KARAKTERISTIK DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI JERUK ... memenuhi permintaan dalam negeri yaitu jeruk keprok SoE (NTT ... berbagai faktor yang mempengaruhi ... Tanaman jeruk keprok Selayar yang ditanam

  • View
    215

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

  • Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013

    473

    KARAKTERISTIK DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI

    JERUK KEPROK SELAYAR

    Armiaty

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan

    ABSTRAK

    Penelitian bertujuan untuk mengetahui; (1) keragaan teknologi budidaya jeruk keprok di

    kabupaten Selayar; (2) mengetahui kelayakan finansial usahatani berdasarkan nilai B/C; NPV

    dan IRR dan (3) menganalisis kepekaan usahatani jeruk keprok terhadap perubahan biaya

    produksi, harga produksi dan jumlah produksi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara

    observasi dan wawancara dengan 20 orang petani responden pada bulan Oktober sampai

    Desember 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jeruk keprok yang ditanam oleh petani

    adalah hasil sambungan antara batang bawah JC (JC Selayar) dengan Selayar Selayar (S-

    S). Jarak tanam 4 m x 4 m, namun pada tanah yang berbatu karang jarak tanamnya tidak

    teratur, tergantung kondisi tanah.Penggunaan teknologi masih belum sepenuhnya sesuai

    anjuran. Biaya investasi awal sebesar Rp. 5.285.000/100 pohon dan untuk pemeliharaan

    selanjutnya rata rata Rp.4.728.666/100 pohon/tahun. Pendapatan tertinggi diperoleh pada saat

    tanaman berumur 11-13 tahun yaitu Rp. 41.105.000/100 pohon/tahun. Pada tingkat suku bunga

    14% menunjukkan bahwa usahatani tersebut layak untuk dikembangkan dengan nilai B/C 3,96;

    NPV 45.698.190 dan IRR 38,64%. Analisis sensitivitas terhadap peningkatan biaya produksi

    25% mengakibatkan perubahan nilai B/C menjadi 3,15; NPV Rp. 45.507.487 dan IRR 36,91%.

    Penurunan harga produksi 20% mengakibatkan perubahan B/C menjadi 2,99; NPV Rp.

    30.642.790 dan IRR 36,57%. Penurunan produksi 20% mengakibatkan perubahan B/C menjadi

    2,44; NPV Rp.24.954.774 dan IRR 34,78%. Peningkatan biaya produksi 20% dan penurunan

    produksi 20% dan penurunan harga 20% mengakibatkan nilai B/C menjadi 1,44; NPV

    Rp.10.525.688 dan IRR 26,15%. Sedangkan peningkatan biaya produksi 30%; produksi turun

    30% dan penurunan harga 20% suku bunga meningkat menjadi 14%, mengakibatkan usahatani

    tidak layak lagi untuk di kembangkan karena nilai B/C turun menjadi 0,795; NPV Rp-363.493

    dan IRR 13,81%.

    Kata kunci: karakteristik, kelayakan finansial, jeruk keprok

    PENDAHULUAN

    Jeruk merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mendapat prioritas

    untuk dikembangkan, karena usahataninya memberikan keuntungan yang tinggi,

    sehingga dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan petani. Disamping itu, jeruk

    merupakan buah-buahan yang digemari masyarakat baik sebagai buah segar maupun

    olahan. Sebagai komoditas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi,serta memberikan

    kontribusi yang besar pada perekonomian nasional sudah selayaknya pengembangan

    jeruk mendapat perhatian khusus.

  • Armiaty: Karakterisitik dan Kelayakan Finansial

    474

    Untuk memenuhi kebutuhan jeruk dalam negeri, komoditas ini diimpor dengan

    volume yang terus meningkat.Sampai saat ini Indonesia termasuk negara pengimpor

    jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah Malaysia, dengan volume impor khususnya

    jeruk manis sebesar 127.041 ton selama kurun waktu 2005 2009 dengan rata rata

    per tahun mencapai 25.408 ton atau setara dengan US $ 17.464.186/th.

    Salah satu jenis jeruk yang digemari konsumen adalah jeruk mandarin

    (keprok).Sejak beberapa tahun terakhir, permintaan akan jeruk keprok terus

    meningkat, yang ditandai dengan masih tingginya angka impor jeruk jenis tersebut.

    Impor jeruk keprok, selama kurun waktu 2005 2009 mencapai 504.063 ton atau

    sekitar 100.813 ton per tahun dengan nilai mencapai US $ 80.569.300 (BPS,

    2010). Kecenderungan meningkatnya impor tersebut mengindikasikan adanya

    segmen pasar (konsumen) tertentu yang menghendaki jenis dan mutu buah jeruk

    tersebut. Tingginya permintaan lebih dikarenakan penampilan dan cita rasa jeruk

    keprok yang lebih disukai dari pada jeruk siam. Peningkatan preferensi konsumen

    tersebut, dapat dijadikan sebagai peluang pasar sekaligus peluang pengembangan

    jeruk keprok nasional kita

    Indonesia memiliki beragam jenis jeruk keprok berkualitas baik dan berpotensi

    untuk memenuhi permintaan dalam negeri yaitu jeruk keprok SoE (NTT), Batu 55,

    Pulung dan Madura (Jawa Timur), Garut (Jawa Barat), Tejakula (Bali), Siompu

    (Sulawesi Tenggara) dan Kelila (Papua), sedangkan di Sulawesi Selatan dikenal jeruk

    keprok Selayar yang merupakan salah satu komoditas unggulan nasional dan spesifik

    daerah Sulawesi Selatan (Pasandaran 1996), selain itu, jeruk keprok selayar juga

    merupakan komoditas primadona bagi petani setempat. Pertanamannya tersebar di

    daratan Pulau Selayar terutama di Kecamatan Bontoharu, Bontomatene, dan

    Bontosikuyuyang berada pada ketinggian 50200 m dari permukaan laut dengan

    keadaan tanah berbatu karang. Menurut pengalaman petani, jeruk tersebut sangat

    baik tumbuhnya pada tanah yang demikian.

