Ilmu Agama Dan Iptek

  • Published on
    22-Oct-2015

  • View
    12

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kajian

Transcript

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    Rasa ingin tahu serta ketakjuban manusia pada benda benda langit dan alam semesta

    dapat melahirkan beragam pemikiran. Mereka berfikir, bagaimana alam semesta ini dapat

    terbentuk, bagaimana dimensi ruang dan waktu tiba-tiba terjadi? serta berfikir bagaimana

    terjadinya kehidupan. Rasa ingin tahu ini juga yang akhirnya melahirkan berbagai teori yang

    beragam tentang penciptaan alam semesta. Kaum filsafat materalis muncul dengan teorinya

    yang menentang adanya peristiwa penciptaan (alam seemesta telah ada tanpa diciptakan).

    Juga lahir teori yang menjelaskan bahwa alam semesta ini berasal dari sebuah ketiadaan yang

    kemudian ada secara tiba-tiba, hingga terbentuklah ruang dan waktu. Keragaman teori yang

    lahir ini didasarkan karena mereka lebih suka mengeluarkan pendapat berdasarkan pemikiran

    mereka, serta hanya bersumber pada buku sains saja, tanpa melibatkan kuasa Allah SWT

    didalamnya. Padahal Allah SWT telah memberikan tanda-tanda kebesaran-Nya didalam Al-

    Quran.

    Hal inilah yang menarik bagi penulis untuk mengangkat judul Penciptaan Alam

    Semesta Menurut Ilmu Astronomi dan Al-Quran. Disini, penulis ingin mengungkapkan

    adanya kecocokan antara pemahaman sains dan penafsiran Al-Quran sebagai isyarat Allah

    dalam hal menunjukan akan kebenaran Al-Quran yang bersamaan dengan itu Al-

    Quran merupakan sumber kebenaran yang mutlak khususnya dalam hal penciptaan alam

    semesta.

  • BAB II

    PEMBAHASAN

    2.1 Asal-Usul Penciptaan Alam Semesta Berdasarkan Perspektif Al-Quran

    Penciptaan menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti proses, cara, perbuatan

    menciptakan. Para ilmuwan diseluruh dunia saat ini telah sepakat bahwa

    alamsemesta ini terjadi dari tiada secara kebetulan dan menimbulkan dentuman besar. Ke-

    tiada-an (berasal dari tidak ada) adalah menunjukan akan adanya penciptaan (diciptakan).

    Selama satu abad terakhir, serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang

    dilakukan dengan menggunakan teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa

    alam semesta memiliki permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta

    berada dalam keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa,

    karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam

    semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal. Sungguh,

    kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam semesta bermula dari

    ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut Dentuman Besar atau Big Bang.

    Penciptaan suatu keteraturan sempurna menyusul peristiwa Big Bang sama sekali

    bukanlah gejala yang dapat dianggap sebagai peristiwa biasa. Pikirkanlah tentang kenyataan

    bahwa beribu-ribu jenis ledakan sering terjadi di bumi, tetapi tak ada keteraturan yang

    dihasilkannya. Bahkan sebaliknya, semua itu mengarah ke akibat yang menghancurkan,

    merusak, dan membinasakan. Contohnya, bila bom atom atau bom hidrogen, letusan gunung

    berapi, ledakan gas alam, dan ledakan yang terjadi di matahari diamati, kita dapat melihat

    bahwa dampak yang ditimbulkannya selalu membahayakan. Akibat yang bersifat

    membangun keteraturan atau sesuatu yang lebih baik tidak pernah diperoleh sebagai akibat

    dari suatu ledakan. Akan tetapi, menurut data ilmiah yang diperoleh dengan bantuan

    teknologi modern, Big Bang, yang terjadi ribuan tahun lalu, menyebabkan perubahan dari

    tiada menjadi ada, bahkan menghadirkan keberadaan yang sangat teratur dan selaras.

    Ayat-ayat yang menjelaskan Allah SWT Pencipta Alam Semesta :

    Adapun ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan

    alam semesta adalah (Q.S. Al-Sajdah [32] :4 )

  • Artinya: Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara

    keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua

    tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah

    kamu tidak memperhatikannya ?(Q.S. Al-Sajdah [32] :4 )

    (Q.S. Al-Kahfi [18] :51 )

    Artinya: aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan

    penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah

    aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.(Q.S. Al-Kahfi [18]

    :51 )

    (Q.S. Al-Baqarah [2] :29 )

    Artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia

    berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha

    mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah [2] :29 )

    Tafsir Ayat Yang Berhubungan Dengan Penciptaan Langit

    (Q.S. Al-Sajdah [32] :4 )

    Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan Alquran kepada Muhammad

    saw itu adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara

    keduanya dalam enam masa. Yang dimaksud dengan enam masa dalam ayat ini bukanlah hari

    (masa) yang dikenal seperti sekarang ini, tetapi adalah hari sebelum adanya langit dan bumi.

