Indonesia Energy Subsidy Reform

  • Published on
    23-Dec-2015

  • View
    3

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Ide konsep reformasi subsidi di Indonesia

Transcript

<p>Reformasi Subsidi Bahan Bakar MinyakBelakangan masalah subsidi bahan bakar minyak (BBM) kembali hangat dibicarakan disebabkan oleh rencana Bapak Presiden Joko Widodo untuk menaikkan harga BBM (mengurangi subsidi) yang membebani anggaran kita. Ya, subsidi walaupun nikmat rasanya namun membawa segudang masalah bukan hanya masalah anggaran belanja negara yang terkuras. Sebetulnya para pemimpin bangsa kita sudah menyadari akan bahaya besar subsidi BBM namun dikarenakan munculnya penolakan masyarakat (yang mungkin juga ditunggangi elit tertentu) pemerintah tampaknya selalu ketakutan dengan dampak politik yang ditimbulkan dari pengurangan subsidi, hal ini menyebabkan kenaikan harga BBM selalu terlambat bukannya mengurangi beban subsidi namun hanya sekedar perban sementara karena efeknya akan segera habis digerus kenaikan harga minyak dunia. Dalam tulisan ini saya juga akan memaparkan metode pengurangan subsidi BBM yang lebih optimal dibandingkan dengan penetapan harga seperti saat ini yang apabila diikuti dengan kebijakan-kebijakan proteksi sosial yang baik serta proyek-proyek pembangunan yang tepat diharapkan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan dapat memberikan kesejahteraan pada jangka panjang.1. Dampak Subsidi BBMSebagaimana telah saya ungkapkan sebelumnya, subsidi BBM memiliki berbagai dampak tidak hanya pada anggaran belanja pemerintah namun berbagai dampak lainnya, sebelum kiita membahas dampak-dampak subsidi BBM mari kita lihat pengaruh subsidi BBM terhadap kurva permintaan dan penawaran BBM:</p> <p>Gambar 1: Kurva permintaan dan permintaan tanpa subsidi</p> <p>Kurva di atas menggambarkan kurva penawaran dan permintaan BBM dalam kondisi tanpa subsidi dimana garis merah menunjukkan jumlah yang bersedia dijual oleh penjual pada harga tertentu dan garis biru adalah jumlah yang diinginkan oleh pembeli pada harga tertentu, perpotongan antara keduanya adalah titik ekuilibrium dimana jumlah permintaan sesuai dengan jumlah penawaran (Qe) pada harga keseimbangan (Pe). Berikut adalah kurva yang menggambarkan permintaan dan penawaran dengan adanya subsidi:</p> <p>Gambar 2: Kurva penawaran dan permintaan dengan adanya subsidi</p> <p>Penjelasan Kurva: Pemerintah menetapkan harga BBM di pasar domestik sebesar Ps Harga BBM sebesar PS mengakibatkan permintaan masyarakat akan BBM meningkat menjadi Qs Untuk memenuhi permintaan sebesar Qs penjual bersedia menjual barang dagangannya dengan harga P Untuk memenuhi permintaan BBM oleh masyarakat pemerintah harus mengeluarkan subsidi sebesar (P - Ps) x Qs Dari persamaan subsidi di atas dapat terlihat bahwa pemerintah harus memberikan subsidi atas jumlah permintaan BBM di atas jumlah ekuilibrium (normal), gejala permintaan BBM di atas ekuilibrium ini terlihat pada fenomena di masyarakat kita yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan menggunakan angkutan umum. </p> <p>Kondisi yang tergambar pada kurva di atas tentu membawa banyak implikasi (bukan hanya implikasi fiskal) mari kita bedah satu per satu implikasi subsidi BBM terhadap kondisi makroekonomi, lingkungan, dan sosial. Terhadap kondisi makroekonomi subsidi BBM memiliki implikasi sebagai berikut: Ditinjau dari sudut pandang pertumbuhan beberapa dampak subsidi BBM terhadap ekonomi makro adalah sebagai berikut:a. Subsidi mengurangi investasi di sektor energi fenomena ini dapat terlihat pada keengganan Pertamina untuk