salam fuluus tidak boleh).

    + (Dijawab) Itu khan terjadi di sebagian wilayah, tidak di sebagian wilayah yang lain dan atas kesepakatan/kondisi tertentu. Hal yang sama juga terjadi pada gandum (al hinthah) dimana di wilayah Hijaz terdapat tradisi menjadikan gandum sebagai tsaman seperti layaknya dinar dan dirham. Sementara hal yang sama (di wilayah Hijaz) tidak terjadi pada fuluus.

    Jika dia berkata: Gandum memang bukan tsaman yang dapat dijadikan pengukur nilai pengrusakan benda milik orang lain atau pengrusakan manfaatnya secara sewenang-wenang (tsaman li maa ustuhlik),6 (karena itu wajar jika gandum tidak bisa disamakan dengan fuluus dari segi tsamaniyyah. Peny) .

    + Demikian juga dengan fuluus (maksudnya: fuluus juga bukan tsaman, sama dengan gandum. Peny). Itu sebabnya. jika seseorang merusak aset orang lain maka ia tidak dapat dihukum membayar ganti rugi kecuali dengan emas dan perak (karena emas dan perak adalah saman li maa ustuhlik. Penj), bukan dengan fuluus. Jika pelarangan orang yang melarang akad salam fuluus dibayar dengan fuluus didasari dengan alasan ini (maksudnya; dengan alasan fuluus sebagai tsaman) maka selayaknya dia juga melarang akad salam gandum (dibayar dengan gandum) karena toh gandum juga merupakan tsaman di tanah Hijaz. Juga pada jagung, mengingat jagung juga berstatus sebagai tsaman di Yaman.

    Jika seseorang berkata: Gandum (atau jagung) menjadi tsaman karena atas kesepakatan tertentu (bi syarth)

    + (Dijawab) Demikian juga dengan fuluus. Fuluus tidak dapat menjadi tsaman kecuali atas kesepakatan.

    Selanjutnya untuk menegaskan 'illah keribawian emas dan perak, ratusan tahun kemudian para pengikutnya berusaha menerangkan kembali dengan berbagai penafsiran, bahkan kadang nyaris keluar dari pendapat al imam Asy Syafi'i sendiri semoga Allah swt mengasihi mereka semua.

    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 6 g) ;[>"^ : :, [>" - O,KG 5A ;/ : O2+xh ]+xh .

    5[]+, @ #[,+4 :E - 3;Z( : ^ 1! O=$ ;>P h - , !9E [,E h gV/ 5A ?$v !/

    }q, K :6 ;[>"E LC=> O=,KG V:4 )$>4!V )$[]+ )!"!o `;[>"^ !/ L;v : ~=P i &]v 2 &,+v 2 5A $ DMN - ;[>"^ CPh ![K - )$V, [ l/,FG 5A $ 5,KG

    !!:, +>x^g .12 &3@: L;v ;/ i]4 2

  • 'ILLAH KERIBAWIAN EMAS DAN PERAK SERTA KAITANNYA DENGAN UANG KERTAS

    Kajian Fiqh Madzhab Syafi'i - Muhammad Faishol Zainuddin, 24 Juni 2009, www.alpontren.com

    | 5 |

    Berikut ungkapan al imam An Nawawi, 631- 676 H (beliau mengutip dari Al Hawi Al Kabir karya al imam Al Mawardi, 364-450 H) yang menerangkan kembali madzhab Syafi'i berkaitan dengan 'illah keribawian emas dan perak (penomoran dari penyusun):

    c. )=K ( :!E x2 )*+ ./0 | = ) Dh x=EF $%& '( m! e(h '( ~ FG \!+ {=> N $K 8P24 O2 :E !] O0[K F ?_ >

    O?_ o []x &/ e(^ 2 )e$e / @ )* + , -. . !]4 e(h o /0121345 $6$/7 8 9* a. e(h :$*$$& -; |

    O?_ .$Z !h &] N ! e(h & N D m= m[$K = & > !]4 w$ Y

    . .4=_ J$@ ~ 9* :*! : ! >? O?_ !>o OV ` ) !: , / ad( Pertanyaannya, bagaimana al imam Asy Syafi'i dapat menentukan bahwa tsamaniyyah emas

    dan perak atau dinar dan dirham merupakan tsamaniyyah bil ashl. Sedangkan tsamaniyyah fuluus (yang berlaku sebagai tsaman) disebut sebagai tsamaniyyah bi syarth?

    Merujuk kepada perdebatan akad salam di atas ( @AB*! 1C :/DB*! ) dapat ditarik kesimpulan bahwa bil ashl dan bi syarth ditentukan berdasarkan sejauh mana dominasi ke-tsaman-an suatu barang. Emas dan perak dinilai sebagai tsaman bil ashl karena dominasinya yang begitu kuat sebagai tsaman di sebagian besar wilayah, jika tidak boleh dikatakan di seluruh penjuru dunia pada saat itu. Ini tidak terjadi pada fuluus yang statusnya sebagai tsaman masih dalam batas-batas wilayah tertentu.7 Kesimpulan ini ditegaskan secara tersirat dalam tulisan An Nawawi berikut:

    )=K ( imZ m !o

  • 'ILLAH KERIBAWIAN EMAS DAN PERAK SERTA KAITANNYA DENGAN UANG KERTAS

    Kajian Fiqh Madzhab Syafi'i - Muhammad Faishol Zainuddin, 24 Juni 2009, www.alpontren.com

    | 6 |

    "Jika fuluus diterima sebagai tsaman sebagaimana layaknya nuquud (emas dan perak) maka transaksi riba (dengan fuluus tetap) tidak diharamkan. Demikian pendapat yang shahih yang ter-nash (dalam ungkapan al imam Asy Syafi'i)..."