    Pada dasarnya petani jeruk selayar telah berupaya untuk memadukan sumber

    daya yang dimiliki seoptimal mungkin untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal.

    Namun demikian masih banyak kendala yang dihadapi petani dalam

    berusahatani,diantaranya keterbatasan penggunaan inovasi teknologi, serta

    keterbatasan modal. Padahal sebagai komoditas unggulan daerah, usahatani jeruk

    mempunyai potensi pengembangan dan peluang pasar yang cukup luas, serta

    didukung oleh kesesuaian iklim dan tanah yang menunjang pertumbuhan dan

    produksinya. Menurut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Selayar terdapat

  • Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013

    475

    sekitar 6.750 ha lahan yang potensial untuk pengembangan jeruk keprok di kabupaten

    Selayar

    Informasi mengenai kelayakan dan permasalahan usahatani jeruk di kabupaten

    Selayar masih terbatas,sedangkan hasil dari analisis kelayakan finansial ini akan

    menunjukkan apakah usahatani tersebut layak atau tidak untuk dikembangkan.

    Informasi ini berguna bagi para petani maupun investor yang tertarik untuk

    mengembangkan atau menanamkan modalnya pada usahatani jeruk keprok. Dengan

    adanya investasi dalam pengembangan usahatani ini diharapkan akan meningkatkan

    jumlah produksi jeruk keprok Selayar dan pada akhirnya akan meningkatkan

    keuntungan atau pendapatan petani dan investor itu sendiri. Oleh karena itu dilakukan

    penelitian yang bertujuan untuk (1) mengidentifikasi/menginventarisir keragaan dan

    permasalahan usahatani jeruk keprok Selayar (2) menganalisis kelayakan finansial

    usahatani dan (3) menganalisis kepekaan atau sensitivitas usahatani terhadap

    perubahan biaya produksi, harga produksi dan jumlah produksi.

    METODOLOGI

    Penelitian dilaksanakan di kecamatan Bonto matene, kabupaten Selayar pada

    bulan Agustus Oktober 2010.Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive

    sampling) dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan sentra produksi

    jeruk keprok Selayar.Pengambilan petani contoh dilakukan secara random sebanyak

    20 orang. Pengambilan data dilakukan dengan dua cara yaitu wawancara dan

    observasi. Observasi merupakan cara pengumpulan data melalui pengamatan

    langsung secara cermat dan sistimatik baik secara partisipatif maupun non partisipatif.

    Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan

    yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang terarah dan sesuai (Suratno dan

    Arsyad 1999)

    Data primer seperti aspek personal petani, penggunaan input, produktivitas,

    harga input, harga produksi, upah tenaga kerja diperoleh melalui wawancara

    terstruktur menggunakan daftar pertanyaan. Data penggunaan input dan produksi yang

    dikumpulkan adalah mulai dari persiapan (investasi awal) sampai 14 tahun. Data yang

    digunakan dalam analisis ini adalah data dari petani yang memelihara tanamannya

    dengan baik. Sedang data sekunder diperoleh dari instansi terkait seperti dinas

    pertanian dan kantor ketahanan pangan.

    Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif

    digunakan untuk menggambarkan keadaan secara sistimatis sesuai kondisi lapangan.

  • Armiaty: Karakterisitik dan Kelayakan Finansial

    476

    n

    1 1NPV

    tt

    i

    CtBt

    1221

    11 ii

    NPVNPV

    NPViIRR

    n

    tt

    n

    tt

    i

    BtCt

    i

    CtBt

    CBNet

    1

    1

    1

    1/

    Analisis kuantitatif digunakan untuk data yang berbentuk angka sehingga

    mempermudah membuat kesimpulan. Untuk mengetahui kelayakan finansial usahatani

    digunakan tiga kriteria yaitu; Net Present Value (NPV); Internal Rate Of Return (IRR)

    dan Net B/C Ratio (Kadariah 1979; Malian 2004) dengan rumus sebagai berikut:

    1. Net Present Value (NPV)

    Net Present Value merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya yang

    telah di-present value-kan. Dalam kriteria ini dikatakan bahwa proyek akan dipilih

    apabila nilai NPV lebih besar dari nol.

    Keterangan :

    Bt = penerimaan usahatani pada tahun ke-t

    Ct = Cost (biaya usahatani pada tahun ke-t

    n = umur ekonomis proyek (20 tahun)

    i = tingkat suku bunga yang berlaku (14%)

    2. Internal Rate Return (IRR)

    Kriteria yang menunjukkan bahwa suatu usaha layak dijalankan adalah jika nilai

    IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku pada saat usahatani tersebut

    diusahakan .Secara matemat