Jurnal Ortho

  • View
    147

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

osteosarkoma

Transcript

Latar Belakang: Osteosarcoma adalah neoplasma ganas primer pada tulang yang paling umum ditemui. Prosedur ortopedi merupakan komponen penting dalam pengobatan multidisiplin osteosarkoma. Prosedur penyelamatan anggota badan menawarkan pengendalian penyakit yang cukup sebanding dengan hasil yang diperoleh dari amputasi. Ulasan ini membahas keuntungan dan kerugian dari berbagai jenis amputasi dan teknik menyelamatkan anggota badan untuk pengobatan osteosarkoma.Metode: Para penulis menganalisis karakteristik prosedur limb-salvaging (menyelamatkan anggota badan) dan amputasi untuk osteosarkoma. Studi kualitatif dan kuantitatif yang diterbitkan dalam bahasa Inggris yang tercantum dalam National Library of Medicine digunakan sebagai dasar untuk ulasan ini. Selain itu, disertakan juga peninjauan mengenai perkembangan prostesis.Hasil: Teknik limb-salvaging (menyelamatkan anggota badan) memiliki angka pengendalian penyakit yang dapat diterima. Namun, amputasi tetap merupakan prosedur yang valid pada kasus-kasus osteosarkoma tertentu di sebagian besar dunia. Ahli bedah onkologi ortopedi memiliki berbagai macam bahan, prosedur, dan teknik yang tersedia untuk mengendalikan penyakit dan meningkatkan fungsi pasien dengan osteosarkoma.Kesimpulan: Manajemen bedah pada pasien dengan osteosarkoma memang sangatlah menantang. Tidak ada perbedaan dalam hal kelangsungan hidup antara amputasi dan prosedur limb-salvaging (menyelamatkan anggota badan) yang dilakukan secara memadai. Reseksi tumor optimal dan sisa anggota badan yang fungsional dengan peningkatan kelangsungan hidup pasien adalah tujuan ortopedi onkologi modern.IntroduksiOsteosarcoma adalah neoplasma ganas pada tulang yang paling umum ditemui.1 Paling sering terjadi pada tulang-tulang ekstremitas bawah dan humerus pada pasien muda.2 Karena sifat penyakit ini cepat dan agresif, maka pengobatan standar untuk osteosarcoma adalah amputasi pada anggota tubuh yang terkena.3, 4 Namun, selama 3 dekade yang lalu prognosis pasien dengan osteosarkoma telah berubah secara dramatis.5 Pengembangan agen kemoterapi yang efektif telah mengurangi insiden metastasis dan mortalitas penyakit.6 Beberapa penelitian telah melaporkan evolusi adjuvant kemoterapi dan korelasinya terhadap peningkatan kelangsungan hidup.4 Selain itu, kemajuan teknologi pencitraan dan bahan-bahan baru dan prostesis membantu ahli bedah menyusun rencana pra operasi lebih akurat dan berbagai alternatif operasi yang lebih luas. Kemajuan ini mendorong pengembangan teknik bedah yang lebih baik dengan intervensi radikal dan definitif yang lebih sedikit. Bedah ortopedi dan beberapa spesialisasi bedah lainnya baru-baru ini mengusulkan pelaksanaan pendekatan invasif minimal, pembedahan dengan bantuan komputer, dan obat-obatan molekuler sebagai pilihan pengobatan yang tepat. Prosedur seperti disartikulasi pinggul dan amputasi radikal bertentangan dengan tren saat ini dan ini telah menjadi subyek penelitian mengenai hasilnya secara fungsional dan psikologis. Selama beberapa tahun terakhir, beberapa studi telah menunjukkan hasil limb-sparing excision dibandingkan dengan radikal amputasi.7-13 Kesalahan penyelamatan anggota badan pada pasien muda termasuk kompleks, besar, kerusakan jaringan lunak, perbedaan panjang tungkai (limb length discrepancies), dan kesulitan rehabilitasi dan hasil fungsional dari prosedur. Tinjauan ini melaporkan keuntungan dan kerugian dari berbagai jenis amputasi dan teknik limb-salvaging untuk pengobatan osteosarkoma. Kami menganalisis karakteristik osteoarticular allografts dan prostesis yang berbeda dan bahan yang digunakan setelah eksisi radikal luas selama prosedur limb-salvaging. Selain itu, kami mengusulkan beberapa kriteria inklusi dan eksklusi ketika mempertimbangkan prosedur limb-salvaging pada populasi pasien yang sulit diterapi.Amputasi Tungkai untuk Osteosarkoma "Solusi ekstrim ini sangat sesuai untuk penyakit yang ekstrim. " HippocratesOsteosarkoma memiliki kecenderungan untuk berada di metafisis tulang panjang disekitar sendi lutut dan ekstremitas atas (Gambar 1).