    Mengapa demikian? Dalam bukunya yang lain, An Nawawi memberikan alasan

    xh

  • 'ILLAH KERIBAWIAN EMAS DAN PERAK SERTA KAITANNYA DENGAN UANG KERTAS

    Kajian Fiqh Madzhab Syafi'i - Muhammad Faishol Zainuddin, 24 Juni 2009, www.alpontren.com

    | 7 |

    AL 'ILLAH AL QAASHIRAH Masalah 'illah perlu disinggung mengingat ia sering kali disebut dalam buku Ushul saat

    membahas keribawian emas dan perak. Perdebatan ulama Ushul mengenai hal ini dimulai dari tulisan beliau dalam Al Umm berikut ini:

    ) ... ( ^ Y@Z UI :[$ \]4 ^O?_ `) YN ,a / cd(

    "Apapun, baik makanan maupun selain makanan, tidak bisa diqiyaskan dengan emas dan perak."

    Setelah beliau mengemukan idenya dan menegaskannya bahwa 'illah yang membuat emas dan perak masuk dalam kelompok barang ribawi adalah kapasitasnya sebagai atsmaan (tepatnya tsaman bil ashl), beliau menambahkan bahwa 'illah ini tidak dijumpai pada : 1. Makanan :

    Beliau mengatakan bahwa 'illah yang menjadikan 4 barang lain -sebagaimana dituturkan oleh hadis Ubadah- dimasukkan dalam kelompok barang ribawi bukan karena statusnya sebagai atsmaan.

    2. Barang selain makanan. Kalimat " IJB( -B; " artinya bahwa 'illah tsamaniyyah -dalam bahasa pengikutnya "'illah

    jinsul atsmaan ghaaliban"- juga tidak dijumpai pada selain makanan. 'illah tsamaniyyah hanya bisa dijumpai pada emas dan perak. Dengan ungkapan lain, 'illah tsamaniyyah atau 'illah "jinsul atsmaan ghaaliban" tidak terdapat pada besi, tembaga, alumunium, kertas dan lain-lain.

    Al imam Asy Syafi'i tampak sekali membatasi eksistensi tsamaniyyah atau 'illah tsamaniyyah hanya pada substansi emas dan perak dengan parameternya bil ashl atau ghaaliban. Menurut beliau, 'illah ke-tsamaniyyah-annya ini unik, tidak berlaku pada barang lain. Untuk itu, beliau menolak fuluus atau apapun namanya (selain emas dan perak) sebagai barang ribawi, meskipun statusnya di sebagian wilayah sebagai tsaman.

    Secara Ushul, 'illah semacam ini dikenal 'illah qaashirah ('illah yang berlaku terbatas), yang tidak dapat dijadikan sebagai "alat" untuk melakukan analogi atau qiyas dengan kasus lain.

    Pertanyaannya, apakah benar al 'illah al qaashirah tidak dapat digunakan sebagai "alat" untuk melakukan proses qiyas. Jika iya, lalu apa fungsinya sebagai 'illah. Bukankah seorang mujtahid menggali 'illah untuk kepentingan proses qiyas?

    Berdasarkan tulisan ulama fiqh Syafi'iyyah, pertanyaan ini sudah diajukan ratusan tahun yang lalu ketika kalangan Syafi'iyyah harus mempertahankan pendapat tokohnya, al imam Asy

  • 'ILLAH KERIBAWIAN EMAS DAN PERAK SERTA KAITANNYA DENGAN UANG KERTAS

    Kajian Fiqh Madzhab Syafi'i - Muhammad Faishol Zainuddin, 24 Juni 2009, www.alpontren.com

    | 8 |

    Syafi'i -saat diserang- karena mengeluarkan pernyataan 'illah tsamaniyyah pada emas dan perak sebagai 'illah yang unik yang tidak terdapat pada barang lain (qaashirah) selain emas dan perak.

    Berikut keterangan al imam An Nawawi sehubungan dengan 'illah qaashirah dalam keribawian emas dan perak.

    )kK ( _ Dp^ w~ :!E :[$K @KA 2 )@K )*+ ./0 KB7 9B. IL. IMN:. ?_ | 2~!v ^ FG 2@>v ^ `) !: / aa(

    Maksudnya, 'illah keribawian emas dan perak menurut al imam Asy syafi'i adalah jinsul atsmaan ghaaliban. 'illah ini -menurut Asy Syafi'i- merupakan 'illah qaashirah yang hanya berlaku pada emas dan perak sehingga tidak dapat dikaitkan dengan selain dua barang tersebut, karena memang tidak dijumpai pada selain keduanya.

    Tentang keterbatasan 'illah tsamaniyyah ini juga dapat kita temukan dengan mudah di buku-buk...

Recommended

View more >