Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri

  • Published on
    16-Oct-2015

  • View
    313

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

.disampaikan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Wilayah Industri, Kementerian Perindustriandi Jakarta 7 Mei 2014

Transcript

<ul><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 1/38</p><p>KEMENTERIAN PERINDUSTRIJl. Jend. Gatot Subroto Kav. 52-53 Jakarta 12950 Telepon: 021-525 6548</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 2/38</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 3/38</p><p>I . PENDAHULUAN</p><p>3</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 4/38</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 5/38</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 6/38</p><p>II. KINERJA SEKTOR INDUSTRI</p><p>6</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 7/38</p><p>PERTUMBUHAN SEKTOR INDUSTRI S.D. TAHUN 2013 (%)</p><p>* Sumber: BPS diolah Kemenperin 7</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 8/38</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 9/38</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 10/38</p><p>Sumber : BKPM, 2013 (Diolah DJ PPI)</p><p>13.80</p><p>57.76</p><p>3.21</p><p>13.78</p><p>4.461.04</p><p>5.95Sumatera</p><p>Jawa</p><p>Bali Nusa Tenggara</p><p>Kalimantan</p><p>SulawesiMaluku</p><p>Papua</p><p>Pada tahun 2013, Pulau Jawa masih menjadi wilayah</p><p>yang terbesar dalam menyerap investasi, disusul oleh</p><p>Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi</p><p>SEBARAN INVESTASI TAHUN 2013 MENURUT WILAYAH (PERSEN)</p><p>10</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 11/38</p><p>NO. WILAYAH Nilai Investasi (Rp Miliar)</p><p>PMDN PMA Total</p><p>I SUMATERA 9.149,57 16.428,60 25.578,17</p><p>II JAWA 26.552,02 74.233,83 100.785,85</p><p>III BALI &amp; NUSA TENGGARA 1.757,04 2.994,20 4.751,24</p><p>IV KALIMANTAN 11.465,47 12.056,52 23.522,00V SULAWESI 1.447,15 7.514,27 8.961,42</p><p>VI MALUKU 445,19 1.638,70 2.083,89</p><p>VII PAPUA 354,67 11.905,22 12.259,89</p><p>JUMLAH 51.171,10 126.771,35 177.942,45</p><p>Sumber : BKPM, 2013 (Diolah DJ PPI)</p><p>Investasi sektor industri tahun 2013, lebih banyak didominasi oleh PMA</p><p>yang mencapai 71,24 persen dari total Rp 177,9 triliun.</p><p>REALISASI INVESTASI SEKTOR INDUSTRITAHUN 2013 MENURUT WILAYAH</p><p>11</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 12/38</p><p>Sumber : BKPM, 2013 (Diolah DJ PPI)</p><p>14.37</p><p>56.64</p><p>2.67</p><p>13.22</p><p>5.041.17</p><p>6.89</p><p>Sumatera</p><p>Jawa</p><p>Bali Nusa Tenggara</p><p>Kalimantan</p><p>SulawesiMaluku</p><p>Papua</p><p>Pada tahun 2013, Pulau Jawa masih menjadi wilayah yang terbesar</p><p>dalam menyerap investasi sektor industri, disusul oleh Sumatera,</p><p>Kalimantan dan Sulawesi</p><p>SEBARAN INVESTASI SEKTOR INDUSTRI TAHUN 2013</p><p>MENURUT WILAYAH (PERSEN)</p><p>12</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 13/38</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 14/38</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 15/38</p><p>Kawasan Industri (KI) di Indonesia relatif</p><p>kurang memiliki daya saing dibandingkan</p><p>dengan KI di negara-negara pesaing ditinjau</p><p>dari harga lahan KI dan biaya logistik.</p><p>Daya Saing Kawasan Industri</p><p>15</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 16/38</p><p>1. Meningkatkan peran pemerintah/BUMN dalam</p><p>pengembangan kawasan industri.