Jenis Duplex Stainless Steel

  • Published on
    12-Mar-2016

  • View
    12

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pembagian jenis duplex stainless steel

Transcript

  • DUPLEX STAINLESS STEEL (DSS)

    Beberapa poin penting dari Duplex Stainless Steel (DSS):

    Kombinasi Austenitik Stainless Steel (ASS) dan Feritik Stainless Steel (FSS). Hadirnya fasa Austenit dalam Duplex membuat material ini tangguh dan ulet. Sedangkan fasa Ferit memberikan sifat ketahanan korosi namun ketangguhannya

    rendah.

    Sehingga DSS akan memiliki sifat kekuatan dan ketangguhan yang tinggi serta ketahanan korosi yang sangat baik.

    Weldability dari Duplex SS lebih baik daripada Feritik SS, namun tidak lebih baik dibanding Austenitik SS.

    DSS dapat digunakan pada temperatur rendah (-50oC) sampai beberapa ratus derajat (+/- 300oC).

    Ketahanan (korosi dan sifat mekanik) DSS menurun pada temperatur 700-955oC. Pada temperature ini, DSS membentuk fasa intermetalik (intermetallic phase)

    dimana fasa ini menurunkan ketahanan korosi dan juga fracture toughness.

    Unsur penting pada Duplex SS

    Chromium (Cr) Suatu paduan Stainless Steel minimum memiliki kadar chromium 10.5 wt%. Hal

    penting untuk membentuk lapisan pasif krom stabil yang berguna untuk melindungi

    baja dari mild atmospheric corrosion. Pada Duplex SS, kandungan chromium

    bervariasi antara 18-28 wt%. Secara umum, penambahan chromium berfungsi:

    - Corrosion resistance

    - Strength

    - Wear resistance

    - Heat resistance

    - Hardness

  • Molybdenum (Mo) Molybdenum meningkatan yield strength dan ketahanan terhadap high temperature

    deformation (creep). Pada stainless steel, Mo membantu dalam melawan pitting

    corrosion dan crevice corrosion. Pada Duplex SS, Mo dibatasi max 4 wt%. Hal ini

    karena Mo merupakan unsur pembentuk fasa ferit.

    Nitrogen (N) Nitrogen merupakan austenite former yang sangat kuat. Penambahan unsur N pada

    Duplex SS untuk menstabilkan austenite. Selain itu N memiliki kemampuan 30x

    lebih efektif dibanding nikel. Unsur pembentuk ferit (chromium dan molybdenum),

    diseimbangkan dengan unsur pembentuk austenite (nickel and nitrogen) untuk

    mendapatkan struktur duplex.

    Nickel (Ni) Nikel merupakan unsur penstabil austenite. Pada Austenite SS (seri 300)

    kandungan Ni berkisar 7-35 wt%. Nikel bersifat non-ferromagnetic. Nikel

    memberikan sifat ketahanan terhadap korosi, strength, dan ductility terutama pada

    temperatur rendah (-185C).

  • Keunggulan Duplex Stainless Steel (DSS)

    Ketahanan terhadap korosi (corrosion resistance) Duplex SS memiliki ketahanan korosi yang beragam, yakni :

    - Stress Corrosion Cracking (SCC) terhadap chloride (Cl) karena DSS memiliki

    kandungan Ni rendah dan Cr tinggi.

    - Pitting corrosion

  • - Crevice corrosion (korosi celah, umumnya terjadi pada sambungan plat yang di

    baut)

    Memiliki kekuatan yang lebih tinggi. Tabel perbandingan:

    Lebih murah dibanding Austenite SS, karena kandungan Ni pada Duplex SS lebih

    rendah. Tabel chemical composistion:

  • Kekurangan Duplex Stainless Steel

    Dibandingkan dengan Austenitic, Duplex SS lebh sensitif terhadap temperatur. Terutama pada temperatur yang sangat rendah (menangani bahan cryogenic) dan

    temperatur yang sangat tinggi (max 300 deg C)

    Lebih sulit dilakukan machining dibandingkan austenit

Recommended

View more >