Gambar 1. Osteosarkoma pada Distal Femur

Gejala utama yang sering ditemukan berupa keterbatasan fungsional dan nyeri saat melakukan kegiatan sehari-hari. Osteosarkoma dapat terjadi di semua usia dan didominasi oleh wanita muda.1 Untuk alasan ini, tujuan dari modalitas pengobatan yang tersedia, di samping membatasi perluasan penyakit dan terjadinya metastasis, juga untuk mengembalikan tingkat fungsional pasien. Pembedahan merupakan komponen fundamental dari setiap algoritma pengobatan untuk osteosarkoma. Jaffe et al14 menunjukkan bahwa hanya 10% pasien dengan osteosarkoma (3 dari 31 pasien), sembuh secara eksklusif dengan kemoterapi. Mereka menyimpulkan bahwa secara keseluruhan diharapkan tingkat kesembuhan 50% - 65% dengan strategi konvensional (operasi ditambah kemoterapi), penggunaan kemoterapi sebagai pengobatan eksklusif untuk osteosarkoma saat ini tidak dibenarkan. Demikian juga studi yang dilakukan sebelumnya, kemoterapi menunjukkan hasil sub-optimal dari operasi saja pada pengobatan osteosarkoma. Friedman dan Carter15 menyatakan bahwa jenis amputasi bedah tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tetapi mempengaruhi kekambuhan pasien dengan osteosarkoma. Tingkat kelangsungan hidup secara keseluruhan dengan pembedahan saja adalah 5% sampai 23% pada 5 tahun. Secara historis, disartikulasi pinggul dan amputasi bagian atas dan bawah lutut (AKA dan BKA) telah menjadi terapi andalan untuk pasien osteosarkoma. Kemajuan terbaru dalam obat-obatan molekular, konstruksi dan biomaterial prostesis yang lebih baik dan tahan lama, serta meluasnya penggunaan teknik diagnostik yang akurat memiliki dampak yang pasti pada prognosis dan pendekatan terapi untuk osteosarkoma pada pasien yang tinggal di negara-negara industri. Prosedur limb-salvage dengan megaprostesis dan penggunaan bahan allograft menyebabkan pasien muda terhindar dari keterbatasan psikologi, anatomi, dan fungsional yang berhubungan dengan amputations.16 Namun, karena 80% dari populasi dunia tinggal di negara-negara berkembang menurut WHO (World Health Organization), ketersediaan tekhnik ini menjadi terbatas dan mahal.17, 18 Pasien muda memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi hilangnya anggota tubuh akibat kanker. Kagen19 melaporkan bahwa anak-anak dengan amputasi mampu menerima kehilangan anggota tubuh lebih cepat dibandingkan dengan rehabilitasi yang berkepanjangan dan kompleks secara emosional pada pasien dengan prosedur limb-salvage. Felder-Puig et al20 menganalisis kualitas hidup dan penyesuaian psikososial pasien muda setelah pengobatan kanker tulang. Mereka menyatakan bahwa penyesuaian psikososial ditentukan oleh usia saat pasien di diagnosis dan bukan oleh jenis prosedur bedah yang dilakukan (amputasi atau limb-sparing surgery) atau fungsi fisik yang dihasilkan. Maturitas skeletal juga telah diusulkan sebagai penentu potensial tambahan dari gejala sisa psikososial karena pentingnya dalam menentukan luas dan jenis prosedur bedah yang dilakukan (misalnya, amputasi, rotationplasty, expanding prosthesis). Secara keseluruhan, beberapa studi telah berusaha untuk menggambarkan tingkat fungsional psikososial pasien pediatric dengan tumor tulang.20, 21 Selanjutnya, penelitian yang tersedia dalam literatur menunjukkan hal yang bertentangan atau hasil yang tidak meyakinkan, dan tidak ada konsensus yang telah dicapai mengenai dampak psikologis yang nyata baik teknik amputasi atau limb-salvage.