</p><p>2. Membangun kawasan industri yang terintegrasi dengan</p><p>sektor lain seperti perhubungan, pekerjaan umum,</p><p>perumahan, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup dan</p><p>keamanan.</p><p>3. Membangun kawasan industri yang fokus pada komoditi</p><p>atau klaster industri tertentu.</p><p>4. Membangun Pusat Inovasi di setiap KI sebagai sarana untukR&amp;D dan peningkatan kompetensi SDM</p><p>Upaya Peningkatan Daya Saing Kawasan Industri</p><p>16</p><p>PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 17/38</p><p>Pengaturan: (Pasal 62-Pasal 63)</p><p>1. Menteri Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin tersedianya infrastruktur Industri.</p><p>2. Infrastruktur Industri paling sedikit meliputi:a. lahan Industri berupa Kawasan Industri dan/atau kawasan peruntukan Industri;</p><p>b. fasilitas jaringan energi dan kelistrikan;</p><p>c. fasilitas jaringan telekomunikasi;</p><p>d. fasilitas jaringan sumber daya air;</p><p>e. fasilitas sanitasi; dan</p><p>f. fasilitas jaringan transportasi.</p><p>3. Penyediaan infrastruktur Industri dilakukan melalui:a. pengadaan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah yang pembiayaannya bersumber dari</p><p>Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;</p><p>b. pola kerja sama antara Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dengan swasta, badan</p><p>usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dan swasta; atau</p><p>c. pengadaan yang dibiayai sepenuhnya oleh swasta.</p><p>4. Untuk mendukung kegiatan Industri yang efisien dan efektif di wilayah pusat pertumbuhan</p><p>Industri dibangun Kawasan Industri sebagai infrastruktur Industri yang harus berada pada</p><p>kawasan peruntukan Industri sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.</p><p>5. Pembangunan Kawasan Industri dilakukan oleh badan usaha swasta, badan usaha milik negara,</p><p>badan usaha milik daerah, atau koperasi.</p><p>6. Dalam hal tertentu, Pemerintah memprakarsai pembangunan Kawasan Industri.</p><p>PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR</p><p>DAN KI (UU NO 3/2014)</p><p>17</p><p>PENJELASAN (PASAL 63 AYAT 4)</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 18/38</p><p>1. Hal tertentu : kondisi pada saat pihak swasta tidak</p><p>berminat atau belum mampu membangun kawasan</p><p>industri, sementara Pemerintah perlu mempercepat</p><p>industrialisasi di wilayah pusat pertumbuhan</p><p>industri dengan mempertimbangkan geoekonomi,</p><p>geopolitik dan geostrategis</p><p>2. Memprakarsai : melakukan investasi langsung untuk</p><p>membangun kawasan industri</p><p>PENJELASAN (PASAL 63 AYAT 4)</p><p>18</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 19/38</p><p>1. Peran Pemerintah Indonesia dalam menyediakan lahan kawasan</p><p>industri akan ditingkatkan kembali.</p><p>2. Pemerintah terus mendorong pengembangan kawasan-kawasan</p><p>industri yang baru.</p><p>3. Pemerintah harus melakukan intervensi dengan cara menambah</p><p>pasokan lahan kawasan industri melalui program fasilitasi</p><p>pembangunan kawasan industri.</p><p>4. Bentuk intervensi pemerintah dengan cara melakukan</p><p>pembangunan kawasan industri.</p><p>5. Pemerintah berperan aktif dalam pengembangan kawasan industri</p><p>melalui mekanisme hibah dan pinjaman luar negeri. Beberapa</p><p>bentuk hibah yang diperlukan antara lain: hibah bantuan teknik;</p><p>hibah bantuan proyek; kerjasama teknik; dan kerjasama keuangan.</p><p>APA YANG HARUS DILAKUKAN ?</p><p>19</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 20/38</p><p>Apa yang harus dilakukan Pemerintah?</p><p> Mendorong pengembangan kawasan-kawasan</p><p>industri yang baru.