berinvestasi dalam pembangunan kilang minyakb. Subsidi mengurangi iklim kompetitif dari sektor swastac. Subsidi membebani belanja pemerintah sehingga semakin sedikit jatah pengeluaran untuk sesuatu yang lebih produktif Subsidi BBM juga mengakibatkan ketidakseimbangan ekonomi makroa. Bagi negara net importir minyak seperti indonesia subsidi akan membebani neraca pembayaran karena tingkat konsumsi BBM yang lebih besar daripada tanpa subsidi sehingga dibutuhkan impor yang lebih besarb. Tingginya volatilitas harga minyak dunia mengakibatkan ketidak pastian pengeluaran publik yang dapat membahayakan stabilitas fiskalKemudian dampak subsidi BBM terhadap lingkungan antara lain: Polusi udara dan pemanasan global, rendahnya harga BBM bersubsidi mengakibatkan peningkatan konsumsi yang akan berakibat pada tingginya emisi karbon subsidi memberikan insentif bagi masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi sehingga mengakibatkan kepadatan lalu-lintas dan banyaknya kecelakaan Subsidi juga mengakibatkan kurangnya dorongan atau insentif untuk mengembangkan energi alternatif yang lebih bersihSubsidi BBM juga berdampak pada kondisi sosial masyarakat antara lain: Subsidi BBM mendorong penyelundupan BBM dari dalam negeri ke luar negeri Subsidi BBM lebih dinikmati oleh kalangan menengah ke atas karena mereka lah yang memiliki kendaraan pribadi (terutama mobil yang lebih banyak menghabiskan BBM) sehingga lebih menikmati subsidi BBM secara langsung, selain itu mereka juga menikmati murahnya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari Subsidi BBM yang membebani anggaran negara mengakibatkan pemerintah kurang maksimal dalam menjalankan program-program yang dapat menciptakan lapangan kerja, membentuk human capital (seperti pendidikan), dan kesehatan hal ini tentu mengakibatkan jurang kemiskinan akan semakin dalam karena masyarakat kelas bawah akan kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan Subsidi BBM juga mendorong gaya hidup konsumtif masyarakat karena murahnya barang-barang kebutuhan sehari-hari.Tentu saja subsidi BBM tidak selalu hanya membawa dampak negatif, rendahnya harga barang-barang kebutuhan menjadi dampak yang paling diharapkan. Namun apabila kita mengibaratkan rakyat itu adalah orang tua dan rakyat adalah anaknya mana yang lebih baik, orang tua yang membiarkan anak malas-malasan dengan tingkat pendidikan rendah serta kurang kompetitif dan terus diberi uang jajan oleh oreng tua sehingga menjadi konsumtif ataukah orang tua menyediakan pendidikan yang baik, memberikan modal kerja, serta menyediakan lapangan kerja yang baik sehingga sang anak mampu mandiri walau tanpa subsidi dari orang tuanya.2. Menciptakan Reformasi Subsidi yang SuksesMengapa setiap kali ada usaha mengurangi subsidi di Indonesia selalu berakhir dengan turbulensi politik? Bagaimana menciptakan reformasi subsidi yang sukses? Berikut adalah beberapa kunci keberhasilan reformasi subsidi:1. Rencana reformasi subsidi yang komprehensif2. Strategi komunikasi yang ekstensif3. Fase dan tahapan kenaikan harga yang tepat4. Peningkatan efisiensi BUMN5. Kompensasi terarah untuk melindungi masyarakat miskin6. Depolitisasi penetapan hargaUntuk mencapai reformasi subsidi yang berhasil dan efektif dapat kita rumuskan bahwa diperlukan suatu mekanisme penentuan harga yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:1. Memastikan agar naik turunnya harga minyak dunia dapat tercermin pada harga domestik (full pass through) namun tetap mampu meredam volatilitas harga domestik untuk melindungi masyarakat2. Mampu membatasi subsidi agar tidak membebani anggaran