Di negara berkembang, pilihan untuk amputasi daripada limb-salvage sangatlah jelas. Operasi limb-salvage membutuhkan infrastruktur tingkat tinggi seperti tim multidisiplin ahli bedah dan ahli kanker yang berpengalaman, prostesis yang berkualitas tinggi, bank jaringan yang baik untuk allografts, bank darah dan protocol produk transfusi darah yang memadai, dan fasilitas perawatan intensif. Kondisi ini sulit untuk ditemukan di beberapa daerah di dunia. Dari catatan, beberapa upaya telah dilakukan untuk menyediakan obat-obatan berbasis bukti untuk melayani populasi pasien. Agarwal et al22 mendeskripsikan kompleksitas prosedur limb-salvage di negara-negara berkembang. Di negara-negara industri, insiden amputasi karena keganasan telah menurun dari 0,62 per 100.000 orang pada tahun 1988 menjadi 0.35 per 100.000 orang di 1996.23 Dalam sebuah studi multicenter besar, Bielack et al24 melaporkan bahwa penggunaan operasi ablatif (didefinisikan sebagai amputasi, disarticulations, dan rotationplasties) menurun dari 60,1% (455 dari 757) pada tahun 1980 menjadi 31,4% (265 dari 844) pada tahun 1990. Standar perawatan dalam onkologi ortopedi telah untuk menyediakan amputasi untuk tumor dengan keterlibatan neurovaskular yang signifikan dan fungsi ekstremitas bagian distal yang buruk. Indikasi tambahan untuk amputasi mencakup gagal melakukan limb-salvage dan / atau kekambuhan lokal yang persisten. Kontaminasi jaringan lunak karena fraktur patologis atau biopsi yang buruk juga mungkin merupakan indikasi yang memadai untuk dilakukannya amputasi, khususnya dengan adanya sekunder hematoma ekstensif.4, 11,25 Terdapat kontroversi mengenai keuntungan dan kerugian dalam melakukan AKA dan BKA.AKA dapat dilakukan melalui distal femur (Supracondylar), midfemur (diaphyseal), atau dibawah trochanter minor (AKA tinggi). Level yang ideal untuk AKA akan memberikan puntung cukup lama untuk bertindak sebagai tuas lengan untuk bergerak sementara memungkinkan clearance lutut yang memadai untuk prostesis sendi. Biasanya, segmen tulang 15 cm di atas tibialis plateu atau 25 cm di bawah trokanter mayor telah digambarkan sebagai optimal.26 Puntung terpendek yang direkomendasikan dalam literatur yang tersedia ukuran 15 cm dari trokanter mayor ke level osteotomi femoralis. Namun, sebagian besar studi tentang AKA dan BKA melibatkan pasien dengan infeksi dan/ atau insufisiensi vaskular. Populasi pasien menjalani amputasi untuk osteosarkoma membutuhkan tulang yang luas dan reseksi jaringan lunak, dan bebe