</p><p> Melakukan intervensi agar terjadi penambahan</p><p>pasokan lahan kawasan industri melalui program</p><p>revitalisasi dan perluasan kawasan industri yangada.</p><p> Meningkatkan investasi Pemerintah/BUMN dalam</p><p>usaha kawasan industri.</p><p>20</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 21/38</p><p>SPESIFIKASI DAN FASILITASI KAWASAN INDUSTRI</p><p>a. Luas lahan kawasan industri paling rendah 50 (lima puluh)</p><p>hektar dalam satu hamparan;</p><p>b. Luas lahan kawasan industri tertentu untuk usaha mikro,</p><p>kecil, dan menengah paling rendah 5 (lima) hektar dalam</p><p>satu hamparan;</p><p>c. Perusahaan di dalam kawasan Industri dapat diberikan</p><p>fasilitas kepabeanan sesuai dengan ketentuan peraturan</p><p>perundang-undangan di bidang kepabeanan;</p><p>d. Fasilitas perpajakan terhadap kawasan industri dan</p><p>perusahaan industri di dalam kawasan industri diberikan</p><p>sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan</p><p>dibidang perpajakan.</p><p>21</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 22/38</p><p>Negara Pemerintah SwastaMalaysia, 285 KI 78 % (Pusat dan Lokal) 22 %Jepang 85 % 15 %Korea Selatan, 300 KI 70 % (Pusat dan Lokal) 30 %Taiwan 90 % 10 %Singapura</p><p>85 %</p><p>15 %</p><p>Thailand, 27 KI 48 % 52 % (kerjasama</p><p>Pemerintah dan Swasta)Pilipina, 20 KI 30 % (Pusat dan Lokal) 70 %Indonesia 6 % 94 %Sumber : ULI (1975) dan Dirdjojuwono (2004)</p><p>Catatan : Persentase menyatakan kontribusi dalam bentuk penanaman modal</p><p>Peran Pemerintah dan Swasta dalam Pengembangan</p><p>Kawasan Industri di Beberapa Negara Asia</p><p>22</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 23/38</p><p>Tantangan Kawasan Industri</p><p>Tantangan di Pulau Jawa</p><p>Keterbatasan lahan untukpembangunan dan pengembanganan</p><p>Daya dukung yang terbatas (sumber dayaair)</p><p>Masalah Lingkungan dan Sosial</p><p>Tantangan di Luar Pulau Jawa</p><p>Kompetensi tenaga kerja dan SDM industrialyang terlatih di daerah kurang memadai</p><p>Belum semua Kabupaten/Kota telah menetapkanPerda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)khususnya kawasan peruntukan industri</p><p>Minat swasta nasional untuk melakukanusaha kawasan industri masih rendah</p><p>Infrastruktur pendukung seperti jalan raya,kereta api, pelabuhan dan sebagainyakurang memadai</p><p>23</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 24/38</p><p>Arah Pengembangan Kawasan Industri</p><p>Kawasan Industri di Pulau Jawa</p><p> Pengembangan kawasan-kawasan industri yang sudah ada, danmendorong pembangunan kawasan industri yang baru diarahkan</p><p>pada industri-industri berbasis teknologi tinggi</p><p> Kawasan industri yang saat ini menampung perusahaan yang</p><p>beraneka ragam diarahkan untuk fokus pada pengembangan jenis</p><p>industri tertentu.</p><p> Kawasan industri di Jawa Barat: fokus pada industri permesinan dan</p><p>teknologi tinggi.</p><p> Kawasan industri di Banten: fokus pada industri kimia dan besi baja</p><p>Kawasan industri di Jawa timur: fokus pada pengembangan industripetrokimia dan industri penunjang migas.</p><p> Kawasan industri di Jawa Tengah: fokus pada pengembangan industri</p><p>padat karya seperti tekstil dan sepatu.