belanja negara3. Menghindari penetapan harga secara ad hoc sehingga dapat mencegah politisasi atas penetapan harga BBM3. Automatic Fuel Pricing Mechanism (AFPM)AFPM adalah mekanisme penentuan harga yang mampu memenuhi ketiga syarat di atas, untuk memahaminya mari kita lihat bagaimana rancangan AFPM. Berikut adalah langkah-langkah untuk merancang AFPM:1. Langkah pertama adalah menentukan formulasi harga BBM (contoh: Harga CIF Impor + Pajak + Margin domestik (distributor) + transportasi = Harga Eceran) apabila formulasi harga sudah ada maka sederhanakan dan dirapikan agar tampak dimana komponen subsidi berada2. Langkah kedua buat timeline untuk memperbarui formulasi harga3. Langkah ketiga ciptakan aturan main yang menentukan kapan dan berapa banyak harga eceran dapat berubah, pertimbangkan penggunaan smoothing mechanism4. Langkah keempat bentuk badan independen yang bertugas untuk memastikan penetapan harga sesuai mekanisme yang telah ditentukan (membantu proses depolitisasi)Salah satu elemen penting pada langkah di atas adalah penentuan smoothing mechanism yang mampu menekan volatilitas harga domestik sekaligus memastikan full pass through harga minyak dunia. Terdapat dua jenis smoothing mechanism yang umum digunakan yaitu price band dan moving average , mari kita ulas satu per satu.A. Price Band MechanismMekanisme price band adalah mekanisme penyesuaian harga eceran secara otomatis mengikuti kenaikan atau penurunan harga minyak dunia namun kenaikan atau penurunan harga eceran tidak boleh melebihi persentase tertentu, misalkan pada mekanisme price band 5% dengan penyesuaian harga setiap bulan kemudian pada bulan ke dua harga minyak dunia naik sebesar 3% maka penyesuaian harga eceran bulan ke dua adalah sebesar 3% akan tetapi jika harga minyak dunia naik sebesar 20% maka penyesuaian hanya dilakukan sebesar 5% yaitu batas maksimal penyesuaiannya. Mekanisme ini memastikan kenaikan atau penurunan harga minyak dunia tercermin pada harga domestik sekaligus mampu meredam volatilitas harga karena hanya menaikkan atau menurunkan harga maksimal sebesar persentase tertentu. Mari kita lihat contoh berikut:</p> <p>Table 1: Contoh Price Band Mechanism</p> <p>Keterangan: Pada bulan kedua apabila terjadi full pass through (tanpa subsidi) maka harga eceran akan berubah sebesar 6,6% Pada mekanisme price band 5% perubahan harga eceran dipatok maksimal 5% sehingga harga eceran maksimal hanya dapat dinaikkan hingga 7927,5 sehingga harus dilakukan penyesuaian pada pajak menjadi 477,5 Sedangkan pada mekanisme price band 7% full pass through dapat dilakukan karena kenaikan harga eceran masih di bawah 7%Sebagaimana kita lihat pada contoh di atas mekanisme price band dapat melindungi masyarakat dari volatilitas harga yang tinggi karena akan menghambat kenaikan harga domestik maksimal pada batasan tertentu di sisi lain apabila kelak harga minyak dunia kembali stabil maka sedikit demi sedikit harga eceran akan kembali mendekati full pass through.</p> <p>Karakteristik kunci mekanisme price band1. Aturan smoothing diaplikasikan pada kenaikan atau penurunan harga eceran2. Batasan kenaikan atau penurunan dinyatakan dalam persentase misalkan 3%, 5%, atau 10%3. Komponen pajak/subsidi sebagai komponen yang digunakan untuk menyesuaikan harga eceran4. Interval penyesuaian harga yang jelas misalkan dua bulan sekali atau tiga bulan sekali atau enam bulan sekali</p> <p>B. Moving Average MechanismMekanisme moving average adalah mekanisme penyesuaian harga eceran secara otomatis mengikuti kenaikan atau penurunan harga minyak dunia dimana kenaikan harga eceran