    Hari pada waktu sekarang ini adalah setelah adanya langit dan bumi serta telah adanya

    peredaran bumi mengelilingi matahari dan sebagainya.

    Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, maka Dia pun bersemayam di atas Arasy,

    sesuai dengan kekuasaan dan kebesaran-Nya".Allah SWT menegaskan bahwa tidak

    seorangpun yang dapat mengurus segala urusannya, menolak bahaya, malapetaka dan siksa.

    Dan tidak seorangpun yang dapat memberi syafaat ketika azab menimpanya, kecuali Allah

    semata, karena Dialah Yang Maha Kuasa menentukan segala sesuatu.Kemudian Allah SWT

    memperingatkan: "Apakah kamu hai manusia tidak dapat mengambil pelajaran dan

    memikirkan apa yang selalu kamu lihat itu? Kenapa kamu masih juga menyembah selain

    Allah? (tafsir Depag)

    (Q.S. Al-Kahfi [18] :51 )

  • Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan kekuasaan-Nya, dan bahwa setan itu tidak

    berhak untuk menjadi pembimbing atau pelindung bagi manusia. Setan itu tidak mempunyai

    hak sebagai pelindung, tidak hanya disebabkan kejadiannya dari lidah api saja tetapi juga

    karena mereka tidak mempunyai saham dalam menciptakan langit dan bumi ini. Allah SWT

    menegaskan bahwa iblis dan setan-setan itu tidak dihadirkan untuk menyaksikan penciptaan

    langit dan bumi ini, di kala Allah menciptakannya, bahkan tidak pula penciptaan dari mereka

    sendiri, dan tidak pula sebagian mereka menyaksikan penciptaan sebagian yang lain.

    Bilamana mereka tidak hadir dalam penciptaan itu, bagaimana mungkin mereka memberikan

    pertolongan dalam penciptaan tersebut. Patutkah setan-setan itu dengan keadaan demikian

    dijadikan sekutu Allah? Allah SWT dalam menciptakan langit dan bumi ini tidak pernah

    sama sekali menjadikan setan-setan, berhala-berhala, sembahan-sembahan lainnya sebagai

    penolong, hanya Dia sendirilah yang menciptakan alam semesta ini, tanpa pertolongan

    siapapun. Bilamana setan-setan itu dan berhala-berhala itu tidak ikut serta dalam menciptakan

    itu tentulah mereka tidak patut dijadikan sekutu Allah dalam peribadatan seseorang hamba

    Nya. Sebab orang yang ikut disembah yang ikut pula dalam penciptaan bumi dan langit ini.

    Sekutu dalam penciptaan, sekutu pula dalam menerima ibadah. Dan sebaliknya tidak

    bersekutu dalam penciptaan, tidak bersekutu pula dalam menerima ibadah. Maka yang berhak

    menerima ibadah hanyalah Allah SWT. Allah SWT berfirman :

    Artinya:

    Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak

    memeliki (kekuasaan) seberat zarahpun di langit dan di bumi. Dan mereka tidak mempunyai

    suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara

    mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya." (Q.S. Saba: 22) (tafsir Depag)

    (Q.S. Al-Baqarah [2] :29 )

    (Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu); sebagai

    kemuliaan dari-Nya dan nikmat bagi manusia serta perbekalan hidup dan kemanfaatan untuk

    waktu tertentu. (dan Dia berkehendak [menciptakan] langit); lafazh Tsummas tawa:

    (artinya): dan Dia berkehendak (menciptakan) , mashdar/kata bendanya adalah istiwa.

    Jadi, al-Istiwa artinya meninggi dan naik keatas sesuatu sebagaimana makna firman Allah

    Taala (dalam ayat yang lain-red): Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah

    berada di atas bahtera itu. (Q.S.Al-Muminun/23:28). (lalu dijadikan-Nya); meluruskan

    (menyempurnakan) penciptaannya (langit) sehingga tidak bengkok (tidak ada cacat

  • didalamnya-red) [Zub]. (tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu); meskipun

    demikian Ilmu-Nya mencakup segala sesuatu, Maha Suci Dia Yang tiada ilah dan Rabb

    (Yang berhak disembah) selain-Nya. [Ays] (tafsir depag).

    Dari ketiga ayat di atas ini menunjukan bahwa Allah SWT lah dengan segala ke maha

    kuasaan-Nya yang telah menciptakan alam semesta, tanpa ada campur tangan dari siapapun.

    ketiga ayat di atas pun sekaligus menentang pada pernyataan para philosof materalis yang

    mengatakan bahwa alam semesta ini telah ada sejak dulu tanpa ada perubahan apapun dan

    akan tetap menjadi seperti ini sampai akhir nanti. (Harun Yahya).

    Selain itu sebuah versi terbaru yang dipublikasikan lebih luas dari model alam

    semesta kuantum diajukan oleh ahli fisika, Stephen Hawking. Dalam bukunya, A

    Briefer History of Time, Hawking menyatakan bahwa Dentum