</p><p>24</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 25/38</p><p>Arah Pengembangan Kawasan Industri</p><p>Kawasan Industri di Luar Pulau Jawa</p><p> Pengembangan kawasan-kawasan industri baru yang</p><p>diarahkan pada industri-industri berbasis sumberdaya</p><p>alam dan pengolahan mineral serta memanfaatkan lokasi</p><p>geografi yang strategis</p><p> Mensinergikan pengembangan kawasan industri dengan</p><p>program MP3EI untuk membangun pusat-pusat</p><p>pertumbuhan ekonomi baru</p><p>25</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 26/38</p><p>1. Mengarah pada pengembangan kota baru2. Infrastruktur sudah terintegrasi dengan</p><p>sistem logistik</p><p>3. Berorientasi pada pelayanan jasa</p><p>4. Memiliki fasilitas pendidikan industrial</p><p>5. Memiliki fasilitas R &amp; D</p><p>6. Memperhatikan lingkungan, dan</p><p>7. Memiliki sistem manajemen pengelolaanyang efisien dan efektif</p><p>Ciri - Ciri Kawasan Industri Generasi Ketiga</p><p>26</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 27/38</p><p>Karakter Kawasan Industri Modern Generasi III</p><p>27</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 28/38</p><p>Jabodetabek</p><p>(termasuk Subang,</p><p>Karawang,Purwakarta): Industri</p><p>Permesinan dan Alat</p><p>TransportasiMajalengka: Industri Tekstil</p><p>Semarang : Industri Tekstil</p><p>Kulon Progo: Industri Besi</p><p>Baja</p><p>Gresik: Industri Petrokimia</p><p>Lamongan: Industri</p><p>Perkapalan</p><p>Bandung: Industri TelematikaBoyolali: Industri Tekstil</p><p>FASILITASI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI PULAU JAWA</p><p>28</p><p>FASILITASI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI PULAU SUMATERA</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 29/38</p><p>Sei Mangkei : Industri Turunan CPODumai: Industri Turunan CPO</p><p>Bangka: Industri Timah</p><p>Cilegon: Industri Besi Baja</p><p>Muara Enim: Gasifikasi Batu Bara</p><p>Tanggamus: Industri Maritim</p><p>Bojonegara: Industri Kimia</p><p>Kuala Tanjung: Industri Alumina</p><p>FASILITASI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI PULAU SUMATERA</p><p>29</p><p>FASILITASI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI PULAU KALIMANTAN</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 30/38</p><p>Maloy: Industri</p><p>Turunan CPO</p><p>Mempawah dan Tayan : Industri</p><p>Smelter/ Chemical Grade Alumina</p><p>Batu Licin: IndustriBesi Baja</p><p>Kariangau: Industri</p><p>Turunan CPO</p><p>Landak: Industri Berbasis Agro</p><p>Ketapang: Industri</p><p>Berbasis Agro</p><p>Puruk Cahu: Industri</p><p>Berbasis Batubara</p><p>FASILITASI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI PULAU KALIMANTAN</p><p>30</p><p>FASILITASI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI PULAU SULAWESI</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 31/38</p><p>Gowa: Agroindustri</p><p>Palu: Agroindustri</p><p>Bitung : Logistik</p><p>Soroako: Industri</p><p>Ferronikel</p><p>Takalar: Industri</p><p>Minyak dan Gas</p><p>Morowali: Industri</p><p>Ferronikel</p><p>Bantaeng :</p><p>Ferronikel</p><p>FASILITASI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI PULAU SULAWESI</p><p>31</p><p>FASILITASI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI PULAU</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 32/38</p><p>Halmahera Timur</p><p>(Buli) : Industri</p><p>Ferronikel</p><p>Bintuni: Industri</p><p>Petrokimia dan Pupuk</p><p>Halmahera Tengah</p><p>(Wade Bay) : Industri</p><p>Ferronikel</p><p>Sorong : Industri</p><p>Petrokimia</p><p>FASILITASI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI PULAUMALUKU DAN PAPUA</p><p>32</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 33/38</p><p> IV. KEBUTUHAN LAHAN PENGEMBANGAN</p><p>KAWASAN INDUSTRI</p><p>33</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 34/38</p><p>34</p><p>No Kawasan Industri Klaster Industri Kebutuhan</p><p>Lahan (Ha)</p><p>Penetapan RTRW