disesuaikan dengan rata-rata pergerakan harga minyak dunia beberapa bulan terakhir. Mekanisme ini memastikan kenaikan atau penurunan harga minyak dunia tercermin pada harga domestik sekaligus mampu meredam volatilitas harga karena hanya menaikkan atau menurunkan harga secara rata-rata bergerak sehingga kurva pergerakan harga lebih halus. Mari kita lihat contoh berikut:</p> <p>Table 2: Contoh Moving Average Mechanism</p> <p>Keterangan: Pada langkah pertama jumlah CIF impor disesuaikan dengan rata-rata perubahan CIF dalam 2 bulan terakhir Pada langkah ke dua nilai harga eceran yang didapat pada pada langkah pertama digunakan sebagai patokan harga eceran Karena kita tidak bisa mengubah harga impor (CIF) maka komponen pajak disesuaikan agar mendapatkan harga eceran yang diinginkan yaitu 7.820Dapat kita lihat bahwa moving average mechanism akan meredam volatilitas harga karena apabila harga minyak dunia naik secara drastis maka harga domestik hanya bergerak pada rata-rata beberapa bulan terakhir.Karakteristik kunci mekanisme moving average1. Aturan smoothing diaplikasikan pada kenaikan atau penurunan nilai impor (CIF)2. Rata-rata yang digunakan adalah beberapa bulan ke belakang misalkan 2 bulan, 4 bulan, atau 6 bulan ke belakang3. Komponen pajak/subsidi sebagai komponen yang digunakan untuk menyesuaikan harga eceran4. Interval penyesuaian harga yang jelas misalkan dua bulan sekali atau tiga bulan sekali atau enam bulan sekaliDalam memilih mekanisme smoothing, mekanisme smoothing yang dipilih adalah mekanisme smoothing yang mampu memberikan: Harga eceran paling stabil atau paling rendah volatilitasnya (melindungi konsumen) Volatilitas pajak paling rendah untuk menjaga stabilitas fiskal (naik turunnya penyesuaian pajak/subsidi yang paling stabil) Memastikan keberadaan pajak untuk menyokong APBN serta menjadi kontrol atas ekses penggunaan BBM</p> <p>4. KesimpulanSebagai sebuah kebijakan yang berpengaruh pada banyak orang, reformasi subsidi BBM tentu memerlukan sosialisasi, lobi-lobi, serta kepemimpinan yang tangguh agar bisa sukses. Sementara automatic fuel pricing mechanism dan smoothing mechanism membantu agar kebijakan reformasi subsidi dapat berjalan lancar dengan mengurangi volatilitas harga serta politisasi penetapan harga namun tugas berat sesungguhnya apa yang selanjutnya dilakukan setelah reformasi subsidi dijalankan. Kebijakan-kebijakan untuk mengurangi dampak aftershock seperti bantuan yang terarah kepada rumah tangga miskin untuk membantu keuangan mereka dan yang tak kalah penting adalah menggunakan dana hasil penghematan anggaran dengan sebaik-baiknya untuk membangun human capital dan membangun infrastruktur yang meningkatkan daya saing masyarakat sehingga masyarakat kita menjadi masyarakat yang mandiri dan kompetitif.Tinjauan PustakaInternational Monetary Fund (IMF). 2013. Energy Subsidy Reform: Lessons and Implications.</p> <p>Penulis: Bayu Perdana Putrahttps://drive.google.com/file/d/0B261t3QlFcyFbXJZMDVQNHNKdWc/view?usp=sharingSheet1Harga Per LiterBulan PertamaBulan Ke DuaFull Pass ThroughFull Pass ThroughMA Langkah 1MA Langkah 2CIF Impor5500595057255950Perubahan Per Bulan8.2%4.1%8.2%Pajak/Subsidi550595595370Margin Domestik &amp; Transportasi1500150015001500Harga Eceran7550804578207820Perubahan Per Bulan6.6%3.6%3.6%</p> <p>Sheet1Harga Per LiterBulan PertamaBulan Ke DuaFull Pass ThroughFull Pass ThroughPrice Band 5%Price Band 7%CIF Impor5500595059505950Perubahan Per Bulan8.2%8.2%8.2%Pajak/Subsidi550595477.5595Margin Domestik &amp; Transportasi1500150015001500Harga Eceran755080457927.58045Perubahan Per Bulan6.6%5%6.6%</p>