Perda No</p><p>Wilayah I</p><p>Sumatra</p><p>1 Sei Mangkei Kelapa Sawit 2.002,00 Kab. Simalungun 10 TAHUN 2012</p><p>2 Kuala Tanjung Aluminium 2.000,00 Kab. Batubara 10 TAHUN 2013</p><p>3 Sei Bamban Agro (Sawit dan Karet) 112,50 Kab. Serdang Bedagai 12 TAHUN 2013</p><p>4 Tanjung Buton Aneka Industri dan penunjang</p><p>industri migas</p><p>5.000,00 - -</p><p>5 Tanjung Api-Api Sawit,Karet dan Petrokimia 4.044,00 Kab. Banyuasin 28 TAHUN 2012</p><p>6 Belitung Pengolahan Timah dan</p><p>Industri Agro</p><p>229.369,00 - -</p><p>7 Tanjung Ular Timah 765,40 Kab. Bangka Barat 1 TAHUN 2014</p><p>8 Semende Agro (Padi, Kopi, dan buah) 150,80 Kab. Muara Enim 13 TAHUN 2012</p><p>9 Tanggamus Maritim 3.500,00 Kab. Tanggamus 16 TAHUN 2010Kalimantan</p><p>10 Batu Licin Besi Baja 530,00 - -</p><p>11 Landak Agro (Karet) 306,00 - -</p><p>12 Tayan Sawit 103,56 - -</p><p>13 Kariangau Minyak dan Gas 2.198,00 Kota Balikpapan 4 TAHUN 2012</p><p>Luas Total 250.081,26</p><p>PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI (KEK) TAHUN 2011Kebutuhan Lahan Pengembangan Kawasan Industri</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 35/38</p><p>35</p><p>PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI (KEK) TAHUN 2011Kebutuhan Lahan Pengembangan Kawasan Industri</p><p>No Kawasan Industri Klaster Industri Kebutuhan Lahan</p><p>(Ha)</p><p>Penetapan RTRW Perda No</p><p>Wilayah IIJawa Barat</p><p>1 Majalengka Tekstil 342,02 - -</p><p>2 Cilamaya, Karawang Otomotif 3.100,00 Kab. Karawang 2 TAHUN 2013</p><p>3 Subang Otomotif, Permesinan, dan Elektronika 888,11 Kab. Subang 11 TAHUN 2011</p><p>Jawa Tengah</p><p>4 Bawen Tekstil, Perakitan, dan Pengolahan Kayu 182,5 Kab. Semarang 6 TAHUN 2011</p><p>5 Pringapus</p><p>Tekstil, Pengolahan, Telematika, Agro,</p><p>dan Alat Angkut 257,00 Kab. Semarang6 TAHUN 2011</p><p>6 Tenggaran Tekstil, Perakitan, dan Pengolahan Kayu 119,7 Kab. Semarang 6 TAHUN 2011</p><p>7 Boyolali Tekstil 280,48 Kab. Boyolali 20 TAHUN 2011</p><p>8 Demak</p><p>Tekstil, Produk Tekstil, dan Logistik</p><p>Pergudangan 300,00 Kab. Demak6 TAHUN 2011</p><p>9 KEK Kendal Tekstil 812,36 Kab. Kendal 20 TAHUN 2011</p><p>DI. Yogyakarta</p><p>10 Kulonprogo Besi Baja 2.646,00 Kab. Kulon Progo 1 TAHUN 2012</p><p>11 Tangguh Minyak dan Gas 2.152,00 Kab. Kulon Progo 1 TAHUN 2012</p><p>12</p><p>Sentolo Dry Port dan Landing Port Destination</p><p>Logistic Center</p><p>951,4 Kab. Kulon Progo1 TAHUN 2012</p><p>Jawa Timur</p><p>13 Jombang Manufaktur 818,2 Kab. Jombang 21 TAHUN 2009</p><p>14 Salt Lake Gresik Manufaktur 285,00 Kab. Gresik 8 TAHUN 2011</p><p>15</p><p>Sidayu Gresik Industri dengan bahan baku Dolomit,</p><p>Krisalin, dan Sentra Industri Agro 3820,06</p><p>Kab. Gresik8 TAHUN 2011</p><p>16 Tuban Gresik Industri Berat, Kimia, Mesin dan Logam 227,53 Kab. Tuban 9 TAHUN 2012</p><p>17 Lamongan Manufaktur dan Maritim (Perkapalan) 950,00 Kab. Lamongan 15 TAHUN 2011</p><p>Luas Total 16437,32</p></li><li><p>5/26/2018 Kebijakan Pengembangan Kawasan Industri</p><p> 36/38</p><p>36</p><p>PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI (KEK) TAHUN 2011Kebutuhan Lahan Pengembangan Kawasan Industri</p><p>No Kawasan Industri Klaster Industri Kebutuhan</p><p>Lahan (Ha)</p><p>Penetapan RTRW Perda No</p><p>Wilayah III</p><p>Sulawesi</p><p>1 Bitung pusat logistik 534,00 Kota Bitung 40 TAHUN 2011</p><p>2 Morowali Nikel 1.200,00 Kab. Morowali 2 TAHUN 2012</p><p>3 Palu Rotan 1.500,00 Kota Palu 16 TAHUN 2011</p><p>4 Kendari Mebel Rotan 200,00 Kota Kendari 1 TAHUN 2012</p><p>5 Bantaeng Nikel 2.000,00 Kab. Bantaeng 2 TAHUN 2012</p><p>6